2.1.14

Teladan dari Seorang Operator Grab Loader

Siang ini, tanggal 28 Desember EDibaFREE family goes to Palembang. Dengan kondisi yang tertidur pulas karena kecapekan diajak kerja, Faris kugendong ke mobil dan kami pun memulai perjalanan mengarungi jalanan berlumpur sebelum mencapai main gate. Sesampainya di main gate ayah dicegat seseorang yang ternyata anak buahnya, seorang operator grab loader yang biasa melayani harvesting saat on season dan melayani divisi tempat ayah kalau lagi off season. Namanya bapak Paulus. Doi ternyata udah kerja di GPM dari tahun 1991 dan sampai hari ini masih saja berstatus harian.

Subhanallah betah banget ya? Ini kita aja yang 5 tahun kerja udah gatel aja pengen keluar. Padahal doi juga punya kebon dan ternak sapi. Ternyata seberapa sukses usaha seseorang, tetap saja perlu 'secure income', walaupun itu harus menjadi operator grab loader yang kerjanya 3 shift di areal dengan nominal gaji sedikit di atas UMR. Selain itu, status pengusaha seringkali dianggap pengangguran. Hal itu juga yang membuat seseorang lalu memilih menjalankan profesi pengusaha dan pekerja sekaligus. Memang sih, usaha buat dia bukan sebagai sandaran hidup, niatnya dia beli sapi adalah biar bisa membuka lapangan kerja, pun dengan kebon karetnya yang dia serahkan kepada keponakannya, semata-mata untuk memberi kesibukan ponakannya.

Pak Paulus memang seorang Kristiani. Namun, keteladannya dalam berbagi patut dicontoh penganut agama apapun, karena semua ajaran agama pasti mengajarkan untuk berbagi kan? Dia juga bercerita kalau saat ini tengah mengasuh seorang anak yang ditelantarkan dan dianiaya orang tua kandungnya. Doi tulus menolong dan ga pernah memaksakan ajaran agama. Tapi kecenderungan si anak ya jadi ikut bapaknya.
Sebelum sampai Simpang Penawar, tempat Pak Paulus nanti diturunkan, Ayah mampir ke unit 2 buat menagih hutang teman Ayah. Pak Paulus lalu berpesan, kalau memberi hutang pada seseorang, harus sabar dan ikhlas. Doi pernah memberi utang seseorang dengan nominal puluhan juta dan baru dibayar lunas 15 tahun kemudian! Wah, padahal kita aja grusa grusu nagih hutang. Perlu teknik khusus juga biar si penghutang mau bayar utangnya. Doi sendiri pakai cara yang agak 'mistis' dengan bawa orang pintar. Yah, mudah-mudahan sih permasalahan hutang Ayah juga cepat selesai. Biar bisa diputer lagi duitnya gitchu...

Akhirnya, Pak Paulus  turun di Simpang Penawar, dan perjalanan ke Palembang langsung dilanjutkan. Pak Paulus cuma menumpang sekitar sejam. Tapi cukup banyak cerita beliau yang bisa diambil hikmah. Indahnya berbagi tanpa memandang SARA. We are one.
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...