24.8.16

Konsentrasi dan Berhati-hatilah di Jalan

Berhati-hatilah di jalan! (Sumber: pixabay)
Tiba-tiba aku teringat kejadian setahun yang lalu. Saat itu adikku sedang persiapan kerja praktek ke Jakarta. Tapi malang tak dapat ditolak. Di tengah perjalanan sepulang kuliah, adikku mengalami kecelakaan. Kecelakaan tunggal. Beruntung pemilik angkringan di seberang jalan dengan sigap membantu adikku ke tepi.

Kalau sudah keadaan begini, yang ada di pikiran adikku adalah menghubungi ibu dan pacarnya. Mbaknya mah nomer sekian. Habis daripada nambahin panik aja sih, maklum mbaknya panikan, hehe. Aku pun dapat kabar kecelakaan adikku dari pacarnya. Katanya adikku sampai linglung begitu. Untungnya keluarga pacarnya adikku dengan tulus segera membawa adikku ke rumah sakit. Ibunya pacar adikku yang memilihkan rumah sakit untuk adikku dirawat. Katanya cari yang dokter tulangnya bagus.

Ternyata dari rontgen, tulang pundak adikku ada yang patah sehingga harus segera dioperasi. Akhirnya keluarga sepakat untuk operasi pasang pen dengan dokter tulang terpercaya di rumah sakit tempat adikku dirawat itu. Alhamdulillah operasi berjalan lancar. Tetapi perjuangan adikku untuk sembuh pasca kecelakaan tidak berhenti sampai di situ.

Dengan kondisi pundak kiri yang patah, otomatis tangan kiri tidak dapat berfungsi normal. Segala kebutuhan biologis mulai dari makan sampai membersihkan tubuh adikku butuh bantuan. Belum lagi harus rutin kunjungan ke dokter tulang yang cukup memakan waktu. Padahal adikku sudah harus kerja praktek di Jakarta. Untungnya keberangkatan ke Jakarta masih bisa ditunda sampai kondisi adikku membaik, setidaknya untuk bisa menggerakkan tangan kirinya. Masa pemulihan dari operasi sampai adik bisa menggerakkan tangannya, butuh waktu sekitar sebulan. Kurun waktu yang menurut dokter relatif cepat, karena usia adikku yang masih muda dan kedisiplinan adikku dalam meminum obat dan mematuhi seluruh anjuran dokter.

Dari musibah yang menimpa adikku ini, membuatku semakin menyadari kesehatan memang mahal harganya. Berhati-hati di jalan mutlak diperlukan. Bahkan, berhati-hati saja tidaklah cukup, kita juga harus berserah diri dan berdoa ketika akan melakukan perjalanan serta fokus dengan kendaraan yang ditunggangi. Karena setahuku, adikku ini adalah orang yang cukup terampil membawa kendaraan. Hanya masalahnya dia kadang kehilangan fokus dan rupanya ini yang menjadi bumerang baginya. Tidak fokus di jalan ditebus dengan sangat mahal. Kejadian adikku ini dapat menjadi pelajaran untuk selalu fokus, berhati-hati, dan berdoa selama di perjalanan. Benarlah kalau Kepolisian mengeluarkan spanduk bertuliskan "Jadilah pelopor keselamatan berkendara", karena memang keselamatan itu kita sendirilah yang mengusahakan.

Konsentrasi dan berhati-hati di jalan. Keluarga menunggu di rumah.*terus melow kangen anak. Hihi.

3 komentar:

  1. benar mba kesehatan itu sangat mahal dan benar juga berhati-hati saja tidak cukup tapi harus berserah diri kepada allah dengan cara berdo'a :)

    BalasHapus
  2. Mudah2an sekarang semakin pulih kesehatan adik Ardiba. Bunda juga pernah mengalami cedera jatuh dari tangga tapi gak sampe di operasi dand pasang pen, cuma dibawa ke dokter specialist tulang dan menurutnya tak perlu operasi. Sampai sekarang kalau terlalu letih jadi agak miring pinggul bunda. Betul sekali, diperjalanan apalagi berkendaraan harus extra hati-hati, karena kita sudah berhati-hati, orang lain yang "slonong-boy" dalam berkendaraan. Sebuah peringatan juga, ya.

    BalasHapus
  3. Semoga kesehatan adiknya pulih, baru saja beberapa minggu yang lalu Bapak saya kecelakaan. Tepatnya hari Jumat terakhir di bulan Juni. Jari bapak saya patah dan kacaunya, Bapak saya menderita Diabet, saat dicek ternyata harus ditenangin dulu baru tindakan karena kadar gulanya naik.

    Lumayan ribet memang. Bapak saya kecelakaannya gara2 ditabrak pengendara lain yang hendak berangkat ke kantor buru2.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...