19.10.17

Pengalaman Market Day Perdana!


Menjadi pengusaha kiranya makin didengungkan akhir-akhir ini. Karena lapangan kerja semakin sempit, sedangkan peluang menjadi pengusaha saat ini lebih besar. Sayangnya sih, aku sendiri termasuk generasi pekerja. Background kedua orang tuaku adalah PNS dan pegawai BUMN. Senikmat-nikmatnya lapangan kerja kan? Setidaknya itu yang aku pikirkan sampai 2 tahun lalu. Baru akhir-akhir ini mindsetku perlahan berubah semenjak suami memutuskan berwirausaha. Ternyata lewat berdagang kita lebih tawakal kepada Allah SWT. Nggak ada kepastian rezeki esok hari, tapi hebatnya, rezeki ya cukup saja.

Karena itu, aku dan suami sepakat kalau Ais nanti harus punya mindset pengusaha. Ais harus punya lifeskill yang mumpuni untuk bertahan hidup. Salah satunya mempunyai mental berdagang.

Kata siapa berdagang itu susah? Setting mindsetnya aja kok yang susah.

Kenapa setting mindset? Karena ini yang aku alami sendiri. Selalu ada rasa malu ketika mulai berdagang. Ada rasa takut akan kritikan dan juga celaan. Jadi, begitu Ais ada market day di sekolahnya, yang mikir macem-macem malah ibunya. Anaknya mah enjoy aja.

Awalnya dia pengen jualan es sama mainan kertas. Tapi karena aku belum sempat cari tempat kulakan mainan kertas, akhirnya Ais jualan es aja. Esnya pun sederhana aja, yaitu susu bantal merek Real Good yang dibekukan jadi es. At least aku mendidik Ais buat jualan makanan sehat kan?(walau dalam kemasan, hihi)

Sehari sebelum jualan Ais udah semangat banget. Pas pagi hari menjelang sekolah, lebih semangat lagi dia. Belum sarapan udah buru-buru minta berangkat sekolah. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 06.30. Kepagian Le! Satpamnya aja belum datang kali! Akhirnya setelah sarapan Ais langsung cuss kuantar ke sekolah. Doi langsung duduk manis di tempat jualan yang disediakan. Bener-bener kayak bakul minggu pagi lagi nunggu dagangannya, hihi. Doi pede abis, padahal dagangannya standar banget. Mamaknya yang malah baper, duh kalo nggak laku gimana ya? Mindset pesimisku keluar, tapi aku nggak boleh menunjukkan pesimisku ini. Akhirnya langsung kutinggal saja Ais.
Yak dibeli, dibeli...

Saat perjalanan akan menjemput Ais pulang sekolah, aku merasa deg-degan. Yaelah banget ya. Yang jualan anaknya, yang deg-degan ibunya. Pasrah aja lah menerima kenyataan kalau barangnya nggak habis, atau hasil penjualannya kurang. Dan sampai di sekolah, yang terjadi di luar ekspektasiku. Dagangannya Alhamdulillah habis, dan termos esnya berubah jadi aquarium ikan. Rupanya sebagian hasil penjualan es susu dia pakai untuk membeli ikan cupang dagangan temannya. Waduh, berapa nih hasil penjualan es susu kalau profitnya buat beli ikan gini? Sesampainya di rumah aku hitung hasil penjualannya. Alhamdulillah masih balik modal. Padahal katanya ada beberapa anak yang minta gratisan. Beberapa es juga diminumnya sendiri. Tapi Alhamdulillah masih ada untung sedikit. Artinya Ais udah ada pemahaman tentang berdagang yang benar. Walo aku yakin sih, duitnya bisa terkumpul begitu pasti karena pengawasan Bunda Yanda-nya. Kalau nggak, ya nggak tau deh, wong Ais kalau udah main sama teman-temannya bakalan nggak urusan sama barang miliknya.
Termos es berubah jadi aquarium ikan cupang

Oh ya, sepulang sekolah itu, Ais udah nggak urusan sama uang hasil jualannya. Dia udah sibuk sama ikan cupang di termos es yang langsung dia tunjukkan ke teman main di rumah. Bangganya dia menunjukkan ikan cupangnya. Aku pun bangga karena ikan cupang itu dia beli dari jerih payahnya sendiri.Pesan ayahnya, karena sudah berani beli hewan peliharaan, Ais harus siap tanggung jawab sama peliharaannya itu. Sekarang tiap pagi Ais harus memberi makan ikan cupangnya. Bisa seekor semut mati ato sebutir nasi.
Reaksi:

1 komentar:

  1. Hahaha...oleh2nya ikan cupang ya.
    aku seneng banget kalo ada sekolah yg ngadain market day,bikin anak2 kreatif. Pingin jual inilah,itulah...aku dulu sering banget bantuin sepupuku nyiapin barang2 buat market day

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...