30.7.13

8 Des 12-Gudbye Faris's Brother..

8/12/12 hari itu hidupku seperti salah satu episode desperate housewife.. Bagaimana tragedi kolam tertutup menjadi topik hangat, ga di pasar, kantor, di rumah2, bahkan di angkot2.. Tragis memang, ini menimpa tetanggaku. Putra semata wayangnya harus pergi dengan cara tercebur di kolam yg harusnya tertutup! Peringatan Allah pastilah terkandung dalam peristiwa ini, peringatan yang sangat keras,seperti tamparan yg memerah di pipi. Luka tetanggaku akan kepergian anaknya pasti masih menganga. Pikiran 'seandainya aku..' pasti bergelayut di pikirannya. Secara psikis ini berat,apalagi dia bahkan lebih muda dariku! Tudingan sebagai ibu ga becus dilayangkan. Tapi percayalah, takdir Allah itu yg terindah, semoga dia ga ikut menyalahkan dirinya karena kejadian ini.. Lalu,tragedi itu berubah bagai serial drama karena semua orang membicarakannya. Tentu saja cerita itu berkembang kemana-mana, karena ga dipungkiri kadang tanpa sadar kita semua melebih2kan cerita.. Dari kehebohan dikira anakku yg kena musibah,karena alamat kami sama-namanya jg rumahnya dibagi 2-,sampai seputar kejadian-penemuan jenazah-mandi-sholat yg diceritakan ulang,namun belum tentu benar adanya. Sempat ada tuduhan kepada anak yg saat itu bermain dengan Almarhum, tapi sungguh ga etis yg melemparkan tuduhan itu,karena kejadian itu benar2 ga ada saksi mata,dan sungguh berdosa bagi mereka yg melemparkan tuduhan pada anak kecil-yang bahkan setelah kejadian belum mengerti temannya sudah berpulang ke Rahmatullah. Subhanallah, seperti ini rupanya hidup berumah tangga. Akupun harus banyak belajar, sungguh aq ga ngerti, sebaiknya sebagai tetangga aku harus berbuat apa?? Aq terkadang malu,karena bahkan aq ga bisa mendekat ke mereka. Tidak pernah mereka minta bantuan kami, ada apa2 larinya ke belakang rumah. Ga terkecuali pasca kejadian itu. Sedikitpun kami tidak membantu, kecuali ikut mengantarkan mencari mobil jenazah.. Ok,mungkin karena keterbatasan kami,terutama aq, jadi ga bisa banyak bantu. Namun ini cukup mengusik rasa bersalahku. Bagaimana mungkin aku bisa cuek,sedangkan yg mengalami tragedi ini tetangga 'satu rumah'ku??, seharusnya kami bisa saling mengerti, karena sama2 orang tua baru,umur kami juga ga jauh beda, tapi entah, keluarga itu memang ga dekat dengan siapapun. Oke, kita sering bersenda gurau, tapi baru kusadari itu semua palsu. Entah kenapa setelah kejadian itu aq merasa, lingkunganku ini hangat,namun hambar.. Kalo ga kita yg mendekat, jangan harap mereka mendekat, kalo ga kita minta, merekapun sungkan menawarkan. Tampak manis di depan, namun bergunjing di belakang sudah lumrah. Mungkin rata2 sifat ibu2 yg banyak ngumpul2 gitu,ya kalo ngga ga ada bahan omongan sih.. Namun aq tak mau ambil pusing,aq anggap aq sedang khilaf, karena bagaimanapun mereka sangatlah baik. Bahkan saat yasinan 7 hari ini mereka bergilir membawakan makanan..membersihkan rumah.. Yah,semoga prasangkaku salah. Karena mengedepankan prasangka positif adalah kunci kebahagiaan. Sekali lagi,kejadian ini bagai episode serial drama, dan bila aku jadi pemerannya, kira2 tokohku ini harus berbuat apa ya?? Episode selanjutnya seperti apa? Yg pasti skenario Allah SWT buatku pastilah yang terbaik buatku-belum tentu buat orang lain- moral dari episode ini: 1. Jangan lengah mengasuh anak, carilah '2nd person' untuk mengawasi anakmu. Jangan sungkan minta bantuan tetangga. 2. Berbuat baik selalu, jangan berulah sm tetangga,karena merekalah orang terdekat kita,dan kepada merekalah kita pertama kali minta bantuan. Merekalah keluarga kita disini. 3. Buatku-jangan sayang berlebih terhadap apapun, karena semua adalah titipan Allah SWT, kalo Allah mau ambil,kita harus ikhlas melepaskan. Kejadian ini jadi shock therapy buatku.. Aq sadar, aq terkadang berlebihan sayang anak, Subhanallah kejadian ini benar2 mengingatkanku.. In Memorian..
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...