11.2.14

NgASI di Kebon Tebu

Saat melihat teman-teman yang stok ASInya banyak. Pasti terselip iri atau malah minder. Janganlah iri dan minder dengan 'hasil'. Kita tidak pernah tahu usaha dan pengorbanannya mencapai hasil itu. Maksimalkan usaha diri. Karena usaha dan perjuangan itu yang akan dikenang selamanya... 

Awal yang indah, dengan sedikit perjuangan. 

Kalau boleh jujur. Perjuanganku ngASI Faris itu termasuk mulus. Tapi selalu ada drama dari perjuangan menyusui semudah apapun. 
Aku termasuk tidak 'well informed' saat awal melahirkan. Saat itu aku manut saja Faris diberi susu formula. Bahkan aku sampai menandatangani surat pernyataan bahwa Faris diberi susu formula atas kehendakku sendiri. Tidak ada sedih dan sesal sedikitpun saat itu. 
Sampai beberapa teman mengkritisi perbuatanku dan memasukkanku ke grup ASI. Seketika aku merasa sangat berdosa pada Faris. Bagaimana mungkin aku menyerah pada susu formula tanpa indikasi medis? Alasan ASI kurang itu hanya alasan. Aku sadar, ASI kurang hanyalah perasaanku saja, sebenarnya aku belumlah maksimal mengusahakan ASI untuk Faris 
Saat Faris berumur tiga hari. Aku mulai berusaha memberi ASI semaksimal mungkin. Selagi Faris tidur, aku memompa, saat bangun aku susui. Kalau Faris masih merengek, hasil pompa aku berikan semua, kalau hasil pompa sudah habis tetapi ASI masih kurang, barulah aku kasih susu formula. Awalnya aku ngotot langsung say no to susu formula. Tapi ternyata ASIku ga jua lancar dan Faris malah menjadi frustasi. Akhirnya aku sadar, semua butuh proses. Faris yang terlanjur nyaman dengan susu formula pasti belum puas dengan ASI yang teksturnya lebih encer. Jadi aku tidak boleh ngotot langsung memberi Faris full ASI. 
Akhirnya, perjuanganku berbuah manis. Saat Faris berumur lima hari, Alhamdulillah sudah bebas susu formula. Bahkan, pelan tapi pasti, aku mulai bisa nyetok ASI perah(ASIP). 

Perjuangan selepas ASI Eksklusif 

Ternyata, 'drama' menyusui di awal kehidupan Faris membuat aku menjadi sangat keras kepala dalam menyusui. Bisa dibilang agak 'anti' susu formula. Aku sudah membuktikan bisa full ngASI setelah Faris bergantung susu formula. Jadi, apapun kendalanya aku yakin bisa mengatasi. 
Benar saja, saat Faris berusia lebih dari enam bulan, perjuangan ngASI lebih 'drama'. Saat itu Faris belum banyak makan MPASI. Kebutuhan ASIP masih banyak, sebanyak saat ASI eksklusif. Tapi aku terkendala masalah fisik. Setelah Faris enam bulan, Faris tidak lagi diasuh mbahnya. Faris aku titip tetangga. Otomatis masalah rumah tangga seperti mencuci dan bersih-bersih aku kerjakan sendiri. Rupanya itu mempengaruhi hasil perahanku. Saat pulang kerja, Faris pasti minta nenen. Keinginannya menyusui tidak lagi bisa dialihkan seperti dulu masih ada mbahnya. Rupanya itu juga semakin memperkecil hasil perahanku. 
Akhirnya aku berusaha menambah intensitas memerah. Kalau awalnya tiga kali sehari. Sekarang ditambah satu kali lagi pas tengah malam. Waktunya pas tengah malam. Kendalanya, saat tengah malam aku ngantuk sekali. Saat ngantuk begini, ASI ternyata seret. Sia-sia saja nambah waktu perah di tengah malam. 
Tak habis akal, akhirnya aku nambah waktu perah saat jam kerja. Untuk menghemat waktu aku perah di meja kerja. Benar-benar modal nekat dan cuek. Beberapa temen cowok malah yang nanyain aku lagi ngapain. Aku manfaatin ini buat edukASI. Mudah-mudahan saja nanti mereka menjadi Ayah ASI nantinya (temen kerjaku semua masih belum punya anak). Untuk memaksimalkan perah di rumah. Aku mensiasati dengan memerah ASI sebelum menjemput Faris. Alhamdulillah ini menambah perahan secara signifikan. 
Setelah Faris berumur 18 bulan, perjuangan ngASI mulai santai. Faris doyan sari kedelai dan UHT plain. Makannya juga banyak. Pas umur 22 bulan aku putuskan berhenti perah, sekaligus mulai menyapih. Maunya sih pas 24 bulan bisa disapih dengan cinta. Apa daya, sampai sekarang di usia 27 bulan, Faris masih saja nenen alias menyusui langsung. 

Dan lembaran perjuangan sebagai orang tua masih sangatlah panjang. Masih banyak hal yang harus kupelajari untuk menjadi orang tua yang baik. Aku yakin Allah membimbingku. Aamiin 
Reaksi:

1 komentar:

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...