24.10.14

Tarbiyah Jinsyah di SDIT LHI

Sabtu ini, aku dapat kesempatan emas mengikuti seminar parenting yang diadakan SDIT Lukman Al Hakim Internasional, berkat tiket gratis yang diberikan Mak Ida Nur Laila selaku pembicaranya. Tenyata sekolahnya ini deket rumah pakdeku. Lumayanlah, seminar gratisan sambil survey, sekolah ini sekeren apa sih? Soalnya teman-teman banyak yang menyekolahkan anaknya disini.
Sekolah ini memang keren, sempat kepikir buat hijrah ke wirokerten demi Faris sekolah disini. Tapi mikir itu ntar deh, SD nya Faris masih belum tentu di Jogja juga.



Tema seminar parenting kali ini adalah mengenai Tarbiyah Jinsyah. Secara harfiah Tarbiyah Jinsyah berarti pendidikan sex. Tetapi pendidikan sex tak melulu tentang bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh dipegang. Lebih dari itu, masalah pendidikan sex juga harus mengajarkan tentang:

1. Mengenalkan jati diri dan identitas. Masalah kelamin adalah takdir, jadi no excuse buat lelaki yang kecewek-cewekan atau wanita yang kecowok-cowokan. Semua harus menerima takdir kelamin anak, jadi nggak ada ceritanya dapat anak cewek tapi pengen anak cowok terus anaknya didandanin cowok. Nggak boleh itu.

2. Pengajaran fikih laki-laki dan perempuan. Perbedaan anatomi fisiologis antara laki-laki dan perempuan membuat beberapa fungsi tubuh berbeda seperti fungsi reproduksi. Oleh karena itu perlu diajarkan fikih/ilmu tentang laki-laki dan perempuan. 

3. Tentang akhlak. Bahwa ada beda tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan. Jadi, nggak ada tuh namanya persamaan gender, karena memang harus ada pembagian tanggung jawab antara keduanya.

4. Aplikasikan rumah islami. Yaitu minimal ada satu kamar orang tua(karena orang tua butuh privasi yang lebih, apalagi menyangkut kebutuhan biologisa, hehe) dan satu kamar untuk anak cewek. Anak cowok nggak dikasih kamar nggak apa-apa, karena aurat cowok lebih sedikit dibanding cewek. Yang ideal sih rumah ada musholanya segala.

5. Sinergi antara rumah, masyarakat, guru, dan pemerintah.
Jangan egois hanya mementingkan pendidikan anak, edukasi juga masyarakat sekitar, karena ibarat menanam tanaman, tidak mungkin kita hanya mementingkan bibit unggul tanaman kita, tetapi tidak memperdulikan tanaman orang lain. Karena kita tidak bisa menentukan arah angin, panen kita bisa ikut gagal kalau panen tetangga gagal. Anak kita bisa bermasalah, kalau lingkungannya bermasalah.

Waspadai bila anak menjadi murung. Tetaplah menjadi orang pertama bagi anak bercerita masalahnya, jangan biarkan anak jadi pribadi yang tertutup dengan orang tuanya.

Saat ini terjadi kerancuan metode pendidikan seks, antara lain:

1. Berdiri sendiri, tidak termasuk dalam agama, dan dipandang sains semata.

2. Terlalu dini mengajarkan secara vulgar. Seharusnya ada tahapan pendidikan sex sesuai usianya. Seperti  yang pernah ditulis Mak Ida disini.

3. Hanya membatasi empat daerah terlarang.

4. Hanya berdasarkan rasa nyaman dan terancam. Lha, kalau kasus Emon, anaknya nggak terancam lho, malah senang dekat Emon.

5. Kurang mengaitkan perlindungan keluarga dan malah mendahulukan intervensi pihak luar.

Nah, perlindungan keluarga penting sekali kan. Nah, sudahkah anda melindungi diri dan keluarga dari kejahatan seksual? KEB punya ebook panduannya, gratis. Bisa PM aku di FB ini ya...

Semoga kita ersama bisa terhindar dari kejahatan seksual. Aamiin.

Baca keseruan lain seputar keluarga. Plis klik: Housewife's diary
 
Reaksi:

2 komentar:

  1. Loh ini kok lengkap. Aku tidak mencatat, murid yang tidak baik. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. iki yo sembari mencontoh slide yg dikirimin mak ida..hehe

      Hapus

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...