21.4.19

Wisata Asyik Bersama Bayi ke Monumen Nasional (Monas)

Foto keluarga minus ayah di Monas ^_^
Akhir Maret lalu anak lanang ada libur 4 hari karena kelasnya digunakan untuk persiapan ujian nasional. Daripada ngelangut di rumah, mending plesir aja. Tapi kemana? Yang jelas Ais pengen naik kereta, soalnya dia pengen makan nasi goreng di Reska, itu loh restoran yang di dalam kereta itu. Ya udah akhirnya diputuskan pergi ke Jakarta, soalnya kalau di Jakarta nanti bisa nginep di tempat saudara (silaturahmi plus ngirittt).
Ayo Buk, kita naik keretaa...
Kami berempat berangkat Sabtu malam pakai Senja Utama Solo. Aku, Ais, Fafa, dan akung sudah siap di stasiun sejak setengah 6 sore. Seperti biasa Ais ribut pengen cepet masuk kereta, padahal keretanya kan belum dateng yak, hihi. Akhirnya sekitar setengah 7 keretanya dateng, bergegas kami masuk ke kereta. Kami pesan kursi 3, karena Fafa masih dipangku. Konsekuensinya nanti ada yang duduk sendiri. Awalnya akung sudah siap-siap di kursi yang sendiri, tapi Ais yang malah minta duduk sendiri. Biar kayak orang dewasa, haseeek...

Pengalaman pertama membawa bayi perjalanan jauh dengan kereta

Naik kereta bersama Fafa sih sudah 2x, tetapi perjalanan sebelumnya hanya kereta jarak dekat dari Jogja ke Madiun. Jadi Fafa nggak terlalu rewel. Memang sama-sama kudu bahu kokoh karena Fafa minta gendong sepanjang perjalanan. Lah kalau 3 jam perjalanan sih oke, kalau 10 jam? Gempor dong cyyyn...
Untungnya keretanya tidak terlalu ramai. Aku beberapa kali berpindah tempat demi ketenangan Fafa. Tapi ya tetep aja dia nggak nyaman. Agak lama dia rewel, sampai muntah juga. Tapi akhirnya dia capek sendiri dan mulai tidur pulas sekitar jam 10an malam.
Akhirnya dia tidurrrr
Sampai Jakarta jam 3 pagi, langsung lanjut bobok begitu sampai tempat tante. Lalu sekitar jam 10 semua sudah siap buat destinasi wisata pertama, yaitu Monas (Monumen Nasional)! Oh iya, ini destinasi Ais sendiri yang menentukan, nggak tahu deh terinspirasi dari temannya atau gara-gara nonton youtube. Sudah banyak paparan informasi yang didapat anak lanang di usianya yang mau 8 tahun ini.

Siapin fisik!
Monas itu luas banget, mana pintu masuknya terbatas, nggak bisa masuk di sembarang tempat. Udah gitu jelas panas banget ya. Dan jangan harap ada pedagang asongan berkeliaran. Mending bekal makan dan minum sendiri, atau beli dulu makanan di food court di pintu masuk.

Masuk Monas harus dari bawah tanah, nanti cukup satu orang yang ngantri beli tiket, yang lain bisa nunggu di lorong yang full AC. Pokoknya nyaman lah.

Ngantri beli tiketnya juga nggak pakai lama. Kalau cuma mau masuk di cawan, tiketnya sekitar 5 ribu untuk dewasa dan 2 ribu untuk anak-anak. Kalau mau naik ke puncak, tiketnya 10 ribu, dan dibatasi pengunjungnya. Operasional ke puncak dimulai dari setengah 4 sore, tapi kalau berangkatnya mepet jam 4 juga takut nggak kebagian tiket ke puncak sih.

And the drama start..

Udah sampai ke Monas, masak nggak sampai di puncak sih. Akhirnya dibela-belain nunggu dari jam 12 siang sampai jam 4 sore demi lihat puncaknya monas. Boleh dibilang kita semua unprepared! Nggak tahu kalau nggak ada tempat makan di dalam Monas, sebenarnya sih memang nggak boleh makan, tapi nunggu sampai jam 4 kan yo laper, apalagi bayi Fafa, kasian kalau nggak makan, untungnya sih masih bawa roti sebungkus dan sebotol air minum. Tapi masalah makan nggak seberapa, karena Ais juga nggak ngeluh lapar dan perutku juga baik-baik saja. Masalah ke kamar mandi yang paling drama. Kamar mandi hanya 2 dan harus melayani ribuan pengunjung. Jadi buat ke kamar mandi harus antri sekitar sejam. Dan aku harus banget ke kamar mandi karena aku sedang deras datang bulannya. Selesai ngantri kamar mandi, akungnya cerita kalau Fafa nangis terus dan sempat muntah. Ya Allah. Tapi setelah nangis itu dia jadi lahap nenennya, terus tidur deh.
Ngemper di museum Monas. Bener 

Pokoknya, kalau plesir ke Monas lagi, mending masuknya habis maksi dan solat zuhur. Jangan lupa kosongkan kandung kemih, daripada kelamaan ngantri kamar mandi.

Foto kece dari Monas

Tapi semua drama tadi terbayar karena pemandangan baik dari cawan maupun puncak monas benar-benar menarik. Dari puncak monas kita bisa melihat keseluruhan kota Jakarta. Bagai melihat maket atau miniatur bangunan kota. Jadi berasa lagi bermain lego.
Buk, ada masjid kayak lego Ais ^_^

Kami naik ke puncak sekitar jam 4 kurang dan ternyata Ais kurang menyukai ketinggian. Tapi, bagaimanapun juga plesir ke Monas kali ini tergolong sukses! Nggak nolak kalau diajak ke Monas lagi. Hihi

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...