5.3.14

Curhat Rabu Sore: Bukan Pengajian Biasa

Aku lagi apes. Eh, mungkin bukan apes, tapi buah dari keteledoranku. Jadi, sore itu aku bolos satu jam kerja karena akan pengajian. Biasa sih hal seperti itu dilakukan, yang penting pekerjaan sudah beres. Memang saat itu aku ga resmi izin sama bos. Tapi, titip pesan sama teman kerja sih. Nah, karena ga izin resmi itu, makanya aku sepertinya agak apes. Padahal niatnya mau pengajian loh. Tapi, tetap saja, kalau caranya kurang bagus ya hasilnya kurang bagus.

Apes yang pertama karena perutku agak sakit. Untungnya nggak terlalu parah. Dibawa jalan-jalan juga sembuh.
Selanjutnya apes yang kedua karena Faris nggak mau ke pengajian. Nangis heboh di tempat pengajian. Malu deh. Akhirnya, aku cari akal untuk membujuknya ikut pengajian. Minta ke terminal bus, oke. Minta beli susu, minta batagor, baiklah. Apapun yang tuan muda minta, asalkan bisa ikut pengajian.

Apes ketiga, ternyata Faris nggak bisa bertahan lama duduk manis di pengajian, maunya lari-lari. Ya sudah, mainlah nak. Tapi, ternyata Faris nggak mau. Lari-larinya harus ditemani ibu. Olala, bisa dibilang masa kecil aku ikutan lari-larian. Beginilah nasib punya balita aktif.

Awalnya, aku mau jaim nggak ikut lari-larian. Awal-awalnya Faris juga nurut. Kuakui, pengajian memang membosankan buat anak-anak. Faris mulai rewel. Dia protes kalau harus lari-larian sendiri. Dia kembali memintaku untuk menemaninya lari-lari. Kali ini dia berteriak. Waduh, semua mata memandang ke arahku. Akhirnya, aku menuruti kemauan Faris. Dalam hati aku menyesal ikut pengajian kalau ga bisa konsen begini. Tapi, ya memang harus datang, soalnya diundang khusus sama empunya rumah.

Sepanjang menemani bermain, baru kali ini aku merasa aneh. Aku iri dengan ibu-ibu yang anaknya anteng, iri dengan ibu-ibu yang bisa meninggalkan anaknya, sementara dia bisa konsen mengikuti ceramah. Sementara aku, malah dapat capek lari-larian.

Tapi, untunglah perasaan itu langsung kutepis. Insya Allah aku sudah melakukan yang terbaik. Tidak ada pekerjaan yang sia-sia. Faris adalah prioritas. Kalau memang dia sudah tidak nyaman, aku yang harus mengalah. Walaupun harus mengorbankan majelis ilmu, Insya Allah akan ada gantinya.

Suatu saat aku berharap, format pengajian di tempatku bisa dibuat lebih attraktif dan tidak monoton. Kalau perlu ada pemandu khusus untuk anak-anak yang ikut pengajian. Karena, usia anak balita memang belum bisa disuruh duduk anteng mendengarkan pengajian. Tapi, membiarkannya bermain sendiri tanpa pengawasan juga bukan hal yang bijak.

Akhirnya, setelah sempat 'kabur' sampai lapangan bola, akhirnya Faris mau diajak kembali ke tempat pengajian. Syukurlah acaranya sudah selesai, aku bisa langsung bersalaman dengan ibu-ibu pengajian lain. Lalu, bergegas pulang.

Sesampai di rumah, Faris kembali mengajak ke terminal bus. Hari sudah sore, hampir magrib, tapi entah mengapa aku mau saja menuruti keinginannya. Di terminal, terdengar jelas suara ngaji dan tilawah dari kaset. Suaranya sangat jelas, walau aku tidak tahu itu surat apa, tapi tilawahnya mampu menggetarkan hatiku.

Kutatap awan, kutatap pepohonan.
Orang yg Beriman (Ghāfir):13 - Dialah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezeki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah).

Mungkin kira-kira potongan ayat itu yang aku dengar. Subhanallah, rupanya pengajian sesungguhnya aku dapatkan di terminal bus. Pengajian dalam arti sebenarnya, walau hanya dari kaset. Seketika aku tidak lagi kecewa karena merasa tidak mendapat ilmu apa-apa dari pengajian tadi. Ternyata ilmu dan pencerahan bisa datang dari mana saja, bahkan di terminal bus yang gelap dan kotor ini. Ya Allah, mana mungkin aku bisa mendustakan nikmatMu? Terima kasih ya Allah. Aku bisa meresapi indahnya islam sembari tetap bermain dengan anakku. Alhamdulillah.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...