5.1.14

The Power of Terpaksa

Masalah akan menempa kita menjadi sosok yang lebih kuat dan dewasa. Banyak contoh teman-temanku yang menjadi sukses karena masalah saat dulu kecil.
Ada yang jadi korban bullying khas cerita sinetron. Iya, beneran dilemparin kertas yang isinya menghina, diijadiin taruhan ala film kiss me. Aih, ga nyangka yang begituan ada juga di dunia.
Ada pula yang sukses berbisnis karena sedari kecil sudah membantu orang tuanya berjualan, ada yang jadi lihai urusan rumah tangga karena sedari kecil sudah ditinggal ibunya(meninggal), jadi mau ga mau harus mandiri. Bahkan cerita primadona sekolah ga selamanya indah. Siapa bilang punya wajah cantik selalu enak? Banyak cewek yan sirik lalu iri berlebihan membuatnya jadi korban bully. Belum kudu sabar digoda dan diganggu teman cowok. Subhanallah, aku jadi merasa 'kecil' dibanding mereka. Hidupku standar, bahkan cenderung lempeng aja. Alhamdulillah sih aku dibukakan mata akan berbagai fenomena kehidupan yang membuatku berempati. Sebagai pribadi melankolis, aku selalu membayangkan segala permasalahan teman ini aku yang hadapi, kira-kira apa yang akan aku lakukan dan bagaimana caraku melewatinya? Makanya paling benci nonton cerita sedih yang diadaptasi dari kisah nyata. Bisa bermalam-malam aku terlarut dalam kesedihan.
Kedepannya, kisah-kisah temanku ini akan aku jadikan pelajaranku dalam mendidik anak. Ternyata memang benarlah ajaran Om Toge, yang walaupun dia belum punya anak tapi berhasil merangkum teori parenting dari pengamatannya terhadap siswa-siswanya semasa dulu menjadi guru BP. Pokok pentingnya adalah filosofi Ki Hajar Dewantara, yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani. Dimana kita sebagai orang tua(dan guru tentu saja), haruslah mendidik dengan selalu memberikan keteladanan, memfasilitasi tumbuh kembangnya, dan memberikan dukungan. Permasalahan hidup anak mungkin akan kompleks, entah nanti dia menjadi primadona sekolah ataupun juru kunci, semua mempunyai permasalahannya masing-masing. Ingat-ingat saja ketiga poin bapak pendidikan kita ini. Teruslah menjadi teladan bagi anak, walau ditempa berbagai masalah tetapi selalu move on dan tidak menyalahkan keadaan. Tunjukkan pada anak kita bisa survive, bahkan menjadi lebih kuat setelah permasalahan itu.
Disisi lain, berikan fasilitas bagi anak dalam menghadapi 'dunia nyata'. Ibarat memancing, berikan kailnya, bukan ikannya. Bekali anak dengan ilmu agama dan sopan santun yang baik. Insya Allah jika kita jadi anak baik dan ga neko-neko, biasanya juga tidak terlalu bermasalah. Aku adalah contoh anak yang dibesarkan dengan orang tua yang memberikan fasilitas sangat lengkap sehingga aku bebas dari bullying. Tapi, fasilitas juga bukan hal yang mutlak harus dipenuhi. Terkadang kita jadi lebih pintar dengan keterbatasan, kita jadi lebih bersyukur dalam keterbatasan. Saking lengkapnya fasilitasku dulu, aku menjadi manja, ilmu dari buku tak sampai aku lahap semua karena aku lebih suka belajar di tempat les, dan malas belajar sendiri. Berbeda dengan suami yang dalam keterbatasan biaya sampai buku pelajaran harus pinjam sekolah sebelah. Namun dari situ suami menjadi menghargai sebuah buku, beragam ilmu dari buku pinjaman tersebut sukses dilahap dan dia bertekad harus menguasai pelajaran secara otodidak. Ya, karena dia tidak ada biaya untuk kursusnya.
Lalu, poin terakhir yang paling penting adalah di belakang memberikan dukungan. Artinya, seberapa pun hebatnya anak kita. Selalu sambutlah saat dia mendekat, dengarkan setiap keluh kesahnya, berikan motivasi dan semangat untuknya menghadapi permasalahannya. Saat SD dulu aku selalu sebangku dengan anak cowok yang usil, karena absenku sebelum dia. Setiap pembagian tempat duduk aku selalu menangis ke ibu. Namun ibu hanya menasehatiku untuk sabar, ga ada tindakan lain. Tapi ajaibnya, aku jadi ga nangis lagi, dan Alhamdulillah berani menghadapi si usil.
So, permasalahan hidup itu kompleks, bahkan anak kecil pun juga banyak yang terpaksa menjalani berbagai permasalahan hidup. Mereka dewasa dari masalah ini, tugas orang tua dalam menggiring anak untuk pendewasaan yang benar dan logis, agar tidak terjebak pada pendewasaan dini ataupun telat dewasa(masih kekanak-kanakan). Apapun status sosial dan komunitasnya, permasalah sosial pasti dialamu semua orang. Dan pastinya permasalahan itu bisa dihadapi semua orang.
Lihatlah itik buruk rupa yang dulu dikatain ndeso dan dijadikan obyek taruhan. Sekarang meraih sukses di Swedia sana. Saat orang jahat sama kita, bukan orangnya yang menjadi fokusnya, karena ujung-ujungnya pasti dendam kesumat. Lebih baik fokus pada diri sendiri. Fokus bahwa kita pasti bisa survive melewatinya. Dan tidak akan Allah mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaumnya yang merubahnya sendiri.
Transformasi si itik buruk rupa menjadi angsa yang cantik adalah buah kesungguhan dalam merubah nasibnya sendiri. Kalau diri sendiri sudah berubah, untuk merubah lingkungan ataupun dunia bukan mustahil dilakukan. Buktinya sebagai teman si 'angsa cantik', aku menjadi termotivasi untuk lebih baik. Dia yang dahulu minim dukungan saja bisa menjadi begitu hebat, masak aku yang selalu didukung penuh baik dari orang tua maupun lingkungan tak bisa menjadi minimal sama hebatnya. (Quote surat/hadis masalah iri). Akhirnya keberhasilan si itik menjadi angsa cantik tidak hanya merubah hidupnya, tapi juga merubah lingkungannya, bahkan dunia!

Subhanallah. Karena masalah bukan masalah. Mereka adalah tantangan yang menunggu untuk ditaklukan, mereka adalah musuh yang menunggu untuk dikalahkan. Percayalah bahwa Allah sudah menyiapkan amunisinya buat kita.
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...