2.6.16

Tahapan Budaya Sensor Mandiri Yang Bisa Dilakukan Orang Tua Terhadap Tontonan Anak


Dunia hiburan saat ini telah berevolusi (cieh istilahnya). Kalau dulu yang namanya mau menonton TV harus kumpul ke rumah Pak RT dulu, sekarang  TV malah teronggok saja di rumah, jarang dinyalakan. Sarana hiburan audiovisual sudah semakin bervariasi mulai dari video streaming, DVD film, atau pun film donlotan dari internet. Aku sendiri sebagai ibu dari satu anak merasa lebih aman mencari hiburan via internet seperti streaming di youtube, layarkaca21.tv, genflix, dsb. Dengan streaming, aku bisa memilih tontonan apa yang bisa ditonton anak. Berbeda dengan televisi yang kudu harus manut stasiun TV menayangkan acara apa. Nah, streaming video di internet memudahkanku untuk melakukan budaya sensor mandiri. Tentang istilah budaya sensor mandiri sendiri aku ketahui saat acara RoadBlog 10 Cities yang diadakan Excite Indo di Yogyakarta 16 April silam. Kang Atun, selaku perwakilan dari Lembaga Sensor Film memaparkan tentang budaya sensor yang seharusnya dilakukan secara mandiri karena sudah terlalu sulit bila diatur semua oleh Lembaga Sensor Film.
Kang Atun di Road Blog Yogyakarta
Oh ya, kembali ke masalah streaming video, dengan streaming video aku bisa selektif memilih tayangan yang boleh dan tidak boleh ditonton anak. Biasanya aku pasti mendampingi anak saat nonton video di internet. Bahkan, untuk film yang akan ditonton, aku selalu mencari referensi terlebih dahlu tentang film tersebut. Tak jarang aku menonton terlebih dahulu film yang akan ditonton.
Budaya Sensor Mandiri

Walaupun antisipasi sudah kulakukan sedemikian rupa,akan tetapi tetap ada hal-hal yang sebenarnya belum layak ditonton anak, tetapi kecolongan ditonton anak, padahal tayangan yang dipilihkan sudah sesuai umurnya (kategori film semua umur), Hal-hal tersebut antara lain:

1.  Adanya tokoh antagonis yang bahasanya tidak sopan, suka mengumpat, memukul, semena-mena, pokoknya nggak ada bagus-bagusnya deh tokoh ini. Nah, agar anak tidak meniru si tokoh ini, aku selalu kasih pengertian bahwa tindakan seperti itu tidak baik dan jangan ditiru.

2. Adanya adegan di luar nalar seperti kereta api yang bisa terbang, tokoh superhero yang bisa terbang tanpa alat atau pun menembus dinding, atau pun tayangan fantasi dimana tokoh utamanya selalu mendapatkan pertolongan dari alat ajaib. Tayangan seperti ini biasanya dikategorikan untuk semua umur, tetapi sebagai orang tua, aku harus memberi pengertian pada anak bahwa itu hanya di film dan tidak ada di dunia nyata. Walau bagaimana pun takut juga kalau tiba-tiba anak berfantasi bisa terbang terus loncat dari atas pohon, ya kan?

3. Adegan ciuman di film. Duh, film kartun hollywood suka sekali menyelipkan adegan ini. Sebel deh! Makanya sekarang biar aman, aku selalu pastikan film yang ditonton anak bebas tema percintaan lawan jenis, dan cenderung aku arahkan untuk menonton film dokumenter atau pun tutorial, biar pengetahuannya juga bertambah.

Inilah 3 (tiga) tahapan budaya sensor mandiri yang biasanya aku lakukan:
Budaya Sensor Mandiri

1. Menemani anak menonton. Setiap anak pasti senang kalau diperhatikan oleh kedua orang tuanya. Acara menonton bisa menjadi sarana meningkatkan bonding dengan anak sekaligus mengawasi tayangan yang ditonton anak.

2. Edukasi. Bila terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan nalar atau pun yang sebaiknya tidak dilakukan anak, aku segera melakukan edukasi. Tetapi edukasinya bukan dengan ceramah sok tahu begitu. Edukasi aku lakukan dengan format diskusi, sehingga anak menjadi paham bahwa tidak semua tayangan di televisi bisa ditiru.  

3. Membatasi  jam menonton. Selain untuk menjaga kesehatan mata anak agar jangan terlalu lama terpapar layar LCD, juga agar anak menyadari bahwa banyak hal lebih manarik dibandingkan sekotak layar kaca dengan gambar begerak dan berwarna ini.

Kenapa Budaya Sensor Mandiri?

Dewasa ini, gempuran tayangan berbasis video tidak hanya didominasi oleh televisi atau pun bioskop. Media internet dengan kemudahan mengupload, menonton, dan mengunduh video membuat semakin gencarnya peredaran video di masyarakat. Lembaga Sensor Film sebagai lembaga yang berwenang melakukan sensor tentu saja akan kewalahan menghadapi gempuran video yang begitu gencarnya. Apalagi banyak diantara video tersebut memang tidak didaftarkan di Komisi Penyiaran Indonesia, jadi budaya sensor mandiri harus dilakukan setiap individu.

Perbedaan persepsi  tentang sensor juga menjadi kendala dalam melakukan sensor di Lembaga Sensor Film. Sehingga akan lebih baik jika kita sebagai konsumen yang melakukan sensor mandiri  terhadap tayangan yang akan ditonton.    


Reaksi:

8 komentar:

  1. Baik2 ya jagain Ais. Bentar lagi Ais bisa utak atik youtube sendiri.

    BalasHapus
  2. sensor mandiri sekarang mempunyai arti yang makin luas. apa yang harus kita perhatikan dalam sensor bukan lagi film semata. mungkin juga konten digital, internet dan seterusnya. makin rumit

    BalasHapus
  3. Betul Mba Diba, bahkan sepertinya film-film anak hampir semuanya menyajikan adegan kissing. Perlu penjagaan banget ya. Apalagi kadang di game2 gawai sering diselipkan video2 yg suka gak ketawan.

    BalasHapus
  4. Anak memang harus ditemani dan diberi pengertian, soalnya gampang banget meniru...

    BalasHapus
  5. Budaya sensor mandiri kalau dulu tutup mata, kl sekarang apa ya?

    BalasHapus
  6. Jauhin anak dari TV dan gadget atau kalau lg nonton diawasin, kali ya? :)

    BalasHapus
  7. @Maklus: sekarang juga udah bisa. Cuma belum bisa ngetik keyword. Bentar lagi..huhuhu

    @Mas Jar n Mb Ipeh: Bener banget. Sekarang game2 juga ampun deh!

    @Mb Witri: iya. Menyerap seperti spons jd cepat meniru

    @Manda: masih pake tutup mata sih kalo aku. Hihi

    @Mb April: nonton TV udah jarang, tp gadget sm streamingnya getol. Kdg kasian sama matanya, tp ibunya aja susah lepas dr gadget. Help!

    BalasHapus
  8. duh mugo2 anakku g ndelok seng aneh2
    btw selamattt :*

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...