22.4.17

Malam Bersama Ais


Sore itu, seperti biasa aku dan Ais jadi orang terakhir yang keluar dari gudang. Sudah menjadi kebiasaan kami untuk menunggu ayah pulang, walaupun kadang ayah baru pulang jam 8 malam. Tapi sore ini ada sedikit kesalahan komunikasi. Aku dan Ais kekeuh mau nunggu di gudang sampai ayah datang. Padahal sore itu ayah masih meeting dengan pabrik, dan perkiraan pulang paling cepat jam 8 malam. Sebenarnya bisa saja kami tidur beralaskan bed cover yang sengaja dibawa untuk Ais beristirahat di gudang. Di laci juga masih ada roti buat ganjel perut. Tapi, menjelang magrib Ais berubah pikiran. Dia pengen cepat sampai rumah dan nonton Upin Ipin. Akhirnya kami putuskan habis sholat magrib langsung pulang ke ruko. Konsekuensinya, kita harus berjalan kaki dari gudang ke ruko tempat tinggal kami, karena di gudang udah nggak ada siapa-siapa buat ditebengin. Hihi

Sebenarnya agak was-was saat akan perjalanan pulang. Soalnya baru-baru ini ayah dapat kabar kalau tetangga ruko ada yang kena todong di rukonya sendiri. Jadinya aku agak parno juga mau jalan kaki berdua saja sama Ais. Nah, saat aku was-was dan ketakutan, tiba-tiba Ais menyeletuk:
"Ibu nggak usah takut. Ibu berdoa aja. Nanti pasti ditolong Allah."

Jleb. Anak 5 tahunku sudah bisa menasehati ibunya begitu. Dan yang dia katakan memang benar adanya. Apa yang harus aku takutkan? Bukankah Allah selalu melindungi hambaNya yang memohon padaNya? Akhirnya aku tepis jauh-jauh pikiran buruk itu.

Keluar dari gudang, kondisi jalan sudah gelap. Penerangan yang ada masih terbatas. Awalnya kami berencana lewat jalan pintas, tapi sayang, jalan pintasnya sudah tutup. Pasti yang pegang kunci pintu jalan pintas sudah pulang, jadi sama dia dikunci deh. Ya sudahlah, kami putar halauan lagi. Kembali menyusuri jalanan gelap sampai ke arah pos satpam.

Sepanjang jalan kami berdua berbincang banyak hal. Kami bergandengan layaknya pasangan yang romantis, ow,ow. 

"Allah itu ada nggak sih Bu? Kok nggak kelihatan?" Tanya Ais.

"Allah nggak kelihatan, tapi Ais bisa ngerasain kan? Buktinya kalau Ais takut terus berdoa sam Allah, Ais nggak takut lagi kan?"

"Iya sih Bu."

Perbincangan yang hangat untuk malam yang dingin.

Setelah keluar dari kompleks pergudangan, perjalanan kami masih agak jauh, ya kira-kira 1 atau 1.5 kilometer lagi lah. Yang paling bikin bete adalah karena kondisi jalanan yang sama sekali nggak pedestrian friendly. Jalanannya becek, dan kalau kami jalan di aspal malah resiko kesenggol kendaraan. Mana yang lewat truk dan mobil dengan kecepatan tinggi. Nggak maulah ketabrak nganggur. Kami jalan pelan-pelan dan melipir banget deh. Alhamdulillah dengan sedikit perjuangan dalam memilih jalan untuk kami menapakkan kaki, akhirnya kami sampai juga ke jalan menuju masuk ke ruko.

Perjuangan belum selesai jendral. Masih perlu keawasan dan kehati-hatian dalam menyebrang jalan. Kendaraan yang lewat berkecepatan tinggi semua. Belum berhasil menyebrang tiba-tiba ada ojek yang menawari kami.
" Ojek Mbak?"
"Mboten." Wah. Reflek biasa nolak becak di Jogja kebawa sampai Palembang. "Ngg..Nggak." Setelah itu tulang ojek baru paham dan berlalu dari hdapan kami.

Akhirnya berhasil juga kita menyebrang. Berhubung aku lagi parno-parnonya sama kasus penodongan tetangga ruko, jadi bawaan was-was aja lihat orang-orang yang mencurigakan. Padahal ya, di lokasi ruko kan banyak supir truk atau tukang bengkel 24 jam. Tampang mereka rata-rata sangar, agak keki juga aku pas lewat depan mereka. Tapi aku berpikir positif ajalah. Mereka di tempat ini dengan tujuan mencari rezeki halal. Nggak mungkinlah neko-neko nodong kita. Bismillah. Bismillah.

Dan Alhamdulillah kami sampai di ruko dengan selamat. Dan karena aku masih bawaan parno, jendela kamar di ruko nggak berani aku buka. Pokoknya ngerong cantik aja di dalam kamar sampai ayah Ais datang. Hihi.

"Capek ya Is jalan kaki ke ruko?" Tanyaku melihat Ais yang bersimbah keringat.

"Iya Bu." Jawab Ais.

" Nggak apa-apa Is. Sekalian olahraga." Hiburku.

" Yah Ibu. Kalau olahraga tu pagi-pagi. Kalau malam tu santai-sabgai, tiduran sambil nonton TV, gitu!" Kilahnya.

Yah terserahmu lah Is. Kita sekarang tidur-tiduran sambil nonton TV sambil nunggu ayah pulang ya? Dan Alhamdulillah selang sejam ayahnya Ais datang dan bawain oleh-oleh makanan. Yeay. Perjuangan kami jalan kaki malam ini berbuah manis. Hihihi

21.4.17

Tentang Sebuah Gengsi


"Cobalah daftar ke universitas swasta sana. Sayang gelarnya kalau cuma jadi staf administrasi."

Deg. Baru sebulan aku balik kerja kantoran, mulai ada komentar seperti itu. Niat orang yang berkomentar sih baik, dia tahu kapasitasku, dan merasa sayang potensiku tidak dioptimalkan. Tapi apakah sarannya cukup baik untuk kulakukan atau tidak, cuma aku yang bisa memutuskan.

Sebenarnya niat utamaku kembali ke Palembang adalah selain dekat dengan suami dan juga mencari peluang sebagai tenaga pengajar di universitas di Palembang. Akan tetapi, ternyata belum ada kesempatanku untuk kesana. Belakangan kalau aku pikir kembali, aku rasa jalan seperti sekarang inilah yang terbaik buatku.

Pasrah dan putus asa? Nggak lah. Aku tetap masih menyimpan harapan suatu saat bisa mengajar di universitas dan kembali berkutat dengan dunia penelitian, konfrensi, assignment, dan lain-lainnya. Tapi, kalau memang saat itu tiba, aku mau menjalaninya bukan karena seoonggok GENGSI.

Ya, bukan karena GENGSI bahwa lulusan pascasarjana harus jadi dosen, malu kalau cuma jadi karyawan administratif. Bukan juga GENGSI karena teman-teman lain sudah pada jadi dosen, masak aku nggak? Bukan. Bukan karena seonggok GENGSI.

Karena nyatanya, aku memiliki teman yang dulunya dosen di universitas negeri paling kece dan incaran banyak lulusan SMU di Indonesia. Kurang bergengsi gimana coba posisinya? Nyatanya, begitu dia merasa bahwa menjadi dosen bukanlah panggilan hidupnya, dia tanggalkan status bergengsi itu. Banyak yang menyayangkan keputusannya. Tapi dia berhasil mengalahkan gengsinya. Akhirnya, hidupnya saat ini lebih bahagia dari sebelumnya.

Tak usah pedulikan omongan orang!

Seringkali kita terjebak dengan omongan orang. Apalagi kalau yang ngomong adalah orang yang kita sayangi. Rasanya down juga ketika ternyata mereka sepertinya (baru sepertinya loh ya) tidak bangga dengan apa yang kita lakukan. Terus kita down. Sama halnya dengan gengsi akan sebuah 'lifestyle'. Gengsi dong makan di pinggir jalan, apa kata orang? Padahal begitu makan di restoran, masakannya nggak jauh lebih enak dari warung pinggir jalan. Malah harganya beda jauh. Itu deh gara-gara seoonggok GENGSI.

GENGSI bisa membuat kita susah maju. Soalnya mau antimainstream dikit, udah khawatir dengan omongan orang. Padahal orang ya cuma ngomong dan nggak jarang cuma sok tau aja.
GENGSI bikin kita tekor. Gegara gengsi jadi harus menghabiskan uang yang cukup buat makan sehari cuma buat segelas kopi yang hanya menambah kalori tanpa energi.

GENGSI oh GENGSI

Memang, ada kalanya kita perlu punya gengsi. Karena dengan kehidupan bergengsi kita akan lebih dipandang orang lain. Ada beberapa hal yang memerlukan gengsi-lebih tepatnya rasa malu. Yaitu:

1. Gengsi mau pinjem duit
Sebelum memutuskan pinjam duit, boleh tuh mikir gengsi. Kan malu ih pinjam duit. Berhematlah semaksimal mungkin, biar gak harus berhutang. Karena sekali keenakan utang, seterusnya bakal terjebak utang. Inget kasus selebgram yang traveling dari duit ngutang? Itu gara-gara keenakan utang tuh, jadi lupa bayarnya. Dia sudah kalah dengan gengsi yang salah. Dia milih gengsi hidup mewah, tapi nggak gengsi ngutang. Hihi..

2. Gengsi saat bertamu
Mungkin bukan gengsi lebih tepatnya. Tapi adab bertamu. Jangan malu-maluin lah kalau lagi bertamu. Mentang-mentang udah deket sama si pemilik rumah, terus main slonong aja comot makanan tanpa izin. Malu-maluin ih. Jaim dikit napa?

3. Gengsi saat acara penting
Saat acara formal dan penting, pastinya kan dihadiri orang-orang penting juga. Di acara begitu kita perlu tampil bergengsi dengan baju yang rapi dan terbaik, biar impresi kita bagus. Kan baik buat karir kita kedepan, bukan?

Intinya, Allah ciptakan rasa gengsi pasti ada manfaatnya. Maka jangan sampai kita terjebak pada gengsi yang salah. Berhutang demi gengsi di medsos jelas gengsi yang salah. Tapi gengsi yang pada tempatnya akan membuat hidup kita lebih baik dan bermartabat.

Curcol agak (nggak) penting di pagi hari. Thanks mau baca sampai selesai. Hehe

20.4.17

Wisata Bahari di Sungai Musi


Semenjak lahir sampai kemudian hijrah buat kuliah di Jogja, belum pernah yang namanya berwisata ke Sungai Musi. Jumat kemarin, pas tanggal merah di 14 April 2017, adalah kali pertama aku berwisata ke Ampera dan Sungai Musi. Parah banget kan? Itu sama aja kayak udah tinggal bertahun-tahun di kawasan Tugu Jogja, tapi belum pernah sekali pun foto-foto disana. Wahahaha.

Alasan kami sekeluarga pilih berwisata ke Sungai Musi pas tanggal merah kemarin itu sebenarnya karena anak lanang udah lama banget pengen naik kapal. Jadi, kalau gak karena keinginan tuan muda, mungkin sampai detik ini aku mungkin belum juga berwisata ke Sungai Musi. Hihihi.
Ampera, finally we're coming!

Perjalanan menuju Sungai Musi kami tempuh sekitar satu jam. Lumayan lama, soalnya lokasi rumah kami jauh di ujung Palembang. Kalau mau santai sih sebenarnya enak naik Trans Musi, soalnya pas banget tuh dari koridor pertama di Alang-alang Lebar, sampai ke koridor terakhir di Monpera. Tapi, karena ayah ngejar foto Ampera saat malam, maka kami harus naik kendaraan pribadi. Awalnya mau naik pick up ayah, cuma aku gak mau. Bukan gengsi atau apa, tapi mobil bak terbuka gitu suka mendapat perlakuan diskriminatif, parkirnya dimahalin dan kadang dipandang sebelah mata (mulai deh drama). Dan sebenarnya yang paling malesin bawa mobil ke sekitaran Ampera adalah karena susyahnya cari parkir. Jadi, walau perjalanan agak jauh, kami putuskan naik motor saja bertiga. Untung anak cuma satu dan masih kecil, jadi aman di'selempit'in di tengah, hihihi.

Ternyata, ke Dermaga wisata Sungai Musi di sore hari itu wenak banget. Matahari udah nggak garang, dan kita juga bisa menikmati langit sore yang romantis (ciecie). Kami berangkat dari ruko sekitar jam 4 sore. Sampai di Dermaga Wisata sekitar jam 5, dan langsung cari kapal yang sekiranya masih beroperasi. Buat memuaskan Den Bagus yang udah ngebet banget pengen naik kapal. Ternyata untuk perjalanan wisata di sekitar Ampera-16 ilir, itu kapalnya murah loh. Kami bertiga cuma kena 30 ribu saja. Awalnya sih si mamang kapalnya nawar 50 ribu, tapi dasar si ayah nawarnya jago, bisa juga si mamang luluh kasih harga 30 ribu, Alhamdulillah.
Wajah sumringah naik kapal
Wisata Bahari di Sungai Musi dengan berkeliling menggunakan perahu getek seperti kami kemarin itu adalah wajib banget kalau lagi ke Palembang. Soalnya kita bisa melihat geliat kehidupan perairan disini. Memang sih Sungai Musi airnya butek, jadi nggak bisa kalau mau renang gitu. Tapi nikmati deh pemandangan di kanan kiri Sungai Musi. Selama ini aku bikin surat jalan untuk pengiriman menggunakan tongkang, nah baru kali ini aku lihat wujudnya kapal tongkang. Ternyata tongkang itu bentuknya manarik, sama pemiliknya juga dicat warna warni dengan motif yang eye catching. Bayanganku, tongkang itu bentuknya kaku terus cuma warna putih dengan catnya yang sudah mengelupas gitu (under estimate banget).
Warna warni kapal tongkang

Di sepanjang Sungai Musi juga terdapat tempat yang digunakan warga untuk mandi, mencuci baju, dan (maaf) buang air. Istilahnya MCK (mandi, cuci, kakus), ya memang fungsinya sesuai seperti itu.

MCK terbuka di Sungai Musi
Terdapat juga rumah apung dengan bentuk khas rumah adat Palembang. Ada pelampung di rumah apung ini. Sepertinya bisa digunakan untuk wisata juga nih. Waah, masih tebak-tebakan semua nih. Lain kali harus bawa orang yang paham tentang kebudayaan di sekitar Sungai Musi nih, biar bisa tanya-tanya sepuasnya!
Rumah apung di Sungai Musi
Menjelang malam, kami pun dinner (ecie dinner) di KFC yang berlokasi di Dermaga Wisata. KFC terletak sangat strategis. Dari sini kita bisa foto berlatarkan jembatan Ampera dengan jarak yang cukup dekat. Atau mau foto keindahan Ampera di malam hari, bisa juga dari sini. Ais nggak mau kalah sama ayahnya nih, dia ikut-ikutan foto jembatan Ampera. Eh tapi kok arah fotonya bukan ke Jembatan Ampera ya?


Tapi, kalau dari hasil fotoku sih, paling kece foto Ampera dari parkir sebelah selatan. Mungkin karena jarak ke Jembatan Ampera lebih dekat dari sini. Sayangnya di lokasi ini minim pencahayaan, jadi kalau selfi kurang kelihatan mukanya.

Di Dermaga Wisata ada juga mushola. Tapi sayang, musholanya tergolong kecil, karena menampung maksimal 9 orang termasuk imam. Dan tidak ada batas pria dan wanita, jadi rada was-was bersentuhan juga di pintu yang cuma astu-satunya, hihi.

Berikut keseruan maksimal Edibafree Family selama Wisata Bahari di Sungai Musi hari itu.

19.4.17

[Edibafree Story] Love Can Save It All


Lagi-lagi aku posting tentang drama keluarga yang nggak (begitu) penting. Jadi sekarang aku lagi seneng banget dengerin lagunya Andra yang Love Can Save It All. Nggak sengaja ketemu lagu ini pas lagi cari lagu hits di Youtube. Eh terus baper deh sama video klipnya. Wakakakak. Intinya, mau gimana kecewanya kita sama pasangan, pasti ujung-ujungnya balik sama pasangan lagi, yes?

Aku pernah dan masih kadang mengalami yang dialami di lagu ini.

"So tell me why
Why does it feel
Like we're thousand miles apart"

Kadang ngerasa suami kayak orang asing, kita kayak nggak kenal sama sekali. Kayaknya yang doi lakukan nyakitin melulu. Padahal setelah diomongin dari hati ke hati, semua itu ada alasannya.

Pengalamanku sih memang nggak mirip sama yang divisualkan di video klip ini. Suami Alhamdulillah bukan cowok yang neko-neko. Temen cewek aja dikit, doi malah nggak nyaman berteman sama temen cewek. Sahabatku aja nggak ada yang bisa dekat sama suamiku. Tapi, resiko punya suami begini, jangan harap deh diperlakukan romantis. Kadang ada lah ya masa-masa aku baper pengen diromantisin, terus bete karena suami gak paham juga. Bhay, makanya aku nggak pernah lagi nonton drama entah itu dari Korea atau pun FTV, semua itu cuma di tipi aja keles, hahaha! Suami itu juga keras dan tegas. Kadang aku harus sakit hati sama kata-katanya. Padahal ya, setelah diendapkan, yang dia omongin bener juga loh. Dia nggak menye-menye dan to the point. Resikonya, ya kudu kebal hati menghadapinya, wkwkwk.

"For better or for worse you stood next to me
Always found a way not to give up on me
Remember when you used to say
You know our love can save it all"

Lirik lagu selanjutnya dari Andra mewakilkan keadaanku. Mau kadang kecewa atau sebel sama suami, tetap yang diingat bagaimana 'cinta kita' itu dulu pernah diikat janji suci pernikahan. Mencintai karena Allah. Jadi, mau susah atau pun senang, selalu bersyukur.

Pas masuk lirik di bawah ini, aku terus mikir,  pernah nggak ya merasa jenuh dengan kehidupan rumah tangga seperti lirik di bawah ini?
"I wish there was
Another me
Another you
So we could go back
To the point where we met
Another place
Another chance
We'll make it right
So meet me halfway
I know you feel the same"

Untungnya sih nggak. Mungkin karena kondisi kami yang masih sama-sama harus berjuang untuk penghidupan yang lebih baik, jadi rasa jenuh sama pasangan nggak sempat dipikirkan. Wakakakakak. Kebutuhan perut lebih urgent cyyn. Pernah sih kami bertengkar untuk urusan yang nggak penting, cuma masalah kurang komunikasi. Tapi sekarang sih sudah sama-sama paham dengan kepribadian masing-masing. Cukup taulah kalau tiba-tiba ada yang ngambek. Kami ada siklus ngambeknya masing-masing. Yang penting sih prinsipnya sama, persis kayak lirik ini:
"I wanna be with you for life
Each day and every night
Because our love can save it all"
Intinya sih, hubungan rumah tangga itu harus senantiasa disegarkan. Komputer aja perlu di ctrl-F5 (refresh) biar bisa berjalan lancar, ya kan? Liburan untuk menyegarkan hubungan rumah tangga sempat kami pikirkan. Tapi liburannya ke tempat yang dekat saja. Namun pada akhirnya kami mendapati bahwa dengan karoke bareng atau nonton bareng sama anak, Alhamdulillah sudah cukup efektif untuk 'menyegarkan' hubungan kami. Priceless.

"You know our love can save it all
We've been together for so long
So don't give up on who we are
We'll work it out somehow"
 Akhirnya, masalah boleh datang dan pergi, tapi kami akan bekerja keras bersama untuk melewatinya. Perjalanan hidup bersamanya, mungkin tak selamanya mudah, tapi aku yakin pasti indah.

Sore baper sambil dengerin lagu Love Can Save It All sampai berulang-ulang. *Ya, cuma satu lagu ini yang diulang-ulang sepanjang sore, gimana nggak baper cobak?

17.4.17

Tes Akademik dan Tes Kesiapan Mental di SD Khalifah Annizam Palembang

Flashback 2 tahun yang lalu...

"What? Baru masuk SD aja udah dites. Apa nggak stres tuh?" Komentar itu sempat aku pikirkan dalam hati waktu salah satu temanku buat status di Facebook anaknya mau tes masuk SD.

"Jangan mau masuk SD yang menerapkan tes buat calon anak muridnya!" Doktrin itu sempat tertanam di otakku saat aku belum memahami "realita" mendidik anak.

Saat ini...

Kenyataannya, ketika tahun ini aku mau memasukkan Ais ke SD Islam, ternyata semuanya menerapkan tes masuk buat calon peserta didiknya. Ironisnya, Ais cuma bertanya:
"Tes itu apa sih Bu?"

Wajar sih. Anak sekecil itu mana tahu apa itu tes. Tapi justru dengan begitu dia nggak bakalan terbebani dengan yang namanya 'tes'.

Tapi oh tapi, justru orang tuanya, termasuk neneknya yang khawatir, bisa nggak ya anak itu nanti kalau dites?

Aku dan suami sepakat mendaftarkan Ais ke SD Islam yang terdekat dari rumah yaitu SD Khalifah Annizam Palembang. Alasan utamanya sudah pernah dibahas dipostingan ini:

Survei SD IGM dan SD Khalifah Annizam Palembang

Aku bersyukur staf admin di SD Khalifah Annizam Palembang ini sangat bersahabat. Beliau pakai WA dan selalu sabar melayani WAku. Ngomong-ngomong masalah tes, saking khawatirnya aku sama hasil tes Ais nanti, aku sampai berulang kali bertanya perihal tes ini sama Bunda Astri, staf admin yang penyabar ini. Aku beberapa kali bertanya kapan waktu tesnya. Biar bisa persiapan *udah macam mau UMPTN aje. Dan benar saja, dua minggu sebelum tes jadwal sudah diumumkan.

Setelah waktu tes sudah fix, aku dan ayahnya Ais semakin mempersiapkan tes Ais. Khususnya persiapan baca tulis hitung. Tapi berulang kali diingatkan kalau Ais nanti mau tes, anaknya masih santai dan cuek saja. Ayahnya yang tetap konsisten mengajari Ais. Big thanks to Ayah Edy.

Sampai waktu tes tiba, aku kira tesnya ditemani orang tuanya. Soalnya ada rekan kerja yang anaknya tes masuk SD Islam (tapi SD Islam yang berbeda), itu ditemani ibunya. Ternyata, di SD Khalifah Annizam ini, tesnya di ruang tertutup. Kalau anaknya berani, ya nggak usah ditemani. Yah, mamak gak bisa kepo deh.

Herannya, Ais yang sebelum berangkat tes minta ditemani, begitu ketemu gurunya langsung masuk ke ruang tes tanpa menoleh kebelakang lagi. Kelihatannya langsung tune in sama gurunya ini.

Alhamdulillah anakku menunjukkan sikap mandiri dan percaya diri walau pun di lingkungan baru. Waktu tes calistungnya lumayan lama, sekitar 45 menit. Selesai tes, Ais terlihat sumringah sambil senyum malu-malu.

Ibu: Gimana tesnya, bisa nggak?
Ais: Bisa. (Pasang tampang cool)
Ibu: Bu gurunya baik ya Is?
Ais: Baik banget Bu. Nggak macam ibu. Pas Ais nggak bisa gurunya nggak marah..

Wakwaw..skak mat deh si ibu galak ini, hihihi...

Selanjutnya masih ada Tes Kematangan Mental. Sebelum memulai tes, orang tua dikumpulkan terlebih dahulu untuk diberi pengarahan. Jujur aku nggak enak sama Ayah Edy, soalnya ternyata dari dua tes ini, orang tua nggak dilibatkan sama sekali. Padahal bayanganku ada sesi wawancara pada kedua orang tua yang akan menggali kepribadian dan potensi anak. Mungkin setelah hasil Tes Akademik dan Tes Kematangan Mental ini keluar kali ya?

Pada sesi pengarahan ini, hadir sebagai pembicara Ibu Ulfa Fajarwati selaku psikolog yang akan mengetes kesiapan mental anak dan Bunda Maya selaku kepala sekolah SD Khalifah Annizam Palembang.
Pengarahan oleh Bunda Maya dan ibu Ulfa.
Bunda Maya memulai memberi pengarahan. Dikatakan beliau bahwa Tes Akademik anak SD bukan seperti tes masuk kuliah. Artinya bukan berapa banyak pertanyaan yang dijawab benar oleh anak ataupun skor nilai yang dicapai anak. Akan tetapi lebih kepada mengukur kemampuan anak ketika SD nanti. Jadi, orang tua tidak perlu mem-push anaknya dalam menjalani tes ini.

Selanjutnya adalah pengarahan dari Ibu Ulfa selaku psikolog. Menurut Ibu Ulfa, tes psikologi untuk anak ini memakan waktu cukup lama yaitu sekitar 1-1.5 jam. Kalau anak penyesuaian diri cepat bisa 1 jam saja. Akan tetapi, orang tua tidak perlu khawatir anaknya bakalan bosan atau pun tertekan di dalam ruang tes. Soalnya tesnya berupa permainan. Ada permainan balok, tebak-tebakan sederhana, dsb. Dari kegiatan permainan ini akan diketahui:

1. Kecerdasan dasar, matematis, daya tangkap, dll.
2. Sikap kerja. Fokus atau teliti tidak?
3. Kematangan emosi
4. Kematangan secara kepribadian

Hasil tes akan menentukan apa kelebihan dan kekurangan anak, sehingga bisa lebih optimal mengembangkan potensi anak.

Menarik juga ya menelisik tentang pendidikan anak seperti ini? Dari tes ini aku bisa menganalisa calon gurunya nanti. Anak juga bisa melakukan adaptasi awal pada kondisi calon sekolahnya nanti.

Sejauh ini Ais nggak banyak kasih 'clue' apa saja yang ditanyakan di ruang tes. Tapi berjam-jam di ruang tes, dianya santai saja. Artinya Tes Calistung dan Tes Kematangan Mental calon murid SD itu sama sekali tidak menyeramkan, ya kan? Oh ya, aku sempat candid pas Ais mulai Tes Kematangan Mental.
Suasana tes kematangan. Anak diajak bermain sambil belajar.
Komentar Utinya waktu lihat foto ini:
"Apa nggak stres anak dites kayak gitu?"

Tapi nyatanya Ais dan anak-anak lain santai semua. Keluar dari ruangan wajahnya semua tetap sumringah. Ternyata orang tua yang terlalu khawatir ya. Padahal anak sendiri, karena belum begitu paham arti sebuah "tes", justru malah bisa menjalani tes tanpa beban.

Oh ya, di pengarahan kemarin, Bu Ulfa sempat mengutarakan bahwa sebelum psikotes, anak tidak perlu di push untuk belajar. Anak hanya perlu istirahat cukup dan jangan lupa sarapan sebelum psikotes. Jangan salah kaprah dan menakut-nakuti anak kalau tes itu harus begini dan begitu. Karena hal itu justru membuat anak tegang dan tidak bisa mengekspresikan dirinya dengan baik. Psikolog pun menjadi tidak bisa menggali kepribadian anak yang sebenarnya.

Setelah didesak utinya untuk menceritakan isi tesnya tadi, Ais bercerita kalau:

Tes Akademik:
1. Diminta menyebutkan dan menuliskan angka 1-15 dan huruf A sampai Z.
2. Diminta menuliskan namanya. Untung udah sering nulis nama di kertas gambarnya. Hihi
3. Membaca (apa ya? Anaknya ditanyain lupa, sigh..)

Tes Kematangan Mental:
1. Ditanya susunan keluarga. Dan Ais bilang kalau punya 2 kakak bernama Inu dan Ibal (padahal mereka itu omnya Ais, memang sih masih usia SD).
2. Diberi pertanyaan logika sederhana, yaitu: " Kenapa rumah ada temboknya?" Dan Ais jawab "Supaya orangnya nggak kabur." (Wew, rumah apa penjara ini? Wkwkwk)
Harusnya ada permainan balok dan berhitung ya, tapi mungkin kurang berkesan buat Ais, jadi dia lupa detailnya. Hihi..

Gitu aja deh bocoran tesnya. Yang jelas asyik lah tesnya. Guru-gurunya ramah dan cenderung membiarkan anak berekplorasi. Padahal beberapa anak ber"eksplorasi" dengan proyektor LCD yang sebenarnya mengganggu anak lain yang mau nonton film yang diputar. Tapi, yang kayak gitu sih harusnya orang tuanya juga yang peka lah ya. Supaya anaknya nggak mengganggu "ketertiban umum". Hihi...
Suasana menunggu tes, ditayangkan film islam yang mendidik.

Semoga berjodoh dengan sekolah ini dan makin banyak referensi pendidikan yang bisa kubagi di blog ini. In sya Allah.

10.4.17

#MemesonaItu...

Izinkan aku bercerita tentang sosok 
#MemesonaItu...

Dialah wanita paling memesona yang kukenal. Dialah wanita yang selalu menginspirasiku. Dia yang selalu menyemangati saat aku down dan sedih. Dia juga yang selalu mengulurkan tangannya saat aku butuh pegangan.

Dia memang wanita biasa, sama sepertiku. Tapi dimataku dia sangat luar biasa. Dia memesona dengan keramahannya, dia memesona dengan perhatiannya, dan dia sangat memesona dengan ketegasannya. Dari dia aku belajar untuk lebih mempunyai daya juang tanpa harus menjadi seorang ambisius yang menghalalkan segala cara. Dia tahu kapan harus menumpahkan perasaannya, dan kapan dia harus tegar dan tegas pada keadaan.

Katanya, aku ini kurang percaya diri. Aku masih menutup diri dan kurang mengeksplore kelebihanku. Kadang aku sendiri berpikir, ah, memang kelebihanku ini bukan apa-apa, ngapain ditonjolkan. Tetapi dia menyadarkanku bahwa selalu ada titik nol dari sebuah kesuksesan. Makin awal kita memulai titik nol itu, makin cepat pula suksesnya. Awalnya aku turuti saja kata-katanya, karena aslinya memang aku suka nggak enak menolak permintaan orang.

Ternyata, memperjuangkan apa yang kita yakini itu menantang sekaligus menyenangkan. Walaupun memang tidak mudah untuk fokus dan konsisten pada suatu hal yang kita percayai akan membawa kita pada kesuksesan. Tapi itulah makna perjuangan yang ingin disampaikan oleh sosok memesona itu. Bekerja itu sebaiknya merupakan hobi yang dibayar. Begitu katanya. Menjadikan hobi kita dibayar secara layak memang butuh perjuangan yang tidak mudah. Tapi, apa sih yang nggak mungkin di dunia ini?

#MemesonaItu adalah ketika seseorang bisa menginspirasi dan memotivasi. Tak sedikit pasti orang yang terinspirasi dan termotivasi oleh sosok #MemesonaItu. Karena #MemesonaItu berarti powerful. Dengan menginspirasi dan memotivasi, seseorang bisa menjadikan lingkungannya termotivasi untuk lebih baik dan lebih baik lagi. Dan sosok #MemesonaItu tidak pamrih dalam menginspirasi dan memotivasi. Inspiratif adalah passionnya, itulah baru namanya #MemesonaItu.
Aku dan sosok #MemesonaItu

Tampil #MemesonaItu...

Percaya diri adalah kunci utama untuk tampil memesona. Bagaimana bisa orang lain bisa melihat sesorang memesona, bila seseorang tersebut tidak yakin dirinya memesona?

Fokus pada tujuan hidup juga merupakan cara untuk dapat tampil memesona. Dengan tujuan hidup yang jelas, maka kita akan menjalani hidup dengan lebih semangat. Dengan hidup yang bersemangat tentunya hati akan diliputi kegembiraan. Dan, seperti pepatah yang mengatakan, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Hati yang gembira akan melahirkan jiwa yang kuat. Di luar jiwa yang kuat, terdapat raga yang sehat. Dengan begitu, pesona kita akan terpancarkan. Hidup sehat akan memancarkan pesona kita. Tidak sulit sebenarnya untuk tampil memesona, bukan?

Pola hidup sehat dapat memancarkan pesonamu. Mulailah hari dengan cairan yang cukup dan asupan buah dan sayur. Dengan cukup cairan maka kulitmu akan kenyal dan sehat. Jadi, bukan kosmetik yang akan memancarkan pesonamu, akan tetapi tubuh sehat karena cukup cairan yang akan memancarkan pesonamu.

Menjadi diri sendiri juga akan memancarkan pesonamu. Bangga menjadi diri sendiri akan membuatmu tampil lebih memesona. Buat tampil memikat tetapi membohongi diri sendiri? Percayalah bahwa dirimu itu memesona dengan keunikanmu. Justru pesonamu tidak akan terpancarkan dengan baik apabila kamu menjalani kehidupan dengan kepalsuan. Ya iyalah, apa enaknya sih bersandiwara di seumur hidup kita, ya kan ya dong?

Mendekatkan diri pada Illahi akan memancarkan pesonamu. Seorang yang dekat dengan penciptanya cenderung memiliki emosi yang stabil dan dewasa. Tentu saja pribadi yang seperti ini akan sangat memesona, bukan?

Akhirnya, semua wanita pasti memesona, asalkan mereka percaya bahwa mereka memesona. Betul?

#MemesonaItu

Survei SD IGM dan SD Khalifah Annizam Palembang


Menyambung tulisan sebelumnya tentang memilih sekolah. Memilih jenjang sekolah lebih tepatnya, wakakakak. Rasanya lebih plong kalau aku jabarkan sekalian hasil surveiku. Mengingat lokasi tinggal kami di sekitar Maskarebet Palembang, jadi survei sekolahnya disekitar situ saja. Nggak mau cari sekolah yang terlalu jauh lah. Anak SD yang penting sekolah dekat rumah saja.

1. SD IGM Palembang
Ini sekolah pertama yang aku survei. Soalnya ini sekolah paling heits di kawasan ini. Adekku dulu SMU disini, pelajaran IT disini lumayan unggul. Dan eksul komputer disini tersertifikasi. Buat anak kelas 1 SD ada pengenalan perangkat komputer yang tersertifikasi. Berikut rincian biaya di SD IGM Palembang:
Ujian saringan masuk: Rp. 300.000
Registrasi ulang: Rp. 3.000.000
Uang pembangunan: Rp. 10.000.000- 11.500.000 (tergantung periode pendaftaran)
SPP per bulan: Rp. 950.000
Total: Rp. 14.250.000- 15.750.000

Plus:
1. Ruang kelas luas.
2. Aman.Masuk ke kawasan sekolah dilengkapi dengan security door.
3. Akreditasi A

Minus:
1. Mahal (catet, emak irit paling anti sama yang mahal2)
2. Belajar mengajar di dalam gedung dan ber AC. Takutnya anak kurang udara segar. Hehe.

2. SD Khalifah Annizam
Pertama masuk ke sekolah ini, aku jadi teringat sama SD LHI di Jogja. Tapi lokasinya nggak seluas LHI sih. Staf administrasinya ramah dan jujur kepincut sama kehangatan para guru saat menyambut Ais. Sayang Aisnya masih malu-malu.

Rincian biaya pendidikan di SD Khalifah Annizam:
Pendaftaan: Rp. 350.000
Uang pembangunan: Rp. 4.700.000
Uang perlengkapan: Rp. 2.050.000
Uang seragam: Rp. 2.100.000
SPP per bulan: Rp. 650.000
Total: Rp. 9.850.000
Ada diskon sampai 1 juta untuk alumni TK Khalifah dan mendaftar sebelum Februari.

Plus:
1. Kurikulumnya sejalan sama prinsip pendidikan di rumah.
2. Lokasi bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki.
3. Ada rekomendasi dari teman dan membuktikan sendiri kalau guru-gurunya helpful.

Minus:
1. Kurang area terbuka. Tapi lumayan sih masih ada halaman di depan sekolah.
2. Untuk kantong mamak pelit nan medit, biaya segitu masih mahal, buahahaha..
3. Belum akreditasi

Tapi aku harus realistis lah. Namanya pendidikan pasti ada biayanya. Apalagi maunya pendidikan yang bagus. Sebenarnya ada 1 lagi SD IT di lingkungan Maskarebet yaitu SD Fathonah. Tapi kemarin belum sempat survei kesana. Aku update kalau sudah survey ya...

Tapi overall aku kepincut sama SD Khalifah. Soalnya lokasinya paling dekat rumah, dan guru-gurunya menyenangkan. Masalah biaya, untuk ukuran SD IT sangat terjangkau. Dan walaupun belum akreditasi, aku tidak mempermasalahkannya. Soalnya akreditasi SD tidak terlalu berpengaruh, kecuali mungkin nanti mau pindah ke SMP yang mensyaratkan dari lulusan SD terakreditasi. Tapi kan, Ais bakalan SD selama 6 tahun, optimis deh kalau dalam waktu 6 tahun itu pasti SD Khalifah sudah terakreditasi. *kalau udah cinta, apa aja excuse deh kayaknya, hahaha..tapi ciyus deh, masalah akreditasi nggak terlalu aku pusingkan. Yang penting guru-gurunya komunikatif dan sabar sama Ais. Dan yang paling aku expect dari sekolah ini adalah prinsip semua anak adalah JUARA dan mengajarkan anak mengenali potensinya dan bekerja sama dengan teman-temannya. Yes, life is not about competition but collaboration.

Sabtu ini ada tes masuk SD Khalifah Annizam. Bakalan ada sesi wawancara dengan orang tua juga. Aku sudah exciting banget ni dari hari ini. Moga-moga semua berjalan lancar dan hasilnya sesuai yang dibaraokan. Aamiin.

8.4.17

Review Buku dan Giveaway: Rahasia Pola Pendidikan Anak Hebat


Waktu membaca judul buku ini, langsung penasaran pengen baca isinya. Andaikan setiap orang tua bisa menerapkan pola pendidikan ini, pasti Indonesia jadi negara yang maju deh. Bahkan, pada kata pengantar yang disampaikan Sungkono Sanusi SE . M.Si, buku ini pegangan wajib setiap orang tua dan guru.

Secara umum, buku ini menjabarkan pola yang sesuai tuntunan Al Quran dan sunah rasul. Walaupun di beberapa bagian dicantumkan ayat-ayat Al Quran, bukan berarti buku ini eksklusif untuk orang muslim saja, karena prinsip dari pola pendidikan ini bisa diterapkan oleh kalangan mana pun.

Terdiri dari 6 bab yang menjabarkan tentang anak hebat dan bagaimana pola pendidikan anak hebat. Dalam buku ini dijabarkan bahwa anak hebat adalah anak yang bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Artinya dia mampu hidup mandiri sesuai milestone usianya. Misalnya, saat anak usia SD dia sudah tidak lagi disuapi atau dimandikan. Kemudian seiring bertambahnya usia, kemandiriannya bertambah, dan bahkan mulai membantu meringankan beban orang tua. Sebaliknya, anak bermasalah adalah anak manja yang selalu merepotkan orang disekitarnya. Parahnya, anak model begini sering mencari kambing hitam atas kesalahannya.

Dalam buku ini diilustrasikan beberapa contoh anak bermasalah yang tumbuh menjadi orang bermasalah-karena usianya sekitar 30 tahunan. Orang bermasalah ini memiliki tingkat kedewasaan di bawah usianya. Saat usia 30 tahun seharusnya orang mulai memikirkan tentang pasangan hidup dan membina keluarga, maka orang bermasalah biasanya belum serius memikirkan hal ini. Bahkan orang lain pun malas mendekati orang bermasalah ini. Aku sendiri ikut emosi baca kisah nyata tentang orang bermasalah ini. Kok ada ya orang kayak gitu?

Yang bikin buku ini menarik adalah banyak gambar animasinya, plus di bab 5 ada contoh kasus nyata anak yang bermasalah menjadi anak hebat. Ada kisah anak autis yang sukses bersekolah di sekolah normal plus menjadi pengajar Bahasa Inggris bagi anak normal. Ada kisah anak dengan kedewasaan melebihi anak seusianya dan dianggap dewasa sebelum waktunya, hingga akhirnya melewati masa kanak-kanaknya dengan normal. Atau kisah anak bungsu yang kolokan, lalu bertransformasi menjadi anak yang selalu bekerja keras dan memiliki karier bagus di usia yang masih sangat belia. Semua anak-anak ini sukses ditangani dengan Pola Pendidikan Anak Hebat.
Ilustrasi menarik pada buku

Ternyata, semakin muda umur anak, penanganan masalahnya lebih besar potensi berhasilnya. Jadi, beruntunglah aku menemukan buku ini saat Ais masih TK begini. Alhamdulillah pola pendidikan untuk Ais selama ini sudah sesuai dengan pola pendidikan anak hebat di buku ini. Nggak persis seperti yang di buku sih, tapi sejatinya memang sesuai dengan Al Quran dan Hadist sih. Berikan reward dan punishment pada setiap prestasi dan pelanggaran, ajarkan konsekuensi dari setiap perbuatan, beri contoh nyata kepada anak supaya peka terhadap lingkungan, dan ajarkan menabung untuk mendapatkan keinginannya. Yang terpenting dari itu semua adalah, ajarkan tentang ketauhidan sang pencipta. Sebab, orang tua tidak mungkin akan selalu membantu anaknya, tetapi Allah pasti akan selalu membantu umatnya. *psst ini ga persis sama isi buku loh ya, aku hanya menyarikan saja, kira-kiranya sih begitu *lol

Penasaran sama buku ini? Kebetulan aku punya dua buku "Rahasia Pola Pendidikan Anak Hebat" yang siap dibagikan buat komentator yang beruntung.
Syaratnya gampang banget kok. Ini nih syarat gampangnya:
  1. Wajib like FanPage X Kanopi Media, Sekolah Kepribadian Tata Krama, dan Ardiba Sefrienda. Follow Twitter @ardibarsdan IG @ardibars 
  2. Share link postingan Giveaway Buku Parenting Rahasia Pola Pendidikan Anak Hebat ini dengan mention @ardibars (untuk IG atau Twitter), atau tag Ardiba Sefrienda (untuk Facebook). Beri hastag #AnakHebat, dan mention/ tag minimal tiga orang temanmu.
  3. Jawab pertanyaan ini di kolom komentar: “Menurutmu, siapa sih contoh anak/orang hebat di sekitarmu? Kira-kira, kenapa dia bisa hebat seperti itu?”
    Tulis jawaban pertanyaan di kolom komentar dengan format sebagai berikut:

    Nama:
    Akun sosmed(FB, Twitter, Instagram, atau ketiganya, mana yang paling aktif aja):
    Jawaban:

Giveaway ini berlangsung dari tanggal 8 hingga 18 April 2017. Pengumuman pemenang giveaway tanggal 19 April 2017. Waktunya nggak lama, ayo buruan ikutan...