10.1.14

Dahsyatnya Media Part 2

Dari kemaren sosmedku rame membicarakan masalah tayangan televisi yang akan dipetisi. Sebut saja tayangan YKS dan acara musik Dahsyat. Awalnya aku baca setengah hati. Yaelah tayangan TV ga mutu gini kan emang udah dari dulu. Kenapa baru ribut sekarang? Makanya pake TV kabel dong!*gaya sombong.

Dan mungkin ada banyak apatis-apatis lain sepertiku. Alih-alih memperjuangkan tayangan TV nasional supaya lebih bermanfaat, eh malah kabur selingkuh sama TV kabel yang notabene siaran luar negeri. Apatis ini bukan tanpa alasan. Aku sendiri pengalaman, pas dulu di rumah ada yang momong Faris. Hadeh, tontonannya kalo ga infotainment ya sinetron-sinetron yang cuma bisa bikin mendidih emosi jiwa. Zaman KKN(kuliah kerja nyata) dulu juga ibu kosnya juga selalu nonton acara TV yang bikin kita jadi melow dan berprasangka buruk(isinya selingkuh dan pengkhianatan melulu). Jadilah aku mengeneralisir semua masyarakat Indonesia pada umumnya payah, dibodohi mau aja.
Padahal kalo ditelaah lagi, mereka begitu ya karena keadaan, semua acara TV nasional semua gitu-gitu aja, tapi mereka terpaksa, la kalo ga nonton TV, hiburan mereka apa coba? TV itu gratis, acaranya beraneka ragam. Kalau mereka punya duit mungkin bakal langganan TV kabel atau beli DVD Player. Sayang buat makan aja susah, boro-boro ada dana buat hiburan.

Mungkin benar pendapat mereka yang berprinsip tidak mau nonton TV. Membaca buku, bermain kartu, ataupun coret-coret memang juga mengasyikkan. Tapi, ehm, aku sendiri jujur bosenan tuh kalo buku yang dibaca itu-itu lagi, main kartu kalah terus, ataupun dinding sudah penuh dicoret-coret, kalo biar ga bosen ya beli buku baru, beli kertas yang banyak, yang artinya butuh biaya. Tapi ga punya biaya? Ya balik-balik paling murah nonton TV.

Sebenarnya orang Indonesia itu pintar dan bisa diatur kok. Buktinya jalur busway bisa aja tuh disterilin. Memang perlu ada figur yang menggerakkan. Kalau untuk tayangan televisi, figur itu ya stasiun TV itu sendiri, dari prodeser, pengarah acara, sampai pengisi acaranya. Cuma kadang beberapa stasiun TV seolah tidak merasa bertanggung jawab dengan moral pemirsanya, makanya disuguhi tayangan yang minim edukasi. Yang penting menghibur. Masalah moral belakangan.

Lupakah mereka akan tanggung jawab moral yang mereka emban? Budaya alay dan tidak menjunjung lagi adat ketimuran yang saat ini merajalela, salah satunya ya gara-gara tayangan TV yang sarat budaya negatif barat ini. C'mon, jangan target oriented gitu lah, hidup ga melulu materi lo Pak, Bu! Buktinya beberapa stasiun TV yang sarat berita juga bisa survive, selain keuntungan materi mereka juga berjasa mengedukasi masyarakat. Jadi, berhentilah memberi hiburan tidak mendidik, sinetron yang cuma buat migren, dan berita artis yang provokatif. Biarkan masyarakat Indonesia 'terpaksa' menikmati tayangan sehat. Awal-awal mungkin berat, seberat penerapan denda sejuta nerobos busway. Tapi lama kelamaan kalau sudah terbiasa  itu akan mebudaya.

Aku pribadi salut dengan industri hiburan Thailand. Di tengah berkecamuk kisruh politik, namun perfilmannya maju. Terutama film komedi romantisnya, hampir selalu ada pesan moral disana, namun tidak melupakan unsur menghibur. Senang kan kalo selain dapat hiburan, jiwanya juga terisi.

Aku yakin pelaku industri hiburan juga cerdas-cerdas. Sayang kalau demi rupiah semata kecerdasannya diarahkan ke hal yang kurang positif. Semua tergantung si pemegang kebijakan dan yang punya uang. Tapi kita juga bisa kok merubah keadaan. Salah satunya dengan menandatangani petisi untuk tayangan TV yang ga bermanfaat, cenderung merusak moral, menganggu jam belajar, namun malah punya rating tinggi ini. Demi Indonesia lebih baik. Aamiin.


Aku sudah sign petisi ini lho!

http://www.change.org/id/petisi/transtv-corp-segera-hentikan-penayangan-yks#
tanda tangan ke 32.965.

Dunia internet memang keren, dari ujung jari aku bisa berbagi petisi ini ke semua teman.


Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...