15.2.14

Nonton Lagi LOVE

Menjelang Valentine, Kompas TV mengiklankan film Love. Sayangnya filmnya ditayangkan Jumat pagi. Akhirnya aku bongkar file hard disk dan nonton deh tu film. Entah berapa kali udah nontonnya.
Aku suka banget film ini. Habis ada lima cerita romantis yang disajikan di film ini. Gimana ga betah nontonnya. Apalagi alur gambarnya oke punya. Loncat dari satu tokoh ke tokoh lain setara film hollywood macam love actually. Beberapa orang bisa aja mencibir, ah konsepnya plagiat Hollywood, tapi kalo aku mah ga peduli, pokoknya bagus aja menurutku.
Ada cerita pasangan suami istri yang ga harmonis sementara anaknya autis, kisah cinta gadis berpenyakit kanker, kisah gadis desa yang ke kota demi mencari pacar yang telah menghamilinya, kisah ibu penjual soto yang menaruh simpati pada bapak penderita alzheimer. Dan yang terakhir adalah kisah pengarang buku terkenal yang jatuh cinta pada penjaga toko buku.
Aku paling suka kisah gadis desa yang mencari pacarnya ke kota. Suka lihat si Acha sama Fauzi Baadila disana. Gemes aja lihat mimik wajah Ozi yang cool ga jelas dan Acha yang berakting sebagai gadis yang lugu tapi mandiri.
Tapi, malam ini aku seperti tertohok dengan kisah si pengarang buku dan si penjaga toko buku. Yah, mungkin karena aku ngimpi jadi pengarang buku ya? Hehe. Tapi ada beberapa pesan moral yang seperti menjadi jawaban kegalauanku akhir-akhir ini.*atsaa..
Jadi diceritakan kalau si pengarang buku bernama Tere Wijaya (pasti terinspirasi Tere Liye, tapi Tere yang ini cewe bo) jatuh cinta pada Awin, si penjaga toko buku. Awin ini suka baca dan hobi nulis juga.
Masalah justru timbul saat Tere memberikan perhatian lebih dan membukakan jalan buat Awin menjadi penulis buku.
Ternyata Awin ga suka, dia ingin berusaha sendiri menembus penerbitan tanpa campur tangan Tere. Padahal permasalahan sebenarnya bukan itu. Awin sebenarnya belum siap perubahan, selain itu Awin yang terbiasa tidak diperhatikan menjadi 'kagok' mendapatan perhatian seorang wanita.
Nah, dua moral penting dari kisah ini adalah, terkadang niat baik belum tentu disambut baik. Seperti perhatian Tere sempat ditanggapi negatif oleh Awin. Namun di ending, Awin akhirnya menyadari kesalahannya dan akhirnya membuka diri untuk Tere. Intinya yah sabar aja kalo baikin orang tapi dijutekin, kadang orang punya persepsi dan masa lalu yang berbeda-beda, sehingga respons untuk sesuatu hal bisa berbeda.
Moral kedua ini nih yang paling ngena kehidupanku sekarang. Bahwa hidup harus siap dengan perubahan.
Di satu dialog Awin dengan bosnya, disitu Awin bilang takut menerima kebaikan Tere karena takut belum siap mimpinya menjadi kenyataan. Awin berada di zona nyaman dan berharap keadaan seperti itu terus. Awin takut bila ternyata kehidupan barunya nanti tidak cocok dan dia tidak bisa kembali ke kehidupan yang sebelumnya.
Ah, bisa-bisanya aku geer mengira kisah ini ditujukan untuk member hidayah padaku. Tapi itulah aku, perasa dan mellow. Gampang terhanyut dalam sebuah kisah. Aku seperti ‘membaca’ diriku sedang dalam posisi si Awin. Aku sangat puas dengan keadaanku. Cuma ada satu hal yang mengganjalku. Sayangnya hal itu lumayan prinsip dan akan menggiringku pada keputusan untuk memulai kehidupan baru di tempat baru. Tapi persis seperti yang Awin bilang, “Kalau aku ga suka sama kehidupanku nanti, apa bisa aku balik lagi?”
Persis. Aku takut buat move on karena aku belum siap dengan konsekuensi ‘menyesal’. Tapi plot selanjutnya dari cerita ini seperti memberiku petunjuk. Awin akhirnya memutuskan untuk membuka diri dan berani maju. Dia menepis ketakutannya akan perubahan. Dia belajar untuk siap dengan perubahan, karena dia ingin maju.

Ending kisah Awin ini seperti meyakinkanku untuk membuat keputusan terbesarku selama hidup. Yah, belum final sampai saat ini, tapi garis finishnya mulai kelihatan, bimbinglah aku dan keluargaku Ya Allah. Insya Allah kami siap dengan perubahan apapun yang telah Engkau gariskan. Aamiin.
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...