8.3.14

Ibu Harus Bekerja, Tuntutan Siapa?

Hari Kartini masih lama, tapi aku ingin cerita tentang peranan wanita atau emansipasi. Tepatnya, tentang ibu bekerja.
Bekerja, bagi sebagian masyarakat, termasuk keluargaku, adalah kegiatan wajib setelah selesai sekolah. Mau jadi karyawan swasta, BUMN, atau PNS, pokoknya harus bekerja ‘eight to five’. Yang namanya berdagang dan wirausaha itu hanya dipandang sebelah mata. Apalagi kalau jadi ibu rumah tangga tak berpenghasilan. Ah, siap-siap saja jadi bulan-bulanan dan objek penderitaan.
Sebagian masyarakat Indonesia cenderung mencari aman dengan bekerja sampai pensiun. Makanya pembukaan pegawai negeri pasti ramai peminatnya. Soalnya pekerjaan seperti ini memang jadi primadona sih, kerjanya enak, dapat pensiunan lagi. Siapa yang ga pengen?
Celakanya, hanya sebagian kecil orang bisa menembus ketatnya persaingan pegawainegeri. Yang nggak lolos cuma bisa gigit jari, kembali terpuruk dengan tuntutan keluarga, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Mau berusaha buka usaha sekedar untuk menyambung hidup saja, dicibir dimana-mana. Padahal mereka yang berwirausaha ini sangat mulia loh, meningkatkan perekonomian negara, dan nggak sekedar menghabiskan APBN. Apalagi kalau usahanya sukses, bisa membuka lapangan kerja! Kan jadi nggak perlu ngemis-ngemis BLSM atau menghabiskan subsidi.
Sayang, sebelum wirausahawan ini sukses, beberapa diantaranya akhirnya menyerah dengan tekanan lingkungan, keluarga menuntut untuk segera bekerja, masyarakat juga mencemooh, “Wah, sarjana kok jualan? Ga eman-eman ijazahnya.”
Temanku yang keluarganya sukses berwirausaha berkata, “Jangan takut wirausaha, mereka yang gagal wirausaha itu mereka yang meyerah sebelum berhasil. Kakakku juga ga langsung sukses wirausaha, awal-awalnya gagal terus. Tapi mereka ga nyerah. Bapak Ibuku juga support terus. Makanya aku berani ambil keputusan wirausaha.”
See? Keluarga seperti ini sudah langka! Ga sedikit orang tua yang malu mendapati anaknya berprofesi sebagai pedagang, ataupun sebaliknya, ada juga anak yang malu bapaknya hanya pedagang asongan. Oh, sampai kapan mental seperti ini kita pertahankan! Kenapa orang-orang yang ingin berdikari dengan berwirausaha malah dicemooh. Disangsikan masa depannya, dianggap lebih rendah dari pegawai kantoran? Nggak munafik, alasan ini juga yang membuatku belum siap melepas status sebagai “pekerja”.
Secara aktualisasi diri, ya aku perlu pengakuan sebagai wanita gaya yang pergi bekerja dengan seragam rapih dan wangi. Secara ekonomi, aku juga butuh, karena karyawan  pasti gajian setiap bulan, nominalnya juga lumayan untuk membantu perekonomian keluarga.
Aku bukan ingin mencibir para ibu bekerja. Sebagai salah satu ibu bekerja aku juga bukan ngotot mau resign dan ingin nyaman menjadi ‘ibu rumah tangga biasa’. Tetapi sekedar ingin menyemangati diri sendiri.
“Manfaatkanlah pekerjaanmu untuk berdaya guna bagi sesama wahai para ibu bekerja. Tidak perlu merasa bersalah dan berlomba-lomba resign demi menghilangkan rasa bersalahmu. Pastikan saja bekerja untuk ibadah.” Nasehat ini yang selalu terngiang-ngiang di kepalaku.
“Tapi, bila ternyata harus memilih, tetaplah memilih keluarga. Kurang bukti apa lagi untuk membuktikan bahwa rezeki Allah dari mana saja, bahkan 9 dari 10 pintu rezeki adalah berdagang. Insya Allah rezekimu akan dicukupkan olehNya. Pastikan saja keluarga terurus, dan tetaplah produktif.”
Curhat ibu bekerja yang sedang galau.

Repost dari my kompasiana: http://sosbud.kompasiana.com/2014/03/08/ibu-harus-bekerja-tuntutan-siapa-640049.html
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...