16.4.15

Terlatih Patah Hati oleh Barisan Mantan Harapan

Patah hati itu nggak hanya milik orang yang putus cinta. Patah hati juga terjadi pada mereka yang dikecewakan paada sebuah harapan. Ya, jalan hidup nggak selalu mulus dan bisa berliku. Di antara lika liku itu, pastilah ada drama-drama yang mewarnainya.

Aku ingin bercerita tentang patah hatiku. Sama sekali bukan patah hati bercinta, karena hidupku berlimpah cinta(cie..cie), tapi ini tentang patah hati akan sebuah harapan. Dulu, waktu awal aku resign, udah kebayang tuh bakal ngapain. Aku bakal fokus menulis dan berpenghasilan dari situ. Ternyata, menulis yang menghasilkan sama sekali nggak gampang. Sampai detik ini juga aku belum juga dapat penghasilan yang mumpuni dari menulis. Sedih? Kadang sih, tapi aku nggak sampai putus harapan sih, In sya Allah pasti ada jalan kalau berusaha. Kan katanya Man Jadda Wa Jadda. Just enjoy the proccess.

Patah hati yang kedua adalah tentang kegagalanku mengelola online shop. Entah kenapa aku nggak minat banget sama yang namanya berjualan, suka nggak pede gitu sama barang jualan sendiri. Padahal katanya sih, bisnis online paling sip banget buat ibu rumah tangga. Untungnya patah hatiku nggak dalem banget, karena setelah itu aku dapat peluang untuk buka bimbingan belajar. Memang sekarang hanya satu kelas saja, karena terbentur padatnya jadwal kuliah dan persiapan penelitian, tapi aku bertekad ini akan jadi sumber penghasilanku selama aku menyandang status 'ibu mahasiswa' dan selama aku masih di Jogja.

Patah hati yang ketiga adalah karena aku selalu gagal apply beasiswa. Bahkan aku nggak lolos saringan administrasi coba! Apa aku sudah terlalu tua auntuk dapat beasiswa ya? Apa karena aku sudah berkeluarga terus sama reviewernya disingkirin "Ini mah beasiswa suami aja." Gitu kali ya? Entahlah. Tapi aku percaya dengan atau tanpa beasiswa pasti akan ada aja rezekiku buat menyelesaikan kuliah dan mendapat penghidupan yang lebih baik. Aamiin

Patah hati terakhir adalah tentang mimpi lamaku yang (nyaris) kesampaian. Jadi, setelah lulus S1 dulu aku berharap nyantol di salah satu dari tiga pekerjaan impian, jadi dosen, peneliti (BPPT atau LIPI), atau pengawas makanan(BPOM). Sayangnya malah terdampar lima tahun di kebon tebu. Setelah resign dan ada peluang buat jadi CPNS BPOM, langsung deh sikat. Nilai TKD dan TKB lumayan, sayang sainganku nilainya lebih lumayan. Ya sudahlah. Kubur dulu keinginan jadi abdi negara. Kalau yang ini sih sudah nggak terlalu berharap lagi sekarang. Bergaul dengan teman-teman wiraswasta membuatku tersadar, mungkin kerja di instansi bukan duniaku?*menghibur diri.

Jadi, barisan mantan harapanku memang cukup panjang, tapi masih ada sejuta harapan yang bisa kurengkuh. Mungkin saat ini aku belum menemukan harapan sejatiku. Tapi seperti jodoh yang pasti bertemu, pekerjaan impian juga pasti akan mendatangiku. Sekarang saatnya aku memperbagus diri. Aamiin.

*psst, akhirnya kutersadar, pekerjaan impian itu adalah menjadi ibu yang hebat buat anak hebatku, Faris. Doakan ayah dan ibu bisa selalu mendidikmu dengan baik ya Nak. Aamiin.

Reaksi:

2 komentar:

  1. Semangat dibaa, selalu ada jalan, blogmu ini kan kece, udah mulai menghasilkan to, step by step..berarti yang pertama ngga terlalu patah hati lagii :*

    BalasHapus
  2. Hihi.kurleb sama mak.bpom pe tahap wawancara eh malah aq kecelakaan 2hari sebelum hari H pas psikotes pula.jdilah datang2 wajah diperban bekas luka2 gt-_-. Beasiswa pe tahap wwncara eh prtnyaanny seputar suami jg kerja di mana, beasiswa suami iso iki batinne, wkkka. Online shop sih jalan trs. Tp aq bersyukur mak kita dikasih byk jalan buat update ilmu, pny byk waktu luang untuk anak, dll

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...