5.5.15

Kuliah Parenting Bereng Home Schooling Muslim Nusantara Yogyakarta


Senin, 4 Mei 2015, mengawali Senin pagi dengan sedikit rempong. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB, tapi Ais belum makan dan maunya aku suap, haha! Ada agenda penting yang udah kutandai gede di tanggalan. Hari ini ada kuliah parenting tentang homeschooling di Masjid Nurul Ashri Deresan bo! Kebayang gimana kerennya kuliah parenting ini nanti. Tengok-tengok jadwal, acara ini bakal kelar pas waktu Zuhur, jadi kudu bekal Dhuha dari rumah nih. Lucu deh kalau inget tadi pagi, nyuapin Ais sambil Sholat Dhuha. Tiap dua rekaat satu suapan, hihi. Jadilah jam 8 lewat baru bisa caw dari rumah. Di jalan masih pake acara nyasar nggak nemu masjidnya*navigasi payah, tapi Alhamdulillah sampai juga ke Masjid Nurul Ashri yang megah dan memang asri ciiin.


Untung acaranya memang molor (thanks God i'm in Indonesia, haha). Aku nggak kelewatan satu pembicara pun. Pembicara pertama dari Bu Ida Nuraini Noviyanti sebagai founder HSMN (Home Schooling Muslim Nusantara).

Kenapa HS? Karena tuntunan dalam Islam itu untuk belajar, bukan sekolah. Jadi sekolah itu mubah, nggak wajib. 

Persiapan HS: 
  1. Mental ortu dan anak 
  2. Ilmu parenting termasuk pola asuh   


Ingat! Life skill itu yang terpenting, akademis bisa dikejar.   

Ilmu tentang HS Kurikulum yang perlu :
  1. Wajib: Al Quran, Hadist, akhlak, shirah,  berhitung, menulis, presentasi 
  2. Khas kegiatan dan pembelajaran sesuai dengan passion anak (terlihat pada usia 7-8 tahun). Anak bisa mulai nyantrik/ magang di usia 12 tahun. 
  3. Dasar-dasar sains 
  4. Hidup bermasyarakat 
  5. Berdagang 
  6. Penelitian (kualitatif dan kuantitatif)   


Sebab kegagalan HS: 
  1. Ortu mood-moodan 
  2. Monoton 
  3. Anak dibiarkan tanpa pendampingan 


Yang harus digarisbawahi saat melakukan HS: 
  1. Teladan 
  2. Melibatkan anak dalam tantangan hidup keseharian
  3. Mengenali fase peka belajarnya. Saat anak lelah/tidak mood jangan dipaksakan
  4. Awali dengan mengajarkan Al-Quran
  5. Niat kuat, jalani setotal mungkin. Jangan pikirkan pandangan manusia!   


Prinsip penting HS: 
  1. Luruskan niat 
  2. Jangan membandingkan 
  3. Jangan terpaku hasil   


HS itu...
  • Bukan mendatangkan guru 
  • Bukan cari sekolah dengan akreditasi bagus 
  • HS tidak ada hari libur. Everyday study 
  • HS tidak ada rangking 


Bedakan HS, Flexi School, DS, dan US 
  • HS: pilihan kebutuhan belajar 
  • Flexi School: memindahlan sekolah formal ke rumah
  • DS(Deschooling): dari sekolah menjadi tidak sekolah. Sebaiknya tetap HS setelah DS ya
  • US (Unschooling): Tidak sekolah, tidak HS juga   


HE dan HS prinsipnya sama, hanya beda asal mulanya (HE dr Inggris, HS dr Amerika)   

Beberapa alasan HS:
  1. Ketidak sesuaian dengan sistem sekolah Karena ortu pindah-pindah lokasi kerja 
  2. Ingin mendidik anak secara langsung   
Kurikulum HS:
  1. ACT 
  2. Cambridge 
  3. Kurikulum sendiri   
Sosialisasi? Dalam hal sosaialisasi, lebih unggul HS, karena anak HS biasa sosialisasi dengan beragam usia, beda dengan anak sekolah yang hanya bergaul dengan rekan sebayanya.

Ijazah? Bisa kejar paket A, B, dan C, disebut UNPK (Ujian Nasional Paket Kesetaran). 
Hati-hati tidak terdaftar di diknas! sering-sering sharing dengan komunitas.

Bila ingin HS idealnya ada salah satu yang tidak bekerja, jadi ada yang fokus sama anaknya. Luangkan minimal 3 jam untuk mendampingi anak.   

Sebelum HS, pastikan beri anak pilihan-pilihan sekolah dulu, jangan karena malas mencoba, malas berusaha. 

Jangan kira dengan HS anak bisa malas-malasan, bisa nggak kena bullying, bisa terbebas dari pornografi. Tidak! JUSTRU mental ortu dan anak kudu lebih kuat daripada anak sekolah. Karena bullying anak HS justru dari lingkungan sekitar(tetangga, keluarga besar), kalau nggak siap mental kan malah bikin down.  

Demikian sharing dari Bu Ida. Oh ya, Bu Ida bisa dihubungi di 087825626969 (WA/SMS/telpon), FB: Ida Nur'aini dan email: banisigroup[at]gmail[dot]com

Sesi kedua dilanjutkan dengan pemaparan "Mengapa akademisi pilih HS?" yang disampaikan Bapak Nopriadi Hermani. Beliau adalah lulusan UGM, S2 di Nanyang, S3 di Tokyo Institute Technology, dan sekarang menjadi dosen teknik fisika UGM. 

Beliau adalah pengarang buku The Model. The Model adalah bagaimana merancang diri kita. 
Jangan hanya jadi orang tua biologis saja! Jadilah orang tua seutuhnya (fisiologis, ideologis, dll) 
Jangan sampai anak gagal menata kehidupan pribadi, tidak bisa memaknai hidup, dan tidak mersakan kebahagiaan. Jangan mikir sukses semata saja!

Serius menata desain diri:
  1. Desain diri. Prinsip pada karakter, visi, dan tanggung jawab (responsibility) 
  2. Tuning. Teladan. Menuangkan model diri ke anak2 kita. Bahawasannya mendidik anak adalah mendidik diri kita sendiri. 
  3. Dapatkan anak yang memiliki the model. Sesuai prinsip Islam, visi dunia dan akhirat, kepribadian Islam san karakter efektif, dan sukses pribadi dan kontributif dalam peradaban.   
Sesi ketiga menghadirkan Abah Lilik dari Jogja Islamic Home Schooling yang pagi itu juga didapuk sebagai moderator.

Luqman 12-19 WAJIB dibaca dan dipahami setiap ortu!--> peer nih buat mentadabburi delapan ayat ini!
Eh, browsing nemu ini, bookmark dulu lah: 
http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-luqman-ayat-12-19.html?m=1

Hak anak adalah diberi nama yang baik, dididik adabnya, dan tempatkan ia di hatimu. 
Ketika anak masih balita terus diajak sholat, wajar dong kalau lari2an. Eh, tapi jangan dipaksain sholat di masjid, karena kalau sampai ganggu jemaah lain, itu sama aja tidak mengajarkan adab yang baik bagi anak.   

Hak anak selanjutnya adalah, anak berhak mendapatkan label positif, mendapatkan komunikasi yang positif, dan persepsi yang positif.   

Parenting haruslah sesuai dengan: 
  1. Nilai Hidup: Tauhid 
  2. Perintah pemberi hidup: Belajar 
  3. Manfaat hidup: motivasi ortu belajar lagi 
  4. Hikmah dalam hidup: nilai, prinsip, dan motivasi hidup 
  5. Tahapan sesuai peradaban muslim 


Tahapan sesuai peradaban muslim:
  1. 2-7 tahun. Penuh kasih sayang, masa pemmbelajaran dasar-dasar tauhid 
  2. 7-10 tahun. Pendidikan pokok syariat 
  3. 10-15 tahun. Masa aqil baligh anak mulai terlihat jelas potensinya. Arahkan kegiatan sesuai minat dan bakatnya agar energi anak tersalurkan dengan baik 
  4. 15-18tahun. Sudah dewasa. Perlakukan seperti sahabat.   
Sudahkah ayah bunda menjadi orang tua ideologis, pedagosis, dan psikologis?
Luqman. Hikmah, pemahaman, ilmu, dan kepandaian bertutur kata. Karakter Islam dan karakter efektif. Karakter adalah pemahaman, pola pikir. Akan ada masa-masa anak imitasi, meniru sekitar. Makanya kesempatan men tuning pikirannya, dengan kebiasaan dan diskusi.

JIHS. Wadah ortu untuk sharing. Ada pelatihan 'Sekolah Ayah Bunda'. Info lengkap hubungi: 08112541400

Baca keseruan lain seputar keluarga. Plis klik: Housewife's diary
Reaksi:

6 komentar:

  1. Apakah semua dasar harus kita kuasasi, Mak Diba?
    Misalnya untuk ilmu agama, Qur'an , Hadist, jika bekal kita blm cukup, boleh mndatangkan orang lain kah>

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh Mak. Tapi idealnya kita juga ikut belajar sama gurunya juga, Jadi, HS ini menekankan orang tua untuk bertumbuh bersama anaknya, gitu...

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Assalamu'alaikum . Salam kenal mbk Diba...
    ijin copas ya mb.., kemaren saya hadir juga di seminar ini tapi gk sempat catat lebih detail materinya saking terkesimanya dg materi yg disampaikan.
    saya lg belajar ilmunya HS muslim, persiapan untuk anak ke-tiga saya, Aliya,3.5 th.
    mb Diba tertarik HS juga?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal Bun Siti Khomsah. Iya, saya tertarik HS, tapi lebih untuk persiapan anak kalau misal dia minta nggak sekolah. Selama masih ada sekolah umum yang sesuai buat anak, sepertinya sy gak HS, soalnya tanggung jawab dan mental buat seorang praktisi HS harus besar.. Terus terang sepertinya saya belum siap, hehe

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...