24.5.21

Pengalaman di Dokter Alwi dan UGD Nur Rohmah Gunungkidul: Beware of 'masuk angin'

 


Dari kemarin Faris mengeluh perut kanan bawahnya sakit. Kami pikir itu masuk angin. Hari ini katanya sakit banget dan langsung kita bawa ke dokter. Sesuai saran Mbak Ika, pemilik kontrakan kita, dia saranin ke dr Alwi di Kemorosari. Katanya dokternya ramah dan nggak dikit-dikit obat. Benar saja, waktu aku daftar via WA, Pak dokternya langsung balesin (mungkin adminnya ya). Sip, testimoni ramah terbukti.

Sampai di tempat praktek, Alhamdulillah nggak antri. Setelah daftar, Faris langsung diperiksa. Baru cek awal, langsung diminta bawa ke UGD RS saja, takutnya itu gejala usus buntu. Soalnya Faris bilang sudah 3 hari sakit perutnya. Sip, testimoni RUM terbukti, ketika sudah ada gejala yang mengarah ke penyakit dalam, tanpa banyak kompromi langsung suruh cek lab. Anak jadi nggak kebanyakan konsumsi obat, ya kan?
Walo seneng dapet dokter yang to the point, tapi tetap khawatir dong, soalnya kalau hasil tesnya beneran usus buntu, ya kudu dirawat, mamak mana yang  gak panik coba? Untungnya Faris bilang perutnya nggak sakit kalo kakinya ditekuk (ciri usus buntu). Jadi ya udahlah, coba langsung ke UGD saja buat memastikan. Tujuannya ke RS. Nur Rohmah. Walo kata temen2 RS ini kurang rekomen, tapi pengalaman kemarin vaksin disini, nakesnya cukup komunikatif. Lagian males lah dah malem masih harus survei RS segala.

Alhamdulillah di RS Nur Rohmah menurutku pelayanannya memuaskan. Mungkin karena pasiennya sedikit ya, jadi kondisi nakesnya prima. Setelah ditimbang badannya dan diperiksa, Faris langsung diminta pipis dan air kencingnya diuji laboratorium.

Nunggu hasil lab


Agak lama nunggu hasil labnya. Pas menunggu, datang serombongan orang dengan kondisi pasien tidak sadarkan diri. Rupanya pasien diduga mengalami gejala stroke dengan kondisi yang agak terlambat, sudah terlanjur pendarahan sehingga ybs tidak sadarkan diri. Nah, ada satu kesamaan pasien ini dengan Faris. Gejala awalnya seperti masuk angin! Memang bener kalo di kedokteran nggak ada istilah masuk angin, karena ternyata itu bisa mengarah ke berbagai gejala penyakit, dari yang ringan sampai kritis! Jadi si pasien itu awalnya muntah pada pukul 2 siang. Dipikir hanya masuk angin biasa jadi langsung minum obat warung. Nah, pada pukul setengah lima, si pasien mulai ngomongnya nggak jelas. Sampai di sini orang rumah belum ngeh kalau itu gejala stroke (dari pembicaraan sih, si pasien nggak tinggal sama keluarganya). Akhirnya baru sekitar setengah 8 malam dibawa ke UGD dengan kondisi tidak sadarkan diri. Kata Pak Dokter Ganteng di UGD (ealah anaknya sakit masih ngeh aja beginian), waktu awal muntah itu sebenarnya sudah mulai gejala stroke, ketika bicaranya mulai nggak jelas, sebenarnya gejala strokenya sudah 'konfirm' dan seharusnya langsung dibawa ke UGD. Namun karena dibawa ke rumah sakit 3 jam kemudian, kemungkinan pendarahannya sudah sampai ke otak sehingga pasien tidak sadarkan diri. Pak dokternya bilang, "Kami akan mengusahakan sebaik-baiknya, tetapi semuanya tergantung yang di atas." Ah bapak, udah ganteng, religius lagi..ea..ea..

Well. Allah menyentilku tanpa aku harus 'terperosok', karena Alhamdulillah hasil lab Faris bagus, kemungkinan memang masalah pencernaan saja, bukan usus buntu. Tapi dengan menyaksikan sendiri pasien yang terlambat penanganan penyakitnya membuatku semakin sadar untuk:
1. Segera mempelajari berbagai gejala yang mengarah pada penyakit kritis. Mungkin belum buat kita, tetapi buat keluarga, tetangga atau rekan kita. Dengan memahami gejala penyakit kritis maka kita tidak akan menunda ke rumah sakit. 

2. Dengarkan alarm tubuh. Dari penuturan pengantar pasien, sebelumnya si ibu sudah kecapekan karena semalaman memasak. Kurang tidur, dan malah didoping dengan kopi. Ditambah punya penyakit darah tinggi, ya sudah, jadi sasaran empuk sakit stroke deh.

Tapi, dari hasil lab Faris, aku merasa sangat terbantu dengan artikel di situs kesehatan terpercaya seperti alodokter (mbok endors plis, ngarep). Coba kalau nggak googling dulu, pasti udah panik dan nggak tenang ketika disuruh cek lab dan ya ampun itu nunggu hasil labnya juga rada lama lho! Informasi pada situs seperti itu tentu sangat membantu di kala pandemi seperti ini. Jadi, kalau nggak darurat banget, bisa lah perawatan sendiri di rumah. Apalagi ketemu dokter ramah macam dokter Alwi, kayaknya besok-besok bisa konsultasi WA dulu nih, hihi.

Semakin betah tinggal di Gunungkidul dengan fasilitas kesehatannya yang baik dan tenaga kesehatannya yang ramah. Beneran di dua faskes semuanya ramah dari bagian pendaftaran, perawat, dokter, dan apoteker. Di dokter Alwi nggak bayar karena langsung cuss UGD, di RS nur Rohmah, dari total cek lab, jasa dokter, dan obatnya Faris habis Rp.125.000, separonya biaya konsultasi kehamilan (tok, belum sama obat) tahun 2018 di Sleman, haha! (Sama-sama Jogja tapi beda banget Sleman sama Gunungkidul)

How can't i not love Gunungkidul?

Ps: keep beware with your body sign ya gaes! Beware with people's health around us too. May Allah bless us with healthiness.

17.4.21

Living Book, Bagaimana Kriterianya?

Prinsip pendidikan ala Charlotte Mason sangat identik dengan living book. Hal ini karena CM sangat memprioritaskan soal keluhuran akal budi. Kenapa buku? Karena akal budi sifatnya spiritual, maka harus disentuh dengan sesuatu yang sifatnya spiritual. Hal tersebut bisa didapatkan dari buku. Pemikiran penulis hebat terefleksikan lewat tulisan bukunya. Pikiran bertemu pikiran. Sehingga anak akan lebih berpikir.  

Penulis living books biasanya adalah seseorang yang mempunyai passion dan cinta yang mendalam pada topik tersebut, tahu detail topik yang ditulis, dan yang paling utama adalah penyampaian topiknya dengan bahasa naratif.  Sehingga bila dibuat poin-poinnya, syarat living book antara lain:

1. Naratif dan sastrawi

2. Ada ide hidup

Living book ibarat imunisasi. melalui living book anak bisa merasakan berbagai pengalaman hidup tanpa mengalaminya langsung. Seperti contoh buku tentang kehilangan hewan. Disini akan ikut merasakan kehilangan tanpa benar-benar kehilangan.

Melahap living book ada tata caranya, yaitu:

1. Dibaca perlahan

2. Dibaca bertahap


Referensi soal living book bisa dilihat di:

Amblesideonline.org

Rilis Rekomendasi Tim Kurikulum CMid Tahap #1 – CMIndonesia.com

Daftar living book tidaklah mutlak. Orang tua perlu mengasah sendiri sense-nya terhadap living book. Lebih banyak membaca agar lebih banyak ide yang bisa disajikan kepada anak.

Fafa dan Living Book Favoritnya


Bagaimana Teknis Akademis Charlotte Mason?

Ini adalah narasi pertemuan ketiga Kelas Akademis Charlotte Mason. Pertemuan via Zoom kali ini semakin seru karena sudah mulai membahas soal teknis akademis ala Charlotte Mason. 

Karena hidup yang bermakna adalah yang utama...


Dalam menjalankan sesi akademis ala CM, orang tua/pendidik nggak bisa hanya sekedar menyuruh anak belajar. Pendidikan itu sifatnya spiritual sehingga perlu atmosfer belajar dalam keluarga. Sebagai orang tua kita harus senantiasa memasok ide dengan banyak membaca dan belajar. Dengan merutinkan kegiatan ini kita bisa menciptakan atmosfer belajar dan kedisiplinan untuk anak. Nah, orang tua pembelajar perlu kurikulum supaya kegiatan belajar tetap on track. Kurikulum belajar orang tua ini antara lain:

1. Pasokan ide secara teratur

Sebelum memberi 'sajian' ide untuk anak, kita perlu 'menyeleksi dan mengumpulkan bahan bakunya' dengan cara menganalisis terlebih dahulu kebutuhan 'bahan bakunya' apa saja. Pastikan bahan baku yang digunakan berkualitas dengan 'mencicipi' buku tersebut terlebih dahulu. Teruslah belajar dan mengumpulkan ide, karena orang tua juga born person yang masih terus berkembang pengetahuannya bila mau belajar.  

2. Latih kebiasaan baik.

Agar waktu lebih bermakna, coba kita kurangi scrolling sosmed, misal tidak nyaman membaca, mungkin perlu memperbaiki cara membaca. Atur waktu dengan baik dengan memprioritaskan kewajiban.

3. Manajemen diri

Ini erat kaitannya dengan mindfulness. Kita perlu memahami diri sendiri agar dapat memanajemen diri sendiri. Manajemen diri ini tidak hanya soal waktu, tetapi juga tentang ekspektasi kita terhadap diri sendiri, pengelolaan emosi, dan lainnya. 

4. Refleksi.

Setiap selesai belajar atau menemukan sebuah ide, penting untuk merefleksikan/ mengulang kembali hal-hal yang sudah dipelajari tersebut. Kegiatan refleksi bisa dilakukan tertulis lewat menulis diary, status, blog dll. Banyak cara untuk merefleksikan ide yang didapat. Tapi jangan keasyikan refleksi terus sampai lupa suplai ide.


Habit training.

Kebiasaan baik termasuk hal yang dibentuk dalam sesi akademis. Sebagai manusia pembelajar tentu anak perlu dibekali bagaimana belajar dengan baik, mulai dari niat hingga teknis yang efektif yang bisa dilakukan. Beberapa kebiasaan yang dibentuk dalam sesi akademis CM antara lain:

1. Remembering -) Lewat teknik sekali baca dan narasi, anak akan dilatih kemampuan mengingatnya  

2. Attention -) Teknik sekali baca dan narasi, anak akan belajar fokus dan dilatih kemampuan memusatkan perhatian

3. Imagining-) Daya imaginasi bisa dikembangkan lewat teknik narasi 

4. Observation -) Kemampuan observasi terasah lewat nature walk

5. Thinking -) Narasi, nature walk, dll dapat melatih kemampuan berpikir

6. Concentration -) Teknik sekali baca akan memaksa anak terbiasa berkonsentrasi 

7. Perfect execution -) Prinsip CM adalah belajar sedikit tetapi konsisten. Karena sedikit, maka anak bisa mengerjakan tugas dengan relatif sempurna 

8. Accuracy -) Dipelajari lewat matematika

9. Reflection -) Dipelajari pada narasi

10. Thoroughness -) Prinsip belajar sedikit tapi sering dan konsisten akan membuat anak terbiasa bekerja dengan teliti, karena pada rentang waktu yang masih relatif pendek anak masih berkonsentrasi dan bisa lebih teliti

11. Art sense -) Seni menjadi salah satu sesi akademis penting di CM. Sehingga art sense akan terlatih.


Menyuplai anak-anak dengan ide sama pentingnya dengan suplai makanan dalam tubuh mereka (Parents and Children, hal 39)


Education is a science relation. Tugas orang tua bukan menjejalkan sebanyak-banyaknya pengetahuan tetapi membantunya memiliki sebanyak mungkin relasi dengan perkara dan ide yang ia minati.


Sebelum memulai fase akademis, perlu persiapan, antara lain:

1. Kebiasaan taat

Ini adalah hal mendasar dalam membentuk pribadi yang berdaya guna. Anak perlu memahami ada hal-hal yang tidak bisa ditawar dan harus dilaksanakan apa pun alasannya. Seperti halnya makan, misal tidak mau makan, maka anak akan sakit, sehingga suka atau tidak suka dengan makanan tersebut, anak akan tetap makan. Pada poin ini, anak perlu tahu konsekuensinya bila tidak melakukan kebiasaan tersebut.


2. Kebiasaan memusatkan perhatian 

Contohnya saat bermain, anak dibiasakan untuk membuka mainannya satu persatu, tidak dengan jembrengin semua mainannya. 


3. Kebiasaan mengisi mental dengan ide hidup

Sedari dini anak dikenalkan dengan dongeng dari living book. Dengan membacakan living book maka mental anak secara bawah sadar akan terisi dengan ide hidup dari dongeng yang dibacakan. Saat usia dini, anak hanya diminta mendengarkan cerita tersebut.


4. Masterly inactivity

Sebelum 6 tahun jangan diberi jadwal terstuktur. Biarkan dia bermain bebas karena ini akan melatih kebiasaannya berinisiatif dan kreatif. Biarkan dia bebas memilih kegiatan apa pun yang ingin dilakukan diluar rutinitas seperti makan, mandi, tidur, dan latihan beribadah.


5. Nature walk

Anak usia dini penting untuk sering dipaparkan dengan alam. Berjalan di alam akan membantunya berelasi dengan ciptaan Allah. Relasi ini kelak akan berguna saat sesi akademisnya nanti.

 

Setiap subjek punya cara terbaik untuk dipelajari.Seperti pelajaran matematika dan musik tidak bisa didekati dengan living books.(Parents and Children, hal 279)


Dalam CM, ada tahapan pengetahuan yang harus dipelajari. Urutannya sebagai berikut:

 

1. KNOWLEDGE OF GOD (Dalam Islam dikenal dengan Habluminallah)

Relasi pertama yang harus dimiliki anak adalah relasi dengan Sang Pencipta. Pengetahuan ini tak boleh terabaikan dan paling menentukan kebahagiaan (Philosophy of Education hal 158). Kita sebagai orangtua bisa saja lengah dalam penjagaan terhadap anak-anak kita, tetapi Allah akan senantiasa menjaga dan mendampingi mereka. Jadi saat sendiri atau sesusah apapun mereka tidak merasa ditinggalkan. 

Kita perlu melatih kebiasaan beribadah pada anak, Ketika pendidikan formal 6 tahun, sumber pengetahuan akan Pencipta adalah dari kitab suci, karena ini adalah living book terbaik sepanjang zaman. 


(Poin kedua hingga poin ketujuh akan terkait terkait dengan Hablumminannas/hubungan antar manusia)


2. SEJARAH 

Setelah tentang agama, selanjutnya adalah sejarah. Dalam sejarah anak-anak belajar kebijaksaan. Bagaimana menyikapi suatu kejadian dalam sejarah, di CM anak akan membuat Book of Centuries. Yaitu semacam scrap book tentang peristiwa sejarah dari berbagai daerah sehingga diketahui relasi satu peristiwa dengan peristiwa lain.


3. SASTRA

Sastra berupa puisi. Satu pengarang 1 term. Nggak perlu anak diminta menganalisa. 


4. BAHASA

Bahasa sangat perlu dipelajari karena dengan kemampuan berbahasa, dia akan mampu berkomunikasi dengan baik dan mendefinisikan apa yang mereka rasakan.

Membaca nyaring. Dilakukan sampai SMU karena hal ini akan terus mengasah kemampuan membacanya.

Menulis. Dilakukan setiap hari, sedikit tetapi konsisten. 

Copywork. Menyalin. Tetap dari sedikit sedikit,

Dictation. Dengar, menyimak kemudian menulis. (habit of attention, remembering, dan menulis)

Tata bahasa. Paling akhir, karena cukup rumit.


5. BAHASA ASING. 

Tata caranya seperti teknik narasi. Bacakan cerita dan narasikan, sedikit dulu saja. 


6. CITIZENSHIP/kewarganegaraan.

 Ini erat kaitannya dengan pelajaran sejarah. Anak akan belajar tentang tokoh sejarah, mempelajari keberhasilan dan kegagalannya. Mbak Ayu pakai bukunya Plutarch. 


7. SENI

Pada pelajaran ini, poin pentingnya adalah anak belajar mengagumi dan mengapresiasi seni, karena kalau untuk memproduksi, nggak semua anak berbakat kesana. 

Picture study. Mengapresiasi lukisan. 

Composer study. Apresiasi musik

Folksong. Belajar lagu rakyat, musik dan kebudayaan

Drawing/painting. teknik menggambar, karena skill menggambar kadang diperlukan untuk mempermudah komunikasi.


Poin kedelapan hingga tentang KNOWLEDGE OF UNIVERSE/alam semesta (Habluminalalam=hubungan dengan alam semesta)


8. NATURE STUDY. 

Teknisnya, tentukan satu jenis, misal burung, maka nanti fokus membahas segala sesuatu tentang burung. Fondasinya adalah kecintaan tentang alam sehingga ada minat untuk menjalin relasi dengan subjek yang akan menjadi fokus pembahasan.


9. SAINS. 

Basicnya adalah ketakjubkan  dan ide untuk mempelajari sains.


10. MATH.

Kebenaran mutlak itu ada.


11. GEOGRAFI

Pelajaran geografi adalah yang paling kompleks, karena ada pelajaran soal narasi, istilah geografi, belajar mata angin, dan peta.

 

12. PENDIDIKAN JASMANI DAN HASTA KARYA

Tubuh adalah pemberian Tuhan yang harus dirawat. Pendidikan jasmani akan membuat badan sehat, dan berkarya lewat hasta karya akan membuat bahagia. Dengan keadaan sehat jasmani dan rohani maka kita dapat berdaya guna dan memberi manfaat maksimal kepada sekitar.


Jadi tahapan akademis CM ini dimulai dengan:

1. Memasok ide

2. Menarasikan. Untuk memastikan ide sudah ditangkap anak

3. Mendokumentasikan relasi. Ini adalah tahapan belajar anak selanjutnya. Mempelajari relasi pada bidang yang dia minati. Dokumentasi relasi bisa berupa: book of centuries, nature journal, map, dll


Pendidikan bukan tentang seberapa banyak buku yang dibaca, seberapa banyak pengetahuan yang dikuasai, ataupun seberapa besar skor nilai, tetapi seberapa dalam kita berelasi dengan pengetahuan tersebut. 


10.4.21

Akal budi dan Kurikulum yang Kaya

 Narasi pertemuan kedua Kelas Akademis Charlotte Mason.


Dalam filosofi pendidikan Charlotte Mason, akal budi terbagi menjadi 2, yaitu akal budi anak bayi dan akal budi anak sekolah. Karena fokusnya adalah membedah sisi akademis dari CM, maka materi hari ini membahas soal akal budi anak sekolah.

Seringkali orang tua ataupun pengajar bekerja keras menciptakan permainan dalam sarana pembelajarannya. Padahal permainan bukan jalan menuju akal budi. Akal budi bertemu akal budi lewat pemikiran. Permainan memang perlu, tapi itu tidak wajib. Apabila diibaratkan seperti makan, bukankah makanan yang kita makan tidak mesti selalu enak? Tapi kita tetap memakannya karena kita butuh makan. Begitu juga belajar, tidak semua pembelajaran menarik dan bisa dipindah dalam bentuk permainan yang menyenangkan. Akan tetapi anak yang meresapi bahwa belajar adalah kebutuhannya tentu akan tetap belajar sekalipun materinya disampaikan tanpa permainan. 


Makin sedikit guru/pendidik mengajar, makin banyak anak belajar

Paradigma ini mungkin sulit diterima oleh kelaziman pendidikan saat ini. Kalau gurunya sedikit mengajar, buat apa ada guru? Ya, memang guru hanya sedikit mengajar, tetapi yang akan guru lakukan lebih dari sekedar mengajar, tugas besar guru adalah memantikkan ide ke masing-masing siswa sehingga pemikiran siswa bekerja. Tidak perlu banyak ceramah, sampaikan secara konkrit manfaat dari pembelajaran yang akan disampaikan, dong anak untuk mendapatkan ide yang merangsang berpikirnya. Setelah pemikiran ini bekerja akan timbul rasa ingin tahu dan keinginan belajar. Karena keinginan belajar yang datang dari dalam, tentu saja pembelajaran akan lebih melekat di benak siswa. Pada saat seperti itu, gelontoran fakta yang akan disampaikan guru akan meresap ke benak siswa. Mereka tidak sekedar hafal materi pelajaran tetapi telah benar-benar memahami.

Pendidikan ibarat iman. Tidak nampak namun kita harus meyakininya. Sebagai guru, kita harus beriman (yakin) bahwa anak akan mengolah ide. Percaya bahwa anak memiliki rasa ingin tahu dan butuh belajar sehingga tanpa banyak ceramah dan peringatan anak sudah tergerak untuk 'memberi makan' jiwanya.


Kurikulum yang Kaya

Kurikulum sekolah saat ini berfokus pada persiapan ujian untuk ke jenjang berikutnya. Semua bergantung pada penilaian dan kompetisi meraih nilai yang terbaik. Tujuan belajar adalah mendapatkan nilai yang baik sehingga kebebasan belajar berkurang.

Padahal hukum alam memiliki kurikulum yang lengkap. Yang penting kita memenuhi 3 hal ini dalam menyusun silabus pendidikan anak:

a. Anak butuh banyak pengetahuan karena akal budi butuh cukup 'makanan'

b. Pengetahuan harus beragam, seperti halnya lidah yang butuh variasi rasa makanan

c. Pengetahuan harus dikomunikasikan dengan bahasa yang betul, harus runtut dan cerdas sehingga membangkitkan rasa ingin tahu anak.

Mata pelajaran yang banyak bukan beban, justru untuk refreshing agar tidak jenuh dengan satu pelajaran. Supaya pelajaran tidak menjadi beban adalah dengan mengurangi jam pelajarannya. 


Bagaimana mengevaluasi belajar anak?

Yaitu lewat narasi. Dengan narasi kita bisa mengevaluasi seberapa pemahaman anak soal pengetahuan tersebut. Bagaimana kemampuan anak mengaitkan satu ilmu dengan ilmu lainnya, karena sejatinya semua ilmu pengetahuan itu berkaitan.

Dalam belajar, fokus itu sangat diperlukan. Oleh karena itu, prinsip sekali baca harus dilakukan. Untuk melatih fokus anak. Pembelajaran di CM semua lewat cerita. Jadi sesi akademis dengan sekali baca dan narasi adalah wajib dilakukan di CM. 

Kurikulum yang kaya akan merangsang anak berpikir. Anak perlu pengetahuan bersifat pemikiran sehingga dapat merangsang pikiran kreatifnya. Sejatinya anak mempunyai keinginan belajar namun belum bisa mengungkapkan kemauannya. Yang pertama dan utama adalah mengenalkannya pada Sang Pencipta, nanti setelahnya dia akan lebih baik berelasi dengan sesama manusia dan alam.

Tambahan:

Menurut yang dipahami CM'ers, tipe belajar itu mitos, yang penting habitnya, karena habit 10x lebih powerful dibanding  bakat alami.

Untuk anak di bawah 6 tahun, sering bacakan cerita tetapi tidak perlu minta anak narasikan.

5.4.21

Narasi: Proses Pencernaan Pembelajaran ala Charlotte Mason

Materi Kedua Kelas Akademis Charlotte Mason bersama Mbak Ayu Primadini

Materi: Workshop Narasi

Narasi ulang oleh: Ardiba R Sefrienda

Anak kecil senang bercerita: menarasikan pikirannya.


Ketika di pembahasan soal pembelajar mandiri, aku bertanya-tanya, memberikan ide-ide hidup itu kongkritnya seperti apa sih? Nah, pembahasan tentang narasi akan menjadi jawabannya. Karena pada materi tentang narasi ini, peserta akan diajarkan teknis kegiatan narasi ala CM itu seperti apa.

Pendidikan adalah perkara rohani, bukan hanya soal dekorasi eksternal/rangkaian kegiatan jasmani semata. Sebaik-baik pembelajaran adalah pembelajaran mandiri. No education but self education. Dengan pendidikan mandiri anak dapat sadar akan kemajuan belajarnya. Proses belajar dilakukan bersama antara fasilitator/orang tua dan anak.

Pendidikan CM menekankan pada living material, dimana sumber ide hidup berasal dari sana. Sebagian besar living material berupa buku, walau tidak menutup kemungkinan living material berupa video atau kejadian sehari-hari. Namun, untuk sesi akademis CM memang lebih tepat menggunakan living book. Nah kegiatan narasi bila diibaratkan dengan makanan adalah proses pencernaan, proses narasi adalah proses anak mencerna ide dalam literatur tersebut untuk nantinya terserap menjadi bagian dari dalam diri anak, seperti halnya nutrisi makanan yang terserap tubuh. Dalam melakukan narasi, perlu diperhatikan beberapa hal agar narasi berlangsung dengan baik:

1. Pilihlah buku yang bermutu

Dalam workshop narasi ini, Mbak Ayu membacakan cerita tentang Florence Nightingale dalam 2 versi. Versi pertama lebih menekankan pada fakta-fakta, sedangkan versi kedua bahasanya lebih deskriptif. Bacaan versi pertama, pendengar perlu menghafal untuk dapat menarasikan ulang bacaan. Sedangkan bacaan kedua, pendengar bisa lebih mudah menarasikan karena pendengar seolah dibawa serta ke kehidupan Florence. Nah buku kedua inilah yang disebut dengan living books alias buku berkualitas menurut CM. Bacaan lebih menekankan pada nilai-nilai kehidupan ketimbang fakta yang bisa dicari lewat mesin pencari. Pembelajaran nilai kehidupan ini akan semakin merasuk ke sanubari anak manakala dia menarasikan ulang 

2. Bacakan hanya sekali

Pendidikan adalah proses membangun kebiasaan, salah satunya dengan narasi. Prinsip saklek yang tidak bisa ditawar adalah bacakan hanya sekali. Hal ini berguna dalam mengajarkan anak untuk fokus. Habit of attention.


Narasi juga menjadi bagian dari habit of good communication. Lewat narasi, anak akan belajar mengutarakan pemikirannya. Tidak mudah lho menceritakan ulang apa yang sudah kita dengar apabila kita tidak terbiasa untuk fokus dan bernarasi.

Selain itu, bernarasi juga mengembangkan habit of thinking karena untuk me-recall hal apa yang harus diceritakan kembali tentu otak anak harus berpikir. 

3. Jangan menginterupsi

Hargai anak sebagai pribadi utuh yang memiliki keunikan dalam berpikir. Jangan meninterupsi narasinya karena konsep pendidikan mandiri adalah mengeluarkan yang ada di dalam diri anak. Interupsi akan memberikan intervensi eksternal yang akan mengurangi esensi pembelajaran mandiri. Oleh karena itu, pemilihan buku atau referensi yang tepat adalah mutlak. Jangan menggunakan buku yang hanya menyajikan sekumpulan fakta karena ini akan menyulitkan narasi, dimana anak akan yerlalu sibuk menghafal ketimbang menikmati bukunya. 

Pendidikan adalah atmosfer. Sebagai fasilitator kita harus menikmati momen kita mendampingi anak pada sesi akademis CM ini. Nikmati saat kita membacakan cerita. Berikan artikulasi yang tepat sehingga anak lebih mudah mencerna apa yang kita bacakan. Mendidik anak adalah perjalanan maraton, jadi pastikan kita menikmatinya kan..

4. Percaya!

Membuat materi pembelajaran yang menarik sejatinya lebih mudah ketimbang mempercayai bahwa anak memiliki kemampuan mencerna pengetahuan yang kita sajikan dan percaya mereka melakukan yang terbaik. Semakin banyak kita mengajar, justru semakin sedikit anak bisa belajar. Sebaliknya, semakin sedikit intervensi kita dalam proses pembelajaran anak, maka anak akan belajar dengan maksimal. Hal ini tentu tidak sesuai dengan norma umum di masyarakat tentang pembelajaran. Yang nggak paham bakal bilang "Enak banget gurunya kalau cuma gitu doang." Padahal yang 'cuma gitu doang' ini efeknya justru luar biasa bila dilakukan secara konsisten. Kembali pada konsep pembelajaran mandiri dimana semua berdasarkan dari dalam diri anak. Jadi percaya saja pada kemampuan anak mencerna ide hidup yang kita sajikan. Pastikan saja sajian untuk pendidikan (rohani) anak cukup secara kualitas dan kuantitas.-->memastikan cukup ini juga gak mudah dan nggak ada aturan baku bagi anak bersaudara sekalipun.

5. Children are born person

Kita memang harus percaya pada kemampuan anak, tetapi jangan pula memiliki ekspektasi berlebihan terhadap anak. Evaluasi bila ternyata anak tidak sesuai yang diharapkan.

Pendidikan adalah seni membangun relasi. Karena setiap ilmu saling berkaitan, tidak berdiri sendiri. Dengan pendidikan maka anak akan memiliki kemampuan untuk mengaitkan ilmu satu sama lain. Ini bukan tentang banyaknya yang dipelajari anak, tetapi bagaimana anak mempelajarinya.


-MEMULAI NARASI-


1. Start small

Sesuaikan dengan kemampuan konsentrasi anak. Sedikit demi sedikit


2. Tunjukkan caranya

Untuk anak yang belum terbiasa narasi dapat kita berikan dulu contoh narasi itu seperti apa. (Orang tuanya kudu belajar dan paham teknik narasi terlebih dahulu)


3. Oops/ teknik pura-pura salah

Untuk mamantik anak mengeluarkan pendapatnya bisa dengan berpura-pura salah dalam membuat narasi dan anak tergelitik untuk mengkoreksinya.


4. Variasi aktivitas

Variasi aktivitas biasanya dilakukan hanya pada awal narasi, karena saat itu anak mungkin belum tertarik dengan narasi. Variasi aktivitas bisa dilakukan untuk memantik minatnya bernarasi, seperti narasi menggunakan media lego, mobil-mobilan, dll. Nanti, setelah anak terbiasa narasi dan tidak kesulitan bernarasi, maka orang tua tidak perlu memvariasikan aktivitas lagi.


5. Tahapan narasi tertulis

Setelah anak menguasai narasi lisan, umumnya membutuhkan waktu sekitar 3-4 tahun, maka kemudian narasi bisa ditambah dengan narasi tertulis.

Teknisnya bisa dibacakan lalu anak membuat narasi tertulis atau anak membaca sendiri dan membuat narasi tertulis. Semua tergantung kondisi.

Saat memulai narasi tertulis, mungkin anak tidak terlalu banyak menulis karena adanya perbedaan koordinasi antara lisan dan tertulis. Menulis lebih sulit karena butuh kombinasi koordinasi otak untuk memikirkan apa yang akan ditulis dan motorik halus untuk menuangkan pemikirannya dalam bentuk tulisan.

Saat anak memulai narasi tertulis, jangan dikoreksi, termasuk kesalahan tanda baca. Biarkan anak membaca ulang narasi tertulisnya dan menyadari kesalahannya, seperti misal kurang tanda titik, kan bisa menges tuh bacanya.


6. Mengasah kemampuan menulis

Seiring waktu, narasi tertulis bisa menjadi sarana mengasah kemampuan menulis. Kaidahnya antara lain:

-Satu aturan tata bahasa dalam satu waktu. Sesuai prinsip gentle art of learning, sedikit demi sedikit tapi konsisten.

-Minta anak mengkoreksi sendiri. Sesuai prinsip pembelajaran mandiri, biasakan anak untuk mengevaluasi pekerjaannya secara mandiri.

-Dukung anak menulis lebih banyak. Kadang anak perlu lebih disemangati agar mau berusaha lebih.

-Tulisan kreatif. Misal anak bisa mengkreasikan narasinya dalam bentuk cerpen (atau mungkin ulasan di blog? Hehe). Tapi menulis kreatif ini adalah tahapan lanjut, artinya jangan tergesa-gesa meminta anak mencoba menulis kreatif apabila kemampuan dasar menulisnya belum dikuasai.

Jadi metode narasi pada pendidikan CM mungkin terasa 'gitu doang' buat sebagian orang. Tetapi hal yang kayaknya gitu doang itu justru mengasah kemampuan anak untuk fokus, berpikir, dan berkomunikasi. Itu adalah skill inti yang harus dikuasai apa pun pekerjaan anak ketika dewasa nanti.

Dari pembahasan soal narasi, terlihat bahwa metode CM sangat mengasah kecerdasan linguistik anak. Namun hal ini bukan berarti CM mengesampingkan kecerdasan lain. Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia adalah mahluk sosial, dalam bersosialisasi tentu butuh komunikasi. Jadi, memang aspek linguistik ini memegang peranan kunci dalam kehidupan anak. Mau apa pun pilihan hidupnya nanti, kemampuan berkomunikasi tetap yang paling utama dikuasai kan?

Mari bersenang-senang dengan narasi ^_^

22.3.21

Crossfire: Tetap percaya pada diri sendiri walau dunia tidak mempercayaimu!

Apaan sih gamers, gak punya masa depan, pengangguran, memalukan! Begitulah dunia memberi cap kepada Xiao Feng dan teman-temannya di tahun 2009. Mereka bergabung dalam Klan 1Coins. Lama kelamaan klan/tim mereka bubar karena masing-masing sudah semakin dewasa, ada yang menikah dan punya istri yang galak, yang satu dikirim ke pusat rehabilitasi kecanduan game, Feng sendiri akhirnya bekerja kantoran demi membahagiakan orang tuanya. Dia anak yang cerdas dan disenangi bosnya, tapi lama kelamaan dia sadar bahwa kerja kantoran bukan passionnya. Ditambah teman main gamenya dari tahun 2019 memberi tahu bahwa dia dan 1 Coins adalah lagenda di turnamen Crossfire, akhirnya dia resign ketika bos mau mengangkatnya menjadi karyawan.



Di waktu lain, pada tahun 2019, e-sport semakin berkembang. Xiao Be adalah seorang gamers yang terinspirasi menjadi atlet e-sport karena kakaknya. Kakaknya sendiri tewas dalam sebuah kecelakaan dan Xiao Be sendiri lumpuh karena kecelakaan itu. Cita-cita Xiao Be menjadi atlet e-sport kurang mendapat dukungan dari orang tuanya. Be diijinkan untuk mengikuti sebuah seleksi pemain e-sport, tetapi bila ternyata Be gagal, maka dia harus mengubur keinginannya menjadi pemain e-sport. Tetapi saat dia gagal dalam seleksi tim Gravity, Be tetap saja tidak bisa mengubur keinginannya menjadi pemain e-sport profesional. Dengan uang yang dia punya dan seorang sahabat setia, dia membentuk tim/klan sendiri bernama Continue. 

Xiao Feng dan Xiao Be dipertemukan secara kebetulan di game Cross Fire yang hanya bisa diakses di PC jadul Xiao Feng dan laptop lama peninggalan kakaknya Xiao Be. Dengan selisih waktu 10 tahun, Xiao Be bagaikan peramal yang memberitahukan nasib Xiao Feng dan teman-teman 10 tahun kemudian. Persahabatan beda waktu ini mengantarkan petualangan bagi masing-masing. Mulai dari usaha Feng mencegah kecelakaan Be dan kakaknya. Tapi ternyata kecelakaan tersebut tetap terjadi, hanya pindah lokasi saja. Selanjutnya Be mendapati bahwa Feng ternyata sudah meninggal! Setengah mati Be mencari cara untuk mencegah meninggalnya Feng. Dia lalu mencari An Lan dan bertanya soal Feng. tentu tidak mudah bertemu Lan yang sudah menjadi pejabat penting perusahaan e-sport. Tapi namanya drama ya, akhirnya Be bisa meyakinkan Lan kalau dia bisa berkomunikasi dengan Feng di masa lalu. Akhirnya Feng bisa selamat dari maut, tetapi dia koma. Kejadian yang merenggut nyawanya itu adalah akibat dia uji coba bermain game simulasi yang berakibat kehilangan kesadaran. Sahabatnya sendiri ternyata yang menjebak Feng. Sang sahabat yang juga anggota 1coins pernah kedapatan berbuat curang saat turnamen. Belakangan Feng memergoki dia melakukan pembunuhan terhadap seorang montir. Sebagai sahabat yang baik Feng menasehati, tetapi si sahabat nggak terima. Jadilah Feng dijebak di permainan tersebut.

Komunikasi lintas waktu telah berhasil menunda kematian Feng, sayangnya Feng kemudian koma dan akhirnya dengan bantuan Be yang ikut masuk ke permainan, akhirnya Feng berhasil selamat. Kemudian menjadi pelatih tim Gravity. Endingnya sih tim Gravity ini jadi juara dunia setelah pada turnamen pertama kalah dari Brazil. Sounds a great ending. Kenyataan sih kayaknya nggak mungkin. Komunikasi lintas waktunya belum masuk ke nalar. Tapi sutralah ya, yang penting adalah pelajaran penting dari serial ini.

Jangan takut berbeda. Yakini saja jalanmu!

Xiao Feng dan Xiao Be sama-sama mengalami kesulitan dalam mengembangkan minatnya. Feng bahkan lebih parah karena tahun 2009 game online belum semarak saat ini. Tetapi Feng membuktikan dengan kegigihannya membawa 1coins menjadi juara kompetisi. Walaupun tidak paham soal game online, orang tuanya sangat bangga anaknya menjadi juara dan akhirnya tidak lagi memaksa Feng untuk bekerja kantoran.

Kelihatan indah, tetapi di akhir episode Xiao Be bilang kalau untuk menjadi juara itu kemungkinannya sangat kecil, jadi sebaiknya memang jangan mengandalkan dari kejuaraan saja, tetap harus ada pemasukan dari sumber lain, seperti endorse, dll

Selalu bersemangat

Kalau sudah yakin dengan jalan yang kita tempuh, selanjutnya tetaplah semangat menjalani apa yang dicita-citakan. Orang yang bersemangat akan membawa aura positif bagi sekelilingnya.

Jaga kekompakan dan persaudaraan

Sebagai mahluk sosial tentu kita perlu bersinergi dengan berbagai pihak. Selain itu kita harus punya tim yang solid, yang kompak dalam suka dan duka. Banyak dikisahkan romantika klan 1 coins dan Gravity. Disini perlunya kematangan emosi seorang leader untuk menjaga kekompakan dan rasa persaudaraan antar anggota tim. Pembagian kerja juga harus jelas jadi kekuatan tim semakin optimal.

Cara curang akan selalu kalah

Hidup sahabat Feng tidak pernah tenang karena dia selalu menghalalkan segala cara untuk menang. Walaupun beberapa kali berhasil mengalahkan Be dan Feng, tetapi pada akhirnya dia menemui kejatuhannya sendiri. 

21.3.21

Pelajaran kehidupan dari Serial I Will Find You Better Home



Serial I Will Find You Better Home adalah drama China tentang agen properti. Banyak pelajaran marketing dan seputar properti yang bisa didapatkan dari serial ini. Selain itu, serial ini juga mengajarkan tentang pelajaran hidup, antara lain:


1. Jangan terlalu 'baik' sama anak

Orang tua pasti mengusahakan yang terbaik untuk anak. Tetapi jangan lupa menyiapkan kondisi terburuk yang mungkin terjadi. Suami istri penjual roti isi saking sayangnya sama anak mereka sampai mengatas-namakan rumah yang mereka beli susah payah dengan nama anak mereka. Alhasil ketika anak mereka berumah tangga, mereka terpaksa mengalah dan menurut ketika anaknya meminta orang tuanya tidak tinggal di rumah itu dulu. Ih, gregetan banget nggak sih kayak gitu. Beneran loh, selagi kita masih hidup, jangan sekali-kali memberi hak anak atas aset kita. Biarkan anak berjuang sendiri. Walau kita sudah menyiapkan pembagian untuk mereka sepeninggal kita nanti, tapi biarlah warisan itu dirahasiakan sampai saatnya tiba.


2. Nggak ada anak 'durhaka' tanpa dimulai dengan orang tua yang membuatnya begitu 

Fang memiliki ibu yang kejam karena tidak menginginkan kehadirannya. Soalnya si ibu pinginnya anak cowok. Tapi nyebelinnya, si ibu malah selalu saja meminta uang ke Fang. Padahal Fang juga kekurangan uang. Pada satu episode si ibu sampai ngemper di depan apartemen Fang dan mendramatisir keadaan sehingga tetangga pada heboh dan videonya viral. Kalau yang nggak tau kan dianggap, jahat banget ya anaknya? Padahal ibunya duluan tu yang jahat.


3. Selalu ada istri hebat dibalik suami hebat. Jangan sombong hey lelaki!

Diceritakan sahabat baik Wang Cheng bernama Kan mau membeli rumah yang ternyata untuk wanita simpanannya. Padahal dia mempunyai istri yang tipikal ibu rumah tangga yang cantik, telaten mengurusi anak dan juga orang tua. Memang tipe lelaki begini kudu diuleg pake cabe sekilo. Udah punya istri yang perfect masih aja cari di luar. Dan endingnya Pak Kan akhirnya benar-benar tobat main perempuan. Karena semenarik-menariknya selingkuhan, tetap pasangan sah yang terbaik.

 

4. Memilih sekolah bisa berdampak pada keharmonisan keluarga

Ada satu episode dimana si ibu selalu marahin anaknya ketika anak mengerjakan tugas sekolahnya. Ternyata karena tugas sekolah itu terlalu sulit dan banyak, si ibu nggak sabar mendampingi belajar dan si anak sudah jenuh belajar. Akhirnya dengan trik Wang Chen mereka pindah sekolah dan rumah, dan di sekolah baru si anak menemukan potensinya. Si anak senang, si ibu juga gak marah-marah lagi. Jadi, pilihlah sekolah sesuai dengan kondisi anak, gak semata lihat 'favorit' aja.


5. Jangan suka menimbun makanan

Lou San Guan adalah orang yang sangat hemat. Setiap hari bekalnya hanya nasi putih. Lauk? Minta temennya. Saking hematnya, ketika ada temennya yang nggak menghabiskan makanan, pasti ditimbun sama dia. Sampai suatu ketika simpanan makanannya tumpah dan membuat manajer Wang cedera tulang belakang.


6. Jangan pelit untuk diri sendiri

Fang hidup dengan sangat susah sehingga ketika mendapat komisi besar sekalipun dia tetap dengan sepatu bututnya. Padahal penampilan juga perlu diperhatikan ya. Kalau sepatunya butut, apa klien bisa percaya. Dan lagi, sepatu rusak apa nggak malah bikin cedera, ya kan? Beri reward sesekali untuk diri sendiri itu perlu.


7. Setiap perbuatan ada balasannya. Walau kadang balasan itu terlalu 'kejam'

Ada salah satu episode Lou San Guan sangat marah karena gurunya, manajer Fang dibohongi calon klien. Padahal Fang sudah setengah mati menservis calon klien ini. Akhirnya Guan mendatangi rumah calon klien dan memaksa uang komisi ke mereka. Dapet sih uangnya, tapi itu bikin dia jadi dipecat dan masuk daftar hitam agen perantara di China. Jadi, ada kalanya kita harus menahan diri tidak membalas kekejaman orang ya..