21.6.16

Mukena untuk Mbak Tina


Semenjak Ais pindah ke Jogja dan berpisah dari budenya yang momong di Lampung, Alhamdulillah Ais kembali menemukan soulmate mbak yang momong. Rezeki memang nggak kemana, jadi sembari aku sibuk kuliah dan menjadi pengacara (pengangguran banyak acara), aku bisa dengan tenang menitipkan Ais ke mbak yang momong. Idealnya sih dia dipanggil Ais dengan sebutan bude, tetapi dia kadung terpatri  dengan panggilan 'Mbak Tina'. Padahal sama anaknya Mbak Tina ini, Ais juga memanggil dengan sebutan 'mbak', soalnya kebetulan anaknya Mbak Tina memang cewek.Gara-gara itu aku sempat keheranan sendiri, ini Mbak Tina jadi dipanggil sama kayak anak-anaknya, terus anak-anaknya jadi ikut-ikutan manggil ibunya dengan sebutan Mbak Tina, hihi.

Awal muasal  Ais bisa berjodoh dengan Mbak Tina adalah karena saat itu Mbak Tina menjadi perawat mbah buyutnya Ais. Qodarallah dua bulan dari kedatangan kami ke Jogja, mbah buyut menghembuskan nafas terakhir. Saat itu Mbak Tina otomatis purna tugas, tetapi utinya Ais mempunyai ide, daripada Ais di-PAUD-kan saat aku kuliah nanti, kenapa tidak dititipkan di tempat Mbak Tina saja? Apalagi Mbak Tina juga senang karena Ais nanti diantarkan ke rumahnya, sehingga sembari momong Ais, Mbak Tina masih bisa mengerjakan kesibukan menjahitnya.

Aku bersyukur untuk kedua kalinya, lagi-lagi Ais mendapatkan mbak momong yang baik. Mbak Tina ini orangnya cukup penyabar, dan terlihat sekali ketulusannya merawat Ais. Rumah Mbak Tina juga banyak anak kecil, sehingga perkembangan bahasa Ais cukup pesat di tempat Mbak Tina. Walaupun bahasanya Bahasa Jawa, tetapi lumayanlah, malah jadi ikut belajar Bahasa Jawa juga nih ibunya, soalnya banyak istilah-istilah Jawa yang ibunya sendiri nggak tahu artinya.

Mbak Tina juga orangnya nggak pernah perhitungan. Semua keinginan Ais saat di rumahnya pasti dituruti. Padahal rumah Mbak Tina bersebelahan dengan warung dan teman-teman Ais hobi jajan, jadi deh Ais mesti minta jajan sama Mbak Tina. Awalnya aku nggak tahu, sampai akhirnya Ais cerita, dan sekarang ada budget tambahan buat jajan Ais. Jajannya sih nggak banyak, paling juga cuma seribu sampai dua ribu, tapi kan kasihan juga kalau Mbak Tina yang harus nombok.

Atas jasa Mbak Tina selama ini momong Ais, aku pengen membelikan sebuah kenang-kenangan yang bermanfaat untuk Mbak Tina. Pilihan jatuh pada mukena. Kenapa mukena? Karena sebentar lagi lebaran, dan Mbak Tina pasti senang kalau bisa memakai mukena baru saat lebaran nanti. Selain Mbak Tina, aku juga pengen belikan mukena buat dua anak gadisnya juga. Langsung saja aku ketik keyword ' mukena murah terbaru ' di google dan terdamparlah pada sebuah situs yang, OMG, koleksi mukenanya bagus-bagus. Jadi bingung mau belikan yang mana.

Beberapa koleksi mukena yang membuatku bingung pilih yang mana.

Akhirnya aku memilih tiga stel mukena untuk Mbak Tina dan anak-anaknya. Awalnya aku sempat bingung membelikan mukena untuk anak bungsunya, karena ukuran badannya agak nanggung, dibilang anak-anak sudah terlalu besar, tetapi bila dibelikan mukena untuk ukuran dewasa masih kebesaran. Umumnya mukena juga tersedia satu ukuran alias free size. Jadi saat mau memilihkan mukena untuk anak bungsunya Mbak Tina, aku sempat galau. Tapi setalah aku pertimbangkan kembali, mukena itu nggak masalah bila ukurannya terlalu besar, ya kan? Akhirnya aku putuskan untuk membelikan mukena yang sama ukurannya dengan punya Mbak Tina.

Mukena yang sudah dibeli sudah kubungkus rapi dan siap diserahkan kepada Mbak Tina. Begitu Mbak Tina melihat bingkisan yang sudah kupersiapkan, dia terlihat suka cita. Sesampainya di rumah dibagi-bagikanlah mukena itu kepada anak-anaknya. Karena ukuran mukenanya sama, maka kedua anaknya bebas memilih mukena yang dimau. Ternyata prediksiku ketika memilih mukena salah, mukena yang sejatinya kupersiapkan untuk Mbak Tina ternyata malah dipilih anak sulungnya. Hmm, jadi nggak sabar segera Lebaran dan Solat Ied bersama nih.
Reaksi:

4 komentar:

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...