7.12.13

Menumbuhkan Percaya Diri dan Keinginan Belajar Anak

Terinspirasi artikel ini Mb Ellen dari Charllote Mason Indonesia tentang esensi belajar bagi anak 

Lalu, temanku bercerita tentang anak-anak dari Indonesia Timur:
"Ada bbrp siswa dari timur (NTT dan Papua) yg keliatan bgt haus ma ilmu, wlpn pertanyaan2 mereka sering bgt diketawain ma yg lain (saking polosnya). Tp kuperhatikan, mereka beneran nyimak stiap jwbn yg diberikan ma pemateri. Bahkan bs nambah 2-3 pertanyaan dlm 1 sesi-dan lagi2 pasti mengundang senyum stiap yg denger, tp dia tetep ga keder setiap diketawain. "Mama beta kerja di ladang, kakak", pas kutanya salah 1 peserta asal NTT ibunya kerja apa. Polos dan haus ilmu. Ah..smg pemerintahpun nyadar tiap ganti2 sistem pendidikan kyk gt (ya wlpn utk tujuan yg baik), di pelosok2 sana ada mutiara2 yg msh tertatih 'mengejar' agar apa yg didapat sama seperti apa yg didapat tmn2 mrk di kota"

Alangkah bahagianya orang tua bila memiliki anak dengan percaya diri tinggi dan antusias bekajar seperti itu. Yah, aku yakin orang tua anak itu tidak semudah kita memperoleh informasi. Terbukti dari pertanyaan si anak yang dianggap "kudet" sama teman-temannya. Tapi orang tua mereka sukses menumbuhkan rasa percaya diri dan semnagat belajar alami mereka, sehingga saat ditertawakan karena bertanya hal yang dianggap "konyol", mereka tidak gentar. Wah, wah, kira-kira gimana ya caranya bisa punya anak seperti itu? 
Lima poin yang bakal dibeberkan dibawah mungkin bisa jadi resep untuk menumbuhkan percaya diri pada anak:

1. Hargai keberadaan anak.
Terkadang, kita orang dewasa selalu menganggap anak kita masih terlalu kecil untuk diajak berpartisipasi dalam pekerjaan rumah tangga, misalkan. Anak kecil kita anggap perusuh. Padahal, walaupun mungkin bantuan anak justru membuat kondisi rumah semakin berantakan, hargailah. Itulah proses belajar anak. Gak mau kan besok besar anak membalas dengan mengatakan,"Udah deh bu, ga usah ikut campur urusan anak muda." Gubrak!
Sebaliknya, tentu akan sangat bangga bila saat besar anak tak malu membantu orang tua, karena itulah balasan menghargai orang tuanya.

2. Jangan terlalu banyak melarang.
Melarang memang tidak dilarang. Namun kebanyakan melarang akan membuat anak tidak pede bertindak. "Takut ga dibolehin mama". Itulah kira-kira ungkapan si anak mama yang takut mau apa-apa. Selain itu, terlalu banyak melarang juga menghabiskan energi, karena anak justru jadi ingin melakukan hal yang dilarang itu ketimbang menurutinya. Karena otak bawah sadar anak(dan juga kita) tidak mengenal kalimat negatif. Larangan "Jangan melompat" justru merangsang anak untuk melompat. Dalam larangan kita juga kadang menakut-nakuti anak. "Jangan tidur malam-malam, nanti dimakan setan". Hii, serem banget ancamannya. Tidak mau kan anak kita menjadi penakut dalam bertindak? Jadi minimalkan melarang, apalagi dengan ancaman.

3. Tanggapi setiap rasa ingin tahunya.
Anak kecil mempunyai berjuta neuron sel otak yang sedang berkembang. Perkembangannya jauh lebih pesat. Maka tidak heran, perkembangan anak di usia pertumbuhan relatif cepat dibanding saat memasuki usia remaja dan dewasa. Nah, sejalan dengan itu, rasa ingin tahunya juga berkembang sama pesatnya. Akan tetapi terkadang kita seperti cuek saja menanggapi keinginan anak. Pernahkah kita sebal karena anak berulang kali bertanya."Itu apa?", padahal baru lima menit yang lalu dijawab kalau itu pohon pisang. Belum lagi kalau sepanjang jalan cerewet bertanya ini itu seakan tidak ada habisnya rasa ingin tahu. Sedikit saran, simpanlah sebalmu dan bersyukurlah, karena itu artinya anak memiliki semangat belajar secara alami yang tinggi. Peliharalah semangat belajar ini, jangan sampai semangat belajarnya luntur karena semasa kecil kita tidak antusias terhadap rasa ingin tahunya. Jangan sampai dia malu bertanya karena dahulu kita tidak pernah menanggapi bahkan mentertawakan pertanyaan konyolnya.

4. Hargai sekecil apapun pencapaiannya.
Anak kecil sangat suka meniru apapun. Berilah dia kesempatan sebesar-besarnya untuk menduplikasi semua kegiatan positif kita. Mulai dari makan, melakukan pekerjaan rumah tangga, bahkan bernyanyi dan berjoget. Disini pentingnya menstimulasi anak dengan kegiatan positif, termasuk orang tuanya melakukan kegiatan positif. Apresiasi sekecil apapun pencapaian anak, seperti bisa makan sendiri walaupun masih berantakan, pujilah. Tenang saja, anak tidak akan besar kepala bila kita memang memuji untuk pencapaian yang dia lakukan. Bahkan banyak anak semakin tertantang untuk meraih pencapaian lebih demi pujian. Fair kan?

5. Ajarkan anak untuk tidak perlu memikirkan omongan orang.
Ini nih yang paling susah. Jangankan anak, terkadang kita sendiri sibuk memikirkan omongan orang sehingga tidak pede dalam bertindak. Jadi mulailah sumpal kuping dari omongan miring orang yang cuma bisa berkomentar. Teruslah melangkah, dan ajarkan anak untuk terus melangkah tanpa peduli omongan orang. Jadilah pendukung pertama anak. Bila dia terlihat tidak yakin dengan keputusannya, jadilah penyemangat pertamanya.
Ingatlah bahwa orang hebat biasanya lahir dari orang tua hebat. Mau anak menjadi hebat? Jadilah hebat, paling tidak hebat untuk diri sendiri.
Kamu tidak akan pernah bisa mengubah dunia, sebelum kamu mengubah dirimu. Ayo melangkah maju, capailah semua resolusimu, jangan ragu, jangan peduli omongan orang, cukup yakini dirimu sendiri. Hal yang sama juga lakukanlah pada anakmu.


Salam keluarga hebat.
Sumber: Rangkuman buku dan grup parenting yang tidak bisa disebutkan satu per satu.

***

Seri kuliah online Bunda Cekatan:


Seri buku Ibu Profesional, Bunda Cekatan ini sudah tersedia lho! Bisa pesan ke saya (WA=085327858828). Cuma 55 ribu aja!



Baca keseruan lain seputar keluarga. Plis klik: Housewife's diary
Simak juga resume kuliah online yang pernah kuikuti: Kuliah Online 
Reaksi:

1 komentar:

  1. Semoga bisa mempraktekkan dengan baik ya Mak, susah soale nggak boleh nglrang2 ki

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...