5.3.22

Tetap produktif dan glowing berkat Pond's Triple Glow Serum

 Aku sangat suka laut! Tapi memang sukanya setelah menikah sih. Bersama suami dan anak-anak, kami sepakat bahwa tempat healing yang paling terjangkau dan memuaskan itu ya di pantai. Salah satu motivasi pindah ke Gunungkidul juga biar bisa dekat dengan pantai. Ternyata, jodoh memang nggak kemana, tempatku bekerja rupanya sedang mengembangkan produk laut. Cocok deh! Walau nggak ada background pendidikan yang spesifik tentang kelautan, aku nekat aja bergabung di kelompok penelitian pengolahan hasil laut. Yang penting pengolahan pangan secara umum kan sudah menguasai. Hehe..



Yang paling seru dari kegiatan penelitian pengolahan hasil laut adalah ketika mencari sampel. Seperti yang saat ini sedang kami kerjakan, mencari sampel rumput laut di perairan laut selatan. Bisa sampling sambil healing menghirup udara laut. Bisa bermain air di sela pencarian rumput laut. Walau kadang semua tidak senikmat saat ke pantai dengan tujuan piknik. Dan, waktu sampling nggak bisa memilih waktu, semua harus sesuai dengan waktu surut pantai. Kalau surutnya jam 1 siang, ya harus sampling jam segitu. Kebayang gimana panas mataharinya. Nggak heran kalau wajah mulai kusam. Apalagi faktor usia, tentu saja bisa membuat flek hitam hadir di wajah ini. Duh, nggak boleh dibiarkan, aku kan punya cita-cita ingin terlihat seperti kakak buat anak-anakku, kalau kulitku ada flek hitamnya, otomatis terlihat lebih tua dong. Baiklah, sebelum flek hitam beneran datang, aku harus mencegahnya.

Panas terik terus lanjoot!

Langkah pencegahan kumulai dengan pencarian serum pencerah wajah. Kenapa serum? Ya karena biar cepat hasilnya kelihatan. Biar bisa mengimbangi tingkat kekusaman wajahku akibat keseringan mantai, hihi. 


Pencarianku dimulai dengan mencoba Pond's Triple Glow Serum. Aku suka sama kemasan kecil 7,5 gramnya, karena pas buat yang lagi coba-coba sepertiku. Nanti kalau cocok, bisa deh beli yang kemasan botol 30 gram. Dan pemakaian serumnya irit lho, cukup tuang 2-3 tetes dan tepuk ke seluruh wajah agar cepat terserap, baru setelah itu pakai pelembab supaya serumnya bekerja maksimal.

Rangkaian Pond's Triple Glow


Pengalaman menggunakan Pond's Triple Glow Serum

Tekstur serumnya ringan, cepat menyerap di kulit dan aromanya wangi. Salah satu penyakitku kalau perawatan wajah adalah sering tidak konsisten melakukan step perawatannya. Tapi kalau serumnya wangi dan enak dipakai gini, harusnya bisa konsisten pakai ni. Apalagi hanya dengan sekali pakai, wow, rasanya sudah auto glowing. Jadi makin semangat perawatan wajahnya nih! Tentu saja semua berkat formula triple glow pada produk ini. 60x lebih efektif dari vitamin C lho!

Gluta-Boost-C

Gluta-Boost-C yang ampuh untuk menyamarkan flek hitam. Cocok buat kulitku yang agak belang akibat paparan sinar matahari. Kandungan glutathione efektif mencerahkan kulit.


Vitamin B3+

Vitamin B3+ efektif membuat kulit wajah makin lembut dan katanya sih bisa mengecilkan pori-pori kulit. Jadi kulit muka bisa lebih sehat ya.


Hyaluronic Acid

Hyaluronic Acid sebagai pelembab yang cepat menyerap ke dalam lapisan epidermis kulit. Jadi, glowing wajah terpancar dari kulit yang lembab dan sehat.


Ternyata, untuk hasil yang lebih maksimal, kita bisa memadukan dengan penggunaan Triple Glow Serum Mask. Aku pakai sekalian untuk me time saat weekend.


Triple Glow Serum Mask

Aku suka dengan Triple Glow Serum Mask ini karena krim serumnya berlimpah di sheet mask. Krim serumnya wangi, bikin betah pakai berlama-lama. Tapi ya masak mau seharian pakai masker serum, ya kan?

Kandungan Gluta Boost-C efektif mencerahkan wajah dengan vitamin B 3+ dan Hyaluronic Acid yang memberikan efeknkulit lebut dan lembab langsung. Dan setelah penggunaan memang langsung kelihatan hasilnya. Kulit terasa lebih kenyal dan lembab. Jadi ngerasa se-glowing Wendy Red Valvet kan..duh mulai deh halu. Tapi lebih baik halu daripada minder, ya kan?#pembelaan

Tapi memang beneran bikin kulit lebih sehat lho rangkaian produk Pond's Triple Glow Serum ini. Karena dengan kulit wajah lebih sehat, rasanya pikiran dan tubuh juga lebih sehat dan bahagia lho. Jadi semakin pede juga kemana-mana walau tanpa make up. Udah nggak khawatir kulit kusam karena keseringan mantai, karena selain rutin menggunakan sunblock, aku punya senjata untuk mengembalikan cerah wajahku dengan Pond's Triple Glow Serum. Alhamdulillah ^_^




29.12.21

FREE ke Pantai Ngobaran dan Ngerenehan

 


Saat ayah pulang, saatnya piknik! Tapi piknik kali ini bener-bener cuma curi waktu, soalnya bapak mertua baru meninggal, jadi kunjungan ayah kali ini lama di Ponorogo. Setelah genap seminggu bapak berpulang, baru deh kita pulang ke Jogja dan menyempatkan untuk piknik tipis di pantai! Pokoknya pantai jadi destinasi utama kalau piknik deh. Dan kali ini kita masih akan mengeksplorasi Pantai Ngerenehan, Ngobaran, dan Ngunyahan. Padahal kunjungan ayah sebelumnya juga kita kesini lho. Tapi memang Ngerenehan ini berkesan banget, soalnya ikannya disini benar-benar segar dari tangkapan laut! Nggak semua pantai soalnya bisa begini. Yang lebih banyak pilihan lagi yaitu di Pantai Sadeng, tapi pantainya berkarang, jadi nggak bisa buat berenang. Di kawasan Pantai Ngerenehan, Ngobaran, dan Ngunyahan ini yang air lautnya aman buat berenang ya cuma di Ngerenehan.

Sebelum ke pantai tentu saja kita mempersiapkan segala sesuatu demi kenyamanan di perjalanan nanti. Dan tidak lupa kita membawa Rio, kucing keluarga kami biar doi juga bisa ikut piknik. Baju ganti, baju renang, kacamata renang, dan tak lupa alat mandi dipersiapkan. Dan sesampainya disana kita ke Pantai Ngobaran dulu.

Pantai Ngobaran ini biasa dipakai untuk ibadah umat Hindu, jadi tidak heran kalau ada bangunan pura menyerupai di Bali yang berdiri tegak disini. Dengan latar foto seperti ini, rata-rata pada percaya kita lagi di Bali lo. Hihi! Selain pura, ada juga patung dewa-dewa yang sepertinya baru dicat ulang, dan tentu saja berbagai spot foto asyik lainnya di pantai ini. Tumben-tumbenan juga suami ngajak foto berdua. Nah gitu dong, biar ada mesra-mesranya dikit, hihi. Padahal maksudnya suami biar anak lanang bisa sekalian mengasah kemampuan fotografinya. Haha!

Setelah dari Ngobaran, sebenarnya kita pengen nyobain berenang di Ngunyahan. Tetapi ternyata Pantai Ngunyahan banyak karang yang tajam, wah ya bahaya nanti bisa luka-luka kita. Well, akhirnya kita kembali ke Pantai Ngerenehan buat berenang.

Berenang di pantai sudah jadi keharusan bila kami berpiknik ke pantai. Soalnya kita semua pecinta air. Apalagi pandemi gini kita jarang banget berenang. Jadi kalau lihat air bawaan pengen nyebur aja.

Sayangnya, sebagai ibu yang baik (ceileh), aku nggak bisa ikutan berenang karena harus menjaga barang bawaan dan juga si Rio. Padahal lihat mereka renang asyik sekali  si ayah sampai renang ke tengah. Lokasinya aman karena Pantai Ngerenehan dikelilingi bukit tinggi, sehingga ombak yang datang tidak langsung dari pantai lepas.

Wisata di Gunungkidul itu asyiknya harga makanannya relatif murah dan rasanya cukup lumayan. Apalagi kalau belinya ikan segar yang memang dari tangan pertama nelayan, hmm, rasa ikannya nggak amis dan ada manis-manisnya. Jangan lupa beli es degan biar beneran kayak lagi di pantai (lha emang lagi di pantai, piye to?)

Menu wajib kami kalau makan di pantai adalah ikan bakar. Menurut kami ikan segar akan sangat legit kalau dimasak dengan dibakar. Tekstur dan aroma segarnya sangat terasa. Nah selain ikan bakar kita jga pesan cumi-cumi. Kalau ini sih buat anak-anak.

Rute ke Pantai Ngerenehan ini sebenarnya tidak sulit. Jalannya juga sudah full aspal sampai ke lokasi pantai. Kita akan dimanjakan dengan pemandangan bukit terbelah. Di perjalanannya aja sudah banyak pemandangan menyejukkan mata. Hanya saja memang jalannya agak sempit, jadi kita harus berhati-hati dalam menyetir. Untuk berkendara di lokasi seperti ini, pastikan kondisi kendaraan dalam kondisi prima. Jangan lupa mengecek kondisi kendaraan seperti kondisi air radiator, filter dan selang bensin, oli mesin, baterai, timing belt, saringan udara, lampu, wiper, dan untuk kondisi jalan sempit dan naik turun seperti jalan ke Pantai Ngerenehan, kondisi rem dan ban harus mendapat perhatian ekstra. Karena kalau sampai rem blong bisa beresiko jatuh ke jurang tuh. Nah, bila ada sparepart kendaraan yang kondisinya kurang oke, sebaiknya segera diganti. Cara mendapatkan sparepart kendaraan sekarang juga semakin mudah, misalkan kendaraan kita Toyota, maka cukup ketikkan jual aksesoris mobil Toyota. Nanti pasti keluar banyak hasilnya. Awas barang palsu, biar yakin, mending di website  resmi Toyota yaitu auto2000.co.id saja. Dijamin kualitas dan harganya.

Simpan lokasi untuk memudahkan transaksi


Berbagai servis purna jual

Jadi, jalan-jalan kemana lagi nih?

29.7.21

Jangan Sampai Pandemi Merenggut Kemanusiaanmu!

Siapa yang sudah sangat lelah dengan pandemi ini? Rata-rata pasti menjawab 'iya'. Tetapi banyak juga yang sudah berhasil menyamankan diri di tengah keadaan sulit ini. Ya berdamai saja dengan keadaan ini.

Aku menulis ini bukan karena meremehkan Covid-19, tetapi jujur aku sedih dengan keadaan yang terjadi. Banyak orang terdekat yang kehilangan anggota keluarganya, banyak yang mengalami perundungan akibat statusnya yang positif covid, belum lagi komentar ketakutan terhadap varian baru Covid. Ya, pandemi ini memberikan banyak sekali pelajaran. Tetapi satu hal yang paling sulit, yaitu mempertahankan sifat sosial kita. Karena pandemi memaksa kita berjauhan, skeptis dengan semua orang, walau aku sadar ini bagian dari era globalisasi, tetapi sifat sosial kita benar-benar diuji. Bagaimana kita tetap bisa ikhlas memberi, padahal kondisi keuangan sendiri juga minim. Bagaimana bisa membantu keluarga dan tetangga yang sakit, sedangkan tubuh kita dan kesehatan keluarga inti juga harus kita jaga. Saat ini sungguh adalah ujian bagi kemanusiaan kita. Semoga kita lolos dalam ujian ini.


Lamanya hidup itu misteri

Sekarang kita akan lebih sadar untuk menghargai hidup, mensyukuri kehadiran orang-orang yang menyayangi kita. Karena kematian bisa terjadi sangat mendadak. Sedih memang mendengar banyaknya berita duka belakangan ini. Tetapi percaya saja bahwa memang inilah yang sudah dituliskan di Lauh Mahfudz. Pandemi ini adalah ujian keikhlasan melepas apa yang dititipkan Allah, bukan hanya nyawa orang terkasih, tetapi sekedar rezeki yang tergerus karena kebijakan pemerintah, juga harus kita ikhlaskan.


Sebaik-baik perkara adalah pertangahan

Pandemi ini akan mengasah kemampuan berpikir kita. Kita pada kondisi harus skeptis dengan siapapun, tetapi juga jangan sampai menyinggung perasaan. Ini sangat berat buat sebagian orang yang saling bersebarangan memandang Covid. Memang terlalu abai terhadap Covid akan berbahaya, tetapi terlalu takut juga lebih berbahaya. Menjaga prokes itu harus, tetapi jangan sampai demi prokes maksimal lalu kita menyiksa diri. Bukannya sakit karena Covid, tapi sakit karena ketakutan kena Covid. Duh, jangan deh, walau bukan sakit karena Covid, tapi plis jangan sakit, jangan bebani tenaga medis dengan kondisi kita. Bismillah bisa.


Kita mahluk sosial yang butuh bantuan

Berbuat baiklah selagi bisa. Kita tidak tahu kapan kena giliran sakit dan kesusahan (bukan hanya Covid). Nggak perlu banyak pertimbangan dalam menolong. Misalkan membantu pasien Covid, asalkan prokes dan tidak lupa menjaga kondisi tubuh (tidak lupa makan, minum vitamin, dll), maka bantulah, jangan sampai ketakutan merenggut kemanusiaan kita.


Kalau orang yang ditolong ternyata jahat sama kita gimana? Ya, boleh jadi kamu menolong orang yang salah, tetapi amalmu tetap diperhitungkan dan akan diberi balasan dari Allah. Nggak perlu mengaharap balasan dari orang yang kita tolong. 


Yang memutuskan sehat dan bahagia itu ya kita sendiri

Egois sekali-kali itu perlu, karena yang memutuskan sehat dan bahagia itu kita sendiri. Sedih teman kehilangan keluarganya? Atau malah kita yang kehilangan orang yang kita sayang? Nggak perlu sedih berlarut-larut. Karena air mata kita nggak akan balikin mereka. Selalu doakan bila teringat. Tidak mudah untuk merelakan kehilangan. Tetapi bila kita memahami hakikat bahwa apapun yang kita punya adalah titipan Allah,  maka In sya Allah kita akan selalu bahagia menjalani apapun yang terjadi dalam kehidupan kita.


Ikhtiar menjaga kesehatan juga begitu. Kuncinya hanya dengan mendengarkan tubuh. Selalu tunaikan hak tubuh untuk diberi asupan makan yang cukup dan bergerak, apa lagi yang perlu kita takutkan? Aku termasuk yang sangat percaya bahwa kondisi pikiran yang akan menentukan kesehatan kita. Sekali kita sugesti sakit, maka akan beneran jadi sakit.


Toleransi

Pandangan orang tentang Covid ini beragam. Kondisi ini membuat kita kembali belajar artinya toleransi. Nggak perlu jengah sama mereka yang posting tentang Covid melulu, juga nggak perlu terlalu mengkhawatirkan mereka yang sepertinya abai prokes. Saling memahami pandangan masing-masing saja. Allah pasti melindungi kita dengan caraNya kok.

25.7.21

Jangan lelah menanam yang baik

 Karena nggak semua yang kamu tanam akan berbuah.


Ini tentang menanam dalam arti yang luas, bukan hanya soal tanam buah-buahan atau sayur, tetapi juga soal perbuatan baik dan mencoba berbagai kesempatan. Kata Allah kan, Dia tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu yang mengubahnya. Jadi jangan lelah berbuat baik dan mencoba berbagai kesempatan.


Hari ini aku mendapatkan pelajaran yang kontras dari dua orang tua. Keduanya sama-sama dalam posisi sakit, tetapi nasibnya berbeda. Yang satu mendapatkan curahan perhatian dan kasih sayang dari pasangan dan anak-anaknya. Yang satu nyaris tidak mendapatkan perhatian dari saudara maupun anaknya. Kok pada tega ya sama si orang tua kedua? Ternyata semua pada tega karena 'kapok' berurusan dengan beliau. Semasa sehat semua orang dia musuhi, termasuk anaknya sendiri. Akibatnya ketika terbaring sakit, hampir tidak ada yang peduli. Ibarat kata, kita akan menuai apa yang kita tanam, si orang tua ini semasa sehat nggak menanam kebaikan apa-apa, jadi nggak ada yang bisa dituai. Seorang kerabat ketika diberitahu keadaannya malah bilang, "Makanya suruh tobat itu." Sungguh, rasanya seperti nonton versi live sinetron Azab yang biasanya ditayangkan stasiun ikan terbang. 


Soal kesempatan juga begitu, bagaimana mungkin kita bisa berhasil dapat pekerjaan bagus dan pendidikan yang bonafid kalau kita sendiri tidak berusaha ikut seleksinya? Mau masuk kuliah biaya sendiri saja banyak persyaratan yang harus dipenuhi, apalagi kalau mengejar beasiswa. Baru daftar CPNS saja sudah harus modal bikin SKCK sama surat keterangan sehat, tambah swab2an mungkin pas pandemi begini. Tapi ya lebih baik gagal setelah mencoba daripada menyesal karena nggak pernah mencoba, kan? Di kantor ada tuh temen yang produktif publish paper, pas kutanya rahasianya, ternyata kuncinya satu, rajin menanam (submit) tulisan. Nanti ada kalanya paceklik (paper ditolak sana sini), tapi akan ada saatnya panen, yang penting tetap semangat menanam.


Jadi, jangan pernah lelah menanam hal yang baik. Mungkin bukan sekarang kita akan menuai, tapi kita pasti akan menuai apa yang kita tanam. Selalu berpikir positif dan optimis, karena kita adalah apa yang kita pikirkan. Teruslah berprasangka baik akan ketetapan Allah, walau saat ini kau rasa perih, nikmati saja perihnya!*selftalk

19.7.21

Kegunaan karet ban dalam bekas untuk rumah tangga

Waktu aku ganti ban, bapak pesen supaya ban dalemnya dibawa pulang. Sependek yang aku tahu sih, ban dalem motor ini bisa buat tali kalo bawa barang banyak di boncengan motor. Atau juga buat mengikat barang supaya gak 'lari-lari' saat perjalanan menggunakan mobil (itu barang apa balita sih kok lari-lari? Lol). Tapi ternyata, kegunaan ban dalam motor lebih dari itu! Bahkan kalo kubilang, setiap rumah wajib sedia ini buat pertolongan pertama pada kecelakaan perkakas rumah. Iya, P3K nggak cuma perlu buat penghuni rumah, tapi barang-barangnya juga. Jadi fungsi ban dalam ini antara lain:


1. Menambal pipa bocor

Ketika ada pipa yang bocor di rumah, tentu kita berhasrat menambal atau mengganti bagian yang bocor tersebut dengan yang baru. Mengganti jelas butuh biaya besar, tetapi menambal tentu lebih ekonomis. Tetapi, ditambal pakai apa? Ada sih semacam isolasi anti bocor gitu di marketplace, tapi sebenernya ada cara yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan, yaitu menggunakan kresek bekas dan potongan karet ban dalam. Ramah lingkungan kan? Memanfaatkan kresek bekas lho ini. Haha. 

Step 1

Jadi, sebelum memperbaiki pipa, bila memungkinkan matikan dulu aliran airnya, biar gak basah kuyup selama memperbaiki pipa. Dikira lagi adegan sedih sinetron, Pipaku Sayang Pipaku Malang, wkwkwk. Tapi sebenernya dalam kondisi basah juga gak masalah, karena kresek sama karet bannya nggak terpengaruh sama basah, cuma mungkin nanti agak licin aja pas ngiket karet bannya. 

Step 2

Tutup area pipa yang bocor dengan plastik, bisa kresek bekas atau plastik bekas wadah beras, pokoknya plastik bekas aja, biar berkontribusi mengurangi sampah plastik ye kan? (Yaelah kayak udah ngurangi sampah plastik berapa kilo aja). 

Step 3

Lilitkan area yang sudah ditutup plastik tadi dengan karet ban dalam. Pastikan potongan karet ban cukup lebar dan panjang sehingga bisa menjangkau area pipa cukup banyak. Tapi jangan kelebaran juga, nanti karet ban susah diikatnya. 

Jadinya gini deh. Emang jadi nggak aesthetic, tp ya yang penting secara fungsional tetep oke ye kan.



2. Menambal perkakas yang patah



Suka sebel hanger di rumah patah? Itu aku sih. Sama bocil hanger buat mainan, ya sukses patah lah. Mana patahnya beda-beda lagi. Diisolasi juga nggak mempan. Tapi ternyata dengan potongan panjang karet ban dalam yang dilikitkan, semua masalah patah hanger bisa teratasi. Bisa diterapkan buat barang patah lain. Tapi bukan buat mengatasi patah hati dan patah semangat loh ya. 


3. Pengait saat mengemas barang

Seperti yang dibahas di awal, karet ban ini powerful buat keperluan traveling (distribusi ding). Semua barang yang dikhawatirkan akan tumpah atau jatuh bila beroindah tempat, bisa diikat dengan kuat menggunakan karet ban dalam. Eh, tapi jangan buat ngiket hati si dia yang sudah tidak mencintaimu lagi ya..hihi..


Selain ketiga 'life hack' tadi, karet ban dalam bekas juga bisa dimanfaatkan untuk membuat kursi. Tetapi, butuh banyak karet ban dalam plus ban luar bekas juga. Jadi kalo buat pemalas sepertiku, ya mending beli kursi baru atau lesehan aja. Haha!

Ada lagi ide yang lain?

12.7.21

Nikmati prosesnya: Sebuah renungan dari Film Soul


Bulan-bulan ini seharusnya aku fokus membereskan draft paper dan memastikannya segera published di jurnal bereputasi. Tapi, menerbitkan tulisan ilmiah tidak semudah posting di blog. Jujur ada kalanya aku merasa sangat payah. Harusnya mudah kan? Tulis-submit-revisi-terbit, tetapi proses 'revisi' ini memang menguras energi, sekaligus banyak pelajaran yang bisa didapat sih. Mulai dari kesabaran menunggu draft kita diproses (awaiting assignment yang lama), revisi berulang-ulang namun akhirnya berujung penolakan. Sakit, tapi ya dari situ skill menulis dan time planning kita diasah. Dan di tengah keputus-asaanku karena satu paper yang belum juga ditanggapi sedangkan paper lain belum juga jadi draftnya, padahal akhir tahun ini harus ada satu paper published (satu saja seharusnya tidak susah, tapi nyatanya nggak mudah buatku). Tiba-tiba aku seperti 'ditampar' lewat film kartun yang aku tonton.

Soul


Menceritakan seorang musisi Jazz John Gardner yang menyambung hidup menjadi guru musik di SMP. Cita-citanya adalah perform bersama pemain Jazz terkenal di kotanya, Dorothea Williams. Dan ketika kesempatan itu datang, ternyata John kecelakaan dan koma. Arwah John tidak terima harus meninggal, padahal dia tinggal satu langkah lagi menuju kesuksesan. Dengan berbagai cara akhirnya dia bisa kembali ke dunia dan perform dengan sukses bersama Dorothea Williams. 


What's next? Nyatanya ketika dia sudah mencapai definisi suksesnya, yaitu manggung bersama idolanya, justru hatinya hambar. Lalu apa lagi yang jadi semangat hidupnya ketika impiannya terwujud? Dari sini aku merasa tertampar...

Frustasi karena tidak bisa produktif selama pandemi?

Frustasi belum juga ada output tulisan padahal sudah lebih dari pertengahan tahun?

Frustasi karena merasa nggak bisa ngajari anak dengan baik?

Frustasi karena berbagai urusan yang belum kelar?


Hmm...seharusnya aku ubah frustasi ini menjadi nikmati...


Tidak produktif selama pandemi, tetapi bisa tetap sehat selama pandemi saja itu sudah anugerah yang patut disyukuri kan? Dan selama di rumah saja, bonding sama anak jadi lebih baik.

Sampai bulan ketujuh belum juga publish tulisan, ya tetap optimis lah draft yang sedang ditanam akan dituai akhir tahun nanti (aamiin), sambil terus berusaha menuntaskan draft paper yang lain. Boleh merasa kecewa dengan kemampuan diri sendiri, tapi jangan pernah meragukan tangan Allah, just try my best. Selama ada kemauan dan usaha, pasti ada jalan. Bismillah.

Menikmati lagi belajar bersama anak, nggak perlu ngoyo dengan berbagai target. Fokus pada pembentukan kebiasaan yang baik pada anak selama pandemi ini. In sya Allah itu yang akan banyak berguna bagi kehidupannya. Usaha nemang harus jalan terus, tapi pasrahkan hasilnya pada 'Sang pemilik takdir'.

Begitu juga dengan berbagai urusan yang belum kelar, memang kalau urusannya sudah kelar, mau ngapain? Jangan sampai terjebak kayak si John, ketika harapannya terkabul, malah jadi bingung mau ngapain lagi. Percayalah bahwa dalam setiap perjuangan ada banyak hal yang bisa disyukuri. Allah itu Maha Baik, jangan membebani diri dengan berbagai terget yang membuat frustasi. Fokus pada langkah-langkah penyelesaian yang bisa kita lakukan, tetapi tidak perlu mentargetkan hasilnya, kadang hasil yang dipilihkan Allah berbeda dengan target kita, tetapi justru itulah yang terbaik buat kita. 


GLP, 12 Juli 2021

Semoga kita selalu lebih baik setiap hari. Begitu juga bumi yang sedang sakit ini. Aamiin.

24.5.21

Pengalaman di Dokter Alwi dan UGD Nur Rohmah Gunungkidul: Beware of 'masuk angin'

 


Dari kemarin Faris mengeluh perut kanan bawahnya sakit. Kami pikir itu masuk angin. Hari ini katanya sakit banget dan langsung kita bawa ke dokter. Sesuai saran Mbak Ika, pemilik kontrakan kita, dia saranin ke dr Alwi di Kemorosari. Katanya dokternya ramah dan nggak dikit-dikit obat. Benar saja, waktu aku daftar via WA, Pak dokternya langsung balesin (mungkin adminnya ya). Sip, testimoni ramah terbukti.

Sampai di tempat praktek, Alhamdulillah nggak antri. Setelah daftar, Faris langsung diperiksa. Baru cek awal, langsung diminta bawa ke UGD RS saja, takutnya itu gejala usus buntu. Soalnya Faris bilang sudah 3 hari sakit perutnya. Sip, testimoni RUM terbukti, ketika sudah ada gejala yang mengarah ke penyakit dalam, tanpa banyak kompromi langsung suruh cek lab. Anak jadi nggak kebanyakan konsumsi obat, ya kan?
Walo seneng dapet dokter yang to the point, tapi tetap khawatir dong, soalnya kalau hasil tesnya beneran usus buntu, ya kudu dirawat, mamak mana yang  gak panik coba? Untungnya Faris bilang perutnya nggak sakit kalo kakinya ditekuk (ciri usus buntu). Jadi ya udahlah, coba langsung ke UGD saja buat memastikan. Tujuannya ke RS. Nur Rohmah. Walo kata temen2 RS ini kurang rekomen, tapi pengalaman kemarin vaksin disini, nakesnya cukup komunikatif. Lagian males lah dah malem masih harus survei RS segala.

Alhamdulillah di RS Nur Rohmah menurutku pelayanannya memuaskan. Mungkin karena pasiennya sedikit ya, jadi kondisi nakesnya prima. Setelah ditimbang badannya dan diperiksa, Faris langsung diminta pipis dan air kencingnya diuji laboratorium.

Nunggu hasil lab


Agak lama nunggu hasil labnya. Pas menunggu, datang serombongan orang dengan kondisi pasien tidak sadarkan diri. Rupanya pasien diduga mengalami gejala stroke dengan kondisi yang agak terlambat, sudah terlanjur pendarahan sehingga ybs tidak sadarkan diri. Nah, ada satu kesamaan pasien ini dengan Faris. Gejala awalnya seperti masuk angin! Memang bener kalo di kedokteran nggak ada istilah masuk angin, karena ternyata itu bisa mengarah ke berbagai gejala penyakit, dari yang ringan sampai kritis! Jadi si pasien itu awalnya muntah pada pukul 2 siang. Dipikir hanya masuk angin biasa jadi langsung minum obat warung. Nah, pada pukul setengah lima, si pasien mulai ngomongnya nggak jelas. Sampai di sini orang rumah belum ngeh kalau itu gejala stroke (dari pembicaraan sih, si pasien nggak tinggal sama keluarganya). Akhirnya baru sekitar setengah 8 malam dibawa ke UGD dengan kondisi tidak sadarkan diri. Kata Pak Dokter Ganteng di UGD (ealah anaknya sakit masih ngeh aja beginian), waktu awal muntah itu sebenarnya sudah mulai gejala stroke, ketika bicaranya mulai nggak jelas, sebenarnya gejala strokenya sudah 'konfirm' dan seharusnya langsung dibawa ke UGD. Namun karena dibawa ke rumah sakit 3 jam kemudian, kemungkinan pendarahannya sudah sampai ke otak sehingga pasien tidak sadarkan diri. Pak dokternya bilang, "Kami akan mengusahakan sebaik-baiknya, tetapi semuanya tergantung yang di atas." Ah bapak, udah ganteng, religius lagi..ea..ea..

Well. Allah menyentilku tanpa aku harus 'terperosok', karena Alhamdulillah hasil lab Faris bagus, kemungkinan memang masalah pencernaan saja, bukan usus buntu. Tapi dengan menyaksikan sendiri pasien yang terlambat penanganan penyakitnya membuatku semakin sadar untuk:
1. Segera mempelajari berbagai gejala yang mengarah pada penyakit kritis. Mungkin belum buat kita, tetapi buat keluarga, tetangga atau rekan kita. Dengan memahami gejala penyakit kritis maka kita tidak akan menunda ke rumah sakit. 

2. Dengarkan alarm tubuh. Dari penuturan pengantar pasien, sebelumnya si ibu sudah kecapekan karena semalaman memasak. Kurang tidur, dan malah didoping dengan kopi. Ditambah punya penyakit darah tinggi, ya sudah, jadi sasaran empuk sakit stroke deh.

Tapi, dari hasil lab Faris, aku merasa sangat terbantu dengan artikel di situs kesehatan terpercaya seperti alodokter (mbok endors plis, ngarep). Coba kalau nggak googling dulu, pasti udah panik dan nggak tenang ketika disuruh cek lab dan ya ampun itu nunggu hasil labnya juga rada lama lho! Informasi pada situs seperti itu tentu sangat membantu di kala pandemi seperti ini. Jadi, kalau nggak darurat banget, bisa lah perawatan sendiri di rumah. Apalagi ketemu dokter ramah macam dokter Alwi, kayaknya besok-besok bisa konsultasi WA dulu nih, hihi.

Semakin betah tinggal di Gunungkidul dengan fasilitas kesehatannya yang baik dan tenaga kesehatannya yang ramah. Beneran di dua faskes semuanya ramah dari bagian pendaftaran, perawat, dokter, dan apoteker. Di dokter Alwi nggak bayar karena langsung cuss UGD, di RS nur Rohmah, dari total cek lab, jasa dokter, dan obatnya Faris habis Rp.125.000, separonya biaya konsultasi kehamilan (tok, belum sama obat) tahun 2018 di Sleman, haha! (Sama-sama Jogja tapi beda banget Sleman sama Gunungkidul)

How can't i not love Gunungkidul?

Ps: keep beware with your body sign ya gaes! Beware with people's health around us too. May Allah bless us with healthiness.