5.7.16

Ramadhan Di Museum Benteng Vrederburg: Sebuah Tour Menegangkan di Malam Hari


Lanjutan dari postingan: Sarasehan Bersama Saksi Sejarah Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta

Selesai sarasehan dan berbuka puasa, acara Ramadhan di Museum Benteng Vrederburg dilanjutkan dengan berkeliling Museum Benteng Vrederburg. Menurut Mas Erwin, cikal bakal Komunitas Night at The Museum ini adalah di Museum Benteng Vrederburg ini. Memang seru sih berkeliling museum di malam hari. Bukan karena nanti bakalan kejadian kayak di film dengan judul yang sama dengan nama komunitas ini sih, tetapi memang sensasi berkeliling museum, apalagi yang outdoor seperti ini, memang berbeda. Ada perasaan misterius, menegangkan, sekaligus membuat penasaran.

Mas Erwin sendiri bilang, untuk Benteng Vrederburg sendiri paling bagus di bagian luar museumnya, soalnya bangunannya sebagian besar masih alami. Berbeda dengan bagian dalam museum yang telah mengalami perombakan sesuai dengan kebutuhan saat ini.

Jadi, Benteng Vrederburg itu didirikan oleh VOC Belanda tahun 1760. Awalnya bangunan ini bersifat semi permanen dengan nama Rustenberg yang berarti 'rest' atau peristirahatan. Benteng ini didirikan salah satunya dengan tujuan untuk mengawasi Sultan, dimana Keraton terletak hanya selemparan meriam dari Benteng Rustenberg.

Benteng ini berdiri di tanah Keraton, secara kepemilikan adalah milik Sultan, tetapi de facto dikuasai oleh VOC Belanda. 4 Bastion di Benteng Rustenburg diberi nama oleh Sultan. Jayawisesa (sudut barat laut), Jayapurusa (sudut timur laut), Jayaprakosaningprang (sudut barat daya) dan Jayaprayitna (sudut tenggara).

Setelah 1799, VOC Belanda bangkrut sehingga pemerintahan dialih kuasakan kepada Pemerintah Belanda. Pada tahun 1867 terjadilah bencana gempa bumi hebat di Jogja. Benteng Rustenberg menjadi barak penampungan korban gempa bumi. Settelah itu benteng kemudian berubah namanya menjadi Vrederburg yang berarti 'free' atau perdamaian. Hal ini sekaligus menjadi manfisteasi hubungan Belanda dan Kesultanan yang tidak menyerang kala itu.

Tahun 1811-1816, Inggris sempat mengambil alih kekuasaan Belanda, namun dalam waktu singkat Belanda mengambil alih kekuasaannya lagi. Sampai akhirnya pada 7 Maret 1942, Belanda menyerah kepada Jepang, sehingga benteng ini kemudian dikuasai Jepang. Kekuasaan kemudian kembali ke tanah air pada 1945, saat Indonesia merdeka.

Sejarah bangunan di Museum Benteng Vrederburg

Ruang Administrasi, Peradilan, dan Penjara VIP
Gedung yang terdapat di kiri depan (sekarang sebagai ruang pengenalan) dulunya adalah ruang administrasi dan peradilan. Di depan gedung ini terdapat gedung yang berbentuk serupa, yang berfungsi sebagai penjara VIP bagi tahanan elit. Bangunan Museum Benteng Vrederburg bertipe bangunan Hindis. Bentuk jendelanya besar dengan atap Limasan, mencirikan bangunan Jawa tropis, kemudian bentuk pilarnya bergaya eropa. Bangunan yang terdapat di seluruh benteng masih asli dari tahun 1867.
Gedung administrasi. (Foto by Kuliner.Jogja)
Ruang Diaroma 1 dan 2 museum saat itu berfungsi sebagai barak bagi Tentara Belanda dengan jabatan yang tinggi. Untuk kroco-kroconya tinggal di lantai dua yang terletak persis setelah pintu masuk benteng. Ciri dari barak tentara adalah banyak pintu dan tangga. Makanya benteng ini banyak terdapat jendela, pintu, dan tangga pada bangunannya.

Dapur Umum
Apalah kekuatan fisik tanpa logistik. Benteng Vrederburg dilengkapi beberapa dapur umum yang menjamin logistik para tentara yang tinggal di benteng ini. Jumlah tentaranya cukup banyak lho, sekitar 500 tentara.

Rumah Sakit
Di lokasi Benteng Vrederburg ini juga terdapat rumah sakit yang berfungsi menjamin kesehatan para tentara di benteng ini. Paramedis tersedia dalam jumlah yang cukup di rumah sakit ini. Psst, aku ngambil foto ini aslinya gelap, begitu diterangin gambarnya jadi begini:

Awalnya aku takut sama putih-putih di jendela itu.
Tapi setelah aku perhatikan lebih seksama lagi, oh, itu hanya bayangan dinding kok, hehe.

Kandang kuda yang jadi garasi mobil

Kandang kuda masa kini
Garasi mobil ini dulunya kandang kuda tentara Belanda. Bangunan sudah dipugar agar bisa berfungsi dengan baik dan aman. Sekarang kudanya udah pakai mesin, alias sepeda motor, hehe.

Pintu kemana saja
Bisa kabur ke hatimu lewat pintu ini nggak ya?
Siapa bilang yang punya pintu kemana saja cuma doraemon? Benteng Vrederburg juga punya nih. Ini dia pintu kemana sajanya. Berfungsi sebagai tempat melarikan diri apabila nanti benteng diserang. Yang pertama diselamatkan tentu saja elit dan penggede Pemerintah Belanda di benteng ini.

Infrastruktur di seberang Benteng
Deretan bangunan yang merupakan infrastruktur dari zaman Belanda
Ini foto yang aku ambil sore tadi. Kalau malam sudah nggak jelas nih foto bangunannya. Jadi kenapa bangunan Bank Indonesia dan Pos Indonesia itu klasik banget, ya karena pada zaman kekuasaan Belanda, bangunan tersebt dibangun untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur warga Belanda di Yogyakarta. Bank BNI dan Kantor Pos Indonesia dulu adalah kantor asuransi sedangkan Bank Indonesia dulunya bernama Bank Jawa. Di sebelah kantor pos terdapat Toko Eropa yang menyediakan kebutuhan produk dari Eropa yang tidak terdapat di tanah Jawa.

Benteng Pertahanan
Jujur aku nggak banyak menyimak cerita di bagian ini, karena apa? karena aku sibuk mencari Ais. Doi nggak mau ikutan muter museum dan memilih bermain sama anaknya Mas Eko Penyo. Sayangnya, pas aku balik mau mengajak Ais keliling museum, eh si Ais malah sudah diantar Mbak Samantha ke rombongan tour. Jadi sempat spot jantung juga aku. Apalagi sebelum cerita soal benteng ini, Mas Erwin cerita kalau di salah satu lokasi suka terdengar samurai diseret saat malam begini, hhiyyy..

Gedung Pertunjukan
Orang Belanda itu kan orang yang romantis, jadi ada gedung pertunjukan sebagai obat stres bagi para tentara yang jauh dari keluarga. Gedung pertunjukan ini relatif besar, jadi kebayang, pasti banyak sekali ya tentara Belanda pada zaman itu?

The most fenomenal place: Ruang Dansa

Photo ambil di http://yogyakartahistory.blogspot.co.id/2011/08/vredeburg-fort.html
Nggak berani deh ambil foto di sini malam itu. Apalagi Mas Erwin sendiri menunjukkan wajah agak takut saat melihat jendela paling kiri dalam keadaan terbuka. Katanya bangunan museum yang sekarang jadi pameran G-30 S/PKI ini dulunya adalah ruang dansa bagi tentara Belanda. Kabarnya tidak boleh masuk ke bangunan ini sendirian, karena bakal didatangi noni Belanda. Temannya Mas Erwin pernah mengalaminya, padahal waktu itu siang hari. Wallahualam sih, kebenaran cerita ini nggak ingin aku cari tahu, yang jelas aku mengakui adanya dunia lain dan yang penting kita tidak saling mengganggu saja, ya kan?

Selesai berkeliling bangunan benteng, Ais kehausan dan untungnya masih ada sisa air mineral gelas sisa berbuka tadi. Ais termasuk tidak takut bekeliling di tempat gelap, tapi kalau ditemani ibunya sih. Hihi. Suasana Benteng Vrederburg di malam hari memang rada spooky, tetapi sebenarnya tingkat seramnya itu tergantung pemikiran kita sendiri kok. Lagian seramnya 'uji nyali' di sini masih nggak seberapa menegangkan dibanding saat aku kehilangan Ais dari rombongan. Alhamdulillah, sekali lagi Allah mengingatkanku untuk jangan teledor sama anak, tanpa aku harus benar-benar kehilangan dulu. Terima kasih peringatanmu Ya Allah.

Reaksi:

5 komentar:

  1. Wiiih, seru banget bisa keliling museum Benteng Vredeburg malam-malam gitu. Sensasinya pasti bakal lain. Aku pernah mampir kesana sih, tapi siang. Dan nggak sedetail itu. Bangunannya tua, kalo malem emang rasanya serem. Hihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siang aja ada yang takut. Apalagi rumor noni di ruang dansa itu.

      Hapus
    2. Siang aja ada yang takut. Apalagi rumor noni di ruang dansa itu.

      Hapus
  2. akuuu lost fokus sama header e..itu bikin sendiri???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dibuatin Mas Bojo Mak. Pake sotoshop. Hihi.

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...