12.6.16

Menjadi Irit itu Menyenangkan!


Aku termasuk golongan irit garis keras. Pernah, bahkan sering orang-orang disekelilingku, termasuk keluargaku, mencibir sifat iritku yang menurut mereka berlebihan. Merek bilang,
"Kasian amat sih hidupmu?" 
"Hidup cuma sekali, jangan susah-susah lah!"
Tapi nggak tahu ya, aku pribadi malahan sangat menikmati keiritanku ini. Menurutku bisa merasa enak dengan sepiring sayur dan tempe yang hanya seharga enam ribu rupiah itu sangat membahagiakanku. Tapi kok ya orang selalu bilang itu memprihatinkan ya? Padahal apanya yang diprihatinkan sih? Wong badanku gendut dan sehat begini kok, hahaha! Terus aku punya kebiasaan unik, yaitu menghabiskan makanan dari piring teman! Ya, aku akui ini lebih pantas disebut aneh ketimbang unik, dan mungkin rada memalukan buat sebagian orang. Tapi jujur aku begitu karena aku suka risih lihat orang kalau makan nggak habis. Rasanya selama perut ini masih kuat menampung makanan dan lidah ini masih bisa menerima rasa dari makanan itu, pasti aku habiskan. Mungkin aku hanya satu level lebih tinggi saja dibandingkan tong sampah, hahaha!

Punya perasaan risih ketika menyisakan makanan itu seharusnya menjadi budaya di negara kita. Sayangnya, kebanyakan malah sepertinya bangga bila bisa menyisakan makanan. Setiap kenduri atau acara prasmanan lain seperti berlomba-lomba mengambil sebanyak-banyaknya makanan. Ujung-ujungnya nggak habis. Digeletakkan begitu saja deh. Miris. Bahkan gara-gara fenomena itu, ada satu hotel yang bikin pengumuman begini:
Foto diambil dari Fb Om NhHer
Tuh kan, jadi bukan aku yang salah dong kalau suka menghabiskan sisa makanan teman dan keluarga. Justru yang salah mereka yang nggak menghabiskan makanan dong ya? Ini semacam pembenaran buat tingkahku yang memang weird alias aneh ini. Membuang makanan itu menyakitkan Kak! Kalau itu masakan sendiri, bisa membuatku berpikir, " Ah, jangan-jangan masakanku nggak enak?', tapi kalau makanannya beli terus mikirnya lagi buang uang. Sayang banget kan?

Selain masalah makanan, di rumah aku juga yang paling rewel masalah peralatan elektronik yang lupa dimatikan atau pun keran air yang tidak tertutup rapat. Masalah kendaraan apalagi, waktu dulu cari mobil buat keluarga, pertimbangan utama mobil itu harus hemat bahan bakar dan banyak muatannya. Nggak mikir style atau apalah, pokoknya kudu seefisien mungkin. Kalau bisa mobilnya bisa buat cari duit, tapi karena endingnya beli mobil orang tua sendiri, jadinya nggak jadi deh diomprengin. Apalagi sampai detik ini aku belum juga bisa menyetir mobil. *parah

Intinya, walau tindak tandukku, walau pun dianggap 'menyedihkan' bagi sbagian orang, tetap dengan bangga aku menyatakan bahwa aku 100% bahagia. Lagian, bahagia itu diciptakan kan?
Reaksi:

5 komentar:

  1. kalau ngerasa bahagia yah harusnya gpp kan ya :)

    BalasHapus
  2. Sama kaya tempat makan jepang, harus abis apa yang diambil. Ga boleh sisa. Jadi ya kudu tau seberapa kuat perutnya.

    kalau saya tipikal ambil dikit tapi terus...aka ga berenti :p

    BalasHapus
  3. @Mb Noni. Iya. Aku coba cuek sama omongan orang, tp kadang masih risih. Hehe
    @Mb Ipeh. Aku sih udh ambil banyak, sering pula, malu2in beud. Haha

    BalasHapus
  4. Yes true, create our own happiness.

    BalasHapus
  5. Babaaa blognya udah dot com ya, tambah apiiik. Sepakat Ba, kadang hati lbh ayem kalo kita berhasil ngirit sesuatu ketimbang menghambur-hamburkannya (pengalaman pribadi). Iya, asal kitanya happy g masalah ^_^

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...