18.3.15

Coaching Clinic with Dewi Lestari (Solo)

My Story...

Pukul 02.30 WIB. Kaki ini kembali menjejakkan kaki di Yogyakarta, setelah 2 hari full di perjalanan Yogyakarta-Sukamandi-Yogyakarta. My next trip to Solo. Mau Coaching Clinic with Dee-Dewi Lestari. Rencana nanti mau naek Prameks jam 7 ke Solo. Sembari menunggu agak terang untuk perjalanan ke stasiun, aku mampir ke kos temanku. Mata ini agak sepet sebenarnya, tapi tetap semangat mau ketemu Dee. Bayangin dong demi ikutan coaching clinic ini harus menyisihkan banyak emak blogger lain. Walau menyisihkannya dengan faktor keberuntungan sih. cepet-cepetan daftar. Tapi pokoknya aku jangan sampai nggak dateng deh.



Selain karena faktor tidak mau melewatkan kesempatan emas, aku juga berhasrat pengen buat novel, buat melampiaskan imajinasi dan kekepoan yang berlebihan ini, haha. Tapi ya itu, karena sukanya bikin non fiksi, begitu buat fiksi kok jadinya 'wagu' ya? Nah. Aku tuh pengen banget bisa buat novel yang cetar kayak Dee. Makanya aku ngotot banget pengen ikutan coaching clinic ini.

Alhamdulillah, setelah perjalanan sekitar 1.5 jam naik Prameks, plus waktu tunggu di stasiun yang juga sama lamanya(takut kehabisan tiket Prameks bo), akhirnya mendarat dengan selamat di stasiun Purwosari. Oh ya, aku ikutan Coaching Clinic ini bareng Mak Ika Koentjoro. Doi berangkat dari Kutoarjo, ketemuannya di kereta deh. Sampe di stasiun Purwosari, kita langsung cari taksi ke Hotel Sunan, tempat Coaching Clinic dilaksanakan. Ternyata jarak stasiun ke hotel itu dekat. Naik taksi argo cuma 10ribu. Tapi karena argo minimal taksi 25rb, maka kami bayar 25rb deh.

Udah was-was kalau acara udah dimulai. Ternyata Mbak Dee nya belum datang. Delay kali pesawatnya yak?*sok tau. Akhirnya sekitar pukul 9 pagi baru deh Mbak Dee nya datang. Humble banget Mbak Dee ini. Benar-benar seperti ingin merangkul kita semua. Semua peserta disuruh memperkenalkan diri satu persatu. Mbak Dee menggunakan metode tanya jawab untuk coachingnya kali ini. Jadi materi coaching benar-benar tergantung dari peserta.
Santai banget, alas kakinya dilepas coba! Semua pertanyaan ditulis di flip chart

Okay deh, aku coba meresume satu persatu ya..

Resume Coaching Clinic with Dewi Lestari

1. Dalam satu cerita, bisakah ada dua klimaks?

Pada dasarnya, menulis novel itu mengikuti kaidah "3 Age Structure"(cmiiw, koreksi kalo salah). Artinya hanya ada tiga bagian dalam tulisan, yaitu perkenalan, klimaks dan penutup. Idelanya perkenalan tidak terlalu panjang. Kalau kepanjangan nanti membosankan. Pada tahap perkenalan mulai tanamkan bibit-bibit pertikaian. Nah, begitu babak kedua alias klimaks, bagian ini makin digali dan dipertajam.

Bagian klimaks hendaknya menjadi bagian terpanjang dari cerita. Kalau pun mau dua klimaks, pastikan semua terangkai di babak kedua ini. Jangan sampai konflik sudah turun, mendekati penyelesaian terus klimaks lagi, karena hal ini cenderung membingungkan pembaca. Nah, pada tahap penutup/penyelesaian, pastikan menjadi bagian paling pendek dari cerita. Karena penutup yang panjang dan bertele-tele akan ditinggalkan pembaca.

Intinya sih, menempatkan diri sebagai pembaca.

2. Apa sih motivasi menulis Dee?

Aslinya, motivasi menulis Dee cuma ingin menulis semenarik mungkin. Saat menulis diary, Dee berharap suatu saat ada yang membaca diarynya dan menyukainya. Buku Supernova Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh saja dicetak untuk hadiah ulang tahunnya. Sama sekali bukan profit oriented.
Intinya sih:
Berkhayal + Berbagi + Bercerita+ Tekun

3. Kok Dee bisa ya nulis novel panjang banget gitu?

Target! Jawabannya cuma itu. Dee terbiasa berjibaku dengan deadline, dan selalu menepati deadlinenya itu. Makanya Dee bisa nulis panjang dalam waktu yang sudah ditentukan.

Untuk bisa menulis panjang tentu perlu refrensi yang banyak. Makanya sebagai penulis, kamera kita harus on dimana-mana. Amati sekitar, ketika menemukan sesuatu yang menarik, masukkan itu ke bank data kita. Nah, ketika menulis, keluarkan satu persatu karakter atau deskripsi lokasi tersebut dari bank data sambil kita tetap berimajinasi dari setiap karakter atau deskripsi tempat yang kita rekam tadi.

Selain memanfaatkan 'kamera' sendiri, kita dapat pula memanfaatkan 'kamera' orang lain. Contohnya kita ingin membuat setting wilayah di Cina, tetapi tidak pernah kesana. Ada teman yang pernah kesana, nah itu bisa dimanfaatkan untuk memperkuat refrensi. Tanyakan detail setting lokasi di sana. Benar-benar sedetail mungkin seperti apa yang ingin disampaikan di cerita nanti. Buatlah fiksi Verisimilitude, artinya fiksi dibuat senyata mungkin.

Selain memakai kamera sendiri dan orang lain, kita juga bisa memakai 'kamera cyber'(internet) untuk memperkuat referensi.

4. Gimana buat fiksi senyata mungkin?

Caranya dengan mendetailkan setting dan karakter. Cara mendetailkannya adalah dengan memanfaatkan panca indera kita. Dalam sebuah tulisan, panca indra yang paling peka adalah penciuman. Bayangkan:
'Lemari kotak besar berukuran 2x2 cm'
dengan
'Lemari tua dengan bau kamfer yang menyengat'
Tentu lebih nendang yang kedua kan?

5. Dee kalau buat novel pakai struktur atau tidak?

Pada dasarnya Dee senang menulis lepas begitu saja. Menurutnya,
'Seseorang bisa memperbaiki halaman yang buruk, tapi tak bisa memperbaiki halaman yang kosong'

Tapi mulai buku Partikel, Dee menggunakan struktur/layout. Menurutnya struktur akan mempermudah penulisan menjadi lebih terarah.

6. Apa peran editor bagi Dee?

Peran editor besar sekali. Peran editor menurut Dee antara lain:

  • Memperbaiki tata bahasa yang salah.
  • Mata yang segar. Jadi editor berperan sebagai korektor diksi atau pun kalimat yang belum tepat.
  • Memberi masukan diksi dan kalimat yang tepat.


7. Bagaimana menembus penerbit?

Dee termasuk bukan orang yang berpengalaman mengikuti seleksi penerbit, karena Supernova KPBJ dia terbitkan secara indie. Tapi, bedasarkan pengalamannya sebagai juri kepenulisan, Dee memberi tips sebagai berikut:

  •  Buat keterikatan dengan ide cerita. Berikan ide cerita yang membuat juri penasaran dengan ide cerita tersebut.
  • Perhatikan ejaan, pilihan kata, dan rangkaian kalimat. Jangan sampai berantakan. Karena bila tulisan kita berantakan, mau ide cerita sebagus apa pun, reviewer bakal malas membaca.
  • Perhatikan kekuatan elemen cerita:

Karakter
Setting
Plot
Dialog

8. Bagaimana menguatkan karakter tokoh?

Membuat karakter yang kuat caranya adalah menggabungkan kepribadian yang biasa dan tidak biasa. Artinya, jangan membuat karakter cerita yang baik 100% atau pun jahat 100%. Buat pembaca berpikir, "Ini nih gue banget!"

Namun, karakter ini dibuat memiliki suatu kelebihan. Sehingga pembaca berhasrat ingin seperti si tokoh utama.

Karakter utama harus beraksi, bukan menjadi korban aksi. Jadi, big no sama cerita khayal dimana semua 'mak cling' jadi nyata. Nggak realistis itu!(ini nambah-nambahin, aku lupa Mbak Dee bilang apa, intinya gitu deh.)

9. Bagaimana menggendutkan babak kedua?

Perlu diingat bahwa inti dari babak kedua adalah pertumbuhan karakter dan pertarungan dengan antagonis(keadaan yang tidak adil juga bisa sebagai antagonis. Bagian antagonis nggak melulu orang). Nah, babak kedua dimulai ketika ada suatu hal(katalisator) yang mengubahnya.

Gitu deh resume Coaching Clinic with Dee. Alhamdulillah puas banget, tambah seneng lagi bisa foto bareng eksklusif gini!
Dapat 86 likes! In Sya Allah pada doain daku ya. Alhamdulillah..


Lalu, karena hari mulai sore, aku dan Mak Ika pamit sebelum acara benar-benar selesai. Pulang naik Prameks yang tiketnya nitip dibelikan suami Mak Etty. Saking takutnya kehabisan tiket Prameks. Hahaha..

Fabiayyialairobbikumatukadziban. Pelan-pelan pengen buat fiksi ciamik dari tipsnya Dee. Bismillah.
Reaksi:

16 komentar:

  1. 'Seseorang bisa memperbaiki halaman yang buruk, tapi tak bisa memperbaiki halaman yang kosong'

    suka banget nih sama yang ini... eh, itu sama mak Ika ya, janjian biru2??? atau emang dress codenya biru? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. nggak janjian mak. wong daku baju seadanya..itu mak Ika yang biru tasnya, dia jaketan item terus tu Mak.

      Hapus
  2. Makasih ilmunya maak, udah lama banget pengen bikin novel belom kesampean

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mak Irits udah joss jadi kartun. Kalo Mak Rahmi buat novel, gambarnya dibanyakin ya..tapi genremu bagusnya komedi Mak. Jangan serius kayak Dee, pusing eike ntr bacanya..hahaha

      Hapus
  3. Aseeeggg..tfs loh mak ya..tfs bgd..:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 Mak Inda Chakim..mudah2n bisa dipraktekkan..yang buat postingan aja belum tentu jadi praktek pa nggak. hahaha

      Hapus
  4. Buat aku, lebih nendang 'Lemari tua dengan bau kamfer yang menyengat', hihiiii....
    Banyak banget ilmu ikut coaching ini ya mbak. Sayang sekali, Banda Aceh nggak termasuk dalam daftar kota yang dikunjunginya, hiks...

    BalasHapus
  5. mantaap..sedang mncoba mempraktekkan..aww..!

    BalasHapus
  6. Wh, baca tulisannya Mak Diba aja udah nambah banyak ilmuku nih, apalagi klo ikut langsung coaching clinicnya ya? semoga impiannya bikin novel segera terwujud, mak. Udah dpt ilmunya langsung dr suhunya :)

    BalasHapus
  7. Aih keren sekali ya coaching clinicnya, Dee humble banget.
    Makasih sharing ilmunya Mb Diba, semoga bisa ikutan mempraktekkan.

    BalasHapus
  8. Selamat yaaaa akhirnya ketemu Dee, makasih yaa ilmunya bermanfaat bingit Mak DIba

    BalasHapus
  9. Mbak, ta copas ya hasil coachingnya ya? Penuh pelajaran semuanya soale. TFS yaaaa

    BalasHapus
  10. tak disangka menulis fiksi ada tips triknya jua, memecut nurani tulisku yang beku, terimakasih tante

    BalasHapus
  11. Seperti hadir langsung di acaranya. Ngga keberatan 'kan kalo ada yang sontek ilmunya ? Matur suwun, mba Diba :P

    BalasHapus
  12. Bagian target dan deadline itu bikin aku tersindir...hmm. Hrs punya niatan kuat nih.baru tahu lho kalo KPBJ itu terbitan indie

    BalasHapus
  13. Ternyata masih bisa nyambung ya meski terkantuk2 di acara. Resumenya keren. Lengkap banget

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...