15.7.14

Wajibkah Class Meeting?

Kenapa harus ada class meeting?

Class meeting. Siapa nggak tau class meeting? Dari zaman aku masih jadi murid, sampai sekarang seumur adik-adikku jadi guru, istilah jeda waktu antara selesai ulangan umum dan pembagian raport istilahnya nggak berubah-berubah. Padahal kurikulum ganti sudah entah berapa kali.
Daan, selain nama yang tetap, kegiatannya juga tetap aja gitu-gitu doang. Males banget kan? Beberapa teman yang anaknya sudah SD saja sampai menyuruh anaknya bolos saja. Lah, di sekolah nggak jelas kegiatannya, cuma bikin kotor baju seragam saja mending juga main di rumah, pikir temanku.
Dari tahun ke tahun kok ya nggak ada evaluasi ya tentang ini? Kalau memang kapasitas guru nggak sanggup menghandle anak-anak saat class meeting-ya maklum aja, guru-guru kan sibuk koreksi ujian. Ya mbok gak papa sekolah diliburin dulu, nanti pas bagi raport masuk lagi.
Paling oke sih pas class meeting ada kegiatan. Biasanya sih gitu, tapi kadang koordinasinya separoh-separoh, ya iyalah, fokus guru menilai ujian kali ya? Jadinya ya terkesan main-main class meeting ini.
Padahal ya, class meeting itu asyik banget. Apalagi kurikulum pendidikan kita masih memfokuskan pada kegiatan di dalam ruangan. Dengan class meeting, anak bisa refreshing melakukan berbagai kegiatan olahraga, outbound, dan berbagai kegiatan yang mengasah sembilan kecerdasan secara optimal dengan kegiata di luar ruangan.
Teringat zamanku sekolah dulu. Paling hanya segelintir siswa yang benar-benar memanfaatkan class meeting dengan kompetisi olahraga. Tapi siswa yang nggak mahir olahraga sepertiku, ya cuma jadi penonton setia aja. Bete deh. Saat class meeting ongkos transportasi buat ke sekolah rasanya terasa banget. Coba deh kalo di rumah aja, duitnya bisa ditabung jadi berapa tuh?*dah dari kecil pelit diriku rupanya, hahaha!
Oh ya, sepupuku sampai ada yang kekeuh males ke sekolah karena dipaksa jadi tim sepakbola. Wah, wah, dipaksa segala? Jangan-jangan sudah semakin jarang yang suka olahraga ya? Apa kata menpora?*lho
Ye..tadi nyalahin guru, sekarang menpora, lha sebagai (calon) wali murid emangnya aku dah ngapain? Makanya ya, dari Faris bayi juga aku rutin baca tentang pendidikan anak. Bukan berarti aku berambisi jadi guru(walaupun pengen), tapi ya buat jaga-jaga. Kalau ternyata sekolah anakku nanti kurang asyik, di rumah pasti selalu asyik lho. Hehe..
Agak tertarik juga dengan metode homeschooling, tapi aku sama sekali belum berniat meng-HS-kan Faris. Selain Faris memang senang bersosialisasi' menurutku sekolah umum+belajar di rumah dengan acuan HS(milih metode Mantessori, Charlotte Mason, apa metode suka-suka, pokoknya terstruktur) hasilnya pasti luar biasa. Menurutku loh ya..
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...