3.2.18

Tips Melahirkan Sealami Mungkin


Siapa sih yang nggak pengen lahiran secara 'gentle'? Kayaknya kalau belum lahiran secara normal dianggap belum gentle. Padahal sih setiap ibu yang bertaruh nyawa untuk melahirkan pastinya sudah melahirkan secara gentle. Memang setiap ibu pasti menginginkan bisa melahirkan sealami mungkin. Karena semakin alami, maka akan semakin mudah pula recovery pasca melahirkannya.

Berpikir positif, optimis, dan bahagia

Sebenarnya inti dari melahirkan alami adalah pikiran positif dan bahagia selama hamil sampai proses persalinan. Hal ini akan mengurangi rasa sakit (tidak nyaman) yang pasti dialami selama kehamilan dan persalinan. Berpikir positif berarti menghilangkan prasangka dan kesulitan saat persalinan nanti. Selama kehamilan, pikiran ibu harus dijaga untuk tetap optimis dan bahagia. Walaupun tidak semua ibu dapat menjalani kehamilan dengan sehat wal afiat, tapi tetap harus ikhlas menjalaninya. Percaya saja bahwa masalah kehamilan ini pasti berlalu. Hilangkan pula ketakutan akan sakitnya persalinan. Tubuh wanita memang sudah dipersiapkan untuk itu. Dengan kekuatan pikiran optimis dan bahagia, masa kehamilan dan saat persalinan akan terlewati dengan lebih mudah.

Berdayakan Diri 

Selain pikiran yang optimis dan bahagia, ibu hamil juga perlu memberdayakan diri untuk menyamankan diri selama kehamilan. Ikut kelas senam hamil atau yoga untuk mengurangi rasa tidak nyaman yang dialami selama kehamilan. Kalau tidakemungkinkan, bisa browsing di internet mengenai gerakan senam hamil ataupun yoga yang bisa dilakukan di rumah. Perbanyak gerak dan jangan terlalu memikirkan rasa sakit dan tidak nyaman selama hamil. Punggung pegal dan selangkangan sakit adalah hal biasa yang dialami ibu hamil. Perbanyak aktivitas agar ibu lupa rasa sakit selama hamil. Yang penting jangan terlalu kelelahan dan harus segera periksa ke dokter bila terjadi flek terus menerus, perdarahan, atau pun kram yang hebat (kalau kram2 dikit sih wajar).

Cari tahu apa yang paling nyaman untuk tubuh ibu. Bila sekarang lagi heboh tarian zumba untuk mengurangi sakit persalinan, tentu itu bisa kita ikuti bila memang membuat nyaman. Akan tetapi, tubuh masing-masing ibu berbeda-beda, tidak semua cocok dengan cara ini. Jangan sampai memaksakan diri mengikuti yang sedang tren, tetapi justru merugikan kita.

Hilangkan Idealisme

Setiap ibu mungkin mempunyai idealisme akan persalinan yang dijalani. Ada yang setengah mati mengusahakan idealismenya itu. Nggak salah memang, apalagi bila memang tidak ada indikasi medis yang menghalangi idealismenya itu. Sayangnya, kadang demi idealisme, seorang ibu menjadi rela mati-matian bertaruh nyawa. Kadang mungkin karena tekanan dari masyarakat juga, seperti misalnya stigma kalau belum lahiran normal maka belum menjadi ibu yang sempurna (pendapat macam apa itu?). Alhasil ibu akan berjuang mati-matian demi lahiran normal. Terkadang jadi tidak mengindahkan kondisi tubuhnya lagi.

Padahal, lahiran caesar ketika ada indikasi medis yang mengharuskan lahiran caesar, adalah gentle birth. Artinya, ibu mengakui bahwa persalinan caesar adalah yang terbaik yang harus dia jalani. Dunia memang terkadang tak sesuai dengan harapan, tapi percayalah bahwa itulah yang terbaik.

26.1.18

Launching Baby FREE 2.0

Iseng aja sih bikin blogpost ini. Buat pengingat nanti kalau mau nostalgia. Yang jelas sih, setiap anak memang beda-beda cerita kelahirannya. Dan semuanya excited! Tak terkecuali lahiran adeknya Ais ini.

Ceritanya langsung ke menjelang persalinan lah ya. Biar gak kepanjangan. Xixi. Jadi, setelah memutuskan mau lahiran di bidan, aku memilih lahiran di puskesmas saja. Nah, pas hari Selasa tanggal 9 Januari 2018 aku periksa USG sekaligus screening untuk memastikan semua kondisi oke untuk persalinan normal. Dari hasil USG, ternyata kata dokter, bayi sudah masuk panggul, posisi sudah mapan dan hasil screening juga oke. Pokoknya dah mantap nih siap lahiran di puskesmas.

Kamis, 11 Januari 2018, aku masih anter Ais ke sekolah, terus sama ibu sesama orang tua murid aku dibilang kalau perutnya udah turun, harus mulai persiapan lahiran. Wew, habis itu aku terus nggak pernah anter Ais ke sekolah lagi. Parno sendiri, xixixi.

Sabtu, 13 Januari 2018, mulai rasa ngilu dan pegal sekitar selangkangan. Tapi rasa sakitnya masih relatif 'enak' dan bisa ditahan, jadi nggak mungkin kontraksi persalinan lah yaw.

Minggu, 14 Januari 2018, Tiba-tiba terasa pegal di punggung, biasanya nggak pernah. Tapi selangkangan gak ngilu. Jadi masih cuekin aja lah.

15 Januari 2018-24 Januari 2018:
Aku terus saja merasa ngilu dan pegal sekitar selangkangan. Kadang-kadang perut kerasa kencang. Tapi karena sakitnya ya gitu-gitu aja, akhirnya ya gak kupedulikan. Kayaknya dulu pas hamil Ais gak gini banget sakitnya, apa karena faktor usia ya? Rasanya lama banget nunggu persalinan. Padahal jelas-jelas HPL terdekat 23 Januari, HPL paling lama malah 1 Februari, terus mau maksa si bayi keluar tanggal berapa? Gara2 tanggal 9 dah dibilang bayi masuk panggul dan perut udah turun nih, hihi...

25 Januari 2018
Pagi-pagi jam 3an, tiba-tiba celana dalam basah karena lendir. Langsung ke kamar mandi dan mendapati lendir berwarna merah muda. Yeay, tanda persalinan tiba! Tapi aku belum terlalu exciting, soalnya teman FB ada yang sudah keluar bercak darah, tetapi nggak juga kontraksi. Ada yang udah kontraksi berhari-hari, eh bayinya lahir 3 hari kemudian. Jadi, aku tetap santai saja.

Sampai ashar aku masih solat seperti biasa, rasa kontraksi sudah terasa tapi masih bisa ditahan. Mengatur pernapasan ternyata sangat membantu mengurangi sakit kontraksi. Nyobain zumba kayak yang lagi happening ternyata nggak bisa. Malah tambah sakit, terus akunya juga lemes. Paling pewe sambil duduk terus atur pernapasan, hirup dalam-dalam oksigen dari hidung dan keluarkan lewat mulut. Sambil dihitung lamanya kontraksi. Ternyata kontraksiku hanya sekitar 39 detik, wah kontraksi betulan bukan ya? Di artikel bilangnya kontraksi lebih dari 40 detik. Perut rasanya kayak diremas-remas padahal. Dan sakitnya semakin intens menjelang magrib. Aku sudah nggak sanggup solat magrib. Diantar akung dan ditemani Mbak Tinah, yang momong Ais, aku menuju ke puskesmas. Sampai di puskesmas langsung masuk ke ruang tindakan, dicek tensi dan suhu tubuh, dan terakhir pengecekan yang ditunggu-tunggu,cek bukaan persalinan. Alhamdulillah ternyata sudah bukaan 5, jadi mungkin melahirkan sebentar lagi!

Kontraksi semakin menjadi, tetapi Allah mudahkan karena aku sangat terbantu dengan teknik pernapasan yang kupelajari otodidak via youtube. Tidak sampai 1 jam dari bukaan 5, bukaan persalinanku lengkap ditandai dengan pecahnya ketuban. Alhamdulillah tak menyangka Allah sangat memudahkanku. Seketika keinginan mengejan timbul, tapi untung masih bisa kutahan.

This is my real gentle birth

Alhamdulillah keputusanku melahirkan di puskesmas adalah keputusan yang tepat. Persalinanku dibantu oleh bidan dan dokter yang semuanya wanita. (Ternyata di puskesmas lahirannya juga dibantu dokter, pokoknya 5 jempol buat puskesmas masa kini deh). Yang paling membuatku nyaman adalah affirmasi positif dari semua yang membantu persalinan, terutama bu dokternya. Aku diberi semangat untuk terus mengejan dan diberi pujian sehingga aku yakin cara mengejanku sudah benar. Rasanya aku mengejan sekitar 5 kali dan

PYOK

Bayi tembem itu keluar. Beberapa bidan terkena semburan dari miss V ku. Baby FREE 2.0 langsung dibersihkan sementara perutku juga dibersihkan dari plaseta dan ari2 yang tertinggal. Selesai dibersihkan, baby FREE 2.0 langsung diletakkan di dadaku. Ya Allah, finally aku bisa IMD!!! Selama IMD sekitar sejam, aku dijahit dengan interval waktu yang sama. Lama ya, mana cekit-cekit waktu jarum ditusukkan di sekitar perineum. Beda obat bius ni kayaknya sama yang lahiran Ais kemarin. Tapi so far nggak masalah sih, kan ada bayi cantik yang sedang kudekap di dadaku.

Setelah dua jam setelah jahit-menjahit selesai, aku dan bayiku masih diobservasi di ruang tindakan. Baby FREE 2.0 sempat menyusu sekali, walo ASI belum keluar. Tapi tetap semangat lah! Setelah itu kami rawat gabung di kamar rawat inap. Dan sampai tengah malam aku tak jua mengantuk karena menatap peri cantikku ini. Makan juga tidak terlalu nafsu, mungkin karena energiku tidak terlalu terforsir selama persalinan. Betul-betul the power of breath tecnique..

Udah ah, mau coba bobo dulu, biar strong mengASIhinya..

26 Januari 2018, jam 01.00 AM
Muka2 habis lahiran dan dilahirkan. Hehe

21.1.18

5 Pilihan Warna Cat Rambut yang Akan Populer di Tahun 2018



Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menunjang tampilan, bukan hanya berbekal busana saja, melainkan juga bisa dengan perubahan warna rambut. Untuk tahun 2018 ini sendiri pastinya banyak diantara kita yang juga ingin mulai mengubah gaya dari yang biasa-biasa saja menuju lebih stylish, salah satunya dengan mengecat rambut. Tak perlu khawatir dalam memilih cat rambut karena pada kenyataannya banyak pilihan cat rambut  yang aman untuk digunakan. Penggunaannya pun sangat mudah sehingga kita tidak harus pergi ke salon, melainkan melakukan sendiri cukup dari rumah saja.

Banyak yang mengatakan bahwa proses pengecatan rambut bisa menyebabkan kerusakan mahkota di kepala tersebut, padahal sebenarnya tidak, tergantung seberapa sering kita melakukan pengecatan tersebut. Jika masih dalam taraf yang normal tentunya tidak akan menyebabkan kerusakan. Berbeda halnya jika pengecatan dilakukan secara terus menerus, hal ini memang memungkinkan bahan kimia lebih banyak terserap dalam rambut sehingga menyebabkan kerusakan.

Beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan sebelum memilih warna cat rambut untuk digunakan, salah satu diantaranya adalah trend. Khusus untuk tahun yang baru ini, pastinya ada trend baru yang populer di kalangan anak muda.

Berikut ini diantara pilihan cat warna rambut yang akan menjadi sangat booming tahun ini, yaitu:

Silver, bagi yang memiliki rambut hitam legam dan ingin merubah gaya, bisa mempertimbangkan pilihan warna ini, sekilas memang agak mirip uban, namun ada beberapa cara menyiasatinya, yaitu coba gaya ombre dalam pengecatan, hanya cat di bagian ujung sampai setelah ukuran rambut saja, jangan semuanya, sehingga memberikan gaya yang lebih stylish, juga terhindar dari tampilan tua.

Merah, ingin warna yang sedikit menantang, bagaimana dengan merah bata, warna merah ini cukup banyak dijadikan sebagai pilihan anak muda, sangat cocok khususnya bagi mereka yang memang memiliki kulit berwarna putih susu. Sehingga akan memberikan kesan yang lebih fresh, tampil dengan gaya baru di tahun yang baru.

Biru dongker, salah satu keuntungan warna biru ini adalah memberikan tampilan yang terlihat muda dan segar. Tanpa kelihatan mencolok, apalagi pada dasarnya warna biru dongker serupa dengan warna hitam, sehingga ia akan terlihat jelas biru ketika terkena panas saja, sedangkan di tempat yang kurang cahaya akan terlihat hitam legam. Pilihan yang paling tepat untuk mereka yang tidak ingin tampil terlalu ngejreng.

Unicorn hair, khusus untuk yang benar-benar percaya diri mungkin bisa memilih gaya yang satu ini, unicorn hair adalah warna-warni mencolok yang digabungkan menjadi satu, diantaranya adalah merah, biru, silver, ungu hingga warna pink. Khusus untuk proses pengecatan model rambut ini memakan waktu yang agak lama memang, namun hasilnya akan sangat sebanding, benar-benar stylish dan cantik, sangat cocok bagi pemilik rambut panjang.

Nebule, model yang satu ini merupakan perpaduan antara warna ungu dan juga biru, kesannya sangat cantik di pandang atau eye chatcing, pastinya akan membuat Anda menjadi tampil lebih percaya diri.
Pink ombre, perpaduan antara warna silver di bagian atas dengan pink pada bagian bawahnya, terbilang sangat cantik, khususnya untuk yang benar-benar menginginkan gaya berbeda pada tampilan mereka.

Setidaknya itulah beberapa pilihan warna rambut yang akan menjadi sangat trend di tahun ini, pilihan warna-warnanya berani dan terdiri dari beberapa paduan warna. Untuk jenis pewarnaan rambut seperti itu, sebaiknya lakukan pengecatan di salon, karena tergolong sulit dilakukan sendiri untuk mendapatkan paduan warna tersebut. Gunakan juga cat rambut yang tepat sehingga tidak merusak rambut yang merupakan mahkota setiap wanita.

19.1.18

Sekolah Dasar Negeri vs Sekolah Dasar Swasta


Disclaimer, ini murni pengalaman pribadi dan nggak ada tendensi apa-apa dalam artikel ini. Dan sekolah disini dikhususkan membahas tentang sekolah dasar.

Sebelumnya: Memilih Sekolah

Sebenarnya, aku malas sih harus mikir macem-macem soal pendidikan anak. Kayaknya mah dulu zamanku dan suami kecil, sekolah yang penting dekat sama rumah. Nggak ada tuh ortu survei sana sini sampai kudu istikarah milih sekolah buat kita. Sampai Ais sekolah SD di Palembang juga kayaknya niat nggak niat gitu surveinya. Tapi ya Alhamdulillah langsung klik sama sekolahannya.

Yang jadi pertimbangan kemarin adalah mau sekolahin Ais ke SD Negeri atau SD Islam (SD Swasta)? Berhubung umur Ais masih sangat belia, jadi opsi SD Negeri dicoret. Gampang to? Nggak perlu galau banyak pilihan. Yang penting sediakan saja dana yang cukup buat memasukkan Ais ke sekolah swasta. Duit ada, rebes masalah. Dan kenyataannya memang seperti itu. Sebagai orang tua aku puas dengan pelayanan SD swasta tempat Ais sekolah. Ais juga sangat nyaman di sekolahan ini.

Tapi, tengah tahun ini ada yang harus berubah. Kenyataan membawa aku dan Ais harus hijrah ke Jogja lagi. Dan itu berarti Ais harus pindah sekolah. Ya gampanglah, Jogja kota pelajar, cari sekolahan aja yang dekat rumah, pasti juga bagus. Pilihan pertama mencoba daftar ke SD akungnya dulu. SD Negeri nih, kira-kira bisa masuk nggak ya Ais?

Pucuk dicinta ulam tiba. Ternyata masuk SD Negeri di tengah semester lebih gampang daripada masuk di awal tahun. Seriusan deh! Nggak ada tuh seleksi umur atau yang lain-lain. Pokoknya selama ada formasi ya masuk aja. Gurih to? Si mamak jadi ongkang-ongkang kaki aja. Masalah sekolah udah beres nih, malahan bisa hemat biaya SPP karena di SD Negeri kan geratisss. Tapiii, ternyata drama itu dimulai. Ada beberapa hal yang berbeda antara SD Negeri dan SD Swasta. Pertimbangan perbedaan ini yang membuat orang tua harus berpikir betul-betul dalam memilih sekolah dasar anak. Jangan sampai salah pilih dan menyesal. Soalnya pendidikan dasar ini nantinya akan menjadi pondasi pendidikan di jenjang berikutnya.

1. Masalah biaya

Soal biaya jadi komponen pertimbangan yang penting. Kalau memang sudah mengalokasikan dana dengan jumlah tertentu untuk sekolah anak, ya bisa memilih sekolah swasta dengan harapan anak akan lebih diperhatikan dan sebagai orang tua kita tidak segan request ini itu ke sekolah. Yah, namanya juga peralihan masa TK, biasanya anak belum mandiri 100% dan butuh bantuan guru untuk beberapa hal.

Tapi, sekolah di SD Negeri bukan tanpa biaya juga lo. Karena yang gratis kan SPPnya. Untuk seragam, buku, dan alat tulis, ya tetap harus biaya sendiri dong.

2. Masalah komunikasi guru-orang tua

Kalau di sekolah swasta, umumnya para guru dipersiapkan untuk bisa melayani orang tua murid dengan sebaik-baiknya. Perbandingan siswa yang diajar juga lebih sedikit dibanding SD Negeri. Jadi nggak heran kalau guru di SD swasta terlihat lebih friendly menjalin komunikasi dengan orang tua murid dibandingkan SD Negeri. Ya, guru SD Negeri yang friendly juga banyak, tetapi kultur di SD Negeri membuat orang tua murid tidak bisa terlalu akrab dengan wali kelas. Kalau di SD Swasta, gurunya inisiatif buat grup WA, kalau di SD Negeri, ya urus diri sendiri aja, kecuali ada orang tua murid yang inisiatif bikin grup WA sendiri (pengalaman sementara ini sih begitu)

3. Masalah pendekatan personal guru-murid

Masih kaitannya dengan nomor 2. Karena murid SD Swasta dalam sekelas biasanya dibatasi, maka perhatian guru ke tiap anak bisa maksimal. Setiap anak dapat diperhatikan secara personal. Orang tua dapat mengandalkan guru dalam memperhatikan anaknya selama di sekolah. Kalau di SD Negeri, nggak selalu kita beruntung dapat wali kelas yang care sama setiap anak didiknya. Dengan murid yang relatif lebih banyak, biasanya guru sudah kehabisan mengejar waktu menyelesaikan pelajaran ketimbang memperhatikan perkembangan tiap anak. Ya tetap diperhatikan sih, tetapi tidak intens.

4. Fasilitas sekolah

Ono rupo ono rego. Dengan biaya masuk dan SPP yang relatif besar, nggak heran kalau fasilitas di SD Swasta lebih ciamik dari SD Negeri. Tapi fasilitas kelas SD Negeri juga banyak yang sudah bagus.

5. Kegiatan tambahan/ekstrakulikuler

Nah ini yang kemudian jadi pertimbanganku kembali memasukkan Ais ke SD swasta. Ketika di SD Negeri, maka Ais akan menjalani proses belajar mengajar secara umum. Tetapi pengembangan bakat dan minatnya tidak terfasilitasi dengan baik. Resikonya kalau di SD Negeri, orang tua harus proaktif mencari tahu les2an di luar sesuai minat dan bakat anak. Optional sih, cuma lebih baik kan kalo minat dan bakat anak diarahkan semenjak dini.

Sebelumnya: Ketika Anak (sebaiknya) Tinggal Kelas
Masa SD sejatinya anak masih banyak bermain dan mempelajari hal-hal di luar akademis. Memperkaya anak dengan berbagai hal di luar pelajaran akan membentuk pola pikir anak ke depannya. Masa SD bukan masa berlomba-lomba mengejar nilai pelajaran, karena pintar saat SD belum menjamin pintar di jenjang selanjutnya. Mempersiapkan anak pintar secara emosional lebih penting. Nah, gimana caranya tuh bida bersinergi dengan support system agar anak bisa terasah kepintarannya, tak hanya secara akademis tetapi juga emosional.

Jadi, pilih negeri atau swasta? Apa pun pilihannya, pendidikan di rumah tetap yang terpenting. Setuju?

16.1.18

Ketika Anak (Sebaiknya) Tinggal Kelas


"Emang sebego apa sih sampai tinggal kelas?"

Itu pertanyaan yang paling mungkin dilontarkan ketika melihat ada anak yang tinggal kelas. Padahal anak tinggal kelas bukan karena bego, soalnya nggak ada tuh anak bego di dunia ini. Yang ada adalah anak yang tidak/belum terfasilitasi kecerdasannya. Ya ibarat kata monyet dianggap bego karena nggak bisa berenang, soalnya dia kan pinternya manjat, tapi kemampuan memanjatnya nggak dievaluasi, jadi dianggap bego aja si monyet.

Sekolah di Indonesia secara umum memang masih menekankan pada satu kecerdasan tertentu yang lalu dievaluasi secara merata ke semua anak. Jadi, anak harus mempunyai kecerdasan emosional untuk bersaing di sekolah. Kalau anak kita termasuk pintar di sekolah, bersyukurlah. Tetapi tidak semua anak bisa. Selalu ada urutan buncit di kelas. Saat ada anak yang mendapatkan nilai 100, mungkin akan ada anak yang hanya mendapat nilai 20. Kalau yang dapat nilai 20 ini tidak memiliki kecerdasan emosional yang baik, apalagi bila ditambah dengan omelan dan tuntutan orang tua, maka bukan nggak mungkin anak ini akan benci sekolah.
***
Kisah ini merupakan lanjutan dari:
Ketika Hijrah ke Jogja Lagi...

Kekhawatiran kalau Ais bakalan malas sekolah adalah yang aku rasakan terhadap Ais saat ini. Di sekolah baru ini, Ais memiliki kemampuan belajar di bawah teman-temannya. Sebenarnya aku sangat maklum dengan kondisi ini, karena usia Ais dibawah teman sekelasnya dan Ais tidak menyelesaikan TK, karena saat di Palembang aku memutuskan langsung memasukkan Ais ke SD.

Saat mendapati nilai pelajarannya yang tidak memuaskan, aku hanya tahan diri. Aku pikir dengan aku membiarkannya dan terus menyemangatinya belajar itu akan lebih baik untuk kepercayaan dirinya. Tetapi ternyata secuek apa pun anak cowok, tetap saja dia punya rasa tidak mau kalah. Ada rasa malu ketika nilainya di bawah teman-temannya. Tetapi untuk memaksanya bisa menyamai kemampuan teman-temannya juga bukan hal yang bijak. Aku tak ingin merenggut masa bermainnya dengan memaksanya terus belajar (dan lagi apa faedahnya bila nanti kemampuannya sudah sama dengan teman-temannya, ya kan?)

Lalu aku disadarkan pada banyak contoh anak yang masuk sekolah di usia dini. Iya, mereka mampu beradaptasi dengan baik, tapi kemampuan mereka nggak maksimal. Ada yang bertahan dengan kemampuan rata-rata. Parahnya, beberapa kemudian tumbuh menjadi anak yang minder (karena merasa kurang dibanding teman-temannya). Aku kemudian berpikir untuk memindahkan Ais ke sekolah lain dan mengulang lagi kelas 1 SD. Jelas ini bukan keputusan yang mudah dan nggak bisa main-main. Psikologis anak dipertaruhkan. Beberapa beranggapan kasihan nanti anaknya malu. Hmm, mungkin lebih tepatnya orang tuanya yang malu ya? Masak mendidik anak gak becus sampai harus tinggal kelas begitu? Biarin lah. Aku pikir aku memang harus mengakui kesalahanku menyekolahkan SD di usia dini.

Sebelumnya: Memilih (Jenjang) Sekolah

Lalu, kalau pun ada yang membesarkan hatiku dengan mengatakan kalau Ais itu mampu naik kelas, jujur dalam hati aku mengiyakan. Secara kemampuan aku percaya Ais mampu, tetapi akan lebih mampu lagi bila dia sekolah sesuai dengan umurnya. Karena ini bukan hanya perkara mampu mengikuti pelajaran sekolah saja, tetapi juga mampu secara emosional. Mampu bertanggung jawab kalau belajar itu kebutuhan. Mampu membagi waktu kapan harus bermain dan kapan harus belajar. Mampu bangun pagi dan bersekolah dengan gembira. Aku yakin tahun depan kemampuannya ini akan berkembang dengan lebih baik. Semoga bila Ais nanti harus tinggal kelas adalah keputusan yang benar. Aamiin.

Ais, maafkan ibu karena harus berpindah-pindah domisili sehingga Ais harus pindah-pindah sekolah juga. In sya Allah tahun depan nggak pindah-pindah sekolah lagi. Aamiin. (Mamaknya baper)

15.1.18

Mencegah Strech Mark Selama Kehamilan


Oh my! Kenapa kulit perutku jadi menghitam begini??? Nggak pergi kemana-kemana tapi kaki pegalnya bukan main.

Walau sudah hamil anak kedua, tapi tetap saja perubahan yang terjadi pada tubuh selalu membuat excited. Ada excited senang, tetapi juga ada yang membuat was-was. Perubahan perut yang semakin membuncit jelas membuat senang, apalagi bila didukung oleh hasil pemeriksaan USG yang bagus. Tetapi di balik perut buncit itu ada satu ketakutan setiap wanita hamil, yaitu: strech mark

Walau perut adalah bagian tertutup dari tubuh, tetapi keberadaan strech mark pada tubuh tetap saja menganggu. Tak jarang rasa gatal terasa di area sekitar strech mark. Lalu, saat nanti melahirkan dan perut kembali kempes, bentuk perut tidak langsung kembali seperti semula melainkan keriput dan bergelambir. Hmm, bikin minder kalau lagi berkaca deh.

Dulu, waktu zaman hamil Ais, sudah berusaha meminimalkan strech mark dengan menggunakan VCO. Tetapi cara tersebut tidak aku lakukan saat kehamilan adeknya Ais ini. Selain kadang kelupaan, pakai VCO meninggalkan rasa berminyak di perut. Tak jarang malah jadi terasa gatal. Jadi malas pakai kan, padahal pakai VCO bagus untuk menjaga kelembaban kulit selama hamil.

Nah, sekarang sih sudah nggak galau lagi, karena sudah nemu krim pencegah strech mark yang tidak meninggalkan bekas berminyak di permukaan kulit. Mooimom Strech Mark Cream. Dengan kandungan bahan alami ekstrak edelweiss, croton lechleri, minyak biji kakao Maroko, dan soluble collagen essense.

Ekstrak edelweiss mengandung bahan antioksidan kuat, mencegah tanda-tanda penuaan dan memberi efek menenangkan pada kulit.

Croton Lechleri Extract yang berasal dari getah pohon yang sebagian besar tumbuh di daerah Amazon, berkhasiat mengencangkan dan meningkatkan elastisitas kulit. Memiliki efek melembabkan dan memperkuat jaringan kulit sehingga mampu membantu menyamarkan stretch mark dan bekas luka.

Minyak biji kakao yang kaya akan vitamin E, berkhasiat menjaga elastisitas kulit, mencegah kekeringan kulit dan keriput. Soluble Collagen Essence berfungsi meningkatkan relaksasi dan kelembapan kulit serta membuat kulit lebih kenyal.

Keunggulan Mooimom Strech Mark Cream

Hanya bahan alami tanpa alkohol dan pigmen buatan yang terkandung dalam Mooimom Strech Mark Cream sehingga membuat krim ini aman digunakan sehari-hari. Konsistensi krimnya cukup kental tetapi tidak terlalu pekat sehingga mudah diaplikasikan ke seluruh permukaan kulit yang butuh perawatan anti strech mark.

Kemasan Mooimom Strech Mark Cream kecil dan praktis dibawa kemana pun. Bentuk botolnya elegan dan menjamin aman dari tumpah.

Soal harga, untuk cream khusus penghilang strech mark, Mooimom Strech Mark Cream relatif terjangkau, yaitu sekitar Rp. 299.000.

Menurut testimoni pengguna, khasiat penggunaan Mooimom Strech Mark Cream mulai terlihat pada dua minggu pemakaian. Aku sendiri baru satu minggu pemakaian, yang jelas sih hasrat ingin menggaruk bagian perut saat hamil ini berkurang setelah pemakaian krim ini. Harapannya sih, strech mark yang terbentuk akan minimal. Jadi perawatan strech mark setelah melahirkan nanti tidak terlalu sulit. Aku menggunakan krim ini cukup sekali sehari. Agar tidak mengganggu aktivitas dan penyerapan ke kulit maksimal, aku menggunakannya di malam hari saat sebelum tidur. Namun, saat hasrat ingin menggaruk perut membuncah (apaan coba), aku gunakan lagi krim ini. Ekstrak bahan alami edelweiss dan croton lechleri memberi efek menenangkan dan adem di kulit. Jadinya tidak terlalu terasa gatal lagi kulit perutnya.

Strech mark itu, walau ada di bagian tertutup tubuh, tetapi dapat mengurangi kepercayaan diri terutama saat bercermin. Terkadang jadi malu sendiri lihat kulit perut di kaca. Dengan perawatan yang tepat, strech mark selama kehamilan dapat dicegah dan diminimalkan keberadaannya. Jadi, nggak malu lagi deh liat perut sendiri di kaca. Xixixixi.

Produk Mooimom Strech Mark Cream dapat dibeli di:

14.1.18

Ketika Hijrah ke Jogja Lagi...

Seri selanjutnya dari Cara Allah Menunjukkan JalanNya

Takdir memang nggak ada yang menyangka. Rasanya baru kemarin pindah ke Palembang, memulai kembali rumah tangga yang utuh, tidak lagi LDR. Demi itu semua, anak lelaki satu-satunya terpaksa 'putus sekolah'. Karena umurnya masih TK dan aku belum punya referensi sekolah, maka aku dan suami putuskan untuk unschool sementara waktu. Niatnya, tahun ajaran baru akan dimasukkan sekolah lagi.

Awalnya berniat memasukkan Ais ke TK lagi, karena memang dari usia belum ada 6 tahun. Akan tetapi, justru aku mendapatkan referensi SD yang bagus dari orang yang rumahnya kami beli (dan kami seperti saudara sampai hari ini). Akhirnya aku malah jadi kepikiran untuk langsung memasukkan Ais ke SD saja. Apalagi memang syarat umur Ais masih masuk syarat umur minimal di SD tersebut.

Baca: Memilih Sekolah

Singkat cerita, dari hasil tes dan observasi Ais layak masuk SD. Alhamdulillah Ais tidak punya kendala berarti selama bersekolah SD. Mungkin karena memang kelasnya yang dirancang hanya maksimal 18 siswa dengan 2 guru, jadi perkembangan anak benar-benar terpantau. Intinya sih, di Palembang ini keluarga kecil EDibaFREE sudah happily everafter, sampai suatu hari ada bukaan CPNS.

Seperti tahun sebelumnya, aku masih excited setiap kali ada bukaan CPNS. Apalagi sekarang daftar CPNS kan online, jadi daftar CPNS sekarang mah semudah ngisi google form buat survey atau daftar buzzer. Xixixi. Karena memang sejujurnya sudah nggak terlalu berharap CPNS (umur sudah lewat penggaris), jadi sekalian aja aku pilih formasi idaman, yaitu formasi peneliti LIPI di Jogja.

Awalnya sudah hampir nggak lulus seleksi administrasi karena salah upload akreditasi jurusan. Sudah pasrah saja, ternyata tetap dipanggil seleksi administrasi dan tes TKD (tes kemampuan dasar). Tesnya di Jakarta. Galau deh. Perut udah mulai buncit gini, plus kalau naik pesawat butuh berapa duit tuh? Huhuhu. Tapi keluarga semua menyemangati, termasuk suami, pokoknya ikhtiar gak boleh kendor.

Baca: Bumil Ngebolang

"Kalau nanti keterima, berarti nanti LDR lagi dong? Terus nanti lahiran sama  sekolah Ais gimana?" Tanya seorang teman. Well, jawaban dan rencana untuk itu belum aku pikirkan. Kayaknya sih udah nggak mungkin juga keterima. Tapi, kenyataan berkata lain. Dengan tangan Allah aku bisa lulus CPNS LIPI 2017 ini! Kalau katanya sih, rejeki utun, emang si utun ini strong banget deh nggak pernah ngerepotin selama ibunya kelayapan Palembang-Jakarta. Akhirnya, pertanyaan temanku tadi harus kucari tahu jawaban dan solusinya dong ya.

LDR? Mau nggak mau harus menjalani lagi. Jangan ditanya galaunya gimana. Aku jujur nggak nyaman LDR, soalnya pada dasarnya kami bukan pasangan yang intens berkomunikasi. Terus kalau nggak tatap muka langsung suka kadang ada aja salah pahamnya. Kan kzl. Yah, kami sih bertekad nggak LDR lama-lama lah. Pokoknya gimana caranya usaha suami bisa berkembang sampai ke Jogja lah (masih peer besar, soalnya yang di Palembang juga masih merintis)

Lahiran? Untungnya sih BPJS bisa dipakai secara nasional, walau untuk kontrol-kontrol nggak bisa pakai BPJS, karena faskes 1 ku baru bisa dipindah Maret nanti (salah sendiri kemarin ganti faskes, haha!). In sya Allah hamilku nggak bermasalah jadi aku bisa lahiran di puskesmas. Kepepetnya ada biaya-biaya tambahan nggak akan terlalu memberatkan.

Sekolah Ais? Rupanya ini nih yang jadi masalah belum terselesaikan sampai saat ini. Bisa dibilang aku agak menyesali keputusan memasukkan Ais SD. Tapi ya siapa yang mengira kalau dalam waktu setahun di Palembang aku dan Ais bakal balik ke Jogja lagi? Kupikir memasukkan Ais ke SDN tidak akan ada masalah, toh Ais gampang beradaptasi. Nyatanya Ais justru keteteran karena kemampuan baca dan tulisnya belum sebaik teman sekelasnya. Belum lagi culture shock (buat ibunya), dari yang biasa bisa kompak sama wali kelasnya, sekarang mengalami kendala komunikasi karena dapat wali kelas yang rada cuek sama muridnya (ya wajar sih, dia handle banyak murid dan sebelumnya wali kelas 3, dimana murid-murid sebelumnya sudah mandiri). Saat ini aku jadi galau dan berkeinginan untuk mengulang kelas 1-nya lagi tahun depan, tentu saja pindah sekolah juga karena aku mengkhawatirkan psikologis Ais. Pengennya sih balik ke SDI seperti di Palembang dulu, tapi belum ada yang sreg dari segi lokasi, kurikulum, dan harga. Yang lokasinya masih terjangkau, pelajaran agamanya cukup, dan harga cukup terjangkau adalah SD Muhammadiyah. Memang dari pelajaran agama tidak sekaya pelajaran agama di SDI, tetapi dengan pertimbangan utama masalah jarak tempuh ke sekolah, aku prefer pilih sekolah ini buat Ais tahun depan.

Nah, yang sekarang jadi peer, Ais minta sekolah yang sepatunya dilepas (di SDI dulu, sepatu ditaruh di luar kelas), nah kalau di Muhammadiyah ini kelasnya sudah pakai keramik sih, tapi kayaknya nggak lepas sepatu juga sih. Ah entahlah, lets see, masih mikirin mau lahiran dulu aja lah.