22.6.16

Ramadhan di Museum Sonobudoyo Part 1: Arca


Berawal dari postingan Mak Lusi tentang selebaran ini di WhatsApp group Emak Blogger Jogja. Langsung dong tertarik daftar, secara aku punya misi untuk mengajak Ais mencintai museum *sekaligus sarana edukasi dan hiburan yang murah meriah juga, ya kan? Daftarnya juga mudah, cukup whatsapp ke nomor yang tertera di selebaran. Cara yang sangat simpel dan murah bukan? 8emak irit mode on. Respon dari Mas Erwin, CP yang nomornya tercantum di selebaran juga cepat. Alhamdulillah aku, Ayah Edy, dan Ais terdaftar menjadi peserta.

Hari Rabu pun tiba, acara perdana Ramadhan di Meseum di Museum Sonobudoyo dimulai sekitar pukul 4 sore. Tetapi karena aku sangat exciting, jadinya sebelum jam 4 sore juga sudah sampai ke lokasi. Di sana masih menunggu peserta terkumpul, plus sepertinya menunggu kunci pintu gerbang juga deh. Maklum, aslinya museum sudah tutup dari jam 3 sore, tetapi karena acara Ramadhan di Museum, makanya Museumnya dibuka lagi sekitar jam 4 sore itu. Sebelum acara dimulai, aku dan Ais bereksplorasi di area sekitar museum. 

Berlagak seperti panglima perang
Hari ini temanya adalah tentang arca di halaman Museum Sonobudoyo. Di area sekitar Museum Sonobudoyo terdapat banyak sekali arca. Tetapi yang paling diminati Ais yaitu meriam yang ditumpanginya di gambar atas itu.

Akhirnya, acara pun dimulai tepat pukul empat sore. Mas Erwin memberi sambutan sekaligus membuka acara dan dilanjutkan pemaparan dari Pak Arya selaku edukator yang akan memandu kami sore itu. Menurut Pak Arya, arca itu tidak melulu patung. Arca merupakan media seni kedewataan. Konon katanya, arwah dari candi terdapat pada arca, sehingga saat candi runtuh sekali pun, sejatinya candi itu masih ada bila arcanya masih utuh.
Penelusuran kita sore itu dimulai dari arca-arca yang terdapat di kiri gedung yang berisi arca-arca dari kebudayaan Hindu.

Makara dan Kepala Kara

Makara menurut bahasa Sansekerta merupakan  makhluk dalam mitologi Hindu. Makara umumnya digambarkan dengan dua hewan gabungan (di bagian depan berwujud binatang seperti gajah atau buaya atau rusa, atau rusa dan di bagian belakang digambarkan sebagai hewan air seperti ikan atau naga). Pada bangunan candi, Makara digunakan sebagai hiasan yang terdapat di bibir tangga dengan bentuk bibir tangga menyerupai bulan sabit. Biasanya terdapat Kepala Kara di dekat Makara. Makara dan Kepala Kara ini terbuat dari batuan andesit dari muntahan gunung.

Arca Dewa Wisnu dan Dewi Laksmi

Dewa Wisnu dan Dewi Laksmi
Dalam Agama Hindu, Dewa Wisnu adalah dewa pemelihara yang bertugas memelihara dan melindungi mahluk ciptaan Brahman (Tuhan). Dewa Wisnu berpasangan dengan Dewi Laksmi. Dalam ajaran Hindu, Dewi Laksmi adalah dewi kekayaan, kesuburan, kemakmuran, keberuntungan, kecantikan, keadilan, dan kebijaksanaan. Sebagai pasangan Dewa Wisnu, maka Dewi Laksmi dianggap sebagai simbol 'ibu pertiwi'. Dalam beberapa inkarnasi Dewa Wisnu, Dewi Laksmi ikut serta menjelma sebagai Sinta (ketika Wisnu menjelma sebagai Rama), Rukmini (ketika Wisnu menjelma sebagai Kresna), dan Alamelu (ketika Wisnu menjelma sebagai Wenkateswara).

Duh, patung ini bisa menjadi simbol romantisme nih. Lihat saja pose patungnya, dimana Dewi Laksmi dipangku Dewa Wisnu. Owh, so sweet!

Arca Dewa Ganesa
Arca selanjutnya adalah Arca Dewa Ganesa. Dewa Ganesa di Agama Hindu adalah simbol pengetahuan dan kecerdasan, dewa pelindung, dewa penolak bala/bencana dan dewa kebijaksanaan. Dewa Ganesa dicirikan dengan mahluk yang memiliki kepala gajah, berperut buncit, dengan empat lengan yang masing-masing membawa patahan gading di tangan kanan bawah, kudapan di tangan kiri bawah, kapak pada tangan kanan atas, dan jerat pada tangan kiri atas. Konon katanya, Dewa Ganesa sebenarnya berwujud manusia normal, akan tetapi karena suatu insiden dengan ayahnya, Dewa Siwa, maka kepala Ganesa terpenggal. Sebab insiden ini adalah karena Dewi Parwati, ibu dari Ganesa meminta anaknya untuk menjaga selagi dia sedang mandi. Ketika itu Dewa Siwa datang dan Ganesa yang tidak mengetahui bahwa Dewa Siwa adalah ayahnya langsung melarang Dewa Siwa masuk. Dewa Siwa pun murka dan dipenggallah kepala Ganesa. Kenapa kemudian yang terpilih adalah kepala gajah, itu karena hewan pertama yang ditemui adalah gajah.
Ais difoto sebelah arca Dewa Ganesa, hehe...
Arca Durga Mahisasura
Alkisah Dewi Parwati bertempur melawan raksasa yang sangat sakti sehingga disebut durga (sulit dicapai. Raksasa (Asura) itu bersembunyi di tubuh seekor lembu (Mahisa) sehingga disebut mahisasura.Ketika Dewi Parwati berhasil menaklukan raksasa tersebut dengan pedangnya, maka Dewi Parwati disebut Dewi Durga. Arca Dewi Parwati setelah menaklukan Mahisasura ini kemudian disebut Arca Durga Mahisasura.

Arca Dewa Siwa, Dewi Parwati, dan Dewa Agastya



Dewa Siwa adalah salah satu dari tiga dewa tertinggi (Trimurti). Dewa Siwa dikenal sebagai dewa perusak, sehingga ditakuti sekaligus disegani oleh banyak orang Jawa kuno. Dewa Siwa dicirikan memiliki tangan empat, masing-masing membawa tri wahyudi, cemara, tasbih/genitri, dan kendi. Bermata tiga (tri netra). Pada hiasan kepalanya terdapat ardha chandra (bulan sabit). Memakai ikat pinggang dari kulit harimau, hiasan di leher dari ular kobra. Kendaraannya yaitu lembu Nandini.

Dewi Parwati sudah dijelaskan di atas merupakan istri dari Dewa Siwa sekaligus ibu dari Dewa Ganesa. Menurut mitologi Hindu, Parwati merupakan puteri dari raja gunung dari Himalaya bernama Himawan, dan seorang apsari bernama Mena. 

Agastya adalah penganut Siwa yang taat. Arca Agastya dikenal sebagai Siwa Mahaguru. Konon Agastya digambarkan sebagai penasehat kerajaan yang suci. Tangan kanan Agastya menggenggam aksamala dan tangan kirinya menggenggam kamandalu (sebuah cawan air amerta) yang melambangkan suatu hidup yang berkelanjutan. Pada sisi kanannya, terdapat trisula yang melambangkan ketiga peran dewa, pencipta, pengatur dan penghancur.

Kalamakara

Kalamakara adalah hiasan yang biasanya terdapat di atas pintu. Jadi sisi kanan dan kirinya terdapat orang Cina. Arca ini diperkirakan berasal dari abad 8-10 M. Hal ini menandakan bahwa di Pulau Jawa pada abad  8 M sudah terdapat orang-orang cina

Tentang Lingga dan Yoni

Penggambaran Siwa selain sebagai manusia, seringkali digambarkan dalam bentuk lingga. Lingga merupakan simbol kelamin laki-laki yang biasanya dilengkapi dengan Yoni sebagai kelamin wanita. Persatuan antara Lingga dan Yoni melambangkan kesuburan. Dalam mitologi Hindu, Yoni merupakan penggambaran dari Dewi Uma yang merupakan salah satu istri Dewa Siwa.
Yoni
Contoh dari Lingga adalah Tugu Jogja  sedangkan contoh dari Yoni adalah Panggung Krapyak. Sesuai dengan mitologinya, maka daerah di sekitar Lingga dan Yoni ini subur. Itulah kenapa daerah Jogja relatif subur.

Berkeliling di arca-arca Budha

Pada taman di sebelah kanan museum, terdapat arca-arca dari mitologi Budha, sayangnya karena hari mulai gelap, foto-fotonya tidak terlalu bagus. Yah, kebanyakan tentang Sidarta Gautama gitu deh. Ini nih suasana #RamadhanDiMuseum bersama 29 peserta lain.

Selain patung-patung Sidarta Gautama, yang paling mencuri perhatian adalah Dwarapala ini. Dwarapala adalah patung penjaga gerbang  dalam ajaran Siwa dan Buddha yang berbentuk manusia atau monster yang menyeramkan. Biasanya dwarapala diletakkan di luar candi, kuil atau bangunan lain untuk melindungi tempat di dalamnya. Suasananya jadi seperti di Bali ya? Hehe. 
Dwarapala. Patung penjaga pintu kuil
Selesai Pak Arya dan Mas Erwin bercerita mengenai Dwarapala, waktu menunjukkan pukul 5.20. Tandanya harus persiapan menjelang berbuka puasa sambil tetap berbincang santai. Hari pertama selesai dengan sukses, nggak sabar untuk #RamadhanDiMuseum selanjutnya.

Next Day: Sejarah Islam di Jogja
Referensi:
http://sejarahharirayahindu.blogspot.co.id/2012/06/arca-durga-mahisasura.html
http://candi-siwa.blogspot.co.id/
https://id.wikipedia.org/wiki/Agastya
https://id.wikipedia.org/wiki/Ganesa
https://id.wikipedia.org/wiki/Parwati
https://id.wikipedia.org/wiki/Siwa
Reaksi:

20 komentar:

  1. Banyak arca ya mbak di museumnya. Aku suka ke museum tapi agak-agak gimana gitu kalau liat arca :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayak ada isinya ya Mbak Rien, hehe

      Hapus
  2. Aku sukaaaa banget wisata museum. Selalu menikmati apa2 yang terkait sejarah
    Kapan2 wajib nih kesini

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mbak. Kalau kesini pakai pemandu, biar lebih paham sama isi museum.

      Hapus
  3. Romantis banget, Dewa Wisnu dan Dewi Laksmi...

    Kapan2 ke sana... ajak Juna ah...

    BalasHapus
  4. sejarah, museum.. itu hal-hal yang aku suka. Kita bisa mendapat sesuatu disana.

    anggiputri.com

    BalasHapus
  5. baru tahu yg sering dipasang di tangga namanya makara. Dia berfungsi sebagai apa mb?

    BalasHapus
  6. Pengen bawa anak2 ke museum, tapi kalau balita kira2 boleh gak ya mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. boleh Mbak. Anakku aja baru 4 tahun itu

      Hapus
  7. Kabarnya monas di jakarta juga simbol lingga ya? Berarti dulu jakarta termasuk subur...tapi di mana yoninya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah. bisa dicari tahu itu, jadi kepikiran juga nih...

      Hapus
  8. Seru ya bisa ngabuburit di museum...
    Aku banyak 'kenal' arca itu dari Museum Kailasa di Dieng...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Candi2 di Dieng juga kece2 Mbak...

      Hapus
  9. Gagal fokus sama dewa wisnu dan dewa laksmi. Belajar sejarah itu seru :D

    BalasHapus
  10. Saya mulai suka dengan sejarah, hehe. Apalagi sejarah-sejarah Indonesia yang kaya akan filosofi, seperti kain tenun.
    Bdw, tulisannya mbak mantap, informasinya banyak. gitu berarti mbak merekam pembicaraan edukator ya? atau sambil diperkuat sama info di internet?

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku gugling iki San. 2 hari ngedraftnya, takut salah tulis e, haha

      Hapus
  11. Banyak arca yang mirip dengan yang di Museum Nasional ya mbak.

    Patung Sidartha gak ada ya. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada. tapi nggak kufoto, banyak malah, tapi kemarin udah gelap pas mau foto

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...