10.2.17

Jerapah dan Gajah Mengambil Apel

Jadi, ini dongeng terinspirasi dari meteran jerapah dari Sari Husada. Terus Ais minta didongengin. Akhirnya terinspirasilah dongeng ini. Rada geje dan nggak usah dipikir pakai logika banget lah ya. Ini cuma biar anaknya diem dan terus tidur, haha.

Jerapah dan Gajah Mengambil Apel



Pada suatu hari, jerapah dan gajah sedang berjalan menikmati udara pagi. Mereka berdua sering kemana-mana bersama. Tetapi, mereka sering sekali bertengkar. Tak terkecuali pagi ini. Jerapah dan gajah malah bertengkar tentang siapa yang lebih hebat.

"Ya jelas aku dong yang hebat! Leherku panjang, bisa ambil makanan yang tinggi. Kamu? Pasti nggak bisa.." Seru jerapah dengan nada mengejek.

"Sombong kamu ya, kamu nggak tahu, belalaiku panjang, jadi walau pun makanannya tinggi, tetap saja aku bisa mengambilnya." Sanggah gajah.

Tupai mendengar pertengkaran mereka. Tupai sebenarnya sudah bosan mendengar gajah dan jerapah bertengkar terus. Tapi tupai tidak bisa berbuat apa-apa.

"Lihat ya, aku akan ambil buah apel di ranting pohon yang tinggi ini. Panjang belalaimu pasti tidak cukup untuk mencapainya." Pamer jerapah.

" Huh, coba saja." Gerutu gajah.

Leher jerapah memang panjang. Apel yang terletak di ketinggian bisa dengan mudah diraihnya. Tapi, karena hati jerapah sudah diliputi kesombongan, tiba-tiba, jatuhlah pohon apel itu.

"Waduh, pake acara jatuh lagi." Gerutu jerapah.

Gajah yang sedari tadi sebal dengan kesombongan jerapah menjadi tertawa bahagia. Bahagia jerapah kesulitan mengambil apelnya itu.

"Waduh. Susah banget ambil buahnya kalau sudah jatuh di tanah. Leherku sakit nih kalau menunduk terus." Keluh jerapah.

Sebelum apel itu berhasil diambil jerapah, tiba-tiba angin kencang berhembus. Apel menggelinding masuk ke rerantingan. Wah, tambah susah nih mengambilnya.

"Tuh kan. Leher panjangmu nggak bisa apa-apa untuk mengambil barang jatuh. Kalau belalaiku sih, ambil di rerantingan begini, kecilll. " Sombong si gajah.

Setelah itu, dijulurkanlah belalainya. belum sampai menuju buah apelnya, tiba-tiba belalai gajah tertusuk ranting yang tajam.

"Aduh!" Lenguh si gajah. Ternyata mata gajah kurang awas memperhatikan ada ranting yang tajam.

Melihat gajah dan jerapah sedang kesulitan, tupai lalu berinisiatif menolong mereka. Badan tupai yang kecil, cukup lincah untuk masuk ke celah-celah ranting tanpa harus terluka oleh ranting tajam. Tada. Apelnya berhasil diambil.

"Jerapah. Gajah. Kalian itu sama-sama hebat dengan leher dan belalai panjang kalian. Tetapi kalau kalian sombong, maka Allah akan menegur kalian. Kayak ngambil apel  di semak belukar begini, ternyata malah tidak perlu leher atau belalai panjang kan. Justru dengan badan kecil dan pendek sepertiku malah berhasil mengambil."

"Iya. Kamu benar Tupai" Ucap jerapah dan gajah bersamaan.

"Aku minta maaf Gajah. Aku yang tadi mulai sombong duluan." Sahut jerapah.

"Iya Jerapah. Aku juga minta maaf tadi mentertawaknmu." Ujar Gajah.

"Ya sudah. Ayo kita jalan-jalan lagi. Ayo Tupai. Kamu juga ikut. Biar kamu jadi penengah kalau kita bertengkar lagi." Seru jerapah.

"Hahahahaha." Mereka bertiga tertawa bersama sambil melanjutkan jalan-jalan

***

Moral story: Jangan sombong dengan kehebatan kita, karena terkadang kehebatan kita tidak berguna dalam menghadapi masalah hidup kita.

Reaksi:

1 komentar:

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...