31.5.16

Seni Menjadi Guru ala Lidha Maul


Semenjak ikutan arisan blog Blogger Perempuan dan satu grup bersama Mbak Lidha Maul, aku suka kepo sama blognya. Bukan apa-apa, soalnya nama blognya itu unik, bikin haus, soalnya jadi langsung kebayang salah satu varian minuman dingin dari jeruk yang kesohor itu. Bulirjeruk.com nama blognya. Isi postingannya memang seperti bulirjeruk, menyegarkan. Ada manis dan asam kehidupan yang dirangkai secara menyejukkan di blognya.
header blog Mbak Lidha. Gimana nggak bikin haus coba?

Ada satu seri di blognya yang selalu aku tunggu kelanjutannya. Yaitu tentang 'Guru Apalah-apalah'. Basicnya sih ini bercerita tentang pengalaman Mbak Lidha waktu masih jadi tenaga pengajar di salah satu SMU di Kalimantan. Ceritanya sih masih dua seri pertama, jadi masih menceritakan pengalaman Mbak Lidha sebagai guru baru. Dari pengalaman Mbak Lidha ini aku jadi makin sadar bahwa untuk menjadi guru yang baik itu kita bukan harus pintar dan mahir sekali dengan materi pelajaran, tetapi lebih dari itu, kita harus bisa menyesuaikan diri dengan tingkah dan kebiasaan anak. Aku bisa bayangkan kalau di posisi Mbak Lidha, sudah persiapan materi semantap mungkin dan pas di kelas juga ngajarnya lancar, ternyata ZONK! Anak sekelasitu diam karena memang nggak menyimak pelajarannya, disuruh nanya pelajaran malah nanya pertanyaan pribadi kayak status, alamat rumah, dll. Haduh, kalau di komik mungkin udah ada ilustrasi batu besar di kepala Mbak Lidha.

Lewat pengalamannya menjadi guru, Mbak Lidha secara santun mengkritisi fenomena anak muda masa kini. Fenomena dimana banyak anak muda yang salah pergaulan, kurang sopan santun, dan ketika anak bermasalah yang disalahkan pasti gurunya. Padahal rekan-rekan guru juga sudah berusaha membimbing mereka ke 'jalan yang benar'. Akan tetapi memang banyak keterbatasan yang dimiliki para guru, sehingga tidak semua murid bisa terbimbing dengan baik. Mbak Lidha menyadari bahwa sebagai guru dirinya memang masih banyak kekurangan, akan tetapi sangat disayangkan bila orang tua lepas tanggung jawab dalam mendidik anak. Perceraian sekalipun bukan alasan untuk tidak memperhatikan anak. Mbak Lidha bahkan sempat galau ketika salah satu muridnya bilang begini:

"Maklum saja Bu sama kami, kan masih anak-anak."

Well. Mereka sudah SMU, beberapa diantaranya sudah memiliki anak, mana bisa disebut 'masih anak-anak'?*jadi keingetan Peter Pan Syndrome nih. Sekelumit kisah (yang kuharap masih ada lanjutannya lagi dan lagi) dari Mbak Lidha Maul tentang pengalamannya menjadi guru sedikit banyak menjadi pelajaran buatku yang sangat tertarik dengan dunia pendidikan. Sejauh ini soalnya baru mengajar privat dimana anak-anaknya manis dan cukup kasih sayang orang tua. Sangat kontras dengan latar belakang murid-muridnya Mbak Lidha. Pantas saja kalau guru itu benar-benar 'Pahlawan Tanpa Tanda Jasa'.

Yang penasaran sama kisah unik Mbak Lidha menjadi guru, bisa klik disini: http://www.bulirjeruk.com/search/label/Kisah%20Guru

Dear Mbak Lidha, pokoknya aku request seri selanjutnya Guru Apalah-apalah ya! Tapi sebagai blogger dengan niche 'logic', aku juga mendukung kalau Mbak Lidha ikutan lomba-lomba blog, jadi biar nggak dapat tanda jasa, tapi dapat tanda kiriman hadiah atau pun bukti transferan bolehlah. Hahaha!


Reaksi:

2 komentar:

  1. Saya juga sempat kaget dengan kondisi beberapa muridnya Mba Lidha yang subhanallah banget. Entahlah, kalau saya mah paling nangis, gitu.

    BalasHapus
  2. Ini udah dibaca kemaren dan sekarang dibaca lagi, tetep aja ketawa soal LOGIC ini, ingat aja diaaa... :P

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...