8.3.19

Kerja bareng sama bule itu...


1. Perfeksionis
2. Ribet
3. Seru

Perfeksionis soalnya bule itu memang total kalau mengerjakan sesuatu. Jadi suka malu sama diri sendiri yang seringnya asal selesai saja.
Dari sekian banyak bule yang 'bertandang' ke kampus. Kesemuanya punya visi misi hidup yang jelas. Mereka juga tak segan bertanya bila mendapat masalah selama penelitian. Saking tidak segannya, pernah tuh aku lagi asyik diskusi sama dosen, tiba-tiba pintu ruangan digedor dengan cukup kencang. Mungkin mbak bule nggak sadar dia gedor pintu udah kayak gempa bumi begitu. Rupanya dia mau diskusi juga. Karena pak dosen masih diskusi denganku, maka mbak bule dapat jatah diskusi besoknya. Jam diskusi juga harus jelas dan on time. Bagus sih. Memang seharusnya begitu kan?

Ribet. Soalnya bule itu steril banget. Mau mulai penelitian semua area plus alat disemprot etanol semua. Mau mecah biji jarak saja harus pakai sarung tangan komplit sama jas lab. Padahal cuaca aduhai panasnya. Ya nggak apa-apa sih. Sesuai prosedur banget kan?

Walau ribet dan 'banyak maunya', tapi kerja sama bule itu seru. Paling seru kalau harus 'body language' sama mereka. Ya iyalah bahasa Inggrisku masih cetek begini, selalu ada saja kata-kata yang stuck di otak dan akhirnya kuungkapkan dengan bahasa isyarat. Mereka juga kalau misal aku atau teknisi di lab nggak ngerti sama maksudnya, mereka tanpa pikir panjang langsung mempraktekkan instruksinya. Terus jadinya kita nggak jadi bantuin deh. Haha

Mereka juga umumnya memiliki ketertarikan besar terhadap budaya Indonesia. Jadi kadang bahasa Jawa yang kita ucapkan akan ditirunya. Segala sesuatu yang bersifat 'ndeso' dan 'basi' justru sangat membuat mereka excited. Kayak waktu kami ajak ke pengrajin tempe koro benguk di Kulon Progo. Mereka antusias sekali mendengarkan penjelasan si mbah dan sampai dibuat videonya. Si mbah jadi artis dadakan deh, hihi. Eh, begitu kita ajak ke pabrik modern, mereka lempeng aja nggak antusias. Disitu kadang saya merasa krik krik.

Kerja sama dengan bule membawa efek positif buatku. Aku jadi lebih menghargai waktu, lebih semangat untuk kerja keras, plus jadi terbiasa lebih bersih (daripada daku disemprit etanol sama mbak bule). Dan yang paling penting, bikinku jadi makin cinta Indonesia. Mereka saja semangat mempromosikan Indonesia dan kearifan lokalnya (umumnya lewat sosmed mereka), malu ah kalo aku nggak ikut promosikan dan malah 'memusnahkan' kearifan lokal yang ada.

Semoga bisa kunbal ke tempat Mbak Bule deh ya. Aamiin. *tu paspor diurus dulu makanya...
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...