12.3.26

Parenting Kind and Firm by Prita Tyas M. Psi, Psikolog

Mengasuh anak bukan membentuk jadi kita, tetapi membentuk mereka menjadi mereka. 
-Goodenoughparents-
Tahapan menjadi orang tua yang baik (kind) dan tegas (firm):
1. No labeling. Perhatikan pemilihan kata. 
2. Pastikan anak aman dengan kita. Latih kepekaan kita terhadap perasaan anak. 
3. Jelaskan konsekuensi dari setiap larangan agar anak mematuhi bahkan ketika kita tidak ada. 
4. Tegas tapi tetap mengakui perasaan anak. Terima perasaan kecewa anak, dampingi membereskan kekecewaannya, tapi biarkan dia membereskan sendiri masalahnya
5. Menjadi tangguh bukan berarti gak pernah emosi. Justru ketangguhan hadir ketika kita bisa mendefinisikan emosi kita dan mengatasinya
6. Gak ada anak yang dengan sengaja malas dan nakal. Cari tau sebabnya
7. Emotion check tiap pagi dan sebelum tidur
8. Sebagai ortu, set ekspektasi realistis n kelola emosi

Formula Manifesting Law of Attraction by HaiRomaa

Ketika keyakinan selaras dengan rasa syukur dan digabungkan dengan tujuan, manifestasi kita akan seakurat gravitasi bumi. 

Tahapan Law of Attraction:

1. Pikirkan apa yang kamu inginkan

2. Bersyukur

3. Yakin

4. Ikhlas

5. Selflove

6. Usaha

Usaha justru terakhir. Kita nggak perlu sibuk mencari tahu bagaimana caranya. It will find the way. Yang penting syukur, yakin, dan ikhlas dulu. 

Golden time/waktu sunyi:

1. Bangun tidur

2. Mau tidur

3. Sendirian

Perkataan dan rencana baik itu beda. Perkataan baik bagus untuk diumbar, kalau rencana (strategi), keep it by yourself. 

Affirmasiku:

Tidak ada yang tidak mungkin kalau Allah sudah berkehendak (poin 1-5) 

Tapi

Aku perlu sadar diri, ketika effortku nggak maksimal, maka wajar belum dapat hasil sesuai harapan

Tapi

Allah selalu kasih yang terbaik buat kita. Kalau hasil tidak sesuai ekspektasi, berarti ekspektasimu bukan takdir terbaik yang akan dijalani. 

Berusaha semaksimal mungkin (gak perlu merasa kurang usaha, setidaknya ada progres,teyap apresiasi), tapi pasrahkan hasil kepada Allah. 

10.3.26

Belajar Principle Based Parenting bersama Mbak Ellen Kristi

Sedari menjadi ibu, aku sangat suka mengulik soal homeschooling. Prinsip HS sangat ideal untuk dilakukan setiap keluarga. Tapi aku gak berani murni HS karena belum bisa konsisten. Pasang target belajar rutin bareng anak-anak aja sering loss, apalagi kalau nggak sekolah. So far anak-anak juga enjoy di sekolahnya. Tapi walaupun tetap bersekolah formal, aku tetap menyimak berbagai forum tentang parenting yang umumnya tokohnya adalah pelaku HS. Salah satunya Mbak Ellen Kristi. 

Buku beliau yang meramu prinsip pembelajaran ala Charlotte Mason (CM) berjudul 'Cinta yang Berpikir' telah banyak berjasa membentukku jadi ibu yang lebih tangguh. Tapi ketangguhan ini seperti agak melemah ketika berhadapan dengan Persiapan ujian akhir kelas 3 SMP anak lanang. Di sekolah diadakan tryout 6x berturut-turut untuk memastikan kesiapan peserta didik. Yang buat aku syok, nilainya jeblok pake banget. Langsung deh gentle parenting berubah jadi tiger parenting yang ternyata gak sesuai dengan kepribadianku. Sempat bertanya-tanya, kedepannya sebaiknya gimana, karena nggak mungkin aku tiger mode terus. Capek.

Pucuk dicinta ulam tiba. Ternyata Mbak Ellen sedang membuka lokakarya mengenai perumusan aturan prinsipil bagi anak. Selama ini satu2nya hal prinsip yang aku yakini adalah soal konsitensi beribadah, khusunya solat lima waktu. Sedangkan hal-hal yang bersifat dunia belum aku identifikasi lagi. Semoga setelah ini bisa lebih baik dalam mendidik anak. Aamiin. 

Sampailah waktu lokakarya tiba. Aku lupa saat itu lagi bukber, alhasil zoom sambil bukber. Ehehe.. Inti dari lokakarya ini, nanti peserta diajarkan mencari tahu sendiri prinsip dari peraturan yang akan ditegakkan. Sebelum lokakarya, peserta diminta menuliskan problem dan peraturan yang berjalan untuk mengatasi problem tersebut. Yang paling banyak adalah concern tentang screen time. Tema ini dibahas paling pertama dan cukup berkaitan dengan tema lainnya, termasuk concernku soal sesi akademis anak.

Salut sama kesabaran Mb Ellen membimbing setiap peserta merumuskan prinsip dan aturannya sendiri. Kita diajarkan mencari informasi yang efektif via AI. Jadi prinsip yang kita tetapkan adalah memang sesuai dengan hasil riset ilmiah. Terkait pendampingan akademis, ada satu quotes Mb Ellen yang akan aku pegang teguh dan jadi prinsip utama membimbing akademis anak. 

"Asalkan tidak ada screen time berlebih dan dia securely attached ke orangtua, pasti anak secara alamiah ingin bertumbuh dan berelasi dengan pengetahuan. it will bloom at Nature's time. have faith."

Mengimani ini saja, dan nggak ada yg perlu dikuatirkan lagi. May Allah straightened my faith. Aamiin. 

Terkait nilai Faris. Aku sekarang sudah berdamai bila memang nilainya kurang baik. Karena selama kebiasaan baik sudah dilakukan, apabila hasilnya masih kurang baik, ya berarti mungkin kekuatannya memang nggak disitu, dan pasti akan terbuka jalan yang seharusnya. Yang penting fokus ke proses, bukan ke hasil semata. 

Hasil Aturan Prinsipil Belajar Faris:

Prinsip Non-Negotiable untuk Jam Belajar Anak Laki-Laki 14 tahun: Sesi akademis adalah sesi terapi karakter ortu dan anak sehingga fokusnya pada pembentukan kebiasaan baik, bukan hasil.

Aturan turunan:

  1. Waktu belajar antara jam 18.00-20.00 (agar terbentuk kebiasaan rutin belajar)
  2. No gadget antara jam 18.00-20.00 (agar terhindar distraksi di jam belajar)
  3. Evaluasi belajar rutin (1-3 kali seminggu) untuk memastikan anak memang berproses belajar. (perlu konsistensi dari ortu untuk bersabar mendampingi prosesnya)

Selanjutnya akan ada kelas Mendewasakan Emosi dan Peta Jalan Pendewasaan Anak. In sya Allah bakal ikutan dan garis besarnya akan aku share lagi di blog. Selamat bertumbuh semua. Bismillah.

1.12.25

Pantai Ngetun. Hidden gem yang biarlah tetap hidden

Tau pantai ini dari tetangga yang asli Purwodadi, Tepus, Gunungkidul. Penasaran karena katanya belum ada retribusi masuk sini. Dan memang pantainya msih relatif sepi karena jalanannya yang ekstrim, jangan harap bisa bawa mobil kesini! Naik turunnya terjal banget. Tapi memang worthed banget begitu sampai pantainya. 


/>

Mau main air, menikmati sunset, atau hiking tipis-tipis, bisa banget disini. Buat camping kayaknya seru juga. Kesini pertama kali cuma berdua sama suami. Dan dalam minggu yang sama kesini lagi sama anak-anak.

 

                                                      

Kapan-kapan harus kesini lagi sih, karena memang sekeren itu buatku. Foto-foto di atas tebingnya nggak kalah sama pemandangan ikonik di Raja Ampat (ini sih sugestiku aja, karena belum kesampean ke Raja Ampat, haha). Sinyalnya susah disini. Tapi kalau naik ke Tebing nanti ada sinyalnya. Ada masjid gede bagus banget, tapi kayaknya kurang terawat. 


Misal ada pengajian plus rihlah bagus juga nih kesini.. Tapi ya itu, peernya di infrastruktur jalan, mengingat topografi jalanannya, kayaknya susah juga kalo mau dibangun, apalagi pantainya cuma 1 ini. Ya gpp sih, tetap jadi hidden gem aja ya Ngetun.

Perjalanan menemukan Batu Bolong di Pantai Watu Lumbung

 Kawasan pantai Girisubo, Jepitu sudah jadi destinasi pantai favoritku. Pertama karena kita dah hommy banget kemping di pantai Jungwok. Ibu pemilik warungnya baik banget. Tercatat sudah 4x kita kemping, dan nggak bosen-bosen.

Baca: Pengalaman kemping di Pantai Jungwok

Nah, ada satu pantai yang aku penasaran banget karena katanya ada batu bolong yang estetik buat di foto. Tapi perjalanan menuju kawasan pantai ini harus pakai motor. Nah, setiap kemping kan kita pasti bawa mobil, jadi nggak pernah bisa kesampaian deh kesini. 

Lalu, setelah minggu lalu sukses ke Telomoyo, minggu ini jadi pingin jalan-jalan lagi deh. Yang deket aja, karena masih pada UAS. Nah, ke pantai harusnya nggak jauh-jauh amat sih, akhirnya realisasikan deh ke pantai Watu Lumbung. 

Papan petunjuknya sih jelas. Jalanannya juga nggak seekstrim Pantai Ngetun, tapi tetep aja bikin was-was. Apalagi kita boncengan bertiga. Sampai di lokasi pantai, ternyata ke pantainya turun ke bawah dan agak curam (dah khawatir nanti baiknya gimana). Di tempat parkir ternyata selain bayar parkir kita masih dikenai biaya swadaya jalan 2000 per orang. Untung Fafa gak dihitung, jadi parkir dan masuk pantai kena 7000.


Sampai di pantai, Faris udah ogah-ogahan main air, akhirnya cuma duduk di pinggir pantai, sampai ketiduran, dan setelah bangun pun ternyata aku dan Fafa belum selesai explor pantai. Lha batu karangnya luas banget, dan obsesiku cari batu bolong belum ketemu juga. Seru banget liat ikan-ilan kecil di cekungan batu karang. Ombaknya lumayan gede, jadi Fafa agak takut. Padahal ya aman sajalah, kan karangnya nggak kalah gede. Akhirnya sampai Fafa pingin pulang, batu bolongnya belum ketemu juga.


Udah pasrah, ah jangan-jangan bukan pantai yang ini kali ya? Alhamdulillah ternyata batu bolongnya ada di sisi kanan pantai. Aku sibuk eksplor sisi kiri, ya nggak ketemu-ketemu. Ternyata batunya kecil cuy. Beda sama ekspektasiku. Tapi yang penting akhirnya ketemu juga. Pengennya sih difotoin disini, tapi karena dua anak dah ngambek ibunya nggak mau pulang (agak lain emang aku, haha), jadi cuma foto seadanya aja deh. Yang penting nggak penasaran lagi yes! 

Akhirnya ketemu juga sama batu bolong

Pulangnya mampir ke warung dulu karena harus banget naik ke tempat parkirannya. Huhu.. Berikut video rekapnya.


Rekap biaya:

Retribusi kawasan pantai: Rp. 8000 per orang

Retribusi di Pantai Watu Lumbung: Rp. 3000 parkir, Rp. 2000 per orang iuran jalan. 

Plus tambahan biaya bahan bakar buat kendaraan dan orangnya.. Hihi.. 

Dadakan ke Telomoyo

Berawal dari cari sarapan ke Pawon Purba. Vibesnya jadi kayak mau touring-healing gitu kan ya. Kepikiran, gas kemana gitu kayaknya seru. Banyak destinasi yang pengen dikunjungi, tapi karena sudah sampe Nglanggeran, kayaknya mending menuju sekitaran Klaten aja. Tiba-tiba kepikiran dah penasaran pengen ke Telomoyo. Walau bukan di Klaten, kayaknya perjalanan gak jauh amat. 68 km, ya nambah 20-30 kilo dari biasa kalo ke Jogja, bisa kayaknya. Akhirnya dengan bawaan seadanya kita cuss. Untung duo FREE pake jaket semua, di Telomoyo dingin banget cuy. 


Pelajaran 1: persiapkan trip sebaik mungkin. 

Perjalanan kami ke Telomoyo kayaknya agak nekat deh. Karena sepanjang perjalanannya ternyata hujan deras berkali-kali. Sempat kepikir balik tapi anak-anak semangat terus lanjut. Ya udah, jalan terus! Demi Allah kalau tanpa perlindungan Allah mungkin udah pada sakit kita, karena cuacanya ya hujan, reda, hujan, reda terus. Kebayang kalo misal gak boleh naik sampai puncak Telomoyo, ya pasrah lah. Beruntung sampai di Telomoyo cuaca terang. Jadi kita berhasil sampai puncak, tapi nggak sampai puncak banget, soalnya udah penuh parkiran Jeep. 

Pelajaran 2: Kurangi ekspektasi

Kalau di sosmed, Telomoyo tuh kece banget dengan lautan awan. Tapi karena kemaren udah sore dan cuaca mendung, jadi ya cuma kabut doang. Dan karena sudah mengurangi ekspektasi, jadi nggak kecewa-kecewa amat. 



Pelajaran 3: Selalu ada yang menarik dalam setiap perjalanan

Pas masuk gerbang Telomoyo, kita lihat ada cafe yang kayaknya cozy buat istirahat. Ternyata cafenya cakep banget! Banyak satwa mulai dari burung-burungan hingga ikan dengan aquarium yang unik. Ada tempat makan di tengah aquarium, jadi vibesnya kayak kita lagi makan di dalam air. Hihi.. Plus bunga-bunga disini cantik-cantik. Fafa puas eksplor bebungaan di cafe ini. Alhamdulillah, perjalanan jauh ini terasa worthed karena mampir ke cafe ini. Setelah kukepoin IG cafenya, ternyata bisa naik shuttle ke kafe ini dan gak perlu bayar karcis masuk Telomoyo. Tapi minusnya ya jadi gak bisa ke puncak sih. 




Masih nggak nyangka kita bertiga perjalanan melintasi Klaten-Boyolali-Semarang-Magelang naik motor demi ke Telomoyo! Next pengen ke kebun sayur Sukomakmur, tapi kalo dari jarak lebih dari 100 km, mikir-mikir dulu deh.. 

Rekap biaya: 

Retribusi masuk Telomoyo via Dalangan: Rp. 15.000 per orang

Spot foto: Rp. 3000 per orang

Toilet: Rp. 2000 per orang

Plus biaya bensin n makan yang cukup boros karena jauh cuy! Haha

29.9.25

Kekuatan Percaya dan Usaha: Cerita layangan putus di Pantai Jungwok

Ini adalah refleksi dari kemping keempat kami di Pantai Jungwok. Nggak bosan kesini dan selalu ada cerita baru. Kali ini tidak sekedar cerita eksplorasi keindahan alam di kawasan pantai Jepitu, Girisubo, tapi sebuah refleksi kehidupan yang didapat dari semalam kemping. 

Anak wedok menikmati Pantai Jungwok

Pada kunjungan kali ini anak lanang bawa layangan untuk diterbangkan di kawasan pantai. awalnya susah buat terbang karena angin di Jungwok kurang stabil. Sampai akhirnya layangan itu berhasil terbang, aku langsung videokan dan saat Jelang Magrib bilang  "Le, apa mau diturunin dulu? Kan udah ibu videoin. Wis ada bukti nek layangan e iso muluk neng Jungwok"

Tapi anak lanang mau coba nerbangin layangannya semalaman. Ternyata pas malam anginnya tetap gak stabil bahkan cenderung kencang. Sampai akhirnya anak lanang menyadari kalau layangannya sudah gak ada. Spekulasi bermunculan, anak lanang ngira layangannya dicuri. Tapi kami sebagai orangtua yakin layangannya putus. Ya kali gelap gitu ada yang mau nyolong layangan. Akhirnya kami putuskan besok pagi coba cari layangannya. 

Anak lanang sempat gelisah gak bisa segera cari layangannya, tapi karena memang kondisi sangat gelap, justru bahaya kalau dipaksa cari sekarang. 

Pelajaran pertama: Bersabar dan selalu pakai logika dalam bertindak

Akhirnya, pagi menjelang, kami bergegas menaiki bukit untuk mencari layangan. Tapi sampai atas bukit tidak ada tanda-tanda layangan terhampar. Spekulasiku, misal terhampar, bisa saja sudah diberesin petani, karena perbukitannya dipenuhi tanaman pangan dan di sisi kanan ada ternak sapi. Anak lanang sudah menyerah cari. Tapi aku masih yakin bisa menemukan. Sampai mbatin, "Ya Allah, kalau sampai layangannya ketemu, aku mau nazar puasa sehari."

Aku hanya fokus layangannya ketemu aja dulu. Sambil menikmati pemandangan pantai dari atas bukit, ternyata bisa lihat pantai Wediombo dari atas situ. Tapi jalanannya mulai lebat belukar, saat itu posisi sendirian, tapi aku masih yakin layangannya jatuh di sekitar situ. 

Pelajaran kedua: Teruslah berusaha dan percaya Allah bantu

Ajaib! Tiba-tiba aku melihat seuntai kain panjang putih di cabang pohon. Aku berusaha mendekat untuk melihat, apakah itu layangan anak lanang, atau sekedar spanduk yang terjuntai. Agak sulit untuk mendekat karena belukar yang cukup tinggi dan aku takut kalau ternyata ada lubang yang tidak terlihat. Akhirnya aku foto seadanya. Dari foto kelihatan sambungan layangannya, jadi aku bisa pastikan itu layangan anak lanang. Alhamdulillah, Allah kabulkan doaku dalam hitungan menit. Di saat aku pasrah nggak mungkin melanjutkan pencarian karena medan perbukitan yang dipenuhi semak tinggi. 

Pelajaran ketiga: Berusaha maksimal itu harus. Tapi tetap mengukur kemampuan

Kalau nurutin ego, rasanya pengen ambil dan bawa layangan itu sendiri. Tapi aku sadar mendekat ke layangan itu saja aku ragu, kalau aku ilang di sini kan gak lucu. Akhirnya aku turun dan memberitahukan ke mereka. 

Rescue segera dilakukan, tapi ternyata aku agak lupa jalanku kesana. Di lain sisi, anak wedok nunggu di bawah sendiri karena udah capek. Akhirnya aku cuma kasih ancer-ancer ke mereka dan balik nemenin anak wedok. Dari situ aku ngerasa, tadi aku bisa ketemu layangannya bener2 karena dituntun Allah ya. Coba nggak, Jangan-jangan malah aku belum bisa keluar dari bukit ini. 

Alhamdulillah, layangan berhasil diturunkan dengan kolaborasi ayah dan anak. Ekornya ditinggal karena susah buat nuruninnya. 

Pelajaran keempat: Intropeksi diri sebelum menyalahkan orang lain. 

Saat itu anak lanang mengira ada yang curi layangannya. Padahal nggak mungkin ada orang sebodoh itu nyuri layangan gede. Mending nilep HP, wong di warung banyak yang nitip ngecas HP, kalau memang niat maling, mending maling itu. Ternyata memang layangannya putus. Anak lanang sudah ngiket talinya dengan benar, namun kurang mitigasi soal kekuatan tali layangannya. Sebuah pelajaran untuk penerbangan layangan selanjutnya.

Pelajaran kelima: Baiklah sama keluarga dan mereka yang memperhatikanmu. Kalau kamu ada masalah, merekalah yang akan bantu. 

Tanpa keyakinanku bisa menemukan layangan itu, adiknya yang gak rewel dan bersedia ditinggal buat cari layangan kakak, dan bantuan ayahnya untuk nurunin layangan adalah bukti bahwa keluarga adalah penyelamat kita. Ayahnya bahkan sampai sakit pinggang karena harus manjat pohon buat ambil layangannya, tapi ya gpp demi anak lanang. Semoga kita semua dipenuhi rasa cinta dan syukur ya. Peluk jauh buat para orang tua dan anak2 di dunia (sejatinya semua yang sudah punya anak pasti memerankan 2 hal ini kan?)