Tampilkan postingan dengan label museum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label museum. Tampilkan semua postingan

22.8.16

Seru bermain kode di Museum Sandi


Kalau ke Jogja, dan mampir di sekitaran McD, Raminten, atau Mirota di sekitaran Kotabaru, pasti ngelewatin museum ini. Lokasinya 'tusuk sate' sih, jadi memang kalau mata nggak awas bisa nggak kelihatan ni museum. Padahal museumnya gede dan lumayan luas. Itulah Museum Sandi.


Menempati gedung eks kantor Kementrian Luar Negeri, Museum Sandi memiliki koleksi di dua lantai gedung dan juga dilengkapi dengan perpustakaan di bangunan berbeda. Aku dan Ais kesana di hari Sabtu yang berarti museum akan tutup lebih cepat, pada pukul 12 siang. Saat ke museum waktu sudah menunjukkan pukul 10. Seharusnya waktunya cukup, tetapi ternyata sepertinya waktunya kurang deh. Rupanya Ais betah di spot perpustakaan Museum Sandi. Koleksi buku anak-anaknya lumayan, ada ensiklopedi yang menarik perhatian Ais dan dibaca Ais sampai habis!(eh bukan dibaca ding, tetapi di'intepretasi' isinya karena Ais belum bisa baca, hihi).

Oke, jadi begini nih awal 'petualangan' kami di Museum Sandi.

Museum didesain seperti 'game', awalnya kita akan diminta untuk mengisikan data secara online di layar mobitor di sebelah resepsionis. Tampilannya persis kayak mau memulai game petualangan loh. Hehe. Terus nanti mas resepsionisnya memberi gulungan kertas yang nanti diisi kesan dan pesan setelah ke Museum Sandi ini.

Petualangan diawali dengan menonton video tentang sejarah persandian di Indonesia. Sayangnya Ais nggak begitu tertarik sehingga nggak lama-lama nontonnya. Kita langsung ke tempat berikutnya.

Di tempat berikutnya ada contoh sandi saat zaman perang. Sandi tersebut dituliskan di tas, sehingga tidak mencolok perhatian musuh. Ada juga diorama yang cukup besar sehingga lumayan menakutkan bagi Ais. Sampai di bagian ini, Ais masih belum menikmati Museum Sandi.
Tas kode
Ruangan selanjutnya berisikan alat-alat pembuat sandi dari masa ke masa. Rupanya coding di program komputer itu juga merupakan contoh sandi loh. Bahkan ada sekolah khusus untuk mempelajari sandi, yaitu Sekolah Tinggi Sandi Negara.

Museum Sandi dibangun atas prakarsa bersama antara Kepala Lembaga Sandi Negara RI, Mayjen TNI Nachrowi Ramli dengan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X pada tahun 2006 dan diresmikan pada tanggal 29 Juli 2008. Keberadaan Museum Sandi membuat aku jadi melek informasi mengenai persandian di Indonesia. Tetapi sejujurnya belum terlalu melek juga sih, soalnya Ais udah ribut minta pulang karena koleksi museum ini masih belum cukup menarik buatnya.

Selesai menjelajahi lantai satu dari museum ini, selanjutnya menuju lantai dua. Di lantai dua, koleksi museum disajikan lebih atraktif dan cocok untuk media pembelajaran anak. Saran sih, kalau bawa anak ke museum ini, baiknya nggak usah terlalu lama di lantai satu, langsung ke lantai dua malah lebih seru buat anak-anak. Ada ruangan multimedia yang berisikan banyak komputer yang menyajikan game tentang sandi. Seru deh! Tetapi sebaiknya anak sudah tahu huruf ya untuk main game di komputer ini, soalnya sandi-sandinya berkaitan dengan huruf dan angka.
Bermain Multimedia di Museum Sandi
Nah, berhubung Ais belum begitu paham dengan huruf, jadinya dia malah asyik main komputer yang bisa buat selfie dan bikin video karena dilengkapi dengan webcam. Setelah bikin video singkat yang sukses bikin dia terpingkal-pingkal menertawakan dirinya sendiri, Ais lalu berlari menuju bagian selanjutnya dari lantai kedua museum. Ada permainan sandi yang (lagi-lagi) belum dipahami Ais. Duh, tahun depan kalau Ais udah paham huruf mungkin permainan-permainan di sini bisa dinikmati kali ya?
Cardan Grille, sandi yang tersembunyi di balik artikel koran/tulisan
Skytale Greek. Sandi di balik lilitan kertas

Akhirnya setelah melewati ruangan dr. Roebiono Kertopati, Bapak Sandi Indonesia, kami lalu turun ke tangga dan mendapati kalau fasilitas di Museum Sandi ini lengkap punya, ada mushola dan guest housenya loh. Bisa asyik bersantai di gazebo yang disediakan juga. Nah, setelah puas bersantai di gazebo ini kemudian kami menuju ke perpustakaannya.
Bersantai di Perpustakaan Museum Sandi
Tempatnya asyik dan cozy banget. Ais betah nih di sini sampai hampir jam 12, yang artinya kami harus pulang, sebelum museumnya benar-benar tutup, hehe. Untung sih petugasnya santai aja, padahal pengunjung yang tersisa rasanya ya tinggal kami. Hihi
Time to back home. Parkirannya lumayan luas kan?
Museum Sandi:

Jl. Faridan M. Noto No. 21, Kotabaru, 55224
Telepon: (0274) 556921
Jam Buka: Senin-Jumat jam 08.30-15.00, Sabtu-Minggu: 09.0-12.00

5.7.16

Ramadhan Di Museum Benteng Vrederburg: Sebuah Tour Menegangkan di Malam Hari


Lanjutan dari postingan: Sarasehan Bersama Saksi Sejarah Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta

Selesai sarasehan dan berbuka puasa, acara Ramadhan di Museum Benteng Vrederburg dilanjutkan dengan berkeliling Museum Benteng Vrederburg. Menurut Mas Erwin, cikal bakal Komunitas Night at The Museum ini adalah di Museum Benteng Vrederburg ini. Memang seru sih berkeliling museum di malam hari. Bukan karena nanti bakalan kejadian kayak di film dengan judul yang sama dengan nama komunitas ini sih, tetapi memang sensasi berkeliling museum, apalagi yang outdoor seperti ini, memang berbeda. Ada perasaan misterius, menegangkan, sekaligus membuat penasaran.

Mas Erwin sendiri bilang, untuk Benteng Vrederburg sendiri paling bagus di bagian luar museumnya, soalnya bangunannya sebagian besar masih alami. Berbeda dengan bagian dalam museum yang telah mengalami perombakan sesuai dengan kebutuhan saat ini.

Jadi, Benteng Vrederburg itu didirikan oleh VOC Belanda tahun 1760. Awalnya bangunan ini bersifat semi permanen dengan nama Rustenberg yang berarti 'rest' atau peristirahatan. Benteng ini didirikan salah satunya dengan tujuan untuk mengawasi Sultan, dimana Keraton terletak hanya selemparan meriam dari Benteng Rustenberg.

Benteng ini berdiri di tanah Keraton, secara kepemilikan adalah milik Sultan, tetapi de facto dikuasai oleh VOC Belanda. 4 Bastion di Benteng Rustenburg diberi nama oleh Sultan. Jayawisesa (sudut barat laut), Jayapurusa (sudut timur laut), Jayaprakosaningprang (sudut barat daya) dan Jayaprayitna (sudut tenggara).

Setelah 1799, VOC Belanda bangkrut sehingga pemerintahan dialih kuasakan kepada Pemerintah Belanda. Pada tahun 1867 terjadilah bencana gempa bumi hebat di Jogja. Benteng Rustenberg menjadi barak penampungan korban gempa bumi. Settelah itu benteng kemudian berubah namanya menjadi Vrederburg yang berarti 'free' atau perdamaian. Hal ini sekaligus menjadi manfisteasi hubungan Belanda dan Kesultanan yang tidak menyerang kala itu.

Tahun 1811-1816, Inggris sempat mengambil alih kekuasaan Belanda, namun dalam waktu singkat Belanda mengambil alih kekuasaannya lagi. Sampai akhirnya pada 7 Maret 1942, Belanda menyerah kepada Jepang, sehingga benteng ini kemudian dikuasai Jepang. Kekuasaan kemudian kembali ke tanah air pada 1945, saat Indonesia merdeka.

Sejarah bangunan di Museum Benteng Vrederburg

Ruang Administrasi, Peradilan, dan Penjara VIP
Gedung yang terdapat di kiri depan (sekarang sebagai ruang pengenalan) dulunya adalah ruang administrasi dan peradilan. Di depan gedung ini terdapat gedung yang berbentuk serupa, yang berfungsi sebagai penjara VIP bagi tahanan elit. Bangunan Museum Benteng Vrederburg bertipe bangunan Hindis. Bentuk jendelanya besar dengan atap Limasan, mencirikan bangunan Jawa tropis, kemudian bentuk pilarnya bergaya eropa. Bangunan yang terdapat di seluruh benteng masih asli dari tahun 1867.
Gedung administrasi. (Foto by Kuliner.Jogja)
Ruang Diaroma 1 dan 2 museum saat itu berfungsi sebagai barak bagi Tentara Belanda dengan jabatan yang tinggi. Untuk kroco-kroconya tinggal di lantai dua yang terletak persis setelah pintu masuk benteng. Ciri dari barak tentara adalah banyak pintu dan tangga. Makanya benteng ini banyak terdapat jendela, pintu, dan tangga pada bangunannya.

Dapur Umum
Apalah kekuatan fisik tanpa logistik. Benteng Vrederburg dilengkapi beberapa dapur umum yang menjamin logistik para tentara yang tinggal di benteng ini. Jumlah tentaranya cukup banyak lho, sekitar 500 tentara.

Rumah Sakit
Di lokasi Benteng Vrederburg ini juga terdapat rumah sakit yang berfungsi menjamin kesehatan para tentara di benteng ini. Paramedis tersedia dalam jumlah yang cukup di rumah sakit ini. Psst, aku ngambil foto ini aslinya gelap, begitu diterangin gambarnya jadi begini:

Awalnya aku takut sama putih-putih di jendela itu.
Tapi setelah aku perhatikan lebih seksama lagi, oh, itu hanya bayangan dinding kok, hehe.

Kandang kuda yang jadi garasi mobil

Kandang kuda masa kini
Garasi mobil ini dulunya kandang kuda tentara Belanda. Bangunan sudah dipugar agar bisa berfungsi dengan baik dan aman. Sekarang kudanya udah pakai mesin, alias sepeda motor, hehe.

Pintu kemana saja
Bisa kabur ke hatimu lewat pintu ini nggak ya?
Siapa bilang yang punya pintu kemana saja cuma doraemon? Benteng Vrederburg juga punya nih. Ini dia pintu kemana sajanya. Berfungsi sebagai tempat melarikan diri apabila nanti benteng diserang. Yang pertama diselamatkan tentu saja elit dan penggede Pemerintah Belanda di benteng ini.

Infrastruktur di seberang Benteng
Deretan bangunan yang merupakan infrastruktur dari zaman Belanda
Ini foto yang aku ambil sore tadi. Kalau malam sudah nggak jelas nih foto bangunannya. Jadi kenapa bangunan Bank Indonesia dan Pos Indonesia itu klasik banget, ya karena pada zaman kekuasaan Belanda, bangunan tersebt dibangun untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur warga Belanda di Yogyakarta. Bank BNI dan Kantor Pos Indonesia dulu adalah kantor asuransi sedangkan Bank Indonesia dulunya bernama Bank Jawa. Di sebelah kantor pos terdapat Toko Eropa yang menyediakan kebutuhan produk dari Eropa yang tidak terdapat di tanah Jawa.

Benteng Pertahanan
Jujur aku nggak banyak menyimak cerita di bagian ini, karena apa? karena aku sibuk mencari Ais. Doi nggak mau ikutan muter museum dan memilih bermain sama anaknya Mas Eko Penyo. Sayangnya, pas aku balik mau mengajak Ais keliling museum, eh si Ais malah sudah diantar Mbak Samantha ke rombongan tour. Jadi sempat spot jantung juga aku. Apalagi sebelum cerita soal benteng ini, Mas Erwin cerita kalau di salah satu lokasi suka terdengar samurai diseret saat malam begini, hhiyyy..

Gedung Pertunjukan
Orang Belanda itu kan orang yang romantis, jadi ada gedung pertunjukan sebagai obat stres bagi para tentara yang jauh dari keluarga. Gedung pertunjukan ini relatif besar, jadi kebayang, pasti banyak sekali ya tentara Belanda pada zaman itu?

The most fenomenal place: Ruang Dansa

Photo ambil di http://yogyakartahistory.blogspot.co.id/2011/08/vredeburg-fort.html
Nggak berani deh ambil foto di sini malam itu. Apalagi Mas Erwin sendiri menunjukkan wajah agak takut saat melihat jendela paling kiri dalam keadaan terbuka. Katanya bangunan museum yang sekarang jadi pameran G-30 S/PKI ini dulunya adalah ruang dansa bagi tentara Belanda. Kabarnya tidak boleh masuk ke bangunan ini sendirian, karena bakal didatangi noni Belanda. Temannya Mas Erwin pernah mengalaminya, padahal waktu itu siang hari. Wallahualam sih, kebenaran cerita ini nggak ingin aku cari tahu, yang jelas aku mengakui adanya dunia lain dan yang penting kita tidak saling mengganggu saja, ya kan?

Selesai berkeliling bangunan benteng, Ais kehausan dan untungnya masih ada sisa air mineral gelas sisa berbuka tadi. Ais termasuk tidak takut bekeliling di tempat gelap, tapi kalau ditemani ibunya sih. Hihi. Suasana Benteng Vrederburg di malam hari memang rada spooky, tetapi sebenarnya tingkat seramnya itu tergantung pemikiran kita sendiri kok. Lagian seramnya 'uji nyali' di sini masih nggak seberapa menegangkan dibanding saat aku kehilangan Ais dari rombongan. Alhamdulillah, sekali lagi Allah mengingatkanku untuk jangan teledor sama anak, tanpa aku harus benar-benar kehilangan dulu. Terima kasih peringatanmu Ya Allah.

3.7.16

Ramadhan Di Museum Benteng Vrederburg: Sarasehan Bersama Saksi Sejarah Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta

Suatu sore di Museum Benteng Vrederburg
Ramadhan di Museum kembali lagi! Sudah memasuki seri kesembilan sekaligus seri terakhir dari rangkaian Ramadhan di Museum. Ugh, sad! Tapi tenang saja, katanya Mas Erwin bakalan ada seri Night at The Museum selanjutnya. Pantengin terus saja twitter dan Ig @malamuseum.

Seri terakhir dari Ramadhan di Museum ini seru banget, soalnya berlokasi di Museum Benteng Vrederburg. Kalau sore-sore begini biasanya banyak yang datang buat selfie nih, soalnya pemandangan sore hari di Museum Benteng Vrederburg memang bagus. 

Acara Ramadhan di Museum sore ini adalah sarasehan bersama  karena pas kami datang acara Ramadhan di  museumnya belum mulai, makanya aku dan Ais jalan-jalan keliling museum dulu. Seperti biasa, incaran utamanya adalah 'alat perang' seperti meriam ini.
Udah ditulis 'Dilarang Naik' si doi tetap naik. Ais kan belum bisa baca. Hadeh.
Setelah puas bermain meriam, Ais kemudian beringsut menuju sebuah patung prajurit TNI.
"Bu, Ais mau foto sama tentara!" Katanya.
"Oke, tapi Ais harus pose tegap ya!" Ujarku.
Ais menurut, dan jadi deh posenya kayak gini. Susah banget bisa berdiri tegap dan anteng begini.
Siap grak!
Petualangan kembali dilanjutkan. Kami berkeliling di sekitar lokasi museum. Ais tertarik untuk berfoto di gardu kecil ini.
Mana ada tentara posenya kayak begini.
Sebelum acara dimulai, kami sempat mampir ke sebuah kafe di museum ini, Indische Koffie yang terletak di sayap kanan museum. Saking penasaran untuk berkeliling, Ais dan aku sampai diperingatkan sama pelayang kafe supaya nggak naik tangga di kawasan kafe. Ehem, kayaknya memang juga agak lapuk deh tangganya. Akhirnya kita naik ke atas lewat jalanan miring, dan di atas sini ternyata bisa lihat gedung Bank Indonesia dengan jelas.
Klasiknya bangunan Bank Indonesia.


Sekitar pukul 5 sore, acara sarasehan bersama saksi sejarah Agresi Militer Belanda 2 dimulai. Acara sore ini tidak hanya dikomandoi Komunitas Night at The Museum, tetapi juga dibantu oleh Komunitas Jogja 1945. Kalau komunitas Night at The Museum cenderung tidak ada dress code di setiap acaranya (paling kaos yang sama), nah kalau Komunitas Jogja 1945 ini lebih mencolok karena berpakaian ala pejuang kemerdekaan. Ini nih contoh outfit Mas Eko Penyo, ketua dari Komunitas Jogja 1945.

Di kesempatan acara ini, Mas Eko Penyo bercerita bahwa Komunitas Jogja 1945 adalah komunitas yang fokus pada sejarah perjuangan dari kurun waktu 1945-1950, terutama pada peristiwa penting, perjuangan kemerdekaan NKRI, Agresi Militer Belanda I, dan Agresi Militer Belanda II. Sejarah setelah 1950 tidak dipelajari karena menurut Mas Penyo, sudah banyak muatan politis pada sejarah di atas tahun 1950.

Oh ya, kembali ke acara sarasehan bersama saksi sejarah Agresi Militer Belanda II, nara sumber yang dihadirkan ada dua orang. Yaitu Ibu Juwariyah dan Bapak Sujono.
Sarasehan bersama saksi sejarah Agresi Militer Belanda II
Bu Juwariyah ini adalah anggota batalyon 1 dengan kepala seksi saat itu adalah Bapak Komarudin. Usia beliau saat ini sudah 83 tahun dan saat menjadi pejuang Agresi Militer Belanda II itu beliau masih berumur sangat belia, yaitu 15 tahun. Suami Bu Juwariyah adalah Bapak Suhardi yang merupakan anggota kepolisian. Kesibukan saat ini adalah rutin berolahraga tenis.

Awal muasal Bu Juwariyah bisa bergabung bersama para tentara adalah ketika Belanda datang lagi di 19 Desember 1948. Bu Juwariyah bersama keluarga mengungsi ke Selarong. Di saat mengungsi tersebut, Bu Juwariyah kerap dimintai tolong oleh ibunya untuk mengambil barang-barang sekaligus berbelanja bahan kebutuhan di kota. Akhirnya, bersama teman-temannya Bu Juwariyah mendirikan PKK (semacam palang merah) di Panggung Krapyak. Tujuan Bu Juwariyah saat itu adalah untuk menolong orang-orang pengungsi yang sakit. Lalu suatu hari, Bu Juwariyah dan teman-temannya didatangi Pak Komarudin dan pasukannya, dan diberi tahu bahwa bahaya buat posko begitu. Akhirnya Bu Juwariyah dan teman-temannya direkrut jadi anggota Pak Komar. Saat itu pekerjaan Bu Juwariyah adalah menjadi kurir. Setiap kali diberi tugas mengantarkan surat atau pun barang, Bu Juwariyah selalu berhasil.

Ada pengalaman tak terlupakan yang dialami Bu Juwariyah. Saat itu Bu Juwariyah ditawari tumpangan oleh Belanda. Memang saat itu sudah pukul 6 sore. Penduduk sudah tidak diperkenankan berkeliaran. Belanda yang menawarkan tebengan lewat kenilnya ini sebenarnya baik, tetapi tetap saja Bu Juwariyah deg-degan. Soalnya Bu Juwariah saat itu membawa propeler. Untungnya nggak ketahuan karena di atas propeler itu Bu Juwariyah membawa buah-buahan. Gara-gara kejadian itu, Bu Juwariyah bertekad tidak akan melewati jalanan umum lagi. Lebih baik dia berjalan melewati kuburan Krapyak, daripada ditebengi Belanda lagi, hihi.

Di usianya yang semakin senja, Bu Juwariyah tetap bugar dan cantik. Rahasia sehat ala Bu Juwariyah adalah rutin tenis dan sebisa mungkin melakukan apa pun tanpa bantuan orang lain (meladeni diri sendiri).

Selain Bu Juwariyah, saksi sejarah lain yang dihadirkan adalah Bapak Sujono. Anak dari pejuang Mayor Sardjono Komandan SWK 02 Bantul. Beliau saat ini adalah Ketua Paguyuban Werkres/kantung gerilya/PWK D.I Yogyakarta. Yang diceritakan Pak Sujono kurang lebih sama dengen Bu Juwariyah. Pak Sujono membenarkan cerita Bu Juwariyah yang mengatakan bahwa bapaknya dulu adalah orang yang keras dan mudah melontarkan kata-kata kasar. Kayaknya sih berbanding terbalik dengan anaknya ya? Hehe

Waktu menunjukkan pukul 05.34 sore. Waktunya berbuka untuk wilayah DI Yogyakarta dan sekitarnya. Selain es buah sebagai makanan takjil 'wajib', kami juga disuguhi wedang sereh. Ini minuman khas yang rutin disajikan saat zaman perjuangan dulu. Jadi buat Bu Juwariyah, ini adalah minuman nostalgia. Dan bagi kita generasi penerus, minuman ini menjadi simbol perjuangan nenek moyang yang tetap harus dikenang.


Setelah solat magrib, kami masih torur keliling museum. Wih, Museum Benteng Vrederburg di sore hari kabarnya rada-rada spooky, mari kita buktikan di postingan ardiba.com selanjutnya.


25.6.16

7 alasan kenapa anak-anak harus ke Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama Yogyakarta


Museum Pusat TNI AD Wiratama Yogyakarta

Setelah sebelumnya dibahas mengenai 7(tujuh) alasan kenapa Museum Pusat TNI AD 'Dharma Wiratama' Yogyakarta harus dikunjungi untuk rekreasi selama liburan, sekarang bakalan dibahas kenapa anak-anak pasti suka ke museum ini.

1. Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama Yogyakarta menyediakan tank dan peralatan perang yang oke punya
Museum Pusat TNI AD Wiratama Yogyakarta

Lihat kan? Tanknya oke punya dan sudah dicat ulang full body loh. Jadi kecenya maksimal kan. Anak-anak bisa merasakan sensasi menjadi tentara dengan menaiki tank ini. Seru ya? Kayak lagi di zaman perang nih.

2. Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama Yogyakarta punya ruangan yang banyak. Beberapa berbentuk seperti labirin. Seru kan menyelinap ke sana sini?

Ada 20 ruangan yang seru untuk diekplorasi. Rasanya seperti sedang bertualang ke gedung antah berantah. Ruangan satu dengan ruangan lainnya berbeda-beda isinya sesuai dengan temanya. Ada ruangan yang isinya senjata-senjata, ada yang berisikan patung-patung yang memakai baju tentara saat bergerilya maupun saat dinas. Ada juga ruangan yang di dalamnya terdapat mobil lho. Kece kan?
Museum Pusat TNI AD Wiratama Yogyakarta
Museum Pusat TNI AD Wiratama Yogyakarta terdiri dari beberapa gedung
Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama Yogyakarta
Mobil Holden Spesial 1960 yang dikendarai Mayor Jendral Soeharto tahun 1962

3. Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama Yogyakarta dilengkapi bunker. Seru kan buat main perang-perangan?
Museum Pusat TNI AD Wiratama Yogyakarta
Tangga untuk turun ke bunker
Nggak hanya terdapat tank mau pun peralatan perang yang bikin seru bermain perang-perangan. Ada juga bunker alias ruangan bawah tanah yang bikin tambah seru permainan. Bisa seru-seruan main sembunyi-sembunyian di sini. Atau mau jurit malam di sini? Bunkernya cukup spooky juga nih soalnya, wkwkwk
Museum Pusat TNI AD Wiratama Yogyakarta
The Spoky Bunker. Tapi tenang, nggak ada Mbak Valak kok di sini ^_^

4. Ada spot di taman museum TNI AD 'Dharma Wiratama' yang selalu ready buat main perang-perangan, bahkan ketika museum sudah tutup

Ini dia spot favorit Ais walau pun meseum sudah tutup. Di tengah museum terdapat taman yang bisa didatangi bahkan saat museum sudah tutup. Asalkan pintu gerbang masih terbuka, bisa banget main ke sini. Jangan lupa izin sama bapak penjaga dipos jaga ya. Bapaknya ramah kok.
Museum Pusat TNI AD Wiratama Yogyakarta
Spot favorit Ais di taman Museum Pusat TNI AD Wiratama Yogyakarta
5. Museum Pusat TNI AD 'Dharma Wiratama' sarat nilai sejarah. Ayo belajar lebih fun di museum

Dengan terdapatnya 20 ruangan lengkap dengan alat peraga yang bertemakan sejarah TNI AD, pastinya belajar sejarah jadi lebih asyik dan terkesan 'nyata'.
Museum Pusat TNI AD Wiratama Yogyakarta
Belajar sejarah G-30 S/PKI lewat alat peraga langsung

6. Museum Pusat TNI AD 'Dharma Wiratama' memiliki perpustakaan di lantai 2 dengan koleksi buku yang lumayan

Di lantai 2 museum terdapat perpustakaan yang memiliki satu rak penuh koleksi buku. Boleh dibaca di tempat, tetapi jangan dibawa pulang ya.
Museum Pusat TNI AD Wiratama Yogyakarta
Perpustakaan di Museum Pusat TNI AD Wiratama Yogyakarta
7. Meseum Pusat TNI AD 'Dharma Wiratama juga sebagai kantor TNI AD. Jadi bisa lihat Pak Tentara disini

Siapa tahu anak tertarik menjadi tentara, nah di museum ini anak bisa berinteraksi langsung dengan tentara. Anak-anak jadi semakin terbayang kan dengan profesi cita-citanya nanti, kan?
Museum Pusat TNI AD Wiratama Yogyakarta
Jadi tentara berdirinya harus tegap! Eh, tapi bajunya kok nggak rapi ya?

AYO KE MUSEUM!

24.6.16

7 Alasan Kenapa Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama Yogyakarta Asyik Buat Rekreasi

Museum Pusat TNI AD Wiratama Yogyakarta

Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama yang terdapat di Yogyakarta ini asyik lho buat tempat rekreasi selama liburan. Sayangnya, walaupun lokasinya di pusat kota Yogyakarta, banyak yang belum tertarik untuk masuk ke dalamnya. Padahal ada 7 (tujuh) alasan kenapa museum ini asyik buat rekreasi selama liburan. Berikut ketujuh alasannya:

1. Lokasi Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama Yogyakarta strategis di pusat kota.

Lokasi Museum Pusat TNI AD 'Dharma Wiratama' strategis dekat Tugu Yogyakarta dan UGM. Kalau dari bunderan UGM tinggal lurus saja. Karena jalan rayanya searah, sebaiknya lurus terus sampai Toga Mas, lalu menuju arah Bethesda. Sampai di gang keluar Rumah Sakit Bethesda langsung ambil kanan. Museum Pusat TNI AD 'Dharma Wiratama' pas di ujung jalan.
Berikut rutenya di google maps:



2. Tiket masuk Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama Yogyakarta ini free alias gratis

Siapa sih yang menolak gratisan? Museum Pusat TNI AD 'Dharma Wiratama' ini gratis. Pengunjung cukup menuliskan nama di buku tamu saja. Walaupun gratis, koleksi museumnya banyak dan terawat loh. Worthed sekali bukan?
Museum Pusat TNI AD Wiratama Yogyakarta
Pintu masuk museum
3. Parkir di Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama Yogyakarta juga gratis dan luas

Jangan bingung dengan rombongan parkir motor di depan gedung paling kiri. Sebagian gedung Dharma Wiratama sudah ada yang berubah fungsi menjadi perkantoran. Jadi, pengunjung museum nggak perlu ikut bergerombol di parkiran itu. Cukup parkir di sekitar tank. Lokasi parkirnya cukup luas dan jarang sekali penuh. Paling banter 2-3 mobil dan motor saja yang berjajar.
Museum Pusat TNI AD Wiratama Yogyakarta
Halaman parkir yang luas
4. Koleksi Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama Yogyakarta banyak dan lengkap

Koleksi Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama banyak, sampai terdapat lebih dari 20 ruangan untuk menampung seluruh koleksi. Itu masih belum termasuk koleksi yang ada di luar ruangan (di taman). Pokoknya lengkap deh kalau mau belajar sejarah angkatan darat di sini. Koleksi museumnya juga sangat terawat. Dijamin bisa keliling-keliling sampai capek deh di sini. Hehe

5. Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama ini tutup pukul 3 sore, tetapi kalau mau main di halaman museum bisa sampai malam selama pintu gerbang belum ditutup

Selain koleksi di dalam museum, koleksi di luar museum cukup banyak. Ais malah paling senang main alat-alat perang yang terdapat di taman museum ini.
Museum Pusat TNI AD Wiratama Yogyakarta
Spot favorit Ais di taman Museum
Aku kurang paham sih ini sebenarnya boleh menerobos masuk sini atau tidak. Tapi sekitar tiga kali ke museum dalam kondisi museum sudah tutup, Alhamdulillah selalu diperbolehkan masuk sama bapak penjaganya. Berarti nggak apa-apa dong ya?
Jadi, selama kantor sebelah belum tutup, yang berarti gerbang museum juga belum tutup, kita masih bisa masuk dan berekreasi di sekitar museum, Hehe.

6. Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama Yogyakarta ini cukup terawat. Jadi jangan khawatir alergi kumat. Bebas debu kok museum ini

Selain museum, gedung Dharma Wiratama ini juga merupakan kantor beberapa pejabat TNI AD. Saat berkunjung kesana sekitar hari Selasa, rupanya sedang diadakan kerja bakti di area museum. Koleksi museum benar-benar dibersihkan secara seksama, plus lantainya dipel sampai mengkilap.
Museum Pusat TNI AD Wiratama Yogyakarta
Museumnya kinclonggg

7. Museum Pusat 'Dharma Wiratama' masih belum terlalu ramai. Jadi bisa seru-seruan maksimal bersama keluarga

Itu yang aku rasakan saat berkunjung bersama Ais. Kita bisa berkeliling museum sepuasnya tanpa khawatir mengganggu. Bahkan ada perpustakaan di lantai 2 museum. Koleksi bukunya sih nggak terlalu banyak. Tetapi sangat lumayan buat mengisi waktu liburan, ya kan? Ada fasilitas musholanya juga lo.
Museum Pusat TNI AD Wiratama Yogyakarta
Perpustakaan di Museum Pusat TNI AD Wiratama Yogyakarta
Museum Pusat TNI AD Wiratama Yogyakarta
Mushola di Museum Pusat TNI AD Wiratama Yogyakarta
Selanjutnya tentang Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama Yogyakarta

AYO KE MUSEUM!

23.6.16

Ramadhan di Museum Sonobudoyo Part 2: Sejarah Islam di Jogja


Yeay. Ini adalah postingan hari kedua acara #RamadhanDiMuseum Sonobudoyo. Ceritanya hari ini membahas tentang sejarah Islam di Jawa, khususnya di Yogyakarta. Peninggalan sejarah Islam di Jogja memang tidak sebanyak peninggalan peradaban Hindu seperti yang diceritakan pada acara #RamadhanDiMuseum kemarin.Akan tetapi dari yang sedikit ini, lumayan lah untuk meraba-maraba, bagaimana sih peradaban Islam di Jogja dahulu?


Dipandu oleh Mas Rendy, sore itu kita keliling di zona peradaban Islam di Museum Sonobudoyo. Zonanya hanya satu larik, tetapi berjuta cerita terangkum di sana. 

1. Sajadah zaman dahulu di Jogja

Sajadah dulu dari anyaman bambu seperti tikar.

Pada bagian awal zona peradaban Islam di Jogja, terdapatlah sajadah dan Al-Quran yang digunakan pada awal masuknya peradaban Islam di Jogja sekitar tahun 1400-an. Ternyata, zaman dahulu itu sajadah yang digunakan untuk sholat menggunakan anyaman bambu, sehingga menyerupai tikar. Berbeda dengan sekarang yang umumnya sajadah terbuat dari kain, pada zaman dahulu sajadah tidak menggunakan kain karena harga kain tergolong mahal dan kain umumnya digunakan untuk bahan pembuat baju. Lagian kalau dipikir-pikir, zaman dahulu kan masih jarang rumah berlantaikan keramik, umumnya masih berlantaikan tanah, nah kebayang dong ya kalau sajadahnya dari kain, apa nggak malah gampang sobek dan kotor, ya kan ya dong?

2. Al-Quran Legendaris yang ditulis tangan!

Al Quran yang ditulis tangan
Di iklan #RamadhanDiMuseumnya @malamuseum tempo hari kan ditulis bahwa Museum Sonobudoyo punya Al-Quran legendaris yang 6666 ayatnya ditulis tangan! Nah ini dia nih penampakan Al-Qurannya. Masih utuh dan sepertinya nggak jauh beda sama Al-Quran sekarang ya? Tapi jujur saja, kalau yang tulisan arabnya seperti ini aku suka susah membacanya, kayaknya terlalu tebal gitu tintanya, jadi nggak semudah membaca Al-Quran yang di smartphone, hehe.

3. Arsitektur Masjid Khas Jawa

Arsitektur khas masjid di Jogja
Inget Masjid Gede Kauman kan? Yang lokasinya nggak jauh dari Museum Sonobudoyo, masih satu komplek Alun-alun Utara. Itu model masjidnya kan seperti rumah Joglo gitu kan? Terus pintunya juga banyak. Ternyata ada tujuannya tuh kenapa dibuat seperti itu. Dengan masjid yang berbentuk terbuka seperti itu, maka pertukaran udara lebih mudah, dan tidak memerlukan penerangan saat siang hari dan meminimalkan penerangan tambahan di malam hari.

4. Al-Quran dilengkapi Ilustrasi

Wah, nggak salah tuh? Masak Al-Quran dilengkapi dengan ilustrasi. Kan nggak boleh?
Iya sih, sebenarnya memang nggak boleh. Tetapi ini strateginya Sunan Ampel pada tahun 1400 supaya Islam bisa diterima semua kalangan. Dengan memasukkan unsur visual pada Al-Quran, diharapkan lebih banyak masyarakat yang tertarik untuk membaca Al-Quran dan mengenal islam lebih intensif. Contoh ilustrasi di gambar adalah ilustrasi surat Al-Anbiya. Sebuah surat yang menceritakan kisah-kisah nabi. Kalau sekarang kan sudah banyak buku dan ilustrasi kisah nabi yang tetap bersumber dari surat di Al-Quran, sehingga Al-Quran tidak perlu diberi ilustrasi seperti ini lagi.
Al Quran dengan ilustrasi pada surat Al Anbiya
5. Al-Quran dengan tinta emas
Ada lagi nih yang menarik, Al-Qurannya dihiasi dengan tinta emas. Wuih, kece banget. Kelihatan banget ini Al-Quran buat para bangsawan. Yah, semoga dengan hiasan sekece itu para bangsawan itu jadi semangat baca Al-Qurannya ya? Kalau zaman sekarang misal punya Al-Qurn seperti ini malah mungkin menjadi was-was, takut Al-Quran emasnya dicolong, hehe.
Al Quran 'Bertahtakan' Emas

6. Tempat penyimpanan Mushaf Al-Quran

Zaman dahulu kan nulis di pelepah pohon relatif lebih ekonomis dibanding menulis di kertas, ya kan? Nah, untuk penyimpanan mushaf Al-Quran yang ditulis di pelepah pohon ini, digunakanlah tempat yang disebut rontal. Karena 'rontal' susah disebutkan, akhirnya tempat ini lebih dikenal dengan nama 'lontar'. Mushaf yang disimpan di lontar bisa bertahan sampai 200 tahun, hal ini disebabkan karena di dalam lontar ini kedap udara, sehingga rayap tidak dapat hidup di tempat ini.
Tempat penyimpanan mushaf
7. Batik Kidung Pambaritan

Batik Kidung Pambaritan adalah jimat skaligus doa untuk anak baru lahir. Kalau zaman sekarang mungkin bisa diibaratkan dengan pemasangan ayat kursi di rumah.
Batik Kidung Pambaritan

8. Dakon sebagai Sarana Penyebaran Agama Islam

Dakon berasal dari Arab dan dibawa oleh saudagar Arab ke Indonesia. Dakon dibawa sebagai cara menyebarkan agama Islam. Jumlah lubang dakon saat itu berjumlah 5-6, sesuai Rukun Islam dan Rukun Iman, sehingga sambil bermain sambil menghafalkan rukun Islam dan Rukun Iman. Namun pada akhirnya, dakon di Jawa memiliki banyak lubang dan menjadi mainan bangsawan saja. rupanya harga mateial dakon tidak terjangkau semua kalangan.
Dakon yang sudah dimodifikasi dari bentuk aawal sejarahnya.

9. Kaligrafi Perahu bertuliskan Allah, Muhammad, dan Kalimat Syahadat.

Tidak afdol rasanya membicarakan tentang Islam tanpa berbicara tentang kaligrafi. Di Museum Sonobudoyo ini, terdapat kaligrafi yang berbentuk menyerupai perahu. Tulisan arab yang membentuk gambar perahu ini bertuliskan Allah, Muhammad, dan Kalimat Syahadat. Sayangnya sa nggak bisa baca kaligrafinya, hehe.
Kaligrafi Perahu


10. Kerajinan Keramik Dari Arab.

Keramik nggak melulu dari Cina loh. Buktinya Arab juga pintar buat keramik nih, dan ciri khas keramiknya Arab tuh, kesan Islaminya sangat kuat karena efek ada tulisan Arabnya.
Keramik dari Arab
Selesai melihat keramik Arab, maka selesailah sudah ekplorasi zona peradaban Islam di Museum Sonobudoyo. Kalau belum puas bisa langsung saja ke Museum sonobudoyo pada jam kerja. Tiket masuk murah, hanya tiga ribu rupiah saja.

Alamat: No 6, Jl. Pangurakan Yogyakarta, Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta
Jam Buka: 08.00
Jam Tutup: Selasa, Rabu, Kamis, Sabtu--> 15.30 | Jumat--> 14.30
Senin tutup