23.6.16

Ramadhan di Museum Sonobudoyo Part 2: Sejarah Islam di Jogja


Yeay. Ini adalah postingan hari kedua acara #RamadhanDiMuseum Sonobudoyo. Ceritanya hari ini membahas tentang sejarah Islam di Jawa, khususnya di Yogyakarta. Peninggalan sejarah Islam di Jogja memang tidak sebanyak peninggalan peradaban Hindu seperti yang diceritakan pada acara #RamadhanDiMuseum kemarin.Akan tetapi dari yang sedikit ini, lumayan lah untuk meraba-maraba, bagaimana sih peradaban Islam di Jogja dahulu?


Dipandu oleh Mas Rendy, sore itu kita keliling di zona peradaban Islam di Museum Sonobudoyo. Zonanya hanya satu larik, tetapi berjuta cerita terangkum di sana. 

1. Sajadah zaman dahulu di Jogja

Sajadah dulu dari anyaman bambu seperti tikar.

Pada bagian awal zona peradaban Islam di Jogja, terdapatlah sajadah dan Al-Quran yang digunakan pada awal masuknya peradaban Islam di Jogja sekitar tahun 1400-an. Ternyata, zaman dahulu itu sajadah yang digunakan untuk sholat menggunakan anyaman bambu, sehingga menyerupai tikar. Berbeda dengan sekarang yang umumnya sajadah terbuat dari kain, pada zaman dahulu sajadah tidak menggunakan kain karena harga kain tergolong mahal dan kain umumnya digunakan untuk bahan pembuat baju. Lagian kalau dipikir-pikir, zaman dahulu kan masih jarang rumah berlantaikan keramik, umumnya masih berlantaikan tanah, nah kebayang dong ya kalau sajadahnya dari kain, apa nggak malah gampang sobek dan kotor, ya kan ya dong?

2. Al-Quran Legendaris yang ditulis tangan!

Al Quran yang ditulis tangan
Di iklan #RamadhanDiMuseumnya @malamuseum tempo hari kan ditulis bahwa Museum Sonobudoyo punya Al-Quran legendaris yang 6666 ayatnya ditulis tangan! Nah ini dia nih penampakan Al-Qurannya. Masih utuh dan sepertinya nggak jauh beda sama Al-Quran sekarang ya? Tapi jujur saja, kalau yang tulisan arabnya seperti ini aku suka susah membacanya, kayaknya terlalu tebal gitu tintanya, jadi nggak semudah membaca Al-Quran yang di smartphone, hehe.

3. Arsitektur Masjid Khas Jawa

Arsitektur khas masjid di Jogja
Inget Masjid Gede Kauman kan? Yang lokasinya nggak jauh dari Museum Sonobudoyo, masih satu komplek Alun-alun Utara. Itu model masjidnya kan seperti rumah Joglo gitu kan? Terus pintunya juga banyak. Ternyata ada tujuannya tuh kenapa dibuat seperti itu. Dengan masjid yang berbentuk terbuka seperti itu, maka pertukaran udara lebih mudah, dan tidak memerlukan penerangan saat siang hari dan meminimalkan penerangan tambahan di malam hari.

4. Al-Quran dilengkapi Ilustrasi

Wah, nggak salah tuh? Masak Al-Quran dilengkapi dengan ilustrasi. Kan nggak boleh?
Iya sih, sebenarnya memang nggak boleh. Tetapi ini strateginya Sunan Ampel pada tahun 1400 supaya Islam bisa diterima semua kalangan. Dengan memasukkan unsur visual pada Al-Quran, diharapkan lebih banyak masyarakat yang tertarik untuk membaca Al-Quran dan mengenal islam lebih intensif. Contoh ilustrasi di gambar adalah ilustrasi surat Al-Anbiya. Sebuah surat yang menceritakan kisah-kisah nabi. Kalau sekarang kan sudah banyak buku dan ilustrasi kisah nabi yang tetap bersumber dari surat di Al-Quran, sehingga Al-Quran tidak perlu diberi ilustrasi seperti ini lagi.
Al Quran dengan ilustrasi pada surat Al Anbiya
5. Al-Quran dengan tinta emas
Ada lagi nih yang menarik, Al-Qurannya dihiasi dengan tinta emas. Wuih, kece banget. Kelihatan banget ini Al-Quran buat para bangsawan. Yah, semoga dengan hiasan sekece itu para bangsawan itu jadi semangat baca Al-Qurannya ya? Kalau zaman sekarang misal punya Al-Qurn seperti ini malah mungkin menjadi was-was, takut Al-Quran emasnya dicolong, hehe.
Al Quran 'Bertahtakan' Emas

6. Tempat penyimpanan Mushaf Al-Quran

Zaman dahulu kan nulis di pelepah pohon relatif lebih ekonomis dibanding menulis di kertas, ya kan? Nah, untuk penyimpanan mushaf Al-Quran yang ditulis di pelepah pohon ini, digunakanlah tempat yang disebut rontal. Karena 'rontal' susah disebutkan, akhirnya tempat ini lebih dikenal dengan nama 'lontar'. Mushaf yang disimpan di lontar bisa bertahan sampai 200 tahun, hal ini disebabkan karena di dalam lontar ini kedap udara, sehingga rayap tidak dapat hidup di tempat ini.
Tempat penyimpanan mushaf
7. Batik Kidung Pambaritan

Batik Kidung Pambaritan adalah jimat skaligus doa untuk anak baru lahir. Kalau zaman sekarang mungkin bisa diibaratkan dengan pemasangan ayat kursi di rumah.
Batik Kidung Pambaritan

8. Dakon sebagai Sarana Penyebaran Agama Islam

Dakon berasal dari Arab dan dibawa oleh saudagar Arab ke Indonesia. Dakon dibawa sebagai cara menyebarkan agama Islam. Jumlah lubang dakon saat itu berjumlah 5-6, sesuai Rukun Islam dan Rukun Iman, sehingga sambil bermain sambil menghafalkan rukun Islam dan Rukun Iman. Namun pada akhirnya, dakon di Jawa memiliki banyak lubang dan menjadi mainan bangsawan saja. rupanya harga mateial dakon tidak terjangkau semua kalangan.
Dakon yang sudah dimodifikasi dari bentuk aawal sejarahnya.

9. Kaligrafi Perahu bertuliskan Allah, Muhammad, dan Kalimat Syahadat.

Tidak afdol rasanya membicarakan tentang Islam tanpa berbicara tentang kaligrafi. Di Museum Sonobudoyo ini, terdapat kaligrafi yang berbentuk menyerupai perahu. Tulisan arab yang membentuk gambar perahu ini bertuliskan Allah, Muhammad, dan Kalimat Syahadat. Sayangnya sa nggak bisa baca kaligrafinya, hehe.
Kaligrafi Perahu


10. Kerajinan Keramik Dari Arab.

Keramik nggak melulu dari Cina loh. Buktinya Arab juga pintar buat keramik nih, dan ciri khas keramiknya Arab tuh, kesan Islaminya sangat kuat karena efek ada tulisan Arabnya.
Keramik dari Arab
Selesai melihat keramik Arab, maka selesailah sudah ekplorasi zona peradaban Islam di Museum Sonobudoyo. Kalau belum puas bisa langsung saja ke Museum sonobudoyo pada jam kerja. Tiket masuk murah, hanya tiga ribu rupiah saja.

Alamat: No 6, Jl. Pangurakan Yogyakarta, Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta
Jam Buka: 08.00
Jam Tutup: Selasa, Rabu, Kamis, Sabtu--> 15.30 | Jumat--> 14.30
Senin tutup


Reaksi:

7 komentar:

  1. Ya ampuunnn apik yaaaaaaaa.. Kemana sayaaaaaa... hahahahahahha.. Thanks dibaaaa...

    BalasHapus
  2. Yang benar saja itu ya mbak, Al-qur'an ditulis tangan. Butuh berapa tahun ya mbak nulisnya? hehee
    Apalagi yg bertahtakan tinta emas. Subhanallah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin kerjaannya memang cuma nulis Al Quran kali ya? Mana dulu belum ada fotokopian lagi ya?

      Hapus
  3. Salu banget Mbak, terjaga peninggalan sejarahnya. Moga anak cucu kita tetap bisa melihat peninggalan2 sejarah dan budaya itu ya..

    BalasHapus
  4. wii tikarnyaaa...
    murah banget ya mbak tiketnya, cuma 3 ribu

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...