17.4.21

Living Book, Bagaimana Kriterianya?

Prinsip pendidikan ala Charlotte Mason sangat identik dengan living book. Hal ini karena CM sangat memprioritaskan soal keluhuran akal budi. Kenapa buku? Karena akal budi sifatnya spiritual, maka harus disentuh dengan sesuatu yang sifatnya spiritual. Hal tersebut bisa didapatkan dari buku. Pemikiran penulis hebat terefleksikan lewat tulisan bukunya. Pikiran bertemu pikiran. Sehingga anak akan lebih berpikir.  

Penulis living books biasanya adalah seseorang yang mempunyai passion dan cinta yang mendalam pada topik tersebut, tahu detail topik yang ditulis, dan yang paling utama adalah penyampaian topiknya dengan bahasa naratif.  Sehingga bila dibuat poin-poinnya, syarat living book antara lain:

1. Naratif dan sastrawi

2. Ada ide hidup

Living book ibarat imunisasi. melalui living book anak bisa merasakan berbagai pengalaman hidup tanpa mengalaminya langsung. Seperti contoh buku tentang kehilangan hewan. Disini akan ikut merasakan kehilangan tanpa benar-benar kehilangan.

Melahap living book ada tata caranya, yaitu:

1. Dibaca perlahan

2. Dibaca bertahap


Referensi soal living book bisa dilihat di:

Amblesideonline.org

Rilis Rekomendasi Tim Kurikulum CMid Tahap #1 – CMIndonesia.com

Daftar living book tidaklah mutlak. Orang tua perlu mengasah sendiri sense-nya terhadap living book. Lebih banyak membaca agar lebih banyak ide yang bisa disajikan kepada anak.

Fafa dan Living Book Favoritnya


Bagaimana Teknis Akademis Charlotte Mason?

Ini adalah narasi pertemuan ketiga Kelas Akademis Charlotte Mason. Pertemuan via Zoom kali ini semakin seru karena sudah mulai membahas soal teknis akademis ala Charlotte Mason. 

Karena hidup yang bermakna adalah yang utama...


Dalam menjalankan sesi akademis ala CM, orang tua/pendidik nggak bisa hanya sekedar menyuruh anak belajar. Pendidikan itu sifatnya spiritual sehingga perlu atmosfer belajar dalam keluarga. Sebagai orang tua kita harus senantiasa memasok ide dengan banyak membaca dan belajar. Dengan merutinkan kegiatan ini kita bisa menciptakan atmosfer belajar dan kedisiplinan untuk anak. Nah, orang tua pembelajar perlu kurikulum supaya kegiatan belajar tetap on track. Kurikulum belajar orang tua ini antara lain:

1. Pasokan ide secara teratur

Sebelum memberi 'sajian' ide untuk anak, kita perlu 'menyeleksi dan mengumpulkan bahan bakunya' dengan cara menganalisis terlebih dahulu kebutuhan 'bahan bakunya' apa saja. Pastikan bahan baku yang digunakan berkualitas dengan 'mencicipi' buku tersebut terlebih dahulu. Teruslah belajar dan mengumpulkan ide, karena orang tua juga born person yang masih terus berkembang pengetahuannya bila mau belajar.  

2. Latih kebiasaan baik.

Agar waktu lebih bermakna, coba kita kurangi scrolling sosmed, misal tidak nyaman membaca, mungkin perlu memperbaiki cara membaca. Atur waktu dengan baik dengan memprioritaskan kewajiban.

3. Manajemen diri

Ini erat kaitannya dengan mindfulness. Kita perlu memahami diri sendiri agar dapat memanajemen diri sendiri. Manajemen diri ini tidak hanya soal waktu, tetapi juga tentang ekspektasi kita terhadap diri sendiri, pengelolaan emosi, dan lainnya. 

4. Refleksi.

Setiap selesai belajar atau menemukan sebuah ide, penting untuk merefleksikan/ mengulang kembali hal-hal yang sudah dipelajari tersebut. Kegiatan refleksi bisa dilakukan tertulis lewat menulis diary, status, blog dll. Banyak cara untuk merefleksikan ide yang didapat. Tapi jangan keasyikan refleksi terus sampai lupa suplai ide.


Habit training.

Kebiasaan baik termasuk hal yang dibentuk dalam sesi akademis. Sebagai manusia pembelajar tentu anak perlu dibekali bagaimana belajar dengan baik, mulai dari niat hingga teknis yang efektif yang bisa dilakukan. Beberapa kebiasaan yang dibentuk dalam sesi akademis CM antara lain:

1. Remembering -) Lewat teknik sekali baca dan narasi, anak akan dilatih kemampuan mengingatnya  

2. Attention -) Teknik sekali baca dan narasi, anak akan belajar fokus dan dilatih kemampuan memusatkan perhatian

3. Imagining-) Daya imaginasi bisa dikembangkan lewat teknik narasi 

4. Observation -) Kemampuan observasi terasah lewat nature walk

5. Thinking -) Narasi, nature walk, dll dapat melatih kemampuan berpikir

6. Concentration -) Teknik sekali baca akan memaksa anak terbiasa berkonsentrasi 

7. Perfect execution -) Prinsip CM adalah belajar sedikit tetapi konsisten. Karena sedikit, maka anak bisa mengerjakan tugas dengan relatif sempurna 

8. Accuracy -) Dipelajari lewat matematika

9. Reflection -) Dipelajari pada narasi

10. Thoroughness -) Prinsip belajar sedikit tapi sering dan konsisten akan membuat anak terbiasa bekerja dengan teliti, karena pada rentang waktu yang masih relatif pendek anak masih berkonsentrasi dan bisa lebih teliti

11. Art sense -) Seni menjadi salah satu sesi akademis penting di CM. Sehingga art sense akan terlatih.


Menyuplai anak-anak dengan ide sama pentingnya dengan suplai makanan dalam tubuh mereka (Parents and Children, hal 39)


Education is a science relation. Tugas orang tua bukan menjejalkan sebanyak-banyaknya pengetahuan tetapi membantunya memiliki sebanyak mungkin relasi dengan perkara dan ide yang ia minati.


Sebelum memulai fase akademis, perlu persiapan, antara lain:

1. Kebiasaan taat

Ini adalah hal mendasar dalam membentuk pribadi yang berdaya guna. Anak perlu memahami ada hal-hal yang tidak bisa ditawar dan harus dilaksanakan apa pun alasannya. Seperti halnya makan, misal tidak mau makan, maka anak akan sakit, sehingga suka atau tidak suka dengan makanan tersebut, anak akan tetap makan. Pada poin ini, anak perlu tahu konsekuensinya bila tidak melakukan kebiasaan tersebut.


2. Kebiasaan memusatkan perhatian 

Contohnya saat bermain, anak dibiasakan untuk membuka mainannya satu persatu, tidak dengan jembrengin semua mainannya. 


3. Kebiasaan mengisi mental dengan ide hidup

Sedari dini anak dikenalkan dengan dongeng dari living book. Dengan membacakan living book maka mental anak secara bawah sadar akan terisi dengan ide hidup dari dongeng yang dibacakan. Saat usia dini, anak hanya diminta mendengarkan cerita tersebut.


4. Masterly inactivity

Sebelum 6 tahun jangan diberi jadwal terstuktur. Biarkan dia bermain bebas karena ini akan melatih kebiasaannya berinisiatif dan kreatif. Biarkan dia bebas memilih kegiatan apa pun yang ingin dilakukan diluar rutinitas seperti makan, mandi, tidur, dan latihan beribadah.


5. Nature walk

Anak usia dini penting untuk sering dipaparkan dengan alam. Berjalan di alam akan membantunya berelasi dengan ciptaan Allah. Relasi ini kelak akan berguna saat sesi akademisnya nanti.

 

Setiap subjek punya cara terbaik untuk dipelajari.Seperti pelajaran matematika dan musik tidak bisa didekati dengan living books.(Parents and Children, hal 279)


Dalam CM, ada tahapan pengetahuan yang harus dipelajari. Urutannya sebagai berikut:

 

1. KNOWLEDGE OF GOD (Dalam Islam dikenal dengan Habluminallah)

Relasi pertama yang harus dimiliki anak adalah relasi dengan Sang Pencipta. Pengetahuan ini tak boleh terabaikan dan paling menentukan kebahagiaan (Philosophy of Education hal 158). Kita sebagai orangtua bisa saja lengah dalam penjagaan terhadap anak-anak kita, tetapi Allah akan senantiasa menjaga dan mendampingi mereka. Jadi saat sendiri atau sesusah apapun mereka tidak merasa ditinggalkan. 

Kita perlu melatih kebiasaan beribadah pada anak, Ketika pendidikan formal 6 tahun, sumber pengetahuan akan Pencipta adalah dari kitab suci, karena ini adalah living book terbaik sepanjang zaman. 


(Poin kedua hingga poin ketujuh akan terkait terkait dengan Hablumminannas/hubungan antar manusia)


2. SEJARAH 

Setelah tentang agama, selanjutnya adalah sejarah. Dalam sejarah anak-anak belajar kebijaksaan. Bagaimana menyikapi suatu kejadian dalam sejarah, di CM anak akan membuat Book of Centuries. Yaitu semacam scrap book tentang peristiwa sejarah dari berbagai daerah sehingga diketahui relasi satu peristiwa dengan peristiwa lain.


3. SASTRA

Sastra berupa puisi. Satu pengarang 1 term. Nggak perlu anak diminta menganalisa. 


4. BAHASA

Bahasa sangat perlu dipelajari karena dengan kemampuan berbahasa, dia akan mampu berkomunikasi dengan baik dan mendefinisikan apa yang mereka rasakan.

Membaca nyaring. Dilakukan sampai SMU karena hal ini akan terus mengasah kemampuan membacanya.

Menulis. Dilakukan setiap hari, sedikit tetapi konsisten. 

Copywork. Menyalin. Tetap dari sedikit sedikit,

Dictation. Dengar, menyimak kemudian menulis. (habit of attention, remembering, dan menulis)

Tata bahasa. Paling akhir, karena cukup rumit.


5. BAHASA ASING. 

Tata caranya seperti teknik narasi. Bacakan cerita dan narasikan, sedikit dulu saja. 


6. CITIZENSHIP/kewarganegaraan.

 Ini erat kaitannya dengan pelajaran sejarah. Anak akan belajar tentang tokoh sejarah, mempelajari keberhasilan dan kegagalannya. Mbak Ayu pakai bukunya Plutarch. 


7. SENI

Pada pelajaran ini, poin pentingnya adalah anak belajar mengagumi dan mengapresiasi seni, karena kalau untuk memproduksi, nggak semua anak berbakat kesana. 

Picture study. Mengapresiasi lukisan. 

Composer study. Apresiasi musik

Folksong. Belajar lagu rakyat, musik dan kebudayaan

Drawing/painting. teknik menggambar, karena skill menggambar kadang diperlukan untuk mempermudah komunikasi.


Poin kedelapan hingga tentang KNOWLEDGE OF UNIVERSE/alam semesta (Habluminalalam=hubungan dengan alam semesta)


8. NATURE STUDY. 

Teknisnya, tentukan satu jenis, misal burung, maka nanti fokus membahas segala sesuatu tentang burung. Fondasinya adalah kecintaan tentang alam sehingga ada minat untuk menjalin relasi dengan subjek yang akan menjadi fokus pembahasan.


9. SAINS. 

Basicnya adalah ketakjubkan  dan ide untuk mempelajari sains.


10. MATH.

Kebenaran mutlak itu ada.


11. GEOGRAFI

Pelajaran geografi adalah yang paling kompleks, karena ada pelajaran soal narasi, istilah geografi, belajar mata angin, dan peta.

 

12. PENDIDIKAN JASMANI DAN HASTA KARYA

Tubuh adalah pemberian Tuhan yang harus dirawat. Pendidikan jasmani akan membuat badan sehat, dan berkarya lewat hasta karya akan membuat bahagia. Dengan keadaan sehat jasmani dan rohani maka kita dapat berdaya guna dan memberi manfaat maksimal kepada sekitar.


Jadi tahapan akademis CM ini dimulai dengan:

1. Memasok ide

2. Menarasikan. Untuk memastikan ide sudah ditangkap anak

3. Mendokumentasikan relasi. Ini adalah tahapan belajar anak selanjutnya. Mempelajari relasi pada bidang yang dia minati. Dokumentasi relasi bisa berupa: book of centuries, nature journal, map, dll


Pendidikan bukan tentang seberapa banyak buku yang dibaca, seberapa banyak pengetahuan yang dikuasai, ataupun seberapa besar skor nilai, tetapi seberapa dalam kita berelasi dengan pengetahuan tersebut. 


10.4.21

Akal budi dan Kurikulum yang Kaya

 Narasi pertemuan kedua Kelas Akademis Charlotte Mason.


Dalam filosofi pendidikan Charlotte Mason, akal budi terbagi menjadi 2, yaitu akal budi anak bayi dan akal budi anak sekolah. Karena fokusnya adalah membedah sisi akademis dari CM, maka materi hari ini membahas soal akal budi anak sekolah.

Seringkali orang tua ataupun pengajar bekerja keras menciptakan permainan dalam sarana pembelajarannya. Padahal permainan bukan jalan menuju akal budi. Akal budi bertemu akal budi lewat pemikiran. Permainan memang perlu, tapi itu tidak wajib. Apabila diibaratkan seperti makan, bukankah makanan yang kita makan tidak mesti selalu enak? Tapi kita tetap memakannya karena kita butuh makan. Begitu juga belajar, tidak semua pembelajaran menarik dan bisa dipindah dalam bentuk permainan yang menyenangkan. Akan tetapi anak yang meresapi bahwa belajar adalah kebutuhannya tentu akan tetap belajar sekalipun materinya disampaikan tanpa permainan. 


Makin sedikit guru/pendidik mengajar, makin banyak anak belajar

Paradigma ini mungkin sulit diterima oleh kelaziman pendidikan saat ini. Kalau gurunya sedikit mengajar, buat apa ada guru? Ya, memang guru hanya sedikit mengajar, tetapi yang akan guru lakukan lebih dari sekedar mengajar, tugas besar guru adalah memantikkan ide ke masing-masing siswa sehingga pemikiran siswa bekerja. Tidak perlu banyak ceramah, sampaikan secara konkrit manfaat dari pembelajaran yang akan disampaikan, dong anak untuk mendapatkan ide yang merangsang berpikirnya. Setelah pemikiran ini bekerja akan timbul rasa ingin tahu dan keinginan belajar. Karena keinginan belajar yang datang dari dalam, tentu saja pembelajaran akan lebih melekat di benak siswa. Pada saat seperti itu, gelontoran fakta yang akan disampaikan guru akan meresap ke benak siswa. Mereka tidak sekedar hafal materi pelajaran tetapi telah benar-benar memahami.

Pendidikan ibarat iman. Tidak nampak namun kita harus meyakininya. Sebagai guru, kita harus beriman (yakin) bahwa anak akan mengolah ide. Percaya bahwa anak memiliki rasa ingin tahu dan butuh belajar sehingga tanpa banyak ceramah dan peringatan anak sudah tergerak untuk 'memberi makan' jiwanya.


Kurikulum yang Kaya

Kurikulum sekolah saat ini berfokus pada persiapan ujian untuk ke jenjang berikutnya. Semua bergantung pada penilaian dan kompetisi meraih nilai yang terbaik. Tujuan belajar adalah mendapatkan nilai yang baik sehingga kebebasan belajar berkurang.

Padahal hukum alam memiliki kurikulum yang lengkap. Yang penting kita memenuhi 3 hal ini dalam menyusun silabus pendidikan anak:

a. Anak butuh banyak pengetahuan karena akal budi butuh cukup 'makanan'

b. Pengetahuan harus beragam, seperti halnya lidah yang butuh variasi rasa makanan

c. Pengetahuan harus dikomunikasikan dengan bahasa yang betul, harus runtut dan cerdas sehingga membangkitkan rasa ingin tahu anak.

Mata pelajaran yang banyak bukan beban, justru untuk refreshing agar tidak jenuh dengan satu pelajaran. Supaya pelajaran tidak menjadi beban adalah dengan mengurangi jam pelajarannya. 


Bagaimana mengevaluasi belajar anak?

Yaitu lewat narasi. Dengan narasi kita bisa mengevaluasi seberapa pemahaman anak soal pengetahuan tersebut. Bagaimana kemampuan anak mengaitkan satu ilmu dengan ilmu lainnya, karena sejatinya semua ilmu pengetahuan itu berkaitan.

Dalam belajar, fokus itu sangat diperlukan. Oleh karena itu, prinsip sekali baca harus dilakukan. Untuk melatih fokus anak. Pembelajaran di CM semua lewat cerita. Jadi sesi akademis dengan sekali baca dan narasi adalah wajib dilakukan di CM. 

Kurikulum yang kaya akan merangsang anak berpikir. Anak perlu pengetahuan bersifat pemikiran sehingga dapat merangsang pikiran kreatifnya. Sejatinya anak mempunyai keinginan belajar namun belum bisa mengungkapkan kemauannya. Yang pertama dan utama adalah mengenalkannya pada Sang Pencipta, nanti setelahnya dia akan lebih baik berelasi dengan sesama manusia dan alam.

Tambahan:

Menurut yang dipahami CM'ers, tipe belajar itu mitos, yang penting habitnya, karena habit 10x lebih powerful dibanding  bakat alami.

Untuk anak di bawah 6 tahun, sering bacakan cerita tetapi tidak perlu minta anak narasikan.

5.4.21

Narasi: Proses Pencernaan Pembelajaran ala Charlotte Mason

Materi Kedua Kelas Akademis Charlotte Mason bersama Mbak Ayu Primadini

Materi: Workshop Narasi

Narasi ulang oleh: Ardiba R Sefrienda

Anak kecil senang bercerita: menarasikan pikirannya.


Ketika di pembahasan soal pembelajar mandiri, aku bertanya-tanya, memberikan ide-ide hidup itu kongkritnya seperti apa sih? Nah, pembahasan tentang narasi akan menjadi jawabannya. Karena pada materi tentang narasi ini, peserta akan diajarkan teknis kegiatan narasi ala CM itu seperti apa.

Pendidikan adalah perkara rohani, bukan hanya soal dekorasi eksternal/rangkaian kegiatan jasmani semata. Sebaik-baik pembelajaran adalah pembelajaran mandiri. No education but self education. Dengan pendidikan mandiri anak dapat sadar akan kemajuan belajarnya. Proses belajar dilakukan bersama antara fasilitator/orang tua dan anak.

Pendidikan CM menekankan pada living material, dimana sumber ide hidup berasal dari sana. Sebagian besar living material berupa buku, walau tidak menutup kemungkinan living material berupa video atau kejadian sehari-hari. Namun, untuk sesi akademis CM memang lebih tepat menggunakan living book. Nah kegiatan narasi bila diibaratkan dengan makanan adalah proses pencernaan, proses narasi adalah proses anak mencerna ide dalam literatur tersebut untuk nantinya terserap menjadi bagian dari dalam diri anak, seperti halnya nutrisi makanan yang terserap tubuh. Dalam melakukan narasi, perlu diperhatikan beberapa hal agar narasi berlangsung dengan baik:

1. Pilihlah buku yang bermutu

Dalam workshop narasi ini, Mbak Ayu membacakan cerita tentang Florence Nightingale dalam 2 versi. Versi pertama lebih menekankan pada fakta-fakta, sedangkan versi kedua bahasanya lebih deskriptif. Bacaan versi pertama, pendengar perlu menghafal untuk dapat menarasikan ulang bacaan. Sedangkan bacaan kedua, pendengar bisa lebih mudah menarasikan karena pendengar seolah dibawa serta ke kehidupan Florence. Nah buku kedua inilah yang disebut dengan living books alias buku berkualitas menurut CM. Bacaan lebih menekankan pada nilai-nilai kehidupan ketimbang fakta yang bisa dicari lewat mesin pencari. Pembelajaran nilai kehidupan ini akan semakin merasuk ke sanubari anak manakala dia menarasikan ulang 

2. Bacakan hanya sekali

Pendidikan adalah proses membangun kebiasaan, salah satunya dengan narasi. Prinsip saklek yang tidak bisa ditawar adalah bacakan hanya sekali. Hal ini berguna dalam mengajarkan anak untuk fokus. Habit of attention.


Narasi juga menjadi bagian dari habit of good communication. Lewat narasi, anak akan belajar mengutarakan pemikirannya. Tidak mudah lho menceritakan ulang apa yang sudah kita dengar apabila kita tidak terbiasa untuk fokus dan bernarasi.

Selain itu, bernarasi juga mengembangkan habit of thinking karena untuk me-recall hal apa yang harus diceritakan kembali tentu otak anak harus berpikir. 

3. Jangan menginterupsi

Hargai anak sebagai pribadi utuh yang memiliki keunikan dalam berpikir. Jangan meninterupsi narasinya karena konsep pendidikan mandiri adalah mengeluarkan yang ada di dalam diri anak. Interupsi akan memberikan intervensi eksternal yang akan mengurangi esensi pembelajaran mandiri. Oleh karena itu, pemilihan buku atau referensi yang tepat adalah mutlak. Jangan menggunakan buku yang hanya menyajikan sekumpulan fakta karena ini akan menyulitkan narasi, dimana anak akan yerlalu sibuk menghafal ketimbang menikmati bukunya. 

Pendidikan adalah atmosfer. Sebagai fasilitator kita harus menikmati momen kita mendampingi anak pada sesi akademis CM ini. Nikmati saat kita membacakan cerita. Berikan artikulasi yang tepat sehingga anak lebih mudah mencerna apa yang kita bacakan. Mendidik anak adalah perjalanan maraton, jadi pastikan kita menikmatinya kan..

4. Percaya!

Membuat materi pembelajaran yang menarik sejatinya lebih mudah ketimbang mempercayai bahwa anak memiliki kemampuan mencerna pengetahuan yang kita sajikan dan percaya mereka melakukan yang terbaik. Semakin banyak kita mengajar, justru semakin sedikit anak bisa belajar. Sebaliknya, semakin sedikit intervensi kita dalam proses pembelajaran anak, maka anak akan belajar dengan maksimal. Hal ini tentu tidak sesuai dengan norma umum di masyarakat tentang pembelajaran. Yang nggak paham bakal bilang "Enak banget gurunya kalau cuma gitu doang." Padahal yang 'cuma gitu doang' ini efeknya justru luar biasa bila dilakukan secara konsisten. Kembali pada konsep pembelajaran mandiri dimana semua berdasarkan dari dalam diri anak. Jadi percaya saja pada kemampuan anak mencerna ide hidup yang kita sajikan. Pastikan saja sajian untuk pendidikan (rohani) anak cukup secara kualitas dan kuantitas.-->memastikan cukup ini juga gak mudah dan nggak ada aturan baku bagi anak bersaudara sekalipun.

5. Children are born person

Kita memang harus percaya pada kemampuan anak, tetapi jangan pula memiliki ekspektasi berlebihan terhadap anak. Evaluasi bila ternyata anak tidak sesuai yang diharapkan.

Pendidikan adalah seni membangun relasi. Karena setiap ilmu saling berkaitan, tidak berdiri sendiri. Dengan pendidikan maka anak akan memiliki kemampuan untuk mengaitkan ilmu satu sama lain. Ini bukan tentang banyaknya yang dipelajari anak, tetapi bagaimana anak mempelajarinya.


-MEMULAI NARASI-


1. Start small

Sesuaikan dengan kemampuan konsentrasi anak. Sedikit demi sedikit


2. Tunjukkan caranya

Untuk anak yang belum terbiasa narasi dapat kita berikan dulu contoh narasi itu seperti apa. (Orang tuanya kudu belajar dan paham teknik narasi terlebih dahulu)


3. Oops/ teknik pura-pura salah

Untuk mamantik anak mengeluarkan pendapatnya bisa dengan berpura-pura salah dalam membuat narasi dan anak tergelitik untuk mengkoreksinya.


4. Variasi aktivitas

Variasi aktivitas biasanya dilakukan hanya pada awal narasi, karena saat itu anak mungkin belum tertarik dengan narasi. Variasi aktivitas bisa dilakukan untuk memantik minatnya bernarasi, seperti narasi menggunakan media lego, mobil-mobilan, dll. Nanti, setelah anak terbiasa narasi dan tidak kesulitan bernarasi, maka orang tua tidak perlu memvariasikan aktivitas lagi.


5. Tahapan narasi tertulis

Setelah anak menguasai narasi lisan, umumnya membutuhkan waktu sekitar 3-4 tahun, maka kemudian narasi bisa ditambah dengan narasi tertulis.

Teknisnya bisa dibacakan lalu anak membuat narasi tertulis atau anak membaca sendiri dan membuat narasi tertulis. Semua tergantung kondisi.

Saat memulai narasi tertulis, mungkin anak tidak terlalu banyak menulis karena adanya perbedaan koordinasi antara lisan dan tertulis. Menulis lebih sulit karena butuh kombinasi koordinasi otak untuk memikirkan apa yang akan ditulis dan motorik halus untuk menuangkan pemikirannya dalam bentuk tulisan.

Saat anak memulai narasi tertulis, jangan dikoreksi, termasuk kesalahan tanda baca. Biarkan anak membaca ulang narasi tertulisnya dan menyadari kesalahannya, seperti misal kurang tanda titik, kan bisa menges tuh bacanya.


6. Mengasah kemampuan menulis

Seiring waktu, narasi tertulis bisa menjadi sarana mengasah kemampuan menulis. Kaidahnya antara lain:

-Satu aturan tata bahasa dalam satu waktu. Sesuai prinsip gentle art of learning, sedikit demi sedikit tapi konsisten.

-Minta anak mengkoreksi sendiri. Sesuai prinsip pembelajaran mandiri, biasakan anak untuk mengevaluasi pekerjaannya secara mandiri.

-Dukung anak menulis lebih banyak. Kadang anak perlu lebih disemangati agar mau berusaha lebih.

-Tulisan kreatif. Misal anak bisa mengkreasikan narasinya dalam bentuk cerpen (atau mungkin ulasan di blog? Hehe). Tapi menulis kreatif ini adalah tahapan lanjut, artinya jangan tergesa-gesa meminta anak mencoba menulis kreatif apabila kemampuan dasar menulisnya belum dikuasai.

Jadi metode narasi pada pendidikan CM mungkin terasa 'gitu doang' buat sebagian orang. Tetapi hal yang kayaknya gitu doang itu justru mengasah kemampuan anak untuk fokus, berpikir, dan berkomunikasi. Itu adalah skill inti yang harus dikuasai apa pun pekerjaan anak ketika dewasa nanti.

Dari pembahasan soal narasi, terlihat bahwa metode CM sangat mengasah kecerdasan linguistik anak. Namun hal ini bukan berarti CM mengesampingkan kecerdasan lain. Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia adalah mahluk sosial, dalam bersosialisasi tentu butuh komunikasi. Jadi, memang aspek linguistik ini memegang peranan kunci dalam kehidupan anak. Mau apa pun pilihan hidupnya nanti, kemampuan berkomunikasi tetap yang paling utama dikuasai kan?

Mari bersenang-senang dengan narasi ^_^

22.3.21

Crossfire: Tetap percaya pada diri sendiri walau dunia tidak mempercayaimu!

Apaan sih gamers, gak punya masa depan, pengangguran, memalukan! Begitulah dunia memberi cap kepada Xiao Feng dan teman-temannya di tahun 2009. Mereka bergabung dalam Klan 1Coins. Lama kelamaan klan/tim mereka bubar karena masing-masing sudah semakin dewasa, ada yang menikah dan punya istri yang galak, yang satu dikirim ke pusat rehabilitasi kecanduan game, Feng sendiri akhirnya bekerja kantoran demi membahagiakan orang tuanya. Dia anak yang cerdas dan disenangi bosnya, tapi lama kelamaan dia sadar bahwa kerja kantoran bukan passionnya. Ditambah teman main gamenya dari tahun 2019 memberi tahu bahwa dia dan 1 Coins adalah lagenda di turnamen Crossfire, akhirnya dia resign ketika bos mau mengangkatnya menjadi karyawan.



Di waktu lain, pada tahun 2019, e-sport semakin berkembang. Xiao Be adalah seorang gamers yang terinspirasi menjadi atlet e-sport karena kakaknya. Kakaknya sendiri tewas dalam sebuah kecelakaan dan Xiao Be sendiri lumpuh karena kecelakaan itu. Cita-cita Xiao Be menjadi atlet e-sport kurang mendapat dukungan dari orang tuanya. Be diijinkan untuk mengikuti sebuah seleksi pemain e-sport, tetapi bila ternyata Be gagal, maka dia harus mengubur keinginannya menjadi pemain e-sport. Tetapi saat dia gagal dalam seleksi tim Gravity, Be tetap saja tidak bisa mengubur keinginannya menjadi pemain e-sport profesional. Dengan uang yang dia punya dan seorang sahabat setia, dia membentuk tim/klan sendiri bernama Continue. 

Xiao Feng dan Xiao Be dipertemukan secara kebetulan di game Cross Fire yang hanya bisa diakses di PC jadul Xiao Feng dan laptop lama peninggalan kakaknya Xiao Be. Dengan selisih waktu 10 tahun, Xiao Be bagaikan peramal yang memberitahukan nasib Xiao Feng dan teman-teman 10 tahun kemudian. Persahabatan beda waktu ini mengantarkan petualangan bagi masing-masing. Mulai dari usaha Feng mencegah kecelakaan Be dan kakaknya. Tapi ternyata kecelakaan tersebut tetap terjadi, hanya pindah lokasi saja. Selanjutnya Be mendapati bahwa Feng ternyata sudah meninggal! Setengah mati Be mencari cara untuk mencegah meninggalnya Feng. Dia lalu mencari An Lan dan bertanya soal Feng. tentu tidak mudah bertemu Lan yang sudah menjadi pejabat penting perusahaan e-sport. Tapi namanya drama ya, akhirnya Be bisa meyakinkan Lan kalau dia bisa berkomunikasi dengan Feng di masa lalu. Akhirnya Feng bisa selamat dari maut, tetapi dia koma. Kejadian yang merenggut nyawanya itu adalah akibat dia uji coba bermain game simulasi yang berakibat kehilangan kesadaran. Sahabatnya sendiri ternyata yang menjebak Feng. Sang sahabat yang juga anggota 1coins pernah kedapatan berbuat curang saat turnamen. Belakangan Feng memergoki dia melakukan pembunuhan terhadap seorang montir. Sebagai sahabat yang baik Feng menasehati, tetapi si sahabat nggak terima. Jadilah Feng dijebak di permainan tersebut.

Komunikasi lintas waktu telah berhasil menunda kematian Feng, sayangnya Feng kemudian koma dan akhirnya dengan bantuan Be yang ikut masuk ke permainan, akhirnya Feng berhasil selamat. Kemudian menjadi pelatih tim Gravity. Endingnya sih tim Gravity ini jadi juara dunia setelah pada turnamen pertama kalah dari Brazil. Sounds a great ending. Kenyataan sih kayaknya nggak mungkin. Komunikasi lintas waktunya belum masuk ke nalar. Tapi sutralah ya, yang penting adalah pelajaran penting dari serial ini.

Jangan takut berbeda. Yakini saja jalanmu!

Xiao Feng dan Xiao Be sama-sama mengalami kesulitan dalam mengembangkan minatnya. Feng bahkan lebih parah karena tahun 2009 game online belum semarak saat ini. Tetapi Feng membuktikan dengan kegigihannya membawa 1coins menjadi juara kompetisi. Walaupun tidak paham soal game online, orang tuanya sangat bangga anaknya menjadi juara dan akhirnya tidak lagi memaksa Feng untuk bekerja kantoran.

Kelihatan indah, tetapi di akhir episode Xiao Be bilang kalau untuk menjadi juara itu kemungkinannya sangat kecil, jadi sebaiknya memang jangan mengandalkan dari kejuaraan saja, tetap harus ada pemasukan dari sumber lain, seperti endorse, dll

Selalu bersemangat

Kalau sudah yakin dengan jalan yang kita tempuh, selanjutnya tetaplah semangat menjalani apa yang dicita-citakan. Orang yang bersemangat akan membawa aura positif bagi sekelilingnya.

Jaga kekompakan dan persaudaraan

Sebagai mahluk sosial tentu kita perlu bersinergi dengan berbagai pihak. Selain itu kita harus punya tim yang solid, yang kompak dalam suka dan duka. Banyak dikisahkan romantika klan 1 coins dan Gravity. Disini perlunya kematangan emosi seorang leader untuk menjaga kekompakan dan rasa persaudaraan antar anggota tim. Pembagian kerja juga harus jelas jadi kekuatan tim semakin optimal.

Cara curang akan selalu kalah

Hidup sahabat Feng tidak pernah tenang karena dia selalu menghalalkan segala cara untuk menang. Walaupun beberapa kali berhasil mengalahkan Be dan Feng, tetapi pada akhirnya dia menemui kejatuhannya sendiri. 

21.3.21

Pelajaran kehidupan dari Serial I Will Find You Better Home



Serial I Will Find You Better Home adalah drama China tentang agen properti. Banyak pelajaran marketing dan seputar properti yang bisa didapatkan dari serial ini. Selain itu, serial ini juga mengajarkan tentang pelajaran hidup, antara lain:


1. Jangan terlalu 'baik' sama anak

Orang tua pasti mengusahakan yang terbaik untuk anak. Tetapi jangan lupa menyiapkan kondisi terburuk yang mungkin terjadi. Suami istri penjual roti isi saking sayangnya sama anak mereka sampai mengatas-namakan rumah yang mereka beli susah payah dengan nama anak mereka. Alhasil ketika anak mereka berumah tangga, mereka terpaksa mengalah dan menurut ketika anaknya meminta orang tuanya tidak tinggal di rumah itu dulu. Ih, gregetan banget nggak sih kayak gitu. Beneran loh, selagi kita masih hidup, jangan sekali-kali memberi hak anak atas aset kita. Biarkan anak berjuang sendiri. Walau kita sudah menyiapkan pembagian untuk mereka sepeninggal kita nanti, tapi biarlah warisan itu dirahasiakan sampai saatnya tiba.


2. Nggak ada anak 'durhaka' tanpa dimulai dengan orang tua yang membuatnya begitu 

Fang memiliki ibu yang kejam karena tidak menginginkan kehadirannya. Soalnya si ibu pinginnya anak cowok. Tapi nyebelinnya, si ibu malah selalu saja meminta uang ke Fang. Padahal Fang juga kekurangan uang. Pada satu episode si ibu sampai ngemper di depan apartemen Fang dan mendramatisir keadaan sehingga tetangga pada heboh dan videonya viral. Kalau yang nggak tau kan dianggap, jahat banget ya anaknya? Padahal ibunya duluan tu yang jahat.


3. Selalu ada istri hebat dibalik suami hebat. Jangan sombong hey lelaki!

Diceritakan sahabat baik Wang Cheng bernama Kan mau membeli rumah yang ternyata untuk wanita simpanannya. Padahal dia mempunyai istri yang tipikal ibu rumah tangga yang cantik, telaten mengurusi anak dan juga orang tua. Memang tipe lelaki begini kudu diuleg pake cabe sekilo. Udah punya istri yang perfect masih aja cari di luar. Dan endingnya Pak Kan akhirnya benar-benar tobat main perempuan. Karena semenarik-menariknya selingkuhan, tetap pasangan sah yang terbaik.

 

4. Memilih sekolah bisa berdampak pada keharmonisan keluarga

Ada satu episode dimana si ibu selalu marahin anaknya ketika anak mengerjakan tugas sekolahnya. Ternyata karena tugas sekolah itu terlalu sulit dan banyak, si ibu nggak sabar mendampingi belajar dan si anak sudah jenuh belajar. Akhirnya dengan trik Wang Chen mereka pindah sekolah dan rumah, dan di sekolah baru si anak menemukan potensinya. Si anak senang, si ibu juga gak marah-marah lagi. Jadi, pilihlah sekolah sesuai dengan kondisi anak, gak semata lihat 'favorit' aja.


5. Jangan suka menimbun makanan

Lou San Guan adalah orang yang sangat hemat. Setiap hari bekalnya hanya nasi putih. Lauk? Minta temennya. Saking hematnya, ketika ada temennya yang nggak menghabiskan makanan, pasti ditimbun sama dia. Sampai suatu ketika simpanan makanannya tumpah dan membuat manajer Wang cedera tulang belakang.


6. Jangan pelit untuk diri sendiri

Fang hidup dengan sangat susah sehingga ketika mendapat komisi besar sekalipun dia tetap dengan sepatu bututnya. Padahal penampilan juga perlu diperhatikan ya. Kalau sepatunya butut, apa klien bisa percaya. Dan lagi, sepatu rusak apa nggak malah bikin cedera, ya kan? Beri reward sesekali untuk diri sendiri itu perlu.


7. Setiap perbuatan ada balasannya. Walau kadang balasan itu terlalu 'kejam'

Ada salah satu episode Lou San Guan sangat marah karena gurunya, manajer Fang dibohongi calon klien. Padahal Fang sudah setengah mati menservis calon klien ini. Akhirnya Guan mendatangi rumah calon klien dan memaksa uang komisi ke mereka. Dapet sih uangnya, tapi itu bikin dia jadi dipecat dan masuk daftar hitam agen perantara di China. Jadi, ada kalanya kita harus menahan diri tidak membalas kekejaman orang ya..

20.3.21

Penasaran Habit Training ala Charlotte Mason

Berawal dari kegelisahanku yang merasa #dirumahsaja membuatku nggak produktif. Aku nggak bisa maksimal bekerja, dan di sisi lain anak-anak tidak terkondisikan dengan baik. Waktu pagi hari aku dedikasikan untuk SFH anak lanang. Kalau lagi apes banyak tugas, pendampingan belajar berlanjut sampai sore. Kadang rasa ingin menyerah, gunanya anak ngerjain tugas yang melelahkan ini apa sih? Ya buat anak lain mungkin nggak melelahkan, tapi jelas anakku nggak nyaman dengan tugas sekolahnya. Udahlah anak nggak hepi, aku pun nggak bisa bekerja. Tapi lama-lama ya terbiasa juga dengan tugas-tugas itu. Memang nggak sempurna, tapi aku sangat mengapresiasi usaha anak lanang buat menyelesaikan tugas sekolahnya.

Waktu bergulir, dan di tahun 2021 ini keluarga kami memulai lembaran baru hidup di Gunungkidul. Dari yang awalnya aku tinggal bersama orang tua sembari suami bekerja di luar kota, lalu sekarang tinggal di tempat baru tanpa bantuan orang dewasa lain di rumah. Ya, suami sekarang bakal lebih sering pulang sih, tapi tetap saja kan, hari-hari kulewati sendiri tanpanya. #halah

Sesaat sebelum LDM (lagi)

Minggu pertama ditinggal suami pasca pindahan, jujur sempat stres. Banyak pembiasaan dan keadaan baru yang membuatku harus keluar dari zona nyaman. Tapi aku sadar, membiasakan kebiasaan yang baik, sementara support system berkurang memang nggak mudah. Tapi bukan berarti nggak bisa kan? Alhamdulillah, pertolongan Allah memang cepat, anak-anak langsung betah di lingkungan baru yang memang sangat kondusif dan aku mulai membiasakan diri dengan ritme sekarang. 

Berkenalan dengan Habit Training

Tangan Allah memang luar biasa. Sebagai pengabdi sosmed #halah, aku rutin mengikuti pemikiran Mbak Ellen Kristi di Komunitas Charlotte Mason Indonesia. Insight-nya selalu mencerahkanku dalam mendidik anak. Hingga aku tertarik pada pelatihan Habit Training (HT) yang dishare Mbak Ellen di Facebook-nya. Belakangan aku merasa tidak produktif. Ketika sekarang tugas anak tidak lagi menumpuk. Kerjaan kantor juga nggak sepadat dulu, nyatanya aku belum juga bisa menyelesaikan satu jurnal pun! Sepertinya jiwaku memang jiwa deadliner, kalo belum ada tekanan belum bisa kerja. Tapi masak iya mau kayak gini terus? Bekerja dengan sistem kebut nggak akan maksimal hasilnya. Apalagi untuk pekerjaanku yang seharusnya lebih banyak belajar mandiri. Jadi aku pikir aku wajib nih ikutan HT ini. Tapi keterangannya ini HT buat mendidik anak, bisa nggak ya kalau buat aku juga? Ternyata memang yang ditraining ibunya. Kalau anak ikut ter-training ya itu bonus. So, lets see pelatihannya nanti. Aku yakin pasti akan berdampak lebih baik bagi keluarga kami, seperti filosofi Cinta yang Berpikir yang jadi fondasiku mendidik anak dengan damai dan bahagia.

Tentang fokus

Aku sadar, inti dari permasalahan belajarku maupun anakku ada di fokus. Kami tipikal yang susah fokus. Distraksi kecil akan membuyarkan proses belajar. Lagi baca literatur terus ada wa masuk, akhirnya malah lama wa-nan. Lagi fokus belajar lalu kantuk menyerang. Ah, fokus itu berat deh. 

Makanya buat to do list dong!

Ya udah bikin, setiap pagi sudah merencanakan bakal belajar apa. Tapi ya itu, distraksi membuyarkan segalanya. How to deal with distraction? 

Tentang membaca

Belajar itu wajib, rasa ingin tahu membuat belajar menjadi menyenangkan, tapi aku pribadi bukan pembaca yang baik. Rasa ingin tahu ternyata belum cukup membuatku lancar menjalani proses belajar. Efeknya, aku jadi nggak bisa mengajarkan cara memahami bacaan dengan baik ke anak. Pantas saja pembelajaran metode CM menekankan pada living books dan narasi. Living books melatih anak memahami bacaan sekaligus belajar soal kehidupan. Narasi melatih anak mengungkapkan pendapat secara jelas dan terstruktur. Walau kayaknya cuma 'gitu doang' tapi nyatanya benar-benar jadi life skill wajib apa pun profesinya nanti. Semoga belum terlambat untukku mendidik anak menjadi generasi yang menikmati bacaan. Kuncinya ya, akunya harus bisa menikmati bacaan dulu, jangan tidur atau ditinggalin sosmed-an terus bukunya. Wkwkwk


Menjalani Habit Training ala Charlotte Mason

Seperti yang aku bilang di awal, sudah lama aku mengikuti grup Charlotte Mason Indonesia di Facebook, lebih tepatnya mengikuti Mbak Ellen Kristi yang merupakan pendirinya. Awal perkenalanku dengan Mbak Ellen (aku yang kenal, dianya mah enggak, hehe) adalah karena aku memenangkan hadiah buku “Cinta yang Berpikir’ karya beliau saat mengikuti giveaway Rumah Inspirasi. Tahun 2012 kalau nggak salah. Membaca buku itu membuatku merasa “tertampar” karena masih suka nggak tegaan sama anak. Selain itu, setiap status Mbak Ellen mampu membuatku merefleksikan diri dan bergumam, “Oh iya juga ya.” Sampai kemudian di awal 2021 ini Mbak Ellen memberikan informasi tentang Habit Training batch 6. Aku sangat tertarik untuk ikut.

Namun, sejujurnya aku agak ragu mau ikut HT ini. Bukan apa-apa, aku takut belajar ilmu parenting sementara pemikirannya belum sejalan dengan suami. Dulu saat awal punya anak dan sangat menggebu-gebu belajar parenting (makanya kenal Rumah Inspirasi dan Komunitas Ibu Profesional), namun pengetahuan ‘baru’ku ini malah membuatku berselisih dengan suami. Jadi saat ada info pelatihan HT ini aku ragu, nanti bakalan terjadi perselisihan lagi nggak ya?

Keraguan selanjutnya adalah karena aku sudah cukup sibuk dengan target kantor dan prioritas utama mendampingi anak belajar saja masih suka keteteran. Tapi di sisi lain aku mempunyai feeling bahwa training ini akan membawa perubahan signifikan terhadap produktifitas dan kualitas hidupku dan keluargaku. Maka  akhirnya aku tetap ikut HT ini setelah suami mengizinkan.

Training ini dibagi menjadi dua bagian. Pada minggu pertama peserta akan melakukan pembelajaran mandiri dengan materi selama 6 hari berturut-turut. Materi yang diajarkan ini akan menjadi bekal para calon trainer ini mengajarkan kebiasaan baik pada anak. Dengan ilmu yang cukup, bukan hal yang mustahil mengubah anak yang sulit diatur menjadi penurut.

Fase Pembelajaran Mandiri

Pada saat pembelajaran mandiri saya merasa tertantang dengan materi yang disampaikan. Setiap sebelum subuh saya meresapi teori dan mengerjakan tugas yang diberikan. Bila sebelumnya saya merasa ngantuk, tetapi mempelajari soal habit of obedience, validasi emosi, dan menyusun rencana habit training anak membuat mata saya melek dan bersemangat. Saya sangat terinspirasi dengan prinsip Atomic Habit yang dikembangkan James Clear, hal kecil yang dilakukan rutin akan menjadi besar dan luar biasa. Saya sadar kebiasaan yang sedang saya lakukan masih pada tahap pembiasaan sehingga masih berat dilakukan. Tapi aku percaya, dengan pengulangan demi pengulangan maka aku akan terbiasa dan hasilnya pasti luar biasa (optimis dulu dong ya). Terlebih ada motivasi dari Mbak Ellen bahwa, sebelum mendidik anak berdisiplin, maka kita sebagai orang tua harus mendisiplinkan diri terlebih dahulu.

Fase 10 Hari Pendampingan

Setelah sampai pada hari keenam pelatihan, minggu selanjutnya adalah saatnya praktek. Peserta diminta menentukan satu kebiasan baik yang harus dilakukan anak. Untuk hal ini aku jelas mengambil kasus soal anakku yang sulit disuruh belajar. Nanti ada Habit Training Planning (HTP)yang harus diisi. Penyusunan HTP ini harus sesuai dengan rules Habit of Obedience (HoO). Selama satu minggu full peserta diminta untuk mengevaluasi HTP yang dibuat dalam bentuk narasi yang dikumpulkan setiap hari. Tahapan penyusunan HTP ini sangat krusial sehingga Mbak Ellen mengadakan pertemuan zoom 2x untuk membahasnya. Selain itu Mbak Ellen juga membuka diskusi di grup WA. Calon trainer bebas bertanya dan berbagi informasi di grup. Harapannya memang akan terbentuk komunitas yang saling membangun. Ini merupakan salah satu kunci keberhasilan HT, dukungan komunitas.


sesi Zoom bersama Mbak Ellen Kristi

Setelah seluruh HTP peserta diberi masukan, mulailah pengalaman seru HTP selama 10 hari full dalam pendampingan Mbak Ellen. Aku salut dengan semangat para peserta dan juga kesabaran Mbak Ellen meladeni 35 ibu di dalam grup. Semua permasalahan para ibu dijawab dengan pendekatan sesuai akar permasalahannya dan kembali pada paradigmanya, yaitu membantu bukan menghukum. Anak ngeyel bukan karena dia mau melawan, tetapi coba diobservasi, siapa tahu dia memang tidak sanggup melakukannya jadinya ngeyel. Bisa juga ternyata dia sedang tidak mood, jangan disalahkan, kita aja kalo PMS juga pengen marah-marah kan. Lakukan diskusi dari hati ke hati, karena anak perlu didengarkan dan dimengerti. 

Masalah yang paling banyak dijadikan HTP adalah persoalan makan. Rupanya banyak anak yang belum menganggap makan sebagai kebutuhan sehingga orang tua perlu cara untuk mendisiplinkan makannya. dari hasil pendampingan selama 10 hari, rata-rata permasalahan adalah karena anak nggak fokus, biasanya kerena disambi nonton, porsi makan terlalu banyak, dan kadang anak memang belum lapar. 

Nah, kalau aku tim HTP belajar. Merutinkan belajar 1 jam setiap hari ternyata tidak mudah. Sempat aku terlambat mengirim laporan harian karena sampai ketiduran, anak belum juga mencapai target belajar hari itu. Tetapi setelahnya aku bisa lebih menjadwal belajarnya. Disini aku merasakan pentingnya briefing. karena pernah sekali aku menjadwal belajar di luar kesepakatan, eh anaknya ngamuk. Berbeda ketika belajarnya sudah sesuai kesepakatan, walau tengah asyik bermain juga anaknya tetap mau belajar. 

Akhirnya sampai pada hari ke-10 pendampingan. Saatnya penutupan. Aih sedih tapi senang juga. Sedih karena artinya waktu sudah 10 hari berlalu, seharusnya ada perubahan yang lebih baik kan? Tapi senang juga karena ternyata aku mampu menyelesaikan tantangan mendampingi HT anak selama 10 hari penuh. 

Dari 10 hari pendampingan, aku menyimpulkan 3 hal yang harus dimiliki anak agar berhasil menjalani perannya di dunia (hal yang masih aku pelajari juga). Hal itu antara lain:

  1. Jangan malas. Ini sih gunanya ikut HT, untuk melawan rasa malas. Waktu kita terlalu sebentar untuk menunda-nunda. lakukanlah hal produktif walau dimulai dari durasi waktu yang sebentar dulu. Nanti lama-lama setelah terbiasa waktunya bisa ditambah. Ingat selalu kita diberi nikmat hidup di dunia karena ada 'misi' yang Allah titipkan. Untuk para ibu, mendidik anak menjadi berguna bagi agama, masyarakat, dan lingkungannya adalah mutlak. Langkah awal menjadi berguna adalah dengan mengikuti hati nurani, taat pada petunjuk Illahi dan norma hukum. 
  2. Jangan takut. Memiliki ketakutan itu wajar, tetapi seringkali sesuatu itu menakutkan karena belum kita jalani. Berani melangkah saja dulu, nggak perlu takut gagal apalagi sekedar takut jadi omongan orang.
  3. Fokus. Kayaknya sibuk tapi ternyata nggak ada hasilnya? Bisa jadi karena kita tidak fokus. Nggak usah sok multitasking, otak kita dirancang hanya bisa fokus pada satu hal, jadi tetapkan prioritas dan disiplin dengan prioritas tersebut. *masih peer banget nih buatku yang gampang terdistraksi... 

Akhirnya tibalah saat refleksi akhir dan penutupan HT batch 6. Di sesi Zoom kali ini, Mbak Ellen mengajak anaknya yang remaja untuk berbagi soal remaja, karena beberapa peserta HT anaknya remaja, dan sesi sharing akan lebih lengkap bila ada sudut pandang dari remaja. Di sesi ini peserta jadi memahami, bahkan Mbak Ellen juga tidak luput dari kesalahan saat mengasuh anak. Tetapi dengan semangat untuk terus bertumbuh, akhirnya Mbak Ellen bisa sampai pada titik ini, dan masih terus memperbaiki diri dari hari ke hari.
 
Sesi sharing pada penutupan HT batch 6