12.4.18

Barang-barang Wajib Bawa Busui saat Bepergian


Melahirkan dan menyusui adalah anugerah yang dimiliki seorang wanita. Kecerdasan dan kesehatan seorang anak ditentukan oleh ibunya. Anak yang lahir dari rahim ibu yang bahagia dan sehat cenderung tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas. Selama hamil, ibu harus menjaga moodnya agar tetap bahagia. Setelah melahirkan pun, ibu harus tetap harus menjaga moodnya karena anak cenderung peka dengan mood ibunya.

Menjadi ibu memang bukan perkara gampang. Ibaratnya, masa depan anak bangsa berada di tangan para ibu masa kini. Untuk menjamin kesehatan dan kecerdasan anak, seorang ibu disarankan untuk menyusui anaknya. Eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan sampai 2 tahun. Namun, bagi sebagian ibu, menyusui bukan perkara gampang. Banyak persoalan yang biasa menjadi drama ibu menyusui seperti anak tidak mau menyusui karena bingung puting, puting lecet sampai drama ibu bekerja dalam menyiapkan ASI selama ditinggal bekerja. Namun, walau menyusui butuh perjuangan, tapi hasilnya akan memuaskan. Pemberian ASI eksklusif akan meningkatkan antibodi anak dan kandungan nutrisi yang diserap sempurna akan meningkatkan kecerdasan anak. Nah, buat ibu menyusui yang mungkin harus tinggal berjauhan dengan anaknya, masih bisa kok mengusahakan ASI buat anaknya dengan cara diperah dan disimpan di lemari pendingin. Saat perjalanan, ibu tetap dapat memerah ASI dan disimpan di cooler bag. Dengan rutin memerah ASI, maka aliran ASI akan tetap lancar walaupun tidak dihisap anak. Ini beberapa item yang gak boleh ditinggalkan busui:

1. Breastpump
Pompa ASI adalah yang terpenting tidak boleh ketinggalan. Walaupun sebenarnya bisa memerah dengan tangan, tapi akan cukup merepotkan dilakukan sembari bepergian, terutama saat di kendaraan umum. Disarankan menggunakan pompa ASI manual atau bila menggunakan elektrik, pastikan baterainya cukup untuk digunakan tanpa tersambung aliran listrik. Saat bepergian akan sulit mencari sambungan listrik.
Breastpump manual, bisa memompa di mana saja

2. Appron Menyusui
Ini barang kedua yang sama pentingnya dengan breastpump. Karena selama bepergian mungkin kita akan memompa di tempat umum (jangan berharap selalu ada ruang laktasi, dan sebaiknya hindari memompa ASI di kamar mandi). Nah, agar tidak mencolok dan dianggap melakukan pornografi, appron menyusui jadi item yang sangat penting untuk dimiliki.
Appron menyusui

3. Botol/plastik ASI
ASI yang sudah diperah tentu membutuhkan wadah untuk menampungnya. Gunakan botol atau pun plastik untuk menyimpan ASI hasil perahan.

4. Cooler Bag +ice gel
Untuk memastikan ASI yang diperah tetap memiliki kualitas baik,  maka penyimpanan ASI haruslah baik, pastikan menggunakan cooler bag dengan insulator dingin yang baik. Letakkan ice gel secukupnya di dalam cooler bag untuk mempertahankan suhu dingin pada cooler bag. Untuk mempertahankan suhu dingin selama 24 jam, gunakan 2 ice gel ukuran 500 gram.
Cooler bag wajib bawa!

5. Smartphone
Selama memerah ASI, ibu harus rileks. Bingung mau ngapain selama memerah? Mainan smartphone aja, ya nggak sih? Busui bisa memerah sambil bermain game, cek medsos, berselancar, atau membaca e-book di smartphone.

6. Powerbank
Lagi asyik bermain smartphone tiba-tiba baterai smartphone drop? Jangan sampai itu terjadi. Sedia selalu power bank, karena di perjalanan tidak selalu ada colokan listrik. Jangan malas membawa power bank dengan alasan berat atau ribet. Power bank zaman now banyak yang berkapasitas mumpuni tapi berukuran kecil, desain slim, dan beratnya juga ringan. Baru-baru ini Asus mengeluarkan varian ZenPower Slim yang berukuran hanya sebesar kartu nama dengan ketebalan minim, hanya 1.5 cm. Berat powerbank ini juga cukup ringan, tidak sampai 200 gram saja. Cukup praktis untuk dibawa busui selama bepergian. Tambahan lagi, warnanya merah metalik tentu menambah gaya untuk dibawa bepergian.

Asus Zenpower Slim 6000 memiliki beberapa keunggulan yang membuat kepincut:

1. Desain body slim, ringan, dan gampang dibawa
Buat ibu-ibu yang memang sudah ribet dengan berbagai bawaan, powerbank yang ringan dan gampang dibawa tentu akan menjadi primadona. Dimensi Asus Zenpower Slim 6000 adalah 110.9 mm x 67.6 mm dengan tebal 14.82 mm. Sangat ringan untuk powerbank dengan kapasitas 6000 mAh.

2. Fast charging, jadi hemat waktu
Daya masuknya sebesar 2 V sehingga cepat mengisi daya powerbanknya. Hanya perlu sekitar 3.5 jam sampai baterai benar-benar terisi penuh.

3. Safe charging, aman buat yang suka lupa cabut colokan saat mengisi daya powerbank
Suka ngecharge terus ditinggal tidur? Sama. Itu sebenarnya kebiasaan buruk, tapi kabar baiknya asus Zenpower Slim 6000 ini sudah dilengkapi fitur safe charging, jadi saat daya powerbank sudah terisi penuh, maka aliran listrik menuju powerbank otomatis terputus. Powerbank pun aman dari overcharging yang berdampak pada keawetan powerbank tersebut.

4. Warna merah yang elegan
Warna Asus Zenpower Slim 6000 adalah merah metalik yang cakep buat dibawa hang out. Elegan dan mewah.

5. Terbuat dari bahan metal yang adem
Suka sebel karena smartphone jadi panas saat diisi dayanya? Dengan menggunakan powerbank Asus Zenpower Slim 6000 setidaknya masalah ini dapat teratasi. Bodi powerbank dari metal yang adem akan menjaga powerbank tetap adem, plus mendinginkan bodi smartphone yang menjadi panas karena tuntutan harus tetap digunakan walau kondisi mengisi daya.

Walaupun sudah canggih begitu, ada hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan Asus Zenpower Slim ini. Pada paket pembelian tidak disertakan charger. Sebaiknya isi daya powerbank menggunakan charger asli bawaan smartphone, sebab bila menggunakan charger sembarangan akan menyebabkan pengisian daya lebih lama dan kualitas powerbank menurun.

Nah, dari keenam barang yang wajib dibawa busui saat bepergian tersebut, ada yang belum punya tidak?

28.3.18

Tips Mengindari Kecolongan Pulsa Saat Internetan


Sumber: pixabay.com
Penggunaan smartphone berbasis Android memang sudah bukan hal baru lagi. Kelebihan menggunakan ponsel pintar ini adalah kamu bisa selalu terhubung dengan sambungan internet. Jika dibandingkan dengan ponsel lama yang hanya bisa digunakan untuk telepon dan mengirim SMS, penggunaan ponsel pintar lebih banyak dipilih. Pengguna ponsel pintar bisa terus terkoneksi dengan teman dan sahabat melalui aplikasi seperti Whatsapp, Telegram, atau Line yang menggunakan kuota internet. Selain itu mereka juga bisa setiap saat mengakses sosial media milik mereka, dan mendapatkan informasi terbaru yang mereka butuhkan. 

Tentu saja hal tersebut membutuhkan kuota data untuk selalu terkoneksi dengan layanan internet. Hampir semua provider telekomunikasi menyediakan khusus paket data untuk menjawab kebutuhan ini, kamu bisa pulsa atau paket data operator yang kamu gunakan yang dijual di situs Traveloka. Mereka menawarkan beragam paket data dengan jumlah kuota yang bebeda dan dengan keunggulan masing-masing. Jadi kamu tinggal menyesuaikan besar kebutuhan kamu saat membeli pulsa Smartfren di situs Traveloka. Sudah cek sisa pulsa Smartfren kamu? Kalau sudah habis, segera beli agar bisa beli paket internetnya.
smartfren.com

Namun, adakalanya kita menemui pulsa yang tersedot otomatis saat menggunakan layanan internet pada smatrtphone ini. Tentu hal ini membuat kita tidak nyaman, karena tahu-tahu pulsa kita habis, dan tidak dapat menelpon atau mengirim pesan. 

Biasanya keadaan tersebut baru kita ketahui saat kita hendak menelepon atau mengirimkan SMS. Jangan panik dulu, kamu bisa melakukan cek pulsa untuk mengetahui apakah pulsamu benar-benar tersedot. Jika kamu menggunakan Smartfren, kamu bisa melakukan cek pulsa Smartfren. Beberapa cara cek pulsa Smartfren berikut bisa kamu ikuti untuk mengetahui nominal pulsa kamu.

Yang pertama dengan mengirimkan SMS ke 999 dengan mengetik “CEK”. Kamu juga bisa menggunakan layanan dial dengan mengetik *999# lalu tekan call. Dengan kedua cara ini kamu akan mendapatkan konfirmasi yang menginfokan berapa sisa pulsamu. Selain itu, kamu bisa menggunakan layanan pesan suara dengan menelepon ke nomer 999 dan mengikuti petunjuk operator. Jika kamu menginginkan informasi yang lebih lengkap, silakan mendownload aplikasi Smartfren di Play Store untuk pengguna smartphone android dan App Store untuk pengguna iPhone. Di sana terdapat menu yang bisa kamu pilih untuk mengetahui sisa pulsa, nomer Smartfrenmu, masa aktif dan info lengkap lainnya.

ponselgue.com

Kalau ternyata pulsa kamu berkurang karena paket data habis dan layanan internet langsung menyedot pulsa, kamu bisa melakukan beberapa tips berikut untuk meminimalisirnya.

Mematikan dan menghidupkan aplikasi pada ponsel secara manual
Beberapa aplikasi pada Android membutuhkan akses internet saat digunakan. Kamu bisa terus memantau aplikasi apa saja yang menggunakan data internet. Namun ada pula aplikasi yang menyedot data internet secara langsung tanpa kita sadarai, seperti GPS. Kamu bisa mematikan aplikasi semacam ini secara manual saat tidak dibutuhkan. Selain itu, kamu juga bisa menggunakan aplikasi seperti Traffic Monitor by RadioOpt untuk memantau aplikasi-aplikasi apa saja dalam ponselmu yang mengunakan data internet.

Mematikan pengaturan Auto-Update
Dengan mematikan pengaturan auto-update kamu bisa menghindari pulsamu tersedot layanan internet tanpa disadari. Biasanya aplikasi pada Android  akan meng-update  sendiri tanpa notifikasi permintaan. Dengan mengatur auto-update kamu bisa memperbarui aplikasi dalam ponselmu sesuai kebutuhanmu. 

Menghentikan Auto-Sync pada ponsel
Auto Sync adalah fitur yang mengatur agar aplikasi Android dapat langsung tersinkronisasi dengan server Google atau server-server aplikasi yang digunakan. Dengan mematikan Auto Sync kamu bisa menghentikan koneksi akses internet terhadap beberapa aplikasi yang sedang tersinkronisasi secara otomatis. 

Mengatur penggunaan data pada ponsel
Hampir semua ponsel Android  mempunyai fitur pengaturan data. Kamu bisa menggunakan fitur ini sesuai dengan kuota data yang kamu miliki. Biasanya, ponsel akan menampilkan pemberitahuan jika data internet yang kamu gunakan sudah sampai batas pengaturan, sehingga kamu bisa memperkirakan data internet yang kamu pakai, dan kapan harus mengisi ulang data internetmu.


17.3.18

Ice Gel dari Popok Bayi


Semenjak Fafa (1,5 mo) lahir dan harus dinas keluar kota, aku bertekad harus bisa expert dalam bidang penyimpanan ASIP. Soalnya aku harus menyetok banyak ASIP selama Fafa kutinggal dan harus bawa oleh-oleh ASIP sepulang dinas. Tekadku, Fafa harus bisa ASI eksklusif (aamiin). Nah, besok April kebetulan aku harus diklat selama 40 hari di luar kota (macam naik haji aja 40 hari). Untuk stok ASIP, sedikit-sedikit aku nyetok. In sya Allah waktu sampai akhir Maret cukup buat menyetok ASIP setidaknya sampai setengah bulan (di tengah bulan ada tanggal merah jadi bisa izin). Yang jadi pikiran adalah gimana bawa oleh-oleh ASIPku nantinya. Nggak mau dong perahanku nanti tersia-sia karena aku nggak mempersiapkan penyimpanan selama perjalanannya dengan baik. Makanya segala perlengkapan penyimpanan ASIP aku siapkan sebanyak-banyaknya (bukan hanya sebaik-baiknya). Aku punya satu cooler bag dan pinjam satu cooler bag punya adik. Tapi sepertinya itu kurang, aku lalu memodif tas bayi yang agak besar untuk dijadiin cooler bag dengan cara menyelipkan styrofoam ke bagian pinggir tas. Hal lain yang harus kupersiapkan adalah ice gel, karena apalah arti cooler bag bagus tanpa ice gel di dalamnya. Tapi sayangnya stok ice gelku hanya 5 (yang 2 boleh minjem adek pula). Jumlah ini aku rasa sangat kurang. Apalagi nanti aku ada kemungkinan kirim ASIP via paket, berarti harus sedia ice gel yang banyak. Hmm, beli lagi dong ya? Tapi semenjak ada Fafa aku rada mager mau keluar rumah je. Misal mau beli online, kok nggak worthed, soalnya ice gel itu berat, malah mahal di ongkos kirim nanti. Jadi aku pilih bikin ice gel sendiri deh. Baca-baca di internet katanya bisa bikin ice gel dari popok bayi. Langsung deh penasaran bikin.

Bahan yang diperlukan:

1. Popok bayi. Boleh baru, boleh juga bekas ompol. Karena ini dalam rangka daur ulang, jadi aku pake popok bekas.
2. Air
3. Kantong plastik
4. Selotip

Alat yang diperlukan:
1. Ember
2. Saringan
3. Gunting

Cara membuatnya:
 1. Jebol bagian penyerap pipis pada popok dan keluarkan gel di dalamnya.

2. Letakkan gel di ember berisi air (kira-kira 5 liter). Untuk popok baru, rendam sekitar 5-10 menit sampai gel benar-benar terisi air (warnanya berubah bening). Beri air secara berlebihan agar gel menyerap air dengan sempurna. Diamkan sekitar 10 menit.


3. Saring kelebihan air. Bila menggunakan popok bekas ompol, bilas gel di saringan dengan air mengalir sampai baunya hilang.

3. Masukkan ke dalam plastik sesuai ukuran yang diinginkan. Kalau mau praktis, gunakan plastik klip, tetapi kalau ingin ice gel dengan ukuran lebih besar dan tidak ada plastik klipnya, bisa menggunakan plastik biasa. Nanti di-seal pakai selotip sampai rapat dan tidak memungkinkan gel bocor.

4. Dinginkan di freezer. Ice gel homemade siap digunakan!
Sudah di'packing' rapi, siap dibekukan

Mungkin beberapa di antara kita merasa jijik menggunakan popok bekas untuk ice gel. Kalau aku sih mikirnya gel ini seperti pakaian. Kalau dicuci bersih, tentu biaa digunakan kembali. Nah ini beberapa tips menggunakan popok bekas supaya layak digunakan menjadi ice gel:

1. Bilas gel bekas popok menggunakan air mengalir dengan meletakkan gel di saringan. Aku pakai saringan dengan diameter agak besar jadi bisa membilas lebih banyak. Pengalamanku kemarin sih bilas di air mengalir selama 2x30 detik sudah cukup menghilangkan bau pesingnya.

2. Jangan pakai popok yang ada bekas pupnya, karena bakal lebih susah hilangin bau dan mungkin warnanya juga.

3. Pastikan kemasan ice gel menggunakan plastik yang tidak gampang bocor. Bila perlu selotip seluruh permukaan plastik biar lebih tahan bocor.

Asyiknya bikin ice gel sendiri adalah kita bisa menentukan sendiri ukuran ice gel yang diinginkan. Aku buat ice gel yang agak tipis biar tidak memakan space di cooler bag. Tapi sebelum digunakan aku mengadakan percobaan sederhana untuk membandingkan ketahanan beku ice gel homemade dibanding ice gel komersial. Aku lakukan percobaan mencairkan ice gel di suhu kamar. Hasilnya ice gel dari popok bayi memiliki ketahanan yang cukup baik dibanding dengan ice gel komersial. Ice gel dari popok bayi mencair sempurna saat 2,5 jam, sedangkan ice gel komersial mencair sempurna saat hampir 3 jam. Lumayan bisa diandalkan lah ya ice gel popok bayi ini. Tertarik mencoba?

Artikel untuk collaborative writing dengan tema peduli lingkungan dengan trigger post oleh Mak Lisdha (www.daily-wife.com)

13.3.18

Ais Gondongan

Beberapa hari terakhir ini Ais lagi demen-demennya naik sepeda. Sepulang sekolah sampai magrib doa sepedaan. Di sekolah, yang biasanya dia 'jajan' mainan, pas hari Selasa minggu lalu dia bilang jajan es. Terus Rabu malam badannya hangat. Aku udah mikir pasti karena kecapekan dan jajan sembarangan. Tapi ada yang mengganjal pikiranku, Ais bilang bagian bawah kupingnya sakit. Mungkin amandel, kata kerabat di rumah. Tapi aku masih belum yakin, soalnya saat kuminta Ais membuka lebar mulutnya, tidak nampak pembengkakan pada amandelnya. Tapi katanya badannya terasa sakit.

Besoknya Ais masih sekolah seperti biasa. Tapi waktu aku tanya badannya masih sakit apa nggak, katanya iya. Ya udah, sesiangan itu dia bobok di rumah. Alhamdulillah Fafa pengertian kalo masnya sakit. Fafa bisa bobok tenang. Sebelum tidur Ais aku keloni dulu. Kasian juga lihat bocah yang biasanya pecicilan, sekarang cuma bisa terpekur.

Besoknya Ais sebenarnya masih lemas. Tapi kuminta dia tetap masuk sekolah karena saat itu sedang UTS. Paling tidak selesai UTS dia bisa pulang. Karena ikut ujian susulan itu nggak enak. Alhamdulillah Ais kuat, bahkan saat akungnya jemput, katanya Ais kelihatan baik-baik saja. Awalnya sudah mau dibiarkan sekolah seperti biasa, tapi akhirnya tetap pulang cepat. Biar betul-betul sembuh. Sorenya mulai terlihat pembengkakan di bawah telinganya. Aku curiga itu sakit gondongan. Tapi aku masih ragu, masak zaman now masih ada penyakit itu???

Malamnya, grup wali murid rame membahas gondongan. Ternyata di kelas Ais sedang mewabah gondongan! Wah, ternyata benar kecurigaanku sore tadi. Rasanya lega sudah mengetahui sebab sakitnya anak. Yang perlu aku cari tahu sekarang adalah cara penyembuhannya. Ternyata penyakin gondongan belum ada obatnya dan kekebalan tubuh anak sendiri yang akan menyembuhkannya. Jadi aku fokus meningkatkan kekebalan tubuh Ais dengan makan-makanan bergizi, vitamin penambah kekebalan tubuh, dan juga madu. Sebenarnya aku disarankan untuk membawa Ais ke dokter, tapi belum aku lakukan karena aku perhatikan gondongannya nggak parah. Besarnya pembengkakan di bawah telinga tidak sebesar gondongan zamanku dulu. Lalu, Ais juga menunjukkan tanda-tanda kesembuhan seperti mulai aktif bermain. Untuk pengobatan aku masih mengikuti kearifan lokal yaitu menggunakan blau cuci untuk mengurangi pembengkakan di bawah telinga. Susah banget cari blau cuci saat ini. Sebelum dapat blau cuci, bengkak di bawah telinga Ais aku kompres es batu. Karena fungsi blau cuci adalah untuk mendinginkan bengkaknya kan.
Kompres pakai es batu dibungkus kain
Lalu saat akungnya dapat blau cuci, langsung deh itu pipi diolesin blau cuci macam little krishna. Katanya biar mujarab, blau cucinya dicampur air cuka. Ampun deh baunya. Gara-gara itu Ais kapok, hanya sekali itu mau dipakein blau cuci. Untungnya bengkaknya memang benar-benar mengempes. Alhamdulillah, In sya Allah sembuh ya Nak. Sempat ditakut-takutin bahaya gondongan pada anak cowok bisa menyebabkan kemandulan. Tapi aku mikir pakai logika saja lah, selama nggak ada komplikasi dan anak nyaman beraktivitas, apa yang perlu dikhawatirkan? Ya kan...

Bengkaknya benar-benar kempes setelah seminggu. Dipakaikan blau cucinya hanya sekitar 2 hari(sehari blau cuci dilarutkan air cuka, sehari blau cuci dilarutkan air biasa). Teman-teman punya pengalaman gondongan?

1.3.18

Nggak Pakai Korset Setelah Melahirkan Bikin Turun Peranakan?


Jadi orang tua dulu selalu menyarankan anak perempuannya buat disiplin pakai korset biar kembali langsing dan peranakannya nggak turun. Untuk masalah biar langsing sih okelah ya, dengan memakai korset lemak diperut akan terbakar, walaupun sebenarnya membentuk perut masih lebih efektif dengan olahraga seperti sit up. Tapi yang bikin gengges sekalogus ngeri adalah ancaman turun peranakan. Mungkin analoginya bila pakai korset itu perut jadi nggak turun, padahal ya nggak segitu lemahnya juga si rahim sampai bisa merosot turun kalau nggak dipakaikan korset, ya nggak? Nah kebetulan pas aku lahiran kemarin dokter kandungannya lagi kebetulan lagi penelitian soal turun peranakan ini. Istilah sederhananya 'Disfungsi Dasar Panggul', yang difokuskan adalah prevalensi terjadinya disfungsi dasar panggul ini setelah melahirkan.

Nah, apa saja sih gejalanya? Gejala disfungsi dasar panggul salah satunya adalah kesulitan dalam menahan buang air, baik buang air kecil maupun buang air besar, bahkan kentut sekalipun. Pada penderita disfungsi dasar panggul, otot yang berfungsi menahan kentut dan buang air tidak berfungsi dengan baik. Semakin sulit menahan buang air berarti semakin parah disfungsi panggulnya. Beberapa penyebab disfungsi dasar panggul antara lain:
1. Melahirkan. Semakin sering melahirkan, resiko turun peranakan lebih besar, terutama pada kelahiran normal yang butuh mengejan dengan kuat.

2. Mengangkat benda berat. Jangan memaksakan mengangkat benda yang terlalu berat karena kita akan refleks mengejan. Bila mengejannya terlalu berlebihan, ya bisa menyebabkan otot sekitar panggul bekerja berat dan kendor.

3. Sering susah buang air. Susah buang air akan membuat kita mengejan kuat. Itu akan memberatkan kerja otot panggul.

Diatara ketiga penyebab itu, melahirkan paling besar resiko mengalami disfungsi dasar panggul. Teknik mengejan yang salah dan kondisi rahim yang lemah pasca melahirkan dapat menyebabkan wanita mengalami disfungsi dasar panggul. Tetapi gejala disfungsi dasar panggul setelah melahirkan, seperti susah menahan kentut atau buang air ini bisa disembuhkan. Caranya dengan rutin melakukan senam kegel, yaitu senam dengan gerakan seperti menahan pipis, kira-kira 15 menit sehari. Beberapa teman mengatakan bahwa gejala susah menahan buang air perlahan pulih seiring bertambahnya umur bayi.

Benarkah korset dapat mengurangi resiko disfungsi dasar panggul?

Secara signifikan tentu tidak. Bahkan tanpa menggunakan korset pun perut bisa kembali mengecil karena mengecilnya rahim adalah proses yang alami pasti terjadi. Menyusui justru dilaporkan sangat efektif mengecilkan rahim pasca melahirkan. Dan cara yang lumayan efektif mengurangi disfungsi dasar panggul adalah dengan senam kagel tadi.

Jadi, kalau misal merasa nggak nyaman pakai korset, stagen, atau gurita pasca melahirkan, ya udah nggak usah dipakai. Ketakutan akan perut melar bisa diatasi dengan rutin sit up dan olahraga perut lainnya. Ketakutan akan turun peranakan bisa diatasi dengan rutin melakukan senam kegel dan mengurangi mengangkat beban berat pasca melahirkan. Jadilah ibu menyusui yang bahagia. Jangan sampai perkara korset bikin menyusui dan istirahat busui tidak nyaman.

Artikel untuk collaborative writing KEB dengan tema kesehatan. Trigger oleh Mak Ria (www.momsodell.com)

24.2.18

Banjir ASI Saat Orientasi

Melanjutkan cerita ini:
Perjuangan Menyusui dan Persiapan Orientasi

Jadi, tanggal 4 Februari pukul 22.55 malam aku naik pesawat ke Jakarta. Itu pesawat paling malam yang bisa kuambil. Kenapa harus tengah malam begitu? Soalnya acara orientasi jam 07.30 pagi di Bogor, sedangkan pesawat ke Jakarta paling pagi jam 6. Nggak mungkin bisa sampai bogor tepat waktu. Jadi paling aman ambil pesawat malam saja. Sengaja ambil pesawat yang paling malam biar sempet nemenin belajar Ais dan kelonin Fafa.

Sesampai di Jakarta aku cari tempat yang pewe buat istirahat. Tiba-tiba nemu ruangan ini:

Hmm, kayaknya lumayan nih istirahat cantik disini. Apalagi tengah malam buta begini nggak mungkin ada ibu-ibu yang butuh menyusui kan? *kecuali busui nekat yang satu ini. Bisa numpang pumping dulu nih. Wah, ternyata disini ada sterilizernya juga. Kece banget lagi sterilizernya, sterilizer UV merek Upang. Ternyata ini sterilizernya emak-emak zaman now loh (aku aja baru tau gegara post di IG). Harganya tiga jutaan di marketplace, katanya sih emang paripurna gitu buat sterilisasi.
Ruang laktasi yang cozy, lengkap dengan wastafel, dispenser dan sterilizer UV
Sebelum tidur aku pumping dulu. Dari pesawat memang sudah terasa kencang payudaraku. Setelah pumping aku nyobain pake alat sterilisasinya ini sambil kutinggal tidur. Eh tapi tidur-tidur ayam sih, soalnya aku penasaran sama cara kerja alat ini. Ternyata 30 menit pertama alat ini mengeringkan benda yang kita masukkan dengan sinar infrared (gak terbatas botol susu atau pompa ASI, tapi juga bisa buat steril kering bantal, boneka, dll. Kalau anaknya sensitif kuman kayaknya rekomen pakai ini daripada bolak balik nyuci bantal n boneka). Setelah 30 menit, barulah proses sterilisasi menggunakan UV selama 10 menit. Setelah sterilisasi langsung kumatikan dan cabut steker alatnya, lalu kubereskan pompa ASIku. Rada parno bahan silikon pada pompa manualku masih aman kan ya? Alhamdulillah aman. Alat ini cuma nggak disarankan buat benda berbahan dasar lateks.
Sterilizer UV Upang

Aku bangun tidur sekitar jam 4an. Payudara terasa mengencang tapi aku malas mau pumping lagi. Langsung beberes dan sekitar jam setengah 5 aku keluar terminal dan berniat cari sarapan dulu. Ternyata pada nginap di luar bandara begini. Untung deh aku pewe nginep di dalam ruang laktasi. Mana ada cewek yang menginap? Menyusui pula. Syukur Allah menunjukkan langkahku buat istirahat di ruang laktasi.
Pada ngemper begini. Kalau aku mungkin dah masuk angin yak?

Setelah beli roti seadanya dan segelas jus biar maag nggak kumat, aku lalu menunggu Bus Damri yang ke arah Bogor. Sempat bingung, ini nunggu bus Damri dimana ya? Ternyata setelah setengah jam nunggu di tempat yang salah (untungnya memang belum ada bus tujuan Bogor memang belum lewat). Tempat nunggu Bus Damri di terminal 2 itu di tempat yang terpisah dari gedung terminal. Owalah.
Disini loh nunggu Damri cuy!

Bus Damri tujuan Bogor baru tiba setengah enam pagi. Yang executive class pula. Awalnya pengen tunda berangkat, cari yang biasa aja, tapi daripada nunggu lebih lama lagi, lagian tadi sempat kontak sama salah satu peserta orientasi, doi naiknya bus yang ini. Dan, syukur deh aku jadinya naik bus ini, karena dari Soeta ke Bogor itu jauh jendral! Dikata kayak ke Blok M, sejam-an juga nyampe tujuan, ini ternyata butuh waktu 2 jam-an buat sampai pool-nya di Bogor. Selama itu aku sempat tidur tapi kurang nyenyak. Payudara sebenarnya sudah minta diperah, tapi aku sungkan mau pumping di bus.

Pumping itu memang kebutuhan!

Akhirnya sampai di pool Damri jam 7.10. Lumayan mepet waktunya buat sampai ke lokasi acara di Pusat Konservasi Kebun Raya LIPI. Mana Gojek pesananku orangnya masih di seberang jalan. Kalau aku nyebrang juga lama, kudu naik penyebrangan, mana saat itu hujan gerimis aje, memang sih bawa payung, tapi ya tetep malesin kalo harus nyebrang sendiri. Si babang Gojek juga nggak keberatan putar balik dulu. Jadi deh aku sampai lokasi telat 5 menit dari jadwal yang ditetapkan. Untungnya sih ada waktu sejam buat registrasi peserta, jadi aman lah. Hmm, pengen pumping, tapi sungkan izin sama panitia. Mana peralatan pumpingku aku titip ke petugas (karena saat itu peraturannya semua barang dititipkan). Jadi deh pas pemaparan dari kepala Pusat Penelitian Kebun Raya, Dr. Didik Widyatmoko aku nggak konsen blas! Duh gak kuat, nggak kuat. Gentong udah mo meledak!!!*lebay. Akhirnya aku beranikan izin pumpung sama panitia. Untungnya sama bapak panitia yang menjaga tas, beliau malah ngasih saran lokasi pumping, yaitu di mushola. Oh ya Allah, panitia pada baik-baik dan solutif begini, kok ya nggak dari tadi aku pumpingnya.

Drama gentong bocor terus berlanjut. Soalnya hari pertama orientasi memang banyak mobilitasnya sih. Aku sendiri jujur sudah agak ilfil mau pumping, soalnya kondisi breastpad sudah agak rembes. Salahku pakenya washable breastpad, waktu itu belum kepikiran pakai yang disposable. Padahal kalau yang disposable daya tampungnya lebih tinggi, dan gak ribet mikirin nyuci dan nunggu keringnya. Dan karena 'alarm' sudah memanggil, aku manfaatin waktu di bus buat pumping. Big thanks buat apron menyusui...

Selama di Laboratorium Biotekbologi di Cibinong, aku masih bertahan nggak pumping (kondisinya juga nggak memungkinkan. Pemaparan cuma sebentar, terus keliling laboratorium). Lalu destinasi terakhir di pusat Inovasi. Aku udah nggak tahan kudu pumping. Sampai pemaparan mau dimulai (narasumber sudah di depan), aku masih pumping dengan ditutupi apron kesayangan.
Pembicara udah di depan, aku masih pumping

Selesai pemaparan kami berkeliling di Pusat Inovasi LIPI. Udah nggak konsen pengen cepat pulang, mandi, dan ganti baju. Dah bersimbah ASI rasanya. Pas perjalanan pulang harusnya aku pumping sekali dua kali lagi, biar nggak terlalu 'merengkel'. Tapi aku udah nggak nyaman mau pumping, udah sugesti nanti hasil pumpingnya nggak higienis nih, soalnya pompanya udah dipake dari pagi dan kondisi badanku juga yaks banget. Aku memilih tidur. Dan ketika bangun tidur, bajuku sukses basah kuyup ASI! OMG, ini nggak nyaman banget. Kalau udah terlalu bengkak gini mau dipompa juga nggak enak. Pengennya cepet sampai hotel terus mandi. Kalau sudah bersih paripurna baru enak pumping lagi. Tapi karena lokasi hotel di pusat kota Jakarta, ya pasti macet pol. Saat itu jam 7an. Benar-benar tiba di hotel sekitar jam setengah 9 kalau nggak salah. Fyuh. Dengan terpaksa aku menyerobot antrian pengambilan kunci, untung teman-teman peserta dan panitia bisa maklum. Untungnya lagi, aku dipasangkan sekamar dengan sesama busui yang juga pumping ASI. Anggi namanya. Aku lihat sih bajunya nggak sampai banjir ASI sepertiku, jadi aku izin pakai kamar mandi dulu. Alhamdulillah dia nggak masalah, dia juga masih mau beresin perintilan barangnya dulu katanya.

Selesai mandi rasanya bersih dan segar. Pompa ASI juga sudah dicuci bersih plus rendam di air panas (Alhamdulillah ada pemanas air, bisa buat nyeduh teh juga nanti). Aku lanjut pumping dengan nyaman dan bersih pastinya. No worry buat hasil pumping malam ini. Soalnya habis pumping langsung dimasukin chiler di kamar, dan sebelum tidur ASIPku dan Anggi disetor ke freezer hotel. Pas banget deh sekamar sama Anggi, jadi bisa titip ASInya bareng-bareng.

Anggi itu orangnya well prepared to the max! Segala perintilan menyusui dia siapkan sebaik mungkin. Waktu aku bilang ASIku banjir sampai keluar baju, Anggi langsung nawarin disposable breastpadnya. Walah, kok barang sepenting ini bisa lupa dari listku? Malah bawa yang washable yang nunggu keringnya bikin frustasi. Terus daya tampungnya juga gak sebaik yang disposable pula. Kata Anggi, di bus tadi dia ganti breastpad sampai dua kali. Wajar ya ASI dia nggak sampai bocor keluar baju, wong breastpad penuh tinggal buang, terus ganti baru. Lah aku, misal ganti washable breastpadku, padahal bawanya ngepas 2 pasang, yo bubrah (dasar nggak well prepared, Alhamdulillah dapet teman sekamar kayak Anggi). Demi keselamatan gentong ASI esok dan lusa, aku minta 3 pasang breastpad sama Anggi. Untung dia bawa banyak. Hmm, tipe teman kayak Anggi ini menyenangkan banget buat teman traveling ya. Hihi.

Hari kedua dan ketiga Alhamdulillah nggak ada drama gentong bocor lagi. Aku dan Anggi ambil tempat yang sama di bus. ASIP kami diletakkan di coolboxnya dia. Aman banget dinginnya, karena diisi 1 icepack dan 1 icegel besar. Kami bisa pumping di perjalanan tanpa sungkan dengan teman duduk sebelahnya. Setelah jam makan siang, kegiatan bakal di kantor LIPI Gatsu terus sampai penutupan di hari Rabu besok. Yang artinya aku dan Anggi bisa pumping dan nitip ASI di ruang laktasi di kantor Gatsu. Legaaa...
Ruang laktasi idaman! Ada kulkas n freezer khusus ASIP plus sterilizer. Psst, busui numpang maem

Drama terakhir terjadi saat mau pulang. Ternyata coolerbag-ku nggak cukup buat bawa simpanan ASIPku! Tapi karena ASIPku dalam keadaan beku, aku beranikan bawa sebagian ASIP di bagian atas coolerbag Gabag-ku yang sebenarnya gak ada insulator suhunya. Tapi kuakali dengan kulapisi rapat bagian atas tas yang agak terbuka dengan koran. Sesuai saran mbak yang lagi pumping di ruang laktasi, katanya koran bisa jadi insulator dingin sementara. Yes, ada gunanya juga bawa koran pembagian dari hotel. Coolerbag aku masukkan ke dalam tas pembagian dari orientasi. Tujuannya selain enak bawanya (karena tas orientasi berupa tas ransel) selain itu biar bagian coolerbag lebih terjaga ademnya. Perintilanku juga bisa diselip-selipkan di tas ini. Pesawat masih jam setengah 10 malam. Tapi aku sudah sampai bandara jam setengah 6 sore. Pas banget sampai bandara tiba-tiba hujan deras. Alhamdulillah udah sampai bandara. Di bandara aku pumping sekali. Kali ini nggak pumping di ruang laktasi tapi di ruang tunggu saja. Soalnya ruang laktasi di Bandara Halim Perdanakusuma ini lagi ada anak-anak, terus nggak ada sterilizer kece kayak di Terminal 2 Soeta. Udah pumping di ruang tunggu saja, cuek aja wong pakai appron. Alhamdulillah pesawat nggak delay. Ternyata sampai di rumah Fafa sudah menunggu. Dari sore dia nggak mau tidur, mungkin feeling kalau ibunya mau pulang. Stok ASIP yang kukira berlebih ternyata cukup buat Fafa. Masih ada sisa 1,5 botol saja dari total 30 botol yang aku stok. Alhamdulillah tetap cukup sih.

Bulan April perjuangannya lebih berat Nak, ibu bakal prajab selama sebulan di Cibinong. Moga-moga setiap minggu ibu bisa pulang buat antar ASIP dan menyusuimu langsung ya putri sholihah ibu...Aamiin.

22.2.18

Perjuangan Menyusui dan Persiapan Orientasi

Salah satu kenapa aku pengen segera lahiran adalah karena aku harus orientasi CPNS LIPI tanggal 5 sampai 7 Februari di Jakarta. Kebayang dong kalau baru lahiran tanggal 1 Februari sesuai prediksi HPL paling lama, badan pasti belum pulih benar dan pengalaman Ais dulu, ASI masih belum deras sebelum 5 hari.

Kenapa nggak izin aja sih buat nggak ikut orientasi?

Iya, memang bisa aja kalau mau mengajukan izin, asal ada keterangan dokter. Tapi masalahnya, keterangan dokter dikeluarkan kalau ada indikasi medis kan? Lah sekarang kalau lahirannya normal, pulang sehat, udah bisa langsung beraktivitas, indikasi medis apa yang harus dituliskan dokter supaya bisa izin nggak ikut orientasi? Dan sebagai karyawan baru (ehem), aku juga pengen menunjukkan dedikasiku kepada lembaga yang sudah kuimpikan untuk kumasuki dari 2009 ini. Terus pas orientasi ini juga bakal ketemu teman CPNS LIPI satu angkatan, pasti asyik dong yes.

Alhamdulillah Allah memudahkan semuanya. Fafa lahir tanggal 25 Januari 2018 jam 8 malam. Mundur 2 hari dari HPL tercepat. Alhamdulillah ada waktu 10 hari buat kejar tayang ASIP.
Fafa baru lahir
Di awal kelahiran Fafa, ASIku nggak langsung keluar. Tapi aku sudah berpinsip untuk menyusui dengan keras kepala. Apalagi refleks menyusu Fafa bagus. Hisapannya kuat, jadi masalah ASI keluar hanya masalah waktu.

Sepanjang malam setelah lahiran, Fafa kutaruh di kasur bersebelahan denganku. Box bayinya nganggur. Pokoknya setiap ada kesempatan, aku langsung menyusui Fafa. Besoknya pas dicek perawat, ASIku belum juga keluar dari puting. Panik? Alhamdulillah nggak. Soalnya aku pernah baca kalau bayi bisa bertahan tanpa disusui sampai 3 hari, ini 12 jam aja belum ada. Lagian Fafa nggak rewel dan bergerak aktif, keep positive thinking aja..dah khatam soal beginian waktu menyusui Ais, hihi.. Akhirnya pas kunjungan perawat siang harinya, ASI Fafa sudah keluar. Alhamdulillah.

Sesampai di rumah, perjuangan menyusui terus berlanjut. Kali ini berjibaku melawan jaundice/kuning. Wajar sih kalau Fafa dikhawatirkan jaundice, sebab ASIku baru benar-benar lancar setelah pulang dari puskesmas. Tapi aku dibuat tenang oleh perkataan Mbak Tinah. Katanya, biasa itu kalau dikhawatirkan kuning gitu. Pokoknya tiap pagi rutin dijemur aja. Terus, kata perawatnya, harus lebih sering lagi disusui lagi. Untuk saran itu, okelah, aku fokus menyusui dan terus menyusui. Pompa ASI buat stok orientasi nanti belum aku pikirkan. Pokoknya fokus biar Fafa nggak jaundice dulu. Kemampuan menghisap Fafa lumayan bagus, jadi Alhamdulillah ASI semakin lancar. Perasaan kesemutan pada payudara yang menandakan ASI sedang diproduksi semakin sering terasa. Akhirnya pada 28 Januari aku mulai bisa stok ASI walau baru dapat 80 ml dari 4 kali pumping. Warnanya masih kuning lo, Alhamdulillah bisa perah kolustrum yaa..

Selanjutnya aku mulai terus pumping. Targetnya harus siap minimal 20x100 ml ASIP buat Fafa. Setiap Fafa tidur aku usahakan pumping. Rada ngos-ngosan juga, tapi aku nikmati proses ini. Apalagi Allah sudah memudahkan dengan Fafa yang nggak pernah rewel dan saudara pada bantu menyiapkan makanan bergizi buat busui ini (udah nggak sempat masak, beli lauk juga gak banyak pilihan), untung ada bude dan tante yang datang ke rumah lalu memasakkan banyak makanan lezat bergizi buatku. Itu sangat membantu menjaga mood dan kondisi tubuhku.

Sembari mempersiapkan ASIP buat nanti kalau ditinggal orientasi, aku juga harus mempersiapkan untuk orientasi nanti. Selain mempersiapkan persyaratan wajib seperti pakaian yang harus digunakan, aku juga harus mempersiapkan perlengkapan memerah dan penyimpanan ASIP selama orientasi nanti. Tak lupa aku mengkomunikasikan perihal ini kepada panitia orientasi. Alhamdulillah, lagi-lagi Allah memudahkan. Lokasi penginapan tidak berubah dan nantinya aku bisa pinjam kulkas di dapur penginapan selama orientasi.

Satu lagi perlengkapan tempur ASIP yang belum aku punya, yaitu cooler bag. Cari info soal cooler bag yang recomended, pada nyaranin pakai merek Gabag. Kok ya kebeneran ada temen yang mau ngelego cooler bag Gabag-nya. Langsung dengan sukacita kuterima tawarannya. Mayan menghemat budget sekaligus ngelarisi dagangan teman. Urusan perah dan simpan ASI udah beres, terus sekarang bingung masalah sterilisasi pompanya nanti. Berharapnya sih ada water heater di penginapan nanti. Tapi, aku ada kemungkinan pumping di bandara sekali, jadi harus sedia air steril buat bersihkan pompa ASInya. Sementara rencananya pake pemanas susunya Fafa dulu. Yang bisa disetel suhu 100 C.

Menjelang keberangkatanku ke Jakarta, Alhamdulillah aku berhasil menyetok ASIP sebanyak 30x100 ml. Alhamdulillah, In sya Allah cukup. Aamiin.

To be continued