12.2.14

Akhlak dan Akidah-Sebuah Pemikiran dari 'Survey Negara Islami'

Kali ini pengen bahas tentang pluralisme beragama. Gegara sedari sore ayah mantengin debat agama di youtube. Eh malamnya kedapetan postingan seru Mb Jihan Davincka tentang survey 'Negara Paling Islami'. 
Ga bisa dipungkiri, masalah agama adalah masalah sensitif. Apalagi kalo udah mengkotak-kotakkan muslim dan non muslim. Ga ada habisnya debat dan ngomongin 'konspirasi'. 
Sebenarnya kita semua ga ada yang sempurna. Ya kan? Jadi perasaan sebagai 'yang paling benar' itu sebaiknya dibuang jauh-jauh. Memang Islam adalah agama paling benar, tapi yakin keislaman kita sudah benar? Tetaplah intropeksi sekalipun sudah lulus lima rukun Islam. Ibadah bukan semata kuantitas, tapi juga kualitas. 
Kita mungkin pernah merasa jumawa ketika dipercaya menjadi imam ketika sholat, khatam sehari satu juz, dan berhaji berkali-kali. Kalau sampai terselip perasaan itu, ow...ow, intropeksi lagi deh. Seharusnya ibadah itu ga bikin pelakunya jadi jumawa. Justru semakin benar ibadahnya, semakin getol intropeksinya, semakin merasa banyak salahnya, bukan malah ngerasa benar sendiri, alim sendiri, ya ga? 
Dalam tulisannya, Mb Jihan banyak memuji attitude warga Irlandia yang mayoritas Non-Muslim. Sampai-sampai doi dituduh liberal. Ngapain neladanin kafir yang membangkang sama Allah? Teladan itu ya Nabi Muhammad. Titik. 
Padahal ga ada salahnya kan mencontoh yang baik-baik dari mereka? Oke mereka bukan Nabi yang 100% bisa kita teladani. Walo attitude baik, banyak diantara mereka yang atheis, suka mabuk-mabukan, free sex, dll. Tapi ayolah, mencontoh ketertiban mereka saat antre, buang sampah selalu pada tempatnya, dan meminimalkan penggunaan kendaraan pribadi, itu ga salah kan? Hidup ga melulu masalah akidah. Akhlak kita perlu dibenahi juga. Seperti yang di awal aku bilang, udah bener belum tuh ibadahnya? Kalo secara hubungan sosial selalu berpikiran sempit, negatif, merasa benar sendiri, dan tidak mau berbagi? Sebaiknya intropeksi lagi deh. 
Islam itu indah. Jadi ga perlu lah dengan alasan akidah terus ga mau interaksi dengan umat agama lain, cenderung memusuhi, dan selalu berpikiran negatif. Kita semua manusia ciptaan Allah bo. Sama aja. Kebetulan aja doi lahir non muslim, kita muslim, ya ga? Woles aja, ga perlu juga terlalu membebani diri dengan dakwah akidah kalau memang belum mampu. Masalah akidah itu urusannya kita sama Allah. Ga usah sok-sokan nuding "Kamu kafir!"Wong aslinya keislaman kita juga cuma Allah yang tahu. 
Akhirnya, pluralisme itu perlu. Pluralisme beragama bukan buat dihindari, tapi disyukuri dan dinikmati. Lewat keberagaman, kita akan lebih banyak berbagi, belajar, dan Bersyukur. 
Aku pribadi merasakan, dengan memperbagus akhlak, hidayah untuk memperbaiki akidah justru menghampiri. Seperti mengenal komunitas one day one juz di grup FB (walau belum pede jadi anggotanya). Kalau demi alasan akidah aku ga mau facebook-an(karena facebook bukan produk muslim), ya ga bakal kenal komunitas yang membuatku bersemangat mempelajari Al Quran. Dengan berusaha memperbagus akhlak, dunia menjadi indah bagai di surga. Selama kita berniat dan berbuat baik, orang akan berniat dan berbuat baik juga pada kita. Segala perbuatan ada balasannya, kira-kira begitulah. 
Jadi, ga usah kebanyakan mikir kalau mau berbuat baik. Ga perlu kelamaan seleksi sebelum menolong. Aku sendiri selalu salut dengan mantan bos yang selalu memperhatikan anak buah dan keluarganya tanpa membeda-bedakan agama. Padahal doi Non Muslim. 
Kalo ada yang nyinyir bilang,"Ah, mau baik kayak apa kalo bukan Islam ya tetap masuk neraka." 
Hei! Istigfar bro, yang berhak nentuin masuk Surga atau Neraka cuma Gusti Allah. Untukku agamaku. Untukmu agamamu. Masalah agama urusan masing-masing, termasuk ga usah repot-repot absen siapa yang masuk surga, siapa yang masuk neraka. Agama ga cuma dilihat dari akidah, tapi juga dari akhlak. Kalau kita mungkin beruntung dibekali Akidah yang benar dengan memeluk Islam, dan mereka beruntung dibekali Akhlak yang mulia. Maka, ayolah kita saling mencontoh yang baik-baik. Jangan mau diadu domba dengan isu konspirasi dan terorisme. 
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...