19.12.22

Perjalanan ke Pulau Dua Negara

Sebuah kejutan di akhir tahun. Saat itu aku mendapat tawaran untuk mengisi pelatihan di Pulau Sebatik, Kalimantan. Wow! Itu kan pulau yang dibagi 2 dengan Malaysia. Pasti menarik banget! Akhirnya kuputuskan mengambil tawaran tersebut walaupun berarti harus izin di beberapa kegiatan yang sudah teragendakan sebelumnya dan harus menyusun strategi supaya anak-anak tetap terurus.

Banyak hal dipersiapkan demi foto disini. Worthed!

Untungnya Faris sudah selesai ujian, jadi aku memberanikan diri meminta izin Pak Guru agar Faris izin sekolah selama aku dinas. Rencana mau kutitipkan ke omnya. Adiknya juga begitu, tetapi Fafa kemudian aku titipkan ke Mbak Tinah, pengasuhnya waktu kami masih di Jogja Kota.

Sabtu pagi kami bertiga turun ke Jogja menuju Jetis. Disana aku nitip mobil sekaligus nitip Faris. Tak lama Mbak Tinah datang ke rumah adikku. Langsung deh Fafa lengket gak mau lepas. Semua sudah aman, aku pun bisa berangkat dinas dengan tenang.

Untuk perjalanan ke bandara, aku memilih menggunakan kereta bandara. Selain cepat sampai, harga tiketnya juga murah. Makanya sering pada kehabisan.

Perjalanan ke Sebatik melewati Tarakan dulu. Ada pengalaman lucu saat kami akan berangkat. Ternyata pesawat ke Tarakan itu satu armada dengan pesawat ke Balikpapan. Saat itu kami masih santai di ruang tunggu, ternyata pesawat kami sudah mau boarding dong! Untung gak sampai ketinggalan pesawat nganggur ya. Huhuhu..

Gara-gara telat masuk pesawat, jadi deh kursiku yang sebelah jendela sudah ditempati orang lain. Berhubung pengen foto pemandangan di atas udara, jadi langsung tak tegur aja ibu yang menempati kursiku. Si ibu ini agak rempong, tapi biarin aja lah, yang penting aku dapat kursiku.

Pesawatku saat itu Super Air Jet. Baru tau kalau naik itu nggak dapat makan. Padahal 4 jam perjalanan, ditambah 1 jam karena WITA, jadi deh aku kelaparan di pesawat. Kalau si ibu rempong sih udah persiapan, bawa nasi ayam dan cemilan sendiri dia. Hihi.

Sampai di Balikpapan, kami diminta tetap duduk di kursi. Rupanya menunggu penumpang yang dari Jakarta. Kupikir-pikir, efisien sekali Lion Air Group ini. Mereka setting penerbangan seefisien mungkin. Walo kadang jadi ada insiden seat double gara-gara penggabungan pesawat ini. Karena gak hanya digabung per-maskapai, tapi juga antar maskapai yang masih dalam satu lion group.

Akhirnya sampai juga di Bandara Juwata di Tarakan. Untung pesen hotel plus makan malam, jadi setelah check in bisa langsung makan. 

Sup ikan kemangi by Swissbel Hotel Tarakan

Paginya, aku dan rombongan pelatihan berangkat ke pelabuhan. Perjalanan ke Pulau Sebatik melalui Pelabuhan Tengkayu I. Ada banyak pelabuhan di Tarakan ini. Perjalanan selama kurang lebih 2.5 jam dan relatif lancar. Kapal kami kemudian bersandar di Pelabuhan tingkat III Sei Nyamuk. Pelabuhannya di atas laut gitu. Dari pelabuhan kita bisa melihat Malaysia di seberang lautan.


Menginjakkan kaki di Pulau Sebatik membuatku tak henti bersyukur. Kondisi di pulau ini relatif maju dan damai, nggak seperti bayanganku tentang pulau di perbatasan. Suku yang menempati pulau ini mayoritas Bugis, Jawa, dan Melayu. Suku asli malah hampir nggak ada. Peserta pelatihanku rata-rata orang Bugis, terus waktu berkunjung ke Patok 3, penjual baksonya orang Trenggalek. Hihi.

Kemana saja di Sebatik?

Kupikir Sebatik itu pulaunya besar, ternyata tidak gaes, apalagi dia dibagi dua dengan Malaysia. Jadi sangat memungkinkan bagi kami mengunjungi semua spot wisata di Sebatik. Tapi, prioritas kami adalah berkunjung ke perbatasan. Karena wisata begini dimana lagi kalau nggak di sini?

1. Patok 3 dengan wisata rumah dua negara

Lokasi ini ikonik karena ada wisata rumah dua negara. Jadi disini ruang tamunya nasuk Indonesia, tetapi dapurnya sudah masuk Malaysia


Kalau sore, kita bisa melihat aktivitas penduduk yang baru pulang dari Malaysia



2. Tugu Perbatasan, Patung Garuda Perkasa

Wishlistku nih! Bikin foto di tugu Garuda buat foto profil. Haha! Alhamdulillah kesampaian.

3. Toko makanan malaysia

Disini aku puas banget belanja makanan Malaysia plus melihat langsung transaksi menggunakan ringgit dengan kembalian rupiah.

4. Pantai Marina

Sampai sini sudah sore, berharap dapat sunset, tetapi ternyata sunsetnya di belakang pantai, wkwk. Air lautnya kotor, mungkin karena tercampur air sungai.


5. Makan seafood ambyar di Warung Sari Laut Bang Mamao

Sebenernya agak lupa nama warungnya. Tapi kalau dilihat dari maps, kayaknya beneran ini warungnya. Kita pesan seafood ambyar yang penyajiannya di atas daun pisang. Isiannya banyak banget, kepitingnya mungkin ada 4 ekor, udang dan kerangnya besar-besar. Best dinner selama di Sebatik!

Video lengkap perjalanan Jogja-Sebatik:



Next, explore Tarakan. Walau hanya sempat ke Konservasi Hutan Mangrove dan Bekantan, tapi sangat berkesan. Berlokasi di tengah kota, lahan konservasinya seluas 2 hektar dan masih ada perluasannya juga. 

Dari hotel ke tempat konservasi cuma 15 menit jalan kaki

Luas banget lokasi konservasinya

Spesies di konservasi mangrove  Tarakan

Tempatnya bersih, banyak tempat sampahnya juga



Ketemu kadal lucu

Akhirnya bisa capture Bekantan walau dari kejauhan

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...