22.12.14

Ibu Penolong Terbaikku...

Ibuku sayang...
Ini kali kedua aku menulis surat untukmu di blog. Sebuah intensitas yang sangat jarang dibanding intensitasku bercerita tentang Faris. yah, mungkin karena kita pun jarang bersua.

Ibuku sayang...
Sejujurnya aku malas untuk menulis tentangmu, Ibu. Karena aku pasti mewek dan sedih sejadi-jadinya.

Dirimulah sebab aku hadir ke dunia
Lewat belaianmulah aku tumbuh menjadi gadis yang bahagia
Karena ketegasanmulah aku mampu mengenyam pendidikan tinggi.
Ibu, dirimu adalah segalanya untukku...

Aku teringat peristiwa besar yang terjadi pertengahan Maret tahun lalu,
Saat itu aku memutuskan resign dari perusahaan.
Pada awalnya, ibu adalah orang yang paling pertama menentang keras rencanaku resign, pengalaman sebagai ibu bekerja membuat ibu ketakutan bila anaknya tidak lagi bekerja. Tapi, setelah aku mantap tidak bekerja, rupanya banyak ujian-ujian yang menimpaku terkait kondisiku yang tidak bekerja. Namun ibu hadir mengulurkan beragam bantuan. Padahal bisa saja ibu cuek saja. Toh, ibu sudah memberi nasehat untuk jangan resign, tapi aku masih ngeyel dan ngotot resign. Ibu bisa saja bilang, "Ya salahmu sendiri, tanggung sendiri!". Tapi tidak, ibu tidak seperti itu.

Memang benar pepatah, kala kita sakit, ibu merasa lebih sakit, kala kita terpuruk, maka perasaan ibu ikut terpuruk. Di tengah masa sulitku tanpa pekerjaan, ibu justru menjadi penolong terbaikku. Berkatmu Ibu, sekarang aku bisa melewatkan cobaan itu dan mulai sanggup menengadahkan kepala.

Ibu. Aku sadar aku takkan pernah sanggup membalas pengorbananmu untukku. Kasihmu sepanjang hayat, perhatianmu tak kenal lelah. Namun, izinkanlah aku memberikan sesuatu.

Bukan uang, bukan pula barang, karena ibu sudah punya segalanya. Aku hanya bisa memberi ibu doa. Berharap agar Allah selalu melindungi ibu, dekat bersama ibu, dan semoga ibu dimudahkan untuk beribadah kepada Allah. Aamiin.

Aku berharap bisa menjadi anak kebanggan ibu. Aku ingin menjadi lebih berprestasi dan sholehah. Aku ingin menjadi kebangganmu di dunia dan akhirat. Aamiin.
Reaksi:

4 komentar:

  1. Barakallah. Menyentuh sekali, Mak.

    Jadi ingat saudari ipar dengan mertua. Kalau berantem sama suaminya, ibu mertua kelihatan lebih sakit padahal tidak lama kemudian, saudari ipar sdh sayang2an lagi sama suaminya .. eh .. ibu mertua masih sebel juga sama menantu laki2nya :)

    BalasHapus
  2. makasih komennya Mak. Semua orang kalo cerita ibunya pasti menyentuh ya Mak..hiks

    BalasHapus
  3. Ibu Mak Ardiba kayakya bakal tersentuh dengan surat ini :)

    BalasHapus
  4. Begitulah cinta tanpa syarat. Meskipun berselisih pendapat tapi menjadi orang pertama yang akan membela. Sungkem untuk ibunya :))

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...