Stimulasi si Kecil untuk #PintarnyaBeda

Satu-satu kuatnya anakku    Dua-dua juga hebat akalnya   Tiga-tiga dekat dengan semua   Satu, dua, tiga, pintarnya memang beda.. ...

12.3.17

Ketika Kenyataan Tak Sesuai Impian (1)


Ketika kenyataan tak sesuai impian, percayalah bahwa itu lebih indah dari yang kau impikan.

Rezeki Allah itu memang jangan kita paksakan sesuai harapan kita. Aku ingat banget, ketika aku memutuskan resign dari perusahaan yang sudah menghidupiku 5 tahun, aku dengan lempengnya yakin bahwa rezeki Allah dimana-mana.

Aku ingat banget, saat itu aku bertekad mengandalkan lomba blog sebagai salah satu keran penghasilanku. Guess what, semua lomba yang aku ikuti zonk, kalau pun ada yang menang, paling cuma dapat hadiah hiburan yang paling banter buat makan 3 hari doank. Ngiri dong sama temen yang hokinya bagus d lomba blog, doi masih kerja kantoran pula. Wiih, tabungannya banyak itu mesti...

Plak! Untungnya aku cepat tersadar untuk nggak 'wang sinawang'. Rumput tetangga lebih hijau, tapi di halamanmu masih ada pohon cabe yang nggak dipunyai tetangga. Alih-alih iri dengki sama si teman hoki, mending aku cari peruntungan yang lain, ya kan? Mending sibukin diri cari peruntungan lain daripada meratap di satu pintu rezeki yang tak kutemukan kuncinya (halah).

Aku akhirnya fokus kuliah pascasarjana dan ngeblog jadi selingan saja. Tapi emang takdirnya ketemu grup blogger yang anggotanya demen banget bagi-bagi job, Alhamdulillah dapatlah sedikit-sedikit rezeki disitu. Belum bisa mencukupi kebutuhan bulanan sih, tapi lumayanlah buat nraktir anak makan ayam keepci.

Setelah lulus kuliah, mulai deh menggalau cari kerja. Ijazahnya udah dobel masak iya masih susah cari kerja juga. Eh tapi ternyata memang iya loh. Namanya punya gelar master, cocoknya jadi dosen lah. Akhirnya, makan tu gengsi, ijazah pendidikan yang lebih tinggi akhirnya cuma bikin gengsi lebih tinggi. Softskill? Psikologis? Ya nggak jauh beda dari zaman S1 dulu. Kayak gitu ngarep cepet dapet kerja, nggak berkaca lo *sambil teriak2 sama cermin retak.

Hampir setahun aku bertahan pada idealis, "Aku harus jadi dosen", soalnya (lagi-lagi), gengsi dong, ibunya dosen kece di PTN, masak anaknya ngelamar dosen satu pun kagak nyantol (tapi emang baru 4 kali ngelamar  dan Alhamdulillah failed-disyukuri aja-).

Kalau buka postinganku tentang gagal tes masuk BPOM, tes dosen UGM, rasanya kok plis banget gitu ya. Nyaris keterima semua loh (alah ngaku-ngaku). Padahal aku dulu lulus S1 punya 3 tempat kerja incaran:
1. BPPT/LIPI. Pokoknya aparat sipil negara yang berkutat dengan ilmu dan teknologi. Sayangnya waktu S1 aku terganjal administratif. Kalau nggak jurusanku lagi nggak ada bukaan, pernah juga gegara yang disaring lulusan cumlaude (cuma bisa mingkem lah aku).

2. BPOM. Yang jelas di BPOM ngincer di bagian lab pengujian. Tapi ternyata bagian kerja BPOM uakeh alias banyak. Mana bisa request penempatan. Siapa elu?

3. Jadi dosen. Nggak matok lah dosen dimana. Pokoknya jadi tenaga pengajar. Kayaknya kan kece gitu.

Ternyata sampai detik ini belum ada hilal bukaan tiga lowongan itu. Sejujurnya aku jadi mulai jenuh saat itu. Saat ini aku mulai pasrah menjalani ketentuan yang ada, dan amazing, hasilnya jauh lebih indah daripada yang kubayangkan.

To be continued.

Reaksi:

1 komentar:

  1. Tetap semangat ya mbak. Yakin diri masih bermanfaat di lain tempat. InsyaaAllah ada jalan terbaik dari Allah dari jalan yang tak kita duga. Aamiin 😊

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...