29.7.21

Jangan Sampai Pandemi Merenggut Kemanusiaanmu!

Siapa yang sudah sangat lelah dengan pandemi ini? Rata-rata pasti menjawab 'iya'. Tetapi banyak juga yang sudah berhasil menyamankan diri di tengah keadaan sulit ini. Ya berdamai saja dengan keadaan ini.

Aku menulis ini bukan karena meremehkan Covid-19, tetapi jujur aku sedih dengan keadaan yang terjadi. Banyak orang terdekat yang kehilangan anggota keluarganya, banyak yang mengalami perundungan akibat statusnya yang positif covid, belum lagi komentar ketakutan terhadap varian baru Covid. Ya, pandemi ini memberikan banyak sekali pelajaran. Tetapi satu hal yang paling sulit, yaitu mempertahankan sifat sosial kita. Karena pandemi memaksa kita berjauhan, skeptis dengan semua orang, walau aku sadar ini bagian dari era globalisasi, tetapi sifat sosial kita benar-benar diuji. Bagaimana kita tetap bisa ikhlas memberi, padahal kondisi keuangan sendiri juga minim. Bagaimana bisa membantu keluarga dan tetangga yang sakit, sedangkan tubuh kita dan kesehatan keluarga inti juga harus kita jaga. Saat ini sungguh adalah ujian bagi kemanusiaan kita. Semoga kita lolos dalam ujian ini.


Lamanya hidup itu misteri

Sekarang kita akan lebih sadar untuk menghargai hidup, mensyukuri kehadiran orang-orang yang menyayangi kita. Karena kematian bisa terjadi sangat mendadak. Sedih memang mendengar banyaknya berita duka belakangan ini. Tetapi percaya saja bahwa memang inilah yang sudah dituliskan di Lauh Mahfudz. Pandemi ini adalah ujian keikhlasan melepas apa yang dititipkan Allah, bukan hanya nyawa orang terkasih, tetapi sekedar rezeki yang tergerus karena kebijakan pemerintah, juga harus kita ikhlaskan.


Sebaik-baik perkara adalah pertangahan

Pandemi ini akan mengasah kemampuan berpikir kita. Kita pada kondisi harus skeptis dengan siapapun, tetapi juga jangan sampai menyinggung perasaan. Ini sangat berat buat sebagian orang yang saling bersebarangan memandang Covid. Memang terlalu abai terhadap Covid akan berbahaya, tetapi terlalu takut juga lebih berbahaya. Menjaga prokes itu harus, tetapi jangan sampai demi prokes maksimal lalu kita menyiksa diri. Bukannya sakit karena Covid, tapi sakit karena ketakutan kena Covid. Duh, jangan deh, walau bukan sakit karena Covid, tapi plis jangan sakit, jangan bebani tenaga medis dengan kondisi kita. Bismillah bisa.


Kita mahluk sosial yang butuh bantuan

Berbuat baiklah selagi bisa. Kita tidak tahu kapan kena giliran sakit dan kesusahan (bukan hanya Covid). Nggak perlu banyak pertimbangan dalam menolong. Misalkan membantu pasien Covid, asalkan prokes dan tidak lupa menjaga kondisi tubuh (tidak lupa makan, minum vitamin, dll), maka bantulah, jangan sampai ketakutan merenggut kemanusiaan kita.


Kalau orang yang ditolong ternyata jahat sama kita gimana? Ya, boleh jadi kamu menolong orang yang salah, tetapi amalmu tetap diperhitungkan dan akan diberi balasan dari Allah. Nggak perlu mengaharap balasan dari orang yang kita tolong. 


Yang memutuskan sehat dan bahagia itu ya kita sendiri

Egois sekali-kali itu perlu, karena yang memutuskan sehat dan bahagia itu kita sendiri. Sedih teman kehilangan keluarganya? Atau malah kita yang kehilangan orang yang kita sayang? Nggak perlu sedih berlarut-larut. Karena air mata kita nggak akan balikin mereka. Selalu doakan bila teringat. Tidak mudah untuk merelakan kehilangan. Tetapi bila kita memahami hakikat bahwa apapun yang kita punya adalah titipan Allah,  maka In sya Allah kita akan selalu bahagia menjalani apapun yang terjadi dalam kehidupan kita.


Ikhtiar menjaga kesehatan juga begitu. Kuncinya hanya dengan mendengarkan tubuh. Selalu tunaikan hak tubuh untuk diberi asupan makan yang cukup dan bergerak, apa lagi yang perlu kita takutkan? Aku termasuk yang sangat percaya bahwa kondisi pikiran yang akan menentukan kesehatan kita. Sekali kita sugesti sakit, maka akan beneran jadi sakit.


Toleransi

Pandangan orang tentang Covid ini beragam. Kondisi ini membuat kita kembali belajar artinya toleransi. Nggak perlu jengah sama mereka yang posting tentang Covid melulu, juga nggak perlu terlalu mengkhawatirkan mereka yang sepertinya abai prokes. Saling memahami pandangan masing-masing saja. Allah pasti melindungi kita dengan caraNya kok.

25.7.21

Jangan lelah menanam yang baik

 Karena nggak semua yang kamu tanam akan berbuah.


Ini tentang menanam dalam arti yang luas, bukan hanya soal tanam buah-buahan atau sayur, tetapi juga soal perbuatan baik dan mencoba berbagai kesempatan. Kata Allah kan, Dia tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu yang mengubahnya. Jadi jangan lelah berbuat baik dan mencoba berbagai kesempatan.


Hari ini aku mendapatkan pelajaran yang kontras dari dua orang tua. Keduanya sama-sama dalam posisi sakit, tetapi nasibnya berbeda. Yang satu mendapatkan curahan perhatian dan kasih sayang dari pasangan dan anak-anaknya. Yang satu nyaris tidak mendapatkan perhatian dari saudara maupun anaknya. Kok pada tega ya sama si orang tua kedua? Ternyata semua pada tega karena 'kapok' berurusan dengan beliau. Semasa sehat semua orang dia musuhi, termasuk anaknya sendiri. Akibatnya ketika terbaring sakit, hampir tidak ada yang peduli. Ibarat kata, kita akan menuai apa yang kita tanam, si orang tua ini semasa sehat nggak menanam kebaikan apa-apa, jadi nggak ada yang bisa dituai. Seorang kerabat ketika diberitahu keadaannya malah bilang, "Makanya suruh tobat itu." Sungguh, rasanya seperti nonton versi live sinetron Azab yang biasanya ditayangkan stasiun ikan terbang. 


Soal kesempatan juga begitu, bagaimana mungkin kita bisa berhasil dapat pekerjaan bagus dan pendidikan yang bonafid kalau kita sendiri tidak berusaha ikut seleksinya? Mau masuk kuliah biaya sendiri saja banyak persyaratan yang harus dipenuhi, apalagi kalau mengejar beasiswa. Baru daftar CPNS saja sudah harus modal bikin SKCK sama surat keterangan sehat, tambah swab2an mungkin pas pandemi begini. Tapi ya lebih baik gagal setelah mencoba daripada menyesal karena nggak pernah mencoba, kan? Di kantor ada tuh temen yang produktif publish paper, pas kutanya rahasianya, ternyata kuncinya satu, rajin menanam (submit) tulisan. Nanti ada kalanya paceklik (paper ditolak sana sini), tapi akan ada saatnya panen, yang penting tetap semangat menanam.


Jadi, jangan pernah lelah menanam hal yang baik. Mungkin bukan sekarang kita akan menuai, tapi kita pasti akan menuai apa yang kita tanam. Selalu berpikir positif dan optimis, karena kita adalah apa yang kita pikirkan. Teruslah berprasangka baik akan ketetapan Allah, walau saat ini kau rasa perih, nikmati saja perihnya!*selftalk

19.7.21

Kegunaan karet ban dalam bekas untuk rumah tangga

Waktu aku ganti ban, bapak pesen supaya ban dalemnya dibawa pulang. Sependek yang aku tahu sih, ban dalem motor ini bisa buat tali kalo bawa barang banyak di boncengan motor. Atau juga buat mengikat barang supaya gak 'lari-lari' saat perjalanan menggunakan mobil (itu barang apa balita sih kok lari-lari? Lol). Tapi ternyata, kegunaan ban dalam motor lebih dari itu! Bahkan kalo kubilang, setiap rumah wajib sedia ini buat pertolongan pertama pada kecelakaan perkakas rumah. Iya, P3K nggak cuma perlu buat penghuni rumah, tapi barang-barangnya juga. Jadi fungsi ban dalam ini antara lain:


1. Menambal pipa bocor

Ketika ada pipa yang bocor di rumah, tentu kita berhasrat menambal atau mengganti bagian yang bocor tersebut dengan yang baru. Mengganti jelas butuh biaya besar, tetapi menambal tentu lebih ekonomis. Tetapi, ditambal pakai apa? Ada sih semacam isolasi anti bocor gitu di marketplace, tapi sebenernya ada cara yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan, yaitu menggunakan kresek bekas dan potongan karet ban dalam. Ramah lingkungan kan? Memanfaatkan kresek bekas lho ini. Haha. 

Step 1

Jadi, sebelum memperbaiki pipa, bila memungkinkan matikan dulu aliran airnya, biar gak basah kuyup selama memperbaiki pipa. Dikira lagi adegan sedih sinetron, Pipaku Sayang Pipaku Malang, wkwkwk. Tapi sebenernya dalam kondisi basah juga gak masalah, karena kresek sama karet bannya nggak terpengaruh sama basah, cuma mungkin nanti agak licin aja pas ngiket karet bannya. 

Step 2

Tutup area pipa yang bocor dengan plastik, bisa kresek bekas atau plastik bekas wadah beras, pokoknya plastik bekas aja, biar berkontribusi mengurangi sampah plastik ye kan? (Yaelah kayak udah ngurangi sampah plastik berapa kilo aja). 

Step 3

Lilitkan area yang sudah ditutup plastik tadi dengan karet ban dalam. Pastikan potongan karet ban cukup lebar dan panjang sehingga bisa menjangkau area pipa cukup banyak. Tapi jangan kelebaran juga, nanti karet ban susah diikatnya. 

Jadinya gini deh. Emang jadi nggak aesthetic, tp ya yang penting secara fungsional tetep oke ye kan.



2. Menambal perkakas yang patah



Suka sebel hanger di rumah patah? Itu aku sih. Sama bocil hanger buat mainan, ya sukses patah lah. Mana patahnya beda-beda lagi. Diisolasi juga nggak mempan. Tapi ternyata dengan potongan panjang karet ban dalam yang dilikitkan, semua masalah patah hanger bisa teratasi. Bisa diterapkan buat barang patah lain. Tapi bukan buat mengatasi patah hati dan patah semangat loh ya. 


3. Pengait saat mengemas barang

Seperti yang dibahas di awal, karet ban ini powerful buat keperluan traveling (distribusi ding). Semua barang yang dikhawatirkan akan tumpah atau jatuh bila beroindah tempat, bisa diikat dengan kuat menggunakan karet ban dalam. Eh, tapi jangan buat ngiket hati si dia yang sudah tidak mencintaimu lagi ya..hihi..


Selain ketiga 'life hack' tadi, karet ban dalam bekas juga bisa dimanfaatkan untuk membuat kursi. Tetapi, butuh banyak karet ban dalam plus ban luar bekas juga. Jadi kalo buat pemalas sepertiku, ya mending beli kursi baru atau lesehan aja. Haha!

Ada lagi ide yang lain?

12.7.21

Nikmati prosesnya: Sebuah renungan dari Film Soul


Bulan-bulan ini seharusnya aku fokus membereskan draft paper dan memastikannya segera published di jurnal bereputasi. Tapi, menerbitkan tulisan ilmiah tidak semudah posting di blog. Jujur ada kalanya aku merasa sangat payah. Harusnya mudah kan? Tulis-submit-revisi-terbit, tetapi proses 'revisi' ini memang menguras energi, sekaligus banyak pelajaran yang bisa didapat sih. Mulai dari kesabaran menunggu draft kita diproses (awaiting assignment yang lama), revisi berulang-ulang namun akhirnya berujung penolakan. Sakit, tapi ya dari situ skill menulis dan time planning kita diasah. Dan di tengah keputus-asaanku karena satu paper yang belum juga ditanggapi sedangkan paper lain belum juga jadi draftnya, padahal akhir tahun ini harus ada satu paper published (satu saja seharusnya tidak susah, tapi nyatanya nggak mudah buatku). Tiba-tiba aku seperti 'ditampar' lewat film kartun yang aku tonton.

Soul


Menceritakan seorang musisi Jazz John Gardner yang menyambung hidup menjadi guru musik di SMP. Cita-citanya adalah perform bersama pemain Jazz terkenal di kotanya, Dorothea Williams. Dan ketika kesempatan itu datang, ternyata John kecelakaan dan koma. Arwah John tidak terima harus meninggal, padahal dia tinggal satu langkah lagi menuju kesuksesan. Dengan berbagai cara akhirnya dia bisa kembali ke dunia dan perform dengan sukses bersama Dorothea Williams. 


What's next? Nyatanya ketika dia sudah mencapai definisi suksesnya, yaitu manggung bersama idolanya, justru hatinya hambar. Lalu apa lagi yang jadi semangat hidupnya ketika impiannya terwujud? Dari sini aku merasa tertampar...

Frustasi karena tidak bisa produktif selama pandemi?

Frustasi belum juga ada output tulisan padahal sudah lebih dari pertengahan tahun?

Frustasi karena merasa nggak bisa ngajari anak dengan baik?

Frustasi karena berbagai urusan yang belum kelar?


Hmm...seharusnya aku ubah frustasi ini menjadi nikmati...


Tidak produktif selama pandemi, tetapi bisa tetap sehat selama pandemi saja itu sudah anugerah yang patut disyukuri kan? Dan selama di rumah saja, bonding sama anak jadi lebih baik.

Sampai bulan ketujuh belum juga publish tulisan, ya tetap optimis lah draft yang sedang ditanam akan dituai akhir tahun nanti (aamiin), sambil terus berusaha menuntaskan draft paper yang lain. Boleh merasa kecewa dengan kemampuan diri sendiri, tapi jangan pernah meragukan tangan Allah, just try my best. Selama ada kemauan dan usaha, pasti ada jalan. Bismillah.

Menikmati lagi belajar bersama anak, nggak perlu ngoyo dengan berbagai target. Fokus pada pembentukan kebiasaan yang baik pada anak selama pandemi ini. In sya Allah itu yang akan banyak berguna bagi kehidupannya. Usaha nemang harus jalan terus, tapi pasrahkan hasilnya pada 'Sang pemilik takdir'.

Begitu juga dengan berbagai urusan yang belum kelar, memang kalau urusannya sudah kelar, mau ngapain? Jangan sampai terjebak kayak si John, ketika harapannya terkabul, malah jadi bingung mau ngapain lagi. Percayalah bahwa dalam setiap perjuangan ada banyak hal yang bisa disyukuri. Allah itu Maha Baik, jangan membebani diri dengan berbagai terget yang membuat frustasi. Fokus pada langkah-langkah penyelesaian yang bisa kita lakukan, tetapi tidak perlu mentargetkan hasilnya, kadang hasil yang dipilihkan Allah berbeda dengan target kita, tetapi justru itulah yang terbaik buat kita. 


GLP, 12 Juli 2021

Semoga kita selalu lebih baik setiap hari. Begitu juga bumi yang sedang sakit ini. Aamiin.

24.5.21

Pengalaman di Dokter Alwi dan UGD Nur Rohmah Gunungkidul: Beware of 'masuk angin'

 


Dari kemarin Faris mengeluh perut kanan bawahnya sakit. Kami pikir itu masuk angin. Hari ini katanya sakit banget dan langsung kita bawa ke dokter. Sesuai saran Mbak Ika, pemilik kontrakan kita, dia saranin ke dr Alwi di Kemorosari. Katanya dokternya ramah dan nggak dikit-dikit obat. Benar saja, waktu aku daftar via WA, Pak dokternya langsung balesin (mungkin adminnya ya). Sip, testimoni ramah terbukti.

Sampai di tempat praktek, Alhamdulillah nggak antri. Setelah daftar, Faris langsung diperiksa. Baru cek awal, langsung diminta bawa ke UGD RS saja, takutnya itu gejala usus buntu. Soalnya Faris bilang sudah 3 hari sakit perutnya. Sip, testimoni RUM terbukti, ketika sudah ada gejala yang mengarah ke penyakit dalam, tanpa banyak kompromi langsung suruh cek lab. Anak jadi nggak kebanyakan konsumsi obat, ya kan?
Walo seneng dapet dokter yang to the point, tapi tetap khawatir dong, soalnya kalau hasil tesnya beneran usus buntu, ya kudu dirawat, mamak mana yang  gak panik coba? Untungnya Faris bilang perutnya nggak sakit kalo kakinya ditekuk (ciri usus buntu). Jadi ya udahlah, coba langsung ke UGD saja buat memastikan. Tujuannya ke RS. Nur Rohmah. Walo kata temen2 RS ini kurang rekomen, tapi pengalaman kemarin vaksin disini, nakesnya cukup komunikatif. Lagian males lah dah malem masih harus survei RS segala.

Alhamdulillah di RS Nur Rohmah menurutku pelayanannya memuaskan. Mungkin karena pasiennya sedikit ya, jadi kondisi nakesnya prima. Setelah ditimbang badannya dan diperiksa, Faris langsung diminta pipis dan air kencingnya diuji laboratorium.

Nunggu hasil lab


Agak lama nunggu hasil labnya. Pas menunggu, datang serombongan orang dengan kondisi pasien tidak sadarkan diri. Rupanya pasien diduga mengalami gejala stroke dengan kondisi yang agak terlambat, sudah terlanjur pendarahan sehingga ybs tidak sadarkan diri. Nah, ada satu kesamaan pasien ini dengan Faris. Gejala awalnya seperti masuk angin! Memang bener kalo di kedokteran nggak ada istilah masuk angin, karena ternyata itu bisa mengarah ke berbagai gejala penyakit, dari yang ringan sampai kritis! Jadi si pasien itu awalnya muntah pada pukul 2 siang. Dipikir hanya masuk angin biasa jadi langsung minum obat warung. Nah, pada pukul setengah lima, si pasien mulai ngomongnya nggak jelas. Sampai di sini orang rumah belum ngeh kalau itu gejala stroke (dari pembicaraan sih, si pasien nggak tinggal sama keluarganya). Akhirnya baru sekitar setengah 8 malam dibawa ke UGD dengan kondisi tidak sadarkan diri. Kata Pak Dokter Ganteng di UGD (ealah anaknya sakit masih ngeh aja beginian), waktu awal muntah itu sebenarnya sudah mulai gejala stroke, ketika bicaranya mulai nggak jelas, sebenarnya gejala strokenya sudah 'konfirm' dan seharusnya langsung dibawa ke UGD. Namun karena dibawa ke rumah sakit 3 jam kemudian, kemungkinan pendarahannya sudah sampai ke otak sehingga pasien tidak sadarkan diri. Pak dokternya bilang, "Kami akan mengusahakan sebaik-baiknya, tetapi semuanya tergantung yang di atas." Ah bapak, udah ganteng, religius lagi..ea..ea..

Well. Allah menyentilku tanpa aku harus 'terperosok', karena Alhamdulillah hasil lab Faris bagus, kemungkinan memang masalah pencernaan saja, bukan usus buntu. Tapi dengan menyaksikan sendiri pasien yang terlambat penanganan penyakitnya membuatku semakin sadar untuk:
1. Segera mempelajari berbagai gejala yang mengarah pada penyakit kritis. Mungkin belum buat kita, tetapi buat keluarga, tetangga atau rekan kita. Dengan memahami gejala penyakit kritis maka kita tidak akan menunda ke rumah sakit. 

2. Dengarkan alarm tubuh. Dari penuturan pengantar pasien, sebelumnya si ibu sudah kecapekan karena semalaman memasak. Kurang tidur, dan malah didoping dengan kopi. Ditambah punya penyakit darah tinggi, ya sudah, jadi sasaran empuk sakit stroke deh.

Tapi, dari hasil lab Faris, aku merasa sangat terbantu dengan artikel di situs kesehatan terpercaya seperti alodokter (mbok endors plis, ngarep). Coba kalau nggak googling dulu, pasti udah panik dan nggak tenang ketika disuruh cek lab dan ya ampun itu nunggu hasil labnya juga rada lama lho! Informasi pada situs seperti itu tentu sangat membantu di kala pandemi seperti ini. Jadi, kalau nggak darurat banget, bisa lah perawatan sendiri di rumah. Apalagi ketemu dokter ramah macam dokter Alwi, kayaknya besok-besok bisa konsultasi WA dulu nih, hihi.

Semakin betah tinggal di Gunungkidul dengan fasilitas kesehatannya yang baik dan tenaga kesehatannya yang ramah. Beneran di dua faskes semuanya ramah dari bagian pendaftaran, perawat, dokter, dan apoteker. Di dokter Alwi nggak bayar karena langsung cuss UGD, di RS nur Rohmah, dari total cek lab, jasa dokter, dan obatnya Faris habis Rp.125.000, separonya biaya konsultasi kehamilan (tok, belum sama obat) tahun 2018 di Sleman, haha! (Sama-sama Jogja tapi beda banget Sleman sama Gunungkidul)

How can't i not love Gunungkidul?

Ps: keep beware with your body sign ya gaes! Beware with people's health around us too. May Allah bless us with healthiness.

17.4.21

Living Book, Bagaimana Kriterianya?

Prinsip pendidikan ala Charlotte Mason sangat identik dengan living book. Hal ini karena CM sangat memprioritaskan soal keluhuran akal budi. Kenapa buku? Karena akal budi sifatnya spiritual, maka harus disentuh dengan sesuatu yang sifatnya spiritual. Hal tersebut bisa didapatkan dari buku. Pemikiran penulis hebat terefleksikan lewat tulisan bukunya. Pikiran bertemu pikiran. Sehingga anak akan lebih berpikir.  

Penulis living books biasanya adalah seseorang yang mempunyai passion dan cinta yang mendalam pada topik tersebut, tahu detail topik yang ditulis, dan yang paling utama adalah penyampaian topiknya dengan bahasa naratif.  Sehingga bila dibuat poin-poinnya, syarat living book antara lain:

1. Naratif dan sastrawi

2. Ada ide hidup

Living book ibarat imunisasi. melalui living book anak bisa merasakan berbagai pengalaman hidup tanpa mengalaminya langsung. Seperti contoh buku tentang kehilangan hewan. Disini akan ikut merasakan kehilangan tanpa benar-benar kehilangan.

Melahap living book ada tata caranya, yaitu:

1. Dibaca perlahan

2. Dibaca bertahap


Referensi soal living book bisa dilihat di:

Amblesideonline.org

Rilis Rekomendasi Tim Kurikulum CMid Tahap #1 – CMIndonesia.com

Daftar living book tidaklah mutlak. Orang tua perlu mengasah sendiri sense-nya terhadap living book. Lebih banyak membaca agar lebih banyak ide yang bisa disajikan kepada anak.

Fafa dan Living Book Favoritnya


Bagaimana Teknis Akademis Charlotte Mason?

Ini adalah narasi pertemuan ketiga Kelas Akademis Charlotte Mason. Pertemuan via Zoom kali ini semakin seru karena sudah mulai membahas soal teknis akademis ala Charlotte Mason. 

Karena hidup yang bermakna adalah yang utama...


Dalam menjalankan sesi akademis ala CM, orang tua/pendidik nggak bisa hanya sekedar menyuruh anak belajar. Pendidikan itu sifatnya spiritual sehingga perlu atmosfer belajar dalam keluarga. Sebagai orang tua kita harus senantiasa memasok ide dengan banyak membaca dan belajar. Dengan merutinkan kegiatan ini kita bisa menciptakan atmosfer belajar dan kedisiplinan untuk anak. Nah, orang tua pembelajar perlu kurikulum supaya kegiatan belajar tetap on track. Kurikulum belajar orang tua ini antara lain:

1. Pasokan ide secara teratur

Sebelum memberi 'sajian' ide untuk anak, kita perlu 'menyeleksi dan mengumpulkan bahan bakunya' dengan cara menganalisis terlebih dahulu kebutuhan 'bahan bakunya' apa saja. Pastikan bahan baku yang digunakan berkualitas dengan 'mencicipi' buku tersebut terlebih dahulu. Teruslah belajar dan mengumpulkan ide, karena orang tua juga born person yang masih terus berkembang pengetahuannya bila mau belajar.  

2. Latih kebiasaan baik.

Agar waktu lebih bermakna, coba kita kurangi scrolling sosmed, misal tidak nyaman membaca, mungkin perlu memperbaiki cara membaca. Atur waktu dengan baik dengan memprioritaskan kewajiban.

3. Manajemen diri

Ini erat kaitannya dengan mindfulness. Kita perlu memahami diri sendiri agar dapat memanajemen diri sendiri. Manajemen diri ini tidak hanya soal waktu, tetapi juga tentang ekspektasi kita terhadap diri sendiri, pengelolaan emosi, dan lainnya. 

4. Refleksi.

Setiap selesai belajar atau menemukan sebuah ide, penting untuk merefleksikan/ mengulang kembali hal-hal yang sudah dipelajari tersebut. Kegiatan refleksi bisa dilakukan tertulis lewat menulis diary, status, blog dll. Banyak cara untuk merefleksikan ide yang didapat. Tapi jangan keasyikan refleksi terus sampai lupa suplai ide.


Habit training.

Kebiasaan baik termasuk hal yang dibentuk dalam sesi akademis. Sebagai manusia pembelajar tentu anak perlu dibekali bagaimana belajar dengan baik, mulai dari niat hingga teknis yang efektif yang bisa dilakukan. Beberapa kebiasaan yang dibentuk dalam sesi akademis CM antara lain:

1. Remembering -) Lewat teknik sekali baca dan narasi, anak akan dilatih kemampuan mengingatnya  

2. Attention -) Teknik sekali baca dan narasi, anak akan belajar fokus dan dilatih kemampuan memusatkan perhatian

3. Imagining-) Daya imaginasi bisa dikembangkan lewat teknik narasi 

4. Observation -) Kemampuan observasi terasah lewat nature walk

5. Thinking -) Narasi, nature walk, dll dapat melatih kemampuan berpikir

6. Concentration -) Teknik sekali baca akan memaksa anak terbiasa berkonsentrasi 

7. Perfect execution -) Prinsip CM adalah belajar sedikit tetapi konsisten. Karena sedikit, maka anak bisa mengerjakan tugas dengan relatif sempurna 

8. Accuracy -) Dipelajari lewat matematika

9. Reflection -) Dipelajari pada narasi

10. Thoroughness -) Prinsip belajar sedikit tapi sering dan konsisten akan membuat anak terbiasa bekerja dengan teliti, karena pada rentang waktu yang masih relatif pendek anak masih berkonsentrasi dan bisa lebih teliti

11. Art sense -) Seni menjadi salah satu sesi akademis penting di CM. Sehingga art sense akan terlatih.


Menyuplai anak-anak dengan ide sama pentingnya dengan suplai makanan dalam tubuh mereka (Parents and Children, hal 39)


Education is a science relation. Tugas orang tua bukan menjejalkan sebanyak-banyaknya pengetahuan tetapi membantunya memiliki sebanyak mungkin relasi dengan perkara dan ide yang ia minati.


Sebelum memulai fase akademis, perlu persiapan, antara lain:

1. Kebiasaan taat

Ini adalah hal mendasar dalam membentuk pribadi yang berdaya guna. Anak perlu memahami ada hal-hal yang tidak bisa ditawar dan harus dilaksanakan apa pun alasannya. Seperti halnya makan, misal tidak mau makan, maka anak akan sakit, sehingga suka atau tidak suka dengan makanan tersebut, anak akan tetap makan. Pada poin ini, anak perlu tahu konsekuensinya bila tidak melakukan kebiasaan tersebut.


2. Kebiasaan memusatkan perhatian 

Contohnya saat bermain, anak dibiasakan untuk membuka mainannya satu persatu, tidak dengan jembrengin semua mainannya. 


3. Kebiasaan mengisi mental dengan ide hidup

Sedari dini anak dikenalkan dengan dongeng dari living book. Dengan membacakan living book maka mental anak secara bawah sadar akan terisi dengan ide hidup dari dongeng yang dibacakan. Saat usia dini, anak hanya diminta mendengarkan cerita tersebut.


4. Masterly inactivity

Sebelum 6 tahun jangan diberi jadwal terstuktur. Biarkan dia bermain bebas karena ini akan melatih kebiasaannya berinisiatif dan kreatif. Biarkan dia bebas memilih kegiatan apa pun yang ingin dilakukan diluar rutinitas seperti makan, mandi, tidur, dan latihan beribadah.


5. Nature walk

Anak usia dini penting untuk sering dipaparkan dengan alam. Berjalan di alam akan membantunya berelasi dengan ciptaan Allah. Relasi ini kelak akan berguna saat sesi akademisnya nanti.

 

Setiap subjek punya cara terbaik untuk dipelajari.Seperti pelajaran matematika dan musik tidak bisa didekati dengan living books.(Parents and Children, hal 279)


Dalam CM, ada tahapan pengetahuan yang harus dipelajari. Urutannya sebagai berikut:

 

1. KNOWLEDGE OF GOD (Dalam Islam dikenal dengan Habluminallah)

Relasi pertama yang harus dimiliki anak adalah relasi dengan Sang Pencipta. Pengetahuan ini tak boleh terabaikan dan paling menentukan kebahagiaan (Philosophy of Education hal 158). Kita sebagai orangtua bisa saja lengah dalam penjagaan terhadap anak-anak kita, tetapi Allah akan senantiasa menjaga dan mendampingi mereka. Jadi saat sendiri atau sesusah apapun mereka tidak merasa ditinggalkan. 

Kita perlu melatih kebiasaan beribadah pada anak, Ketika pendidikan formal 6 tahun, sumber pengetahuan akan Pencipta adalah dari kitab suci, karena ini adalah living book terbaik sepanjang zaman. 


(Poin kedua hingga poin ketujuh akan terkait terkait dengan Hablumminannas/hubungan antar manusia)


2. SEJARAH 

Setelah tentang agama, selanjutnya adalah sejarah. Dalam sejarah anak-anak belajar kebijaksaan. Bagaimana menyikapi suatu kejadian dalam sejarah, di CM anak akan membuat Book of Centuries. Yaitu semacam scrap book tentang peristiwa sejarah dari berbagai daerah sehingga diketahui relasi satu peristiwa dengan peristiwa lain.


3. SASTRA

Sastra berupa puisi. Satu pengarang 1 term. Nggak perlu anak diminta menganalisa. 


4. BAHASA

Bahasa sangat perlu dipelajari karena dengan kemampuan berbahasa, dia akan mampu berkomunikasi dengan baik dan mendefinisikan apa yang mereka rasakan.

Membaca nyaring. Dilakukan sampai SMU karena hal ini akan terus mengasah kemampuan membacanya.

Menulis. Dilakukan setiap hari, sedikit tetapi konsisten. 

Copywork. Menyalin. Tetap dari sedikit sedikit,

Dictation. Dengar, menyimak kemudian menulis. (habit of attention, remembering, dan menulis)

Tata bahasa. Paling akhir, karena cukup rumit.


5. BAHASA ASING. 

Tata caranya seperti teknik narasi. Bacakan cerita dan narasikan, sedikit dulu saja. 


6. CITIZENSHIP/kewarganegaraan.

 Ini erat kaitannya dengan pelajaran sejarah. Anak akan belajar tentang tokoh sejarah, mempelajari keberhasilan dan kegagalannya. Mbak Ayu pakai bukunya Plutarch. 


7. SENI

Pada pelajaran ini, poin pentingnya adalah anak belajar mengagumi dan mengapresiasi seni, karena kalau untuk memproduksi, nggak semua anak berbakat kesana. 

Picture study. Mengapresiasi lukisan. 

Composer study. Apresiasi musik

Folksong. Belajar lagu rakyat, musik dan kebudayaan

Drawing/painting. teknik menggambar, karena skill menggambar kadang diperlukan untuk mempermudah komunikasi.


Poin kedelapan hingga tentang KNOWLEDGE OF UNIVERSE/alam semesta (Habluminalalam=hubungan dengan alam semesta)


8. NATURE STUDY. 

Teknisnya, tentukan satu jenis, misal burung, maka nanti fokus membahas segala sesuatu tentang burung. Fondasinya adalah kecintaan tentang alam sehingga ada minat untuk menjalin relasi dengan subjek yang akan menjadi fokus pembahasan.


9. SAINS. 

Basicnya adalah ketakjubkan  dan ide untuk mempelajari sains.


10. MATH.

Kebenaran mutlak itu ada.


11. GEOGRAFI

Pelajaran geografi adalah yang paling kompleks, karena ada pelajaran soal narasi, istilah geografi, belajar mata angin, dan peta.

 

12. PENDIDIKAN JASMANI DAN HASTA KARYA

Tubuh adalah pemberian Tuhan yang harus dirawat. Pendidikan jasmani akan membuat badan sehat, dan berkarya lewat hasta karya akan membuat bahagia. Dengan keadaan sehat jasmani dan rohani maka kita dapat berdaya guna dan memberi manfaat maksimal kepada sekitar.


Jadi tahapan akademis CM ini dimulai dengan:

1. Memasok ide

2. Menarasikan. Untuk memastikan ide sudah ditangkap anak

3. Mendokumentasikan relasi. Ini adalah tahapan belajar anak selanjutnya. Mempelajari relasi pada bidang yang dia minati. Dokumentasi relasi bisa berupa: book of centuries, nature journal, map, dll


Pendidikan bukan tentang seberapa banyak buku yang dibaca, seberapa banyak pengetahuan yang dikuasai, ataupun seberapa besar skor nilai, tetapi seberapa dalam kita berelasi dengan pengetahuan tersebut.