8.10.16

"Kapan Ais dikasih adek?"


Nggak cuma sekali dua kali pertanyaan seperti itu dilemparkan kepadaku. Siklus hidup memang begitu. Saat masih belum menikah, ditanya kapan nikah. Saat sudah menikah masih ditanya, kapan punya anak. Setelah punya anak, bakal ditanya lagi, kapan punya anak lagi. Nanti anak sulung sudah besar, pertanyaannya beda lagi, kapan mantu? Kapan nimang cucu, kapan, kapan*terus nyanyi.
Brotherhood

Sebenarnya sih, Ais belum punya adek bukan karena aku menunda kehamilan. Tapi kalau boleh jujur sih, dengan kondisi keluarga yang masih terpisah seperti ini, memang hamil lagi belum menjadi prioritas saat ini. Banyak hal yang perlu dipikirkan. Termasuk kayaknya sih aku belum siap kalau hamil jauh dari suami. Hehe. Soalnya dulu waktu hamil Ais aku full sama suami sampai kehamilan 7 bulan. Paling males jauh dari suami itu kalau lagi meriang atau flu. Soalnya aku tipenya yang harus dikerok dulu baru meriangnya bisa sembuh. Apalagi kalau lagi hamil kan benar-benar diminimalisir minum obat. Nah biasanya yang jago ngerok itu suami. Kalau suaminya jauh, jujur saja sungkan mau minta tolong orang tua di rumah.

Jujur saja bibirku kadang kelu mau mengaminkan doa mereka yang berharap Ais segera dapat adek. Karena dari lubuk hati yang paling dalam aku belum siap punya anak lagi. Walaupun kalau mengingat momen-momen kehamilan dan menyusui itu kadang kangen juga. Pas kemarin Mak Ges cari breastpump pas dirawat di rumah sakit, aku tiba-tiba nostalgia masa-masa menyusui. Masa kejar setoran. Dari awalnya ASI perahan sehari nggak sampai 50 ml sampai ASI perahan mencapai 1 liter. Dari yang freezer kosong sampai freezer penuh ASIP. Asyik juga momen menyusui kalau diingat-ingat. Tapi kondisi sekarang sama dulu zaman Ais itu beda. Boleh dibilang dulu perekonomian keluarga masih lebih stabil dibanding sekarang (walau sekarang juga masih cukup sih).

Sekarang, dengan alasan mengusahakan masa depan yang lebih baik aku kekurangan waktu berharga bersama Ais. Demi alasan mengusahakan masa depan yang lebih baik, ayahnya terpaksa berjauhan dengan Ais. Jujur sih, sama sekali belum kebayang kalau harus hamil sekarang nggak kebayang kalau nanti ada masa-masanya pisah sementara dengan Ais. La wong dua malam menginap di rumah sakit saja udah kangen berat sama Ais. Kayaknya sih kondisi psikologis ini yang jadi KB alami. Yah, aku sendiri sebenarnya juga takut terjebak pada sikap 'menolak rezeki', karena punya anak itu rezeki, ya kan? Tapi aku yakin lah, kalau memang saatnya aku pasti siap untuk punya anak lagi. Nggak peduli teman atau saudara anaknya sudah berapa, pendapat orang mah nggak ada habisnya. Yang penting bahagia dengan cara kita sendiri. Ya kan?
Reaksi:

6 komentar:

  1. Kalau sampai waktunya, pastilah ada adiknya. Tapi jangan lama-lama ya...hehe

    BalasHapus
  2. Kalau sampai waktunya, pastilah ada adiknya. Tapi jangan lama-lama ya...hehe

    BalasHapus
  3. ahahaa... saya kira setelah nikah gk bakal ada lagi tuh pertanyaan... :D

    ternyata masih ada aja pertanyaan kaya gtu hahahaa....

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...