2.5.16

Waspadai Pencernaan Sensitif pada Anak

Waspadai pencernaan sensitif pada anak

Menjadi New Mom itu drama. Ya kan? Cuma perkara buang air pada anak saja sudah bisa bikin dunia serasa kiamat. Tapi drama para mama ini memang jangan diremehkan. Masalah pencernaan anak ini ternyata nanti bisa berefek pada masalah perilaku anak dan bahkan kematian. Eh, tapi jangan panik dulu, simak dulu penuturan Dr. Badriul Hegar, Ph. D, SpA(K)selaku konsultan Gastrohepatologi Anak dan DR. Dr. Achmad Suryawan, SpA(K) dalam acara Nutritalk Sari Husada yang bertajuk "Nutrisi Tepat Kunci Kesehatan bagi Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak".

Waspadai pencernaan sensitif pada anak
Pembicara dan MC di acara. Semuanya dokter! (foto by twitter @Nutrisi_Bangsa)
Acara Nutritalk kali ini berlangsung pada 28 April 2016 kemarin dan bertempat di Ballroom Dua Mutiara Hotel JW Marriot Jakarta. Acara bincang-bincang tentang nutrisi ini berlangsung dari jam satu siang sampai jam 4 sore. Acara dikomandoi oleh presenter yang berprofesi sebagai dokter, dr. Lula Kamal. Di awal acara, dr. Lula bercerita kepada audience tentang anaknya yang hampir kesemuanya memiliki pencernaan sensitif saat masih kecil dulu. Gangguan pencernaan memang sangat rentan dialami anak di bawah dua tahun. Dr Lula sudah sangat hafal dengan gejala diare bayi karena rotavirus, karena beberapa anaknya memang mengalaminya. Faktanya, 3 dari 10 anak di Indonesia mempunyai pencernaan sensitif.
Waspadai pencernaan sensitif pada anak
dr. Lula Kamal sebagai presenter acara. (foto by twitter @Nutrisi_Bangsa)
Dr. Badriul Hegar, Ph. D, SpA(K) atau yang akrab disapa dr. Hegar sebagai konsultan Gastrohepatologi Anak menjadi pembicara pertama di acara ini. Dr. Hegar memaparkan gangguan sistem pencernaan akan mempengaruhi sistem imun anak. Hal ini dikarenakan 40% sel saluran cerna adarah jaringan limfoid. Itulah mengapa, pencernaan yang sehat akan menjaga daya tahan tubuh anak tetap baik. Anak pada usia di bawah 2 tahun lebih rentan mengalami gangguan pencernaan dibanding anak yang lebih besar. Jadi kalau bayi hari ini diare, besoknya susah buang air besar, sebenarnya sih wajar. 1000 hari kehidupan bayi adalah masa rentan kehidupan bayi. Saat 270 hari pertamanya di kandungan ibu, bayi masih mendapatkan nutrisi dari si ibu. Di dalam perut ibunya, bayi juga belum terpapar virus atau pun bakteri jahat. Saat bayi lahir ke dunia, di saat itu pencernaan bayi baru mulai berkembang. Enzim laktase bayi baru berfungsi sempurna di usia 1 bulan. Oleh karena itu, saat usia di bawah 1 bulan, terkadang bayi mengalami diare. Hal ini disebabkan karena saat itu enzim laktase belum terbentuk sempurna, maka pemecahan gula susu (laktosa) pada ASI ibu menjadi kurang optimal. Akibatnya, laktosa yang belum dipecah tidak akan dapat diserap oleh tubuh bayi dan akan dikeluarkan dalam bentuk pup/tinja.
dr. Hegar (foto by twitter @Nutrisi_Bangsa)
Pada awal kehidupannya pula, bayi yang sebelumnya steril di dalam rahim ibunya mulai terpapar oleh virus dan bakteri jahat di luar rahim ibunya. Pada masa penyesuaian  saat baru dilahirkan, ketahanan tubuhnya belum terbentuk dengan baik, sehingga tubuhnya lebih rentan terinfeksi virus dan bakteri jahat yang bertebaran di lingkungan. Itulah alasan selanjutnya mengapa gangguan pencernaan dapat lebih mudah menyerang bayi yang baru lahir.

Menurut dr. Hegar, gangguan pencernaan yang disebabkan oleh virus seperti rotavirus lebih berbahaya dibandingkan gangguan pencernaan yang disebabkan oleh bakteri. Pada bagian usus halus, terdapat mikrofili yang berfungsi menyerap sari-sari makanan. Apabila sistem pencernaan diserang oleh bakteri, maka efeknya tidak sampai merusak mikrofili usus. Berbeda halnya bila sistem pencernaan bayi diserang rotavirus, efeknya bisa sampai merusak mikrofili usus. Sehingga recovery-nya lebih lama. Selama proses recovery itu pula makanan tidak dapat terserap dengan baik.

Beberapa gangguan pencernaan dicirikan dengan buang air besar dengan intensitas yang sering dan konsistensi tinja yang cair (diare), atau justru susah buang air besar (konstipasi). 

Diare dan tata laksana diare

Diare yang tidak teratasi dengan baik dapat menyebabkan kematian pada bayi loh, bahkan sakit diare sudah menjadi pembunuh bayi kedua setelah penyakit pneumonia. Oleh karena itu setiap orang tua harus paham tata laksana diare.
  1. Yang utama adalah pemberian cairan terus-menerus untuk menggantikan cairan yang hilang selama diare.
  2. Untuk bayi ASI, terus diberi ASI, jangan malah distop ASInya terus diganti susu formula, malah jadi masalah baru lagi nanti.
  3. Berikan zinc selama 10 hari. Harus tepat 10 hari dan nggak boleh kurang loh, soalnya dosis 10 hari ini sudah melalui tahapan penelitian. Fungsinya adalah me-recovery mikrovilli usus yang rusak selama diare.
  4. Peratikan penyebab diare, umumnya diare pada bayi disebabkan oleh virus seperti rotavirus, oleh karena itu, say no to antibiotik!
  5. Selanjutnya, hindari penyebab diare dan selalu jaga kebersihan. Bila tidak bertemu pemicunya, diare biasanya tidak kambuh lagi.

Konstipasi, ciri dan penanganannya

Selain diare, gangguan pencernaan lain adalah konstipasi alias susah buang air besar. Akan tetapi, sebelum menyatakan bahwa anak terkena konstipasi, pastikan terdapat 3 dari 6 ciri konstipasi berikut terjadi selama 2 bulan berturut-turut:
  1. Frekuensi BAB kurang dari 3 kali selama seminggu.
  2. Terasa tinja keras di rektum.
  3. Terdapat tinja encer di celana (kecirit), yang berarti tinja tertahan di rektum tanpa bisa dikeluarkan.
  4. Menahan BAB karena terasa sakit saat BAB.
  5. Sulit dan nyeri BAB.
  6. Tinja keras hingga menyumbat toilet.
Masalah konstipasi memang cukup unik. Terkadang orang tua tergoda untuk memberikan obat pencahar agar anak bisa BAB. Yang konyol (karena ini sebenarnya cuma mitos), terkadang pada dubur anak diberi sabun batangan agar fesesnya keluar. Padahal ini kan bisa menyakiti anak dan berbahaya. Tapi karena banyak ibu yang berhasil dengan cara ini, jadi banyak yang percaya ‘pengobatan’ yang salah ini.

Sebenarnya sih, saat anak frekuensi BABnya jarang dan tidak setiap hari, orang tua tidak perlu langsung panik. Selama anak tidak kesulitan BAB, sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Akan tetapi, beberapa bayi yang sulit BAB memang mengalami ‘drama’ saat BAB. Terkadang bayi sampai menangis karena BAB-nya keras. Nah, perhatikan dan atur asupan makanannya:
  1. Berikan ASI eksklusif kepada bayi. Terkadang, karena bayi mengalami susah BAB, ibu tergoda untuk menghentikan pemberian ASI pada bayinya dan menggantinya dengan susu formula. Padahal, resiko gangguan pencernaan pada bayi yang meminum susu formula lebih tinggi dibandingkan bayi yang meminum ASI. Jadi, saat bayi mengalami konstipasi, tetap gempur dengan ASI ya.
  2. Kurangi makanan yang mengandung kalsium. Kalsium dapat membuat tinja menjadi keras. Kurangi makanan yang tinggi kalsium. Apabila anak meminum susu formula, perhatikan perbandingan kalsium:fosfor dan whey:casein. Perbandingan yang tepat sesuai dengan nutrisi ASI adalah kalsium:fosfor (2:1) dan whey:casein (60:40).
  3. Cukupi kebutuhan serat dengan tepat. Bayi yang sudah MPASI terkadang mengalami konstipasi karena pencernaannya sedang menyesuaikan diri dengan makanan selain ASI. Berikan asupan serat yang tepat dan beragam pada MPASI anak. Buah dan sayur adalah sumber serat yang baik untuk melunakkan tinja dan memberi nutrisi bakteri baik di usus besar. Jangan terpaku pada satu jenis buah atau sayur karena bila berlebihan juga tidak baik bagi pencernaan. Apalagi masa MPASI adalah waktu yang tepat untuk memperkenalkan berbagai rasa buah dan sayur, sayang sekali bila anak hanya familiar dengan satu jenis buah atau sayur kan?

Selain mengatur asupan makanan, pencegahan konstipasi dapat dilakukan dengan treatment sebagai berikut:
  1. Lakukan pijat di area perut bayi dengan gerakan memutar searah jarum jam. Memijat perut bayi searah jarum jam berfungsi untuk membantu mendorong tinja yang masih ‘terjebak’ di usus besar agar segera dikeluarkan. Selain itu, pijat bayi juga dapat mengeluarkan gas yang biasanya menjadi penyebab perut bayi kembung.
  2. Lakukan senam bayi dengan gerakan menyerupai mengayuh sepeda. Menekuk kaki bayi sehingga menekan perut secara bergantian menyerupai gerakan bersepeda akan melancarkan BAB pada bayi. Bonusnya, bayi biasanya senang diajak bermain seperti ini (pengalaman pribadi penulis sih kalau ini).
  3. Toilet training saat anak sudah berusia 3 tahun. Toilet training alias tatur ternyata kurang baik dilakukan di usia yang terlalu kecil karena lebih beresiko menimbulkan trauma pada anak. Toilet training efektif dilakukan saat anak sudah berusia 3 tahun. Pada awal toilet training, anak mungkin tidak langsung bisa mengeluarkan BABnya. Jangan dipaksa, karena masa awal toilet training adalah masa penyesuaian kerja usus. Lama kelamaan usus akan merespons bahwa BAB harus dikeluarkan saat anak sedang berjongkok atau duduk di pispot. Perhatikan posisi saat BAB. Bagian kaki anak harus menapak sehingga perut mendapat tekanan. Ini akan memperlancar pengeluaran BAB pada anak.
toilet training yang benar
Posisi toilet training yang tepat. kaki tidak menggantung. Foto by twitter @ke2nai
Bila dirangkum secara keseluruhan, maka nutrisi yang harus diperhatikan menjaga sistem pencernaan anak:
  1. Zinc. Zinc adalah mineral yang dikenal dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Untuk urusan pencernaan, zinc dapat meregenerasi sel mukosa usus yang rusak sehingga dapat menjaga penyerapan makanan tetap optimal.
  2. Glutamin. Glutamin adalah golongan asam amino non esensial atau asam amino yang dapat diproduksi tubuh. Akan tetapi jumlahnya masih kurang sehingga perlu mendapat asupan dari makanan. Dalam menjaga kesehatan saluran pencernaan, glutamine dapat mengoptimalkan penyerapan nutrisi dan membantu menyeimbangkan kadar asam basa dalam tubuh.
  3. Serat. Ada dua macam serat yang berfungsi menjaga sistem pencernaan di dalam tubuh. Serat larut air (soluble fiber) dan serat tidak larut air (non-soluble fiber). Serat larut air akan menurunkan konsistensi tinja sehingga lunak dan mudah dikeluarkan. Serat tak larut air akan terfermentasi di usus besar menjadi SCFA(short chain fatty acid). SCFA adalah nutrisi untuk bakteri baik di usus besar.    
Pengaruh pencernaan sensitif terhadap tumbuh kembang anak.

Setelah pada sesi pertama dr. Hegar menyampaikan tentang gangguan pencernaan pada anak dan cara mengatasinya, sesi berikutnya menghadirkan DR. Dr. Achmad Suryawan, SpA(K) yang merupakan Konsultan Tumbuh Kembang Anak. Tumbuh kembang maksimal terjadi pada periode kritis anak di dua tahun pertama kehidupan. Apabila penyerapan nutrisi pada bayi terganggu akibat pencernaannya yang sensitif dan bermasalah, maka tumbuh kembang dan perkembangan anak dapat ikut terganggu. Kenapa bisa begitu?

Ternyata, terdapat interaksi dua arah antara otak dan saluran cerna yang disebut Gut-Brain Axis. Gut-Brain Axis yang lancar akan memaksimalkan tumbuh kembang anak. Itulah kenapa ada istilah ‘What you eat is what you think’, karena apa pun jenis makanan yang dikonsumsi akan mempengaruhi pola pikir kita. Kembali ke masalah pencernaan, diare maupun konstipasi pada anak dapat mempengaruhi berat badan, IQ, dan perilaku.
 
pencernaan sensitif pada anak
dr. Wawan. (foto by twitter @Nutrisi_Bangsa)
Diare dapat dibagi menjadi 3 macam tingkatan dengan dampak yang berbeda pada tumbuh kembang anak dibawah dua tahun:
  1. Diare akut. Yaitu saat anak mengalami diare pada satu waktu, akan tetapi diare langsung sembuh. Diare seperti ini tidak sampai berdampak bagi tumbuh kembang anak.
  2. Diare berkepanjangan. Apabila diare terjadi berkepanjangan pada suatu waktu, diare ini akan berdampak pada berat badan anak. Berat badan anak akan semakin susut, dan
  3. Diare persisten/kronis. Merupakan tingkatan diare yang berdampak paling buruk bagi tumbuh kembang anak. Pada diare jenis ini, selain berat badan berkurang, pertumbuhan tinggi badan anak juga terganggu. Diare ini bahkan dapat memengaruhi kecerdasan anak dan dapat mengurangi nilai IQ sampai 10 poin. Ini akan menyebabkan resiko keterlambatan sekolah pada anak nantinya.
Selain diare, gangguan pencernaan lain yang berdampak pada tumbuh kembang anak adalah konstipasi. Menurut data, konstipasi memperbesar resiko gangguan perilaku anak hingga 4 kali lipat. Jadi, bila anak tanpa konstipasi beresiko 9% mengalami gangguan perilaku, maka anak yang konstipasi beresiko mengalami gangguan perilaku sampai 36,8%! Tetapi ingat 6 ciri konstipasi ya, bila anak hanya susah BAB jangan dianggap itu pasti konstipasi terus mengkait-kaitkan bila anak belum bisa berjalan, terlambat bicara, dll. Gangguan perilaku dapat terjadi karena terdapat masalah pada pencernaannya, namun tidak semua gangguan perilaku pasti bersumber dari gangguan pencernaan. Pesan dr. Wawan kepada para orang tua, terutama ibu masa kini, kurangi gadget dan sering-seringlah bermain dan berbicara pada bayinya. Anak terlambat jalan dan bicara seringkali disebabkan kurangnya stimulasi yang diberikan orang tuanya kepada anaknya.

Tumbuh kembang anak ibarat ‘rapor’ para orang tua. Saat anak belum bisa ini dan itu sementara anak lain sudah bisa, orang tua seringkali heboh. Padahal, tumbuh kembang anak ini sifatnya unik, tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Yang terpenting adalah selalu memberikan stimulasi pada anak. Pada acara ini, beberapa ibu bertanya pada dr. Wawan tentang tumbuh kembang anaknya. Namun, dr. Wawan tidak berani memberikan diagnosa karena untuk menegakkan diagnosa, para konsultan tumbuh kembang anak harus bertemu langsung dengan si anak, dan observasinya bisa berjam-jam. Makanya konsultan tumbuh kembang anak jarang punya media sosial, soalnya nggak bisa melayani konsultasi online, hehe.


Wah, kalau ngomongin tumbuh kembang anak memang sangat seru dan bisa lama. Jadi, karena keterbatasan waktu, maka tepat jam 4 sore acara kemudian ditutup oleh dr. Lula. Demikian informasi tentang Nutritalk bertajuk "NutrisiTepat Kunci Kesehatan bagi Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak". Bila masih ada yang belum jelas, bisa ditanyakan di komentar ya ^_^

Reaksi:

20 komentar:

  1. Iya, serius drama banget. Soalnya bayi atau batita kalau kena diare, cepet banget turun berat badannya. Jadi suka takut kalau kenapa2, otomatis panik sendiri jadinya.

    BalasHapus
  2. Beruntung banget ya kita...dapat ilmu gratis dari pakar2 kesehatan dan tumbuh kembang anak. Aku juga mau kalo diundang lagii.. *maunya :D

    BalasHapus
  3. betul bangeeet.. banyakan dramanyaa... sakit sedikit, udah panik aja.. lha wong taunya kalo sakit perut itu mules, pengen pup atau LAPAR.. :D

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. makasih sudah berbagi yaaa :)

    BalasHapus
  6. ajadi dapet ilmu lagi ya di acara nutritalk. juga bisa ketemuan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyes mak. Bisa ketemu blogger2 ibukota. Senangnyaaa

      Hapus
  7. Makasih sharingnya mak Ardiba

    BalasHapus
  8. Duh diare itu efeknya kuat banget, ya? Padahal kehihatannya sepele. Asma pernah opname gara-gara diare

    BalasHapus
  9. Salam kenal mba, sharingnya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  10. Makasih lho mbak Diba artikelnya, sudah mantengin dari kemaren2 tapi baru sempat kemari.

    BalasHapus
  11. Diingetin lagi deh baca tulisan ini. :)
    (y) (y)

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...