25.2.14

Surga itu Dekat

Jika surga dan neraka, tak pernah ada. Masihkah kau, menyebut namaNya?
Oh yes. Of course. Aku beribadah dan menyebut nama Allah bukan karena mengharap surga. Bukan, bukan itu. Aku beribadah sebagai rasa syukurku. Gimana ngga? Nikmat Allah itu luar biasa sekali. Kalau ada yang bilang bahagia itu tergantung bagaimana kita bersyukur. Yes, i'm absolutely agree. I feel it.
Kalau mau merasa kurang dan sedih, ada banyak hal yang bisa membuat terpuruk. Tapi kita diajarkan untuk selalu berpikir positif. Saat diberi cobaan kesusahan dan bencana, kita dianjurkan untuk sholat dan berdoa. Lalu, hei! Tiba-tiba kita berubah menjadi pribadi yang lebih kuat. Kadang kita ga menyadari itu. Kalau yang udah putus asa, pasti ga habis-habis meratapi dan mengutuk hidup. Kalau yang optimis, pasti lempar senyum dan berkata,
"Badai pasti berlalu Bro."
Surga itu dekat. Percaya gak? Aku percaya. Wong aku sekarang lagi di surga. Ga percaya? Coba deh kita tuker peran.
Hehe. Bercanda ding, jangan mau lah tuker peran sama aku. Hidup kita itu dah bahagia dengan porsi masing-masing. Kalau tuker peran, belum tentu kita bisa hepi. Makanya aku ga iri sama mereka yang kaya nan cantik itu. Karena kecantikan dan kekayaan kan juga cobaan.
Ada sebuah cerita. Boleh dapat dari posting grup teman. Salah satu contoh bahwa yang mereka sebut bahagia seperti di surga itu belum tentu surga buat kita. Pikiran lah yang membuatnya menjadi seperti di surga.
"Di sebuah kamar
di RS hanya ada 2 ranjang. Ranjang yg 1 dekat dg jendela & yg 1 lagi jauh dari jendela.

Setiap harinya gadis yang terbujur lemah, yang berada di ranjang dekat jendela menceritakan apa yg dia lihat ke seorang ibu yg terbaring di ranjang satunya lagi.
"Apa yg kamu lihat hari ini?" Kata Ibu itu.
Gadis itu menjawab
"di luar ada anak2 kecil berlari riang sedang main dgn anjing kesayangannya. Ada gemerlap lampu2 taman yg indah. Banyak sekali angsa2 lewat di kolam." Dengan riangnya gadis itu bercerita.

Hari demi hari Ibu itu bertanya ke gadis itu. Gadis itu terus menceritakan apa yg dia lihat di luar jendela.
Akhirnya pada satu malam gadis itu sesak nafas,
Ibu itu bisa aja membantu gadis itu dengan memencet bell agar suster datang tapi di biarkan saja.

Dlm hatinya,
ini kesempatanku utk bisa pindah ke ranjang sebelah dkt jendela jika gadis itu mati jadi bisa lihat pemandangan luar.

Esok harinya gadis itu meninggal; Ibu itu berkata ke suster
"aku mau pindah ke ranjang dkt jendela"
dengan riangnya Ibu itu melongok ke jendela begitu dia pindah.

Apa yang dia liat?
Hanyalah 'atap dan tembok '
Karena rupanya gadis itu buta.

Mengucap syukurlah dalam segala hal, karena Setiap org juga punya cerita indah masing- masing...:)

Tuh. Terharu deh bacanya. Dalam kebutaan, si gadis bisa membayangkan surganya sendiri. Kalo kita yang dapat kondisi seperti itu, apa iya bisa berpikiran seperti itu?
Berpikiran positif. Teorinya sih mudah, tapi prakteknya, beuh, susah. Buktinya aku mau berpikiran positif tentang rezeki Allah aja masih susah. Mau menikmati setiap proses hidup aja sering dibarengi dengan keluh kesah.
Tiap begitu, selalu kuingat untuk bersyukur. Bangkit berusaha sambil terus bersyukur. Niat yang lurus pasti akan diijabah Allah. Aamiin.

Al-'Aĥzāb:35 - Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

Semoga kita termasuk yang mendapat ampunan dan pahala yang besar. Aamiin.
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...