Tampilkan postingan dengan label kereta ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kereta ekonomi. Tampilkan semua postingan

29.4.09

DERITA SI MEDIT: Perjalanan Jakarta Jogja bag 3

4th Vacation: Trio Kwek-kwek in Action
Perjalanan keempat ini adalah perjalanan tanpa keperluan, cuma dengan alasan kangen sama sepupu yang selalu merindukanku…Kebetulan mbak kosku ada urusan ke Jogja, jadilah aq ikut, mumpung ada temennya.
Tak disangka tak dinyana ternyata Mas Adi, yang istrinya lagi di Jogja itu lo, juga mau pulang karena kangen beratz sama bintang kecilnya. Jadilah ‘perjalanan trio kwek-kwek’ ini..
Semua yang diawali dengan keraguan memang tidak berjalan mulus. Seharusnya bila kita semua yakin akan pulang ke Jogja, tiket kereta Bengawan kebanggaan kita itu bisa dipesan. Namun baik aku, mbak kos, dan temenku, masih belum yakin dengan kepergian kita ke Jogja. Mbak kos dan temanku yang masih disibukkan dengan kerjanya, dan aku yang memikirkan pengeluaran yang tidak sedikit(tetep, medit mode on).
Akhirnya, Free Friday itu datang. Tepat pukul 4 kami menuju stasiun Serpong dengan semangat membaja, tidak peduli saat itu hujan dengan deras mengguyur, dan angin yang kencang berhembus. Aq dan mbak kosku berjalan bersama dengan pundak memanggul tas sebesar punuk kura-kura. Jalan becek, ga ada ojek, tetap tak menyurutkan niat kami. Akhirnya sampailah pada stasiun Serpong. Kami sengaja naek krl AC yang harganya 3 kali lipat krl ekonomi dengan harapan bisa sampai stasiun Tanah Abang sesore mungkin, jadi ada harapan dapat tiket duduk.
Jam 5 kurang seperempat, kami sampai di Stasiun Tanah Abang. Di stasiun, terdapat lautan orang tengah bersiap-siap menerobos pintu kereta kami. Biasalah, jam pulang kantor gini arus perpindahan orang di Jabotabek sangat besar. Banyak karyawan Jakarta yang pulang ke Serpong. Kami hanya bisa pasrah didorong-dorong sampai tidak bisa keluar. Mbak kosku sampai mental oleh segerombolan penumpang bar-bar ini. Aq langsung pasang posisi cicak, nemplok di pinggir pintu, dan menyelinap keluar.
Setelah berhasil keluar dari kerumunan, kami menuju bagian tiket kereta. Dari kejauhan kami melihat tulisan..
TEMPAT DUDUK HABIS
OMG!!!gimana dunk..setelah perjuangan melawan badai hujan, dan badai orang, apakah perjuangan ini harus dihentikan?? TIDAK!!!kami tidak akan menyerah…!!! semangat kami terus membara..tidak peduli gak dapet tempat duduk. Toh aq masih punya karpet kebanggaan berupa koran terbitan 2007 yang selalu menemani setiap perjalanan jauhku..Aq dan mabk kosq akhirnya sepakat tetap ke Jogja dengan kondisi apapun..
Di loket, belum ada antrian, aq memasang wajah memelas dengan harapan tukang tiketnya iba dan memberi tiket duduk. Tapi usahaku sia-sia..tetap tidak dapat tiket duduk..
“Pak, tempat duduk habis ya??” tanyaku
“Iya..” jawab si tukang loket singkat, padat, dan mengena
Aku langsung telepon temanku yang masih ada urusan sehingga belum sampai ke Tanah Abang. Temanku ternyata tak masalah tidak dapet tempat duduk asal bisa pulang.
“ Ya udah pak, saya beli tiketnya tiga” ujarku walo sedikit tercekat
“Totalnya 108 ribu” jawab tukang loket
“Heh??koq 108 rb??105 ribu kalee…kita kan ga dapet duduk, MANA BOLEH HARGANYA DINAIKIN!!!KALO DAPET DUDUK BARU NAMBAH 2000” aq menjawab dengan nada tinggi.
“ Iya mbak, 105 ribu, jangan keras-keras dunk bilangnya” si tukang loket memohonku mengecilkan volume suaraku.
Aq yang ga ngeh menjawab dengan polos dan tetap dengan volume yang sedikiiiiit dikecilkan..”LA, EMANG BENER TO??KALO DAPET DUDUK, BARU SAYA MAU NAMBAH..”
Setelah jauh dari loket barulah aku sadar kalau mereka tidak mau kecurangan mereka menaikkan harga tiket duduk dikoar-koarkan.Tapi biarlah, ini juga jadi rahasia umum, semua juga tahu objek “sampingan” mereka ini.
Mbak kosku sempat berharap ada calo yang menawarkan tiket pada kami..sayangnya calo yang dinanti hanya mimpi. Jadilah dengan langkah gontai kami menuju peron 3, tempat keretaku nanti “mangkal”.
Di bawah tangga, kugelar tikar koran kebanggaanku. Kami berdua duduk berdampingan, bagai anak yang ditinggal induknya. Celingak celinguk ga jelas, menghitung kereta lewat, dan mensensus penumpang kereta. Tas kami dekap erat, kami takut ada yang mengincar wanita-wanita manis nan polos seperti kami(huex, ga semua yang lo baca itu bener).
Tiba-tiba datanglah rombongan orang yang membawa pikulan yang tidak sedikit. Diketahui 2 diantara 5 rombongan itu adalah tukang kipas toet2(begitu kami menyebutnya) yang membantu nenek dan 2 orang remaja ini.
Nenek ini sangatlah nyentrik. Dandanan lipstik merah terang plus bedak padat dengan tone warna yang lebih terang dari kulitnya, sehingga kesannya menor. Nyentriknya semakin dipertegas dengan sanggul kartini berhias cempol emas, baju kebaya brokat transparan warna krem, jarik batik model jadul, lengkap dengan sepatu high heels yang nyokap abiez..Sumpah, gayanya udah kayak nyonya besar, namanya juga udah sepuh, jadi semua tetap tunduk sama dia, ga tau kalo ada yang ngedumel dengan tingkah lakunya.
Nenek ini menghampiri kami dengan gaya jalan kemayu bak peragawati, kata mbak sih kemungkinan dia cari mangsa baru untuk membawa barangnya yang se Indonesia itu.
Dengan ramah nenek bertanya..“ Mandap pundi mbak?”(turun dimana mbak)
Mandap Jogja, Bu..”(turun di Jogja Bu), kami menjawab
Sesaat nenek membalikkan badan menuju peraduannya bersama 2 remaja yang sedari tadi bersamanya. Namun, baru berapa langkah, nenek kembali menghampiri kami dengan topik pembicaraan baru.
“Gerbong pinten?”(gerbong berapa?)
“Ga dapet tempat duduk bu”, kami menjawab dengan senyum getir.
Tiba-tiba raut wajahnya penuh kemenangan, dengan bangganya dia berkata,
“Oh..saya sih dapet tempat duduk, tiga, bareng, jejer-jejer, di gerbong tiga.” Bibirnya khas ibu-ibu arisan lagi bergosip, dengan anggota tubuh full ekspresi. Udah kayak mau jaipongan tu nenek..
Selesai menceritakan tempat nyamannya nanti di kereta, tiba-tiba ada bapak yang bertanya dengan bapak yang lain, dimana letak gerbong 6. Si bapak menunjuk ke arah kiri. Kontan saja nenek nyentrik protes..
“Mboten pak, gerbong 6 teng tengen..”(bukan pak, gerbong 6 sebelah kanan)
“Tapi kata bapak itu..”
“Wes to ra manut karo wong tuo”(udah, jangan ga nurut ma orang tua)
Sebagai jalan tengah, diundanglah secara khusus seorang SKK yang tentu tahu pasti letak gerbong 6. Jawaban SKK memihak nenek nyentrik. Dapat 2 poin kebanggaan dia hari ini..
Nenek nyentrik kembali menatap kami, dia kembali bercerita..
Kulo ki wis pengalaman numpak kereto. Mbok menowo dewe, aq yo wani..keretane ki puuuanjang(dengan gaya membentangkan tangan layaknya penari serimpi). Enten 10 gerbong (sembari memperlihatkan 10 jari letiknya).”
(Saya ini udah pengalaman naik kereta. Kalopun terpaksa sendiri, saya berani. Keretanya tu panjang, ada 10 gerbong)
Duh..penting ya cerita begitu?
Yah..maklumlah udah sepuh..kalo suka caper harap dimengerti.
Mbak mule gelisah berkata “Aduh, banyak nyamuk, gue gatel, cabut yuk…”
Aq pun nurut aja. Sedetik aq mau ketawa, mbak kosku yang biasa ngomong Jawa logatnya berubah Jakarta abies…seolah menunjukkan ke nenek kalo kita anak jakarte yang ga ngerti omongannya, sehingga nenek bisa berhenti cerita.
Si nenek pun bertanya, “Ajeng teng pundi??”(Mau kemana??)
“Mau solat” jawab kami singkat sembari melipat koran kebanggaan.
Sesampainya di atas, Mas Adi, sudah datang dan menunggu di seberang peron. Kami pun berkumpul sembari celinguk-celinguk kalo-kalo tanda “tempat duduk habis” nya dicopot, sehingga kita bisa menyerbu tiket duduk. Benernya secara logika penantian kita itu sia-sia aja, tiba-tiba halo-haloan mengumumkan kalo kereta kita udah dateng. Kami panik karena belum solat, akhirnya dengan langkah seribu kami menyerbu kerumunan menuju musola. Langsung
Perjalanan memang belum dimulai, tetapi perjuangan masih harus berlanjut. Misi selanjutnya cari tempat duduk. Ada beberapa opsi yang ditawarkan:
1. Cari tempat di restorasi, tapi bayar tambahan 25 rb
2. Cari tempat kosong, terus gelar koran
3. Nekat duduk di tempat kosong
Sebenarnya pengalaman membuatku condong ke pilihan ketiga, karena paling aman n ga keluar ongkos. Tapi ternyata Mas Adi n Mbak tidak berpikiran sama. Kita coba tawar pihak restorasi. Si bapak restorasi berkata,
“Kalo mau disini tambah 30 ribu, dapet makan, dapet minum”
~OMG!!!nambahnya seharga tiket keretanya, enak aja~
“Kalo bayar duduk aja boleh ga??”Aq mencoba menawar.
“Oh ga bisa, disini tempat jualan nasi..”
IH, sombong amat, udah kita tinggal aja deh ni bapak.Akhirnya kami pun berburu tempat kosong untuk gelar koran. Belum khatam kami menyiapkan singasana kami, tiba-tiba datanglah pahlawan baju kotak-kotak(begitu kami menyebutnya), berkata..
“Mbok nambah 10 rb, wis enak..”
“hah??bayar ke siapa pak??” Aq pun penasaran..
“Itu..”si bapak nunjuk SKK.
Oh, ternyata SKK jualan tempat duduk. Akhirnya tibalah SKK bertanya pada kami.. “Duduk dimana??”
“Ga dapet tempat duduk” aq menjawab memelas..
Lalu, dengan celingak celinguk, SKK menggiringku ke pojok sepi, diikuti Mbak n Mas Adi yang turut menampakkan wajah was-was..
“Butuh berapa?” SKK bertanya..
“Tiga Pak, ada ngga??tempatnya dimana??” aq memberondong dengan pertanyaan. Sumpah aq takut kalo ketahuan. Aq tahu ini salah, tapi ini semua demi kenyamanan kereta ekonomi kelas bisnis.
“Sabar mbak, nanti kita atur..” Si SKK mengeluarkan kertas kecil bertuliskan angka-angka yang ternyata nomor duduk…
Alhamdulillah..kami bisa kembali merasakan kereta ekonomi kelas bisnis walo harus nambah 10 rb per orang..
Ini sungguh-sungguh terjadi. Dan hanya ada di Indonesia

DERITA SI MEDIT..Perjalanan Jakarta Jogja bag 2


2nd Vacation: Nikmatnya Kereta Api Ekonomi kelas Bisnis.
Perjalanan kedua ini dilakukan dengan tujuan untuk memenuhi undangan wisuda seorang sahabat karib yang sangat karib(kebayang kan karibnya???).
Sebagai seorang yang expert di dunia perkereatapian ekonomi(gaya teing!! padahal baru mau dua kali naek KA ekonomi), aku sekarang lebih pinter menyiasati perjalanan kali ini. Kebetulan Jumat pagi itu aku ada dinas di Jakarta tepatnya di Thamrin. Sehingga pada pagi hari sebelum aku ke Thamrin aku bisa beli tiket dulu. Akhirnya aku bisa dapat tempat duduk yang legal dan sah secara hukum. Bisa dipertanggungjwabkan di depan bapak pemeriksa karcis.
Acara di Thamrin berakhir pada pukul setengah 4. Semua teman dan pejabat-pejabat yang terlibat pada acara itu setelah penutupan mulai beringsut pulang. Jadilah aku bagai anak hilang menunggu magrib sendiri di Masjid kantor. Kebetulan masjidnya sepi sehingga aku bisa rebahan dengan berbagai posisi dan letak. Cukup lama detik demi menit demi jam kulewati bersama berpasang mukena dan berpuluh sajadah yang membentang. Akhirnya azan Magrib pun tiba. Baru kali ini aku riang menyambut magrib, padahal aku ga puasa. Cepat kuambil air wudu dan solat berjmaah bersama beberapa karyawan yang lembur(Jumat lembur ga enak banget deh..)
Selesai solat, ternyata waktu masih pukul 18.15(bentar juga ya solatnya??). Wah masih lebih dari satu jam menuju 19.30, waktu keberangkatan kereta Bengawan kebanggaanku.
Akhirnya untuk membunuh waktu kuputuskan berjalan kaki Thamrin-Tanah Abang. Lumayan deket namun asap dan polusinya itu yang kaga nahan!!! Ternyata perjalananku tidak sendiri, dari Bank Indonesia ternyata ada banyak orang yang berjalan kaki ke arah Jatibaru walopun polusi sore itu cukup ampun-ampunan(pulang kerja sih..).
Sampai Tanah Abang aku masih berjalan santai, ternyata keretaku telah tiba. Akupun bergegas menuju peron 3 tempat kereta berhenti. Secepat kilat aku masuk dan mencari tempat dudukku. Aq tak mau tempatku diserobot orang. Untunglah tempat duduk masih aman-aman saja. Yang masuk ke kereta baru sedikit, jadi semua masih lega dengan singasana masing-masing. Di depanku terdapat bapak berpakaian batik. Ketahuan nih, kalo ga pegawai BUMN ya PNS yang baru pulang kantor terus langsung caw, goes to Jogja.
Diantara 4 penumpang yang duduk berhadap-hadapan, cuma aku ceweknya. Aku cuek aja, kata orang-orang yang udah lama di Jakarta kalo kita gak kelihatan kayak bego kita gak bakalan dikerjain/diganggu. Untungnya lagi 3 pria disekitarku ini bukan orang-orang yang aneh. Malah waktu aku dengan sembrono taruh dompet hp di atas meja langsung diingetin si bapak
Hei, hati-hati dompet’e..ngko disampluk copet..”(hati-hati, dompetnya nanti diambil copet)
Peringatan itu kemudian dilanjutkan dengan wejangan..
“Nduk, ojo sembrono. Maling ki tangan’e sigap, meleng sitik hapemu langsung disampluk, mending hapene mbok kempit wae..”(nduk, jangan sembarangan,maling tu tangannya sigap, lengah sedikit hapenya diambil)
Aku mengangguk sambil mendekap erat hp kesayangan.
Aku saat itu benar-benar merasakan kereta ekonomi kelas bisnis. Gimana nggak, kereta kali itu tidak begitu ramai, bapak-bapaknya juga ga ngerokok, dan keretaku tak berhenti lama. Jadi sebelum jam 7 udah bisa nyampe Jogja. Kedatanganku kali ini tidak lagi diambut dengan wajah yang kerput kayak jeruk purut, melainkan dengan wajah yang sumringah, karena aku datang tepat pada waktunya.
Sabtu dan Minggu aku habiskan dengan bermain bersama teman kuliah di Jogja, lalu pada minggu sore aku balik ke Jakarta. Namun ternyata emang untung-untungan naek kereta ekonomi. Setelah kenikmatan naek kereta ke Jogja, giliran aku diuji dengan ketidaknyamanan kereta saat pulang. Tiket keretanya ga bisa pesen, dan begitu sampai di gerbong, semua kursi udah fuuulll(saking penuhnya). Aku jadi panas dingin, kan belum tentu ketemu orang baik hati seperti pria berkemeja kemarin. Aku mulai berjalan kesana kemari ga tentu arah.
Tapi pertolongan selalu ada. Tiba-tiba ada yang nyeletuk
“Coba golek panggon neng restorasi, neng kono suk sepi..”(coba cari tempat di restorasi, disana kadang sepi)
Ya pantes aja sepi, suruh bayar lagi 25.000 je..tambah lagi deh budget pulangku..Tapi lumayanlah, soalnya kita dapat servis makan malam plus minuman hangat. Nyos juga..berasa naek eksekutif(padahal kereta eksekutif malam aja cuma dikasih roti, lebih dari eksekutif nih..)..Mantab!!!
3rd Vacation: Idul adha-Peak Season bo..
Idul Adha tahun 2008 lalu aku kembali memanfaatkan pulang ke Jogja pake kereta andalan semua, kereta Bengawan. Seperti biasa, tiket sudah kubeli dari jauh hari(Jumat berangkat, senin udah pesan). Aku pulang bersama teman yang anak dan istrinya di Jogja. Kebetulan kita sama-sama tinggal di Serpong. Jadilah kita janjian di kereta kebanggaan Jakarta, kereta listrik. Kita naik yang jam 17.20 supaya sampai Tanah Abang tepat magrib, jadi ga keburu-buru naek ke kereta yang kadang datanganya kecepetan(jam setengah tujuh aja kadang udah nangkring).
Awal perjalanan sudah dimulai dengan delay (kayak pesawat aja). Kereta yang seyogyanya berangkat pukul 19.30 malah mundur jadi jam 20.00. keterlambatan ini bukannya tanpa alasan. Suasana stasiun saat itu sangatlah rame, aku harus berdesakan untuk sampai ke singasanaku. Sialnya tempat dudukku sudah ditempati orang. Dari jauh aku sudah mengepalkan dan meremas-remas tanganku. Bukan karena geram, tapi karena grogi..gimana caranya ngusir tu bapak?aku kan takut kalo harus berurusan dengan orang laki. Ternyata ada orang yang lebih sangar yang seharusnya duduk di depanku mengusir bapak ini. Akhirnya ga perlu keluar otot aku. Si bapak sangar bersama istrinya yang ga kalah sangar. Manis sih, tapi badannya gede banget.
Mas Adi(sebut saja begitu), ditumbalkan untuk duduk di ujung kursi, biar aku bisa duduk nyaman di pinggir sambil senderan tembok kereta. Tapi ternyata kenikmatan yang kuharapkan tidaklah menjadi kenyataan, karena si ibu sangar duduk depanku. Kebayang kan sempitnya jarak antara masing-masing kursi di kereta ekonomi?ga kebayang?yah kira-kira Cuma 5 kilan tangan orang dewasa lah, Cuma cukup buat hadap2an orang dengan tinggi 160. lebih dari itu, ya harus atur posisi.
Karena itu, lututku rasanya jadi sakit. Akhirnya si ibu menyuruhku merentangkan kakiku di pinggir duduknya, jadi aku bisa legaan. Terus kaki ibunya selonjor di kolong kursiku. Lumayan nyaman jadinya.
Kereta malam itu berjalan sangat lambat, sepertinya karena kebanyakan muatan. Sampai Manggarai masih aman. Terus di Jatinegara mulai kisruh, semua gencet-gencetan karena ga bisa masuk. Ruame banget deh..
Hati mas Adi terenyuh, melihat banyak ibu-ibu yang terpaksa lesehan di bawah. Mas adi sendiri ga bisa duduk dibawah, jadi niat baik Mas Adi tidak pernah terlaksana. Perstiwa hari itu juga yang akhirnya sempat membuat Mas Adi kapok naek kereta ekonomi. Katanya, jadi korban perasaan.
Sempat kita memperdebatkan seorang ibu yang sepertinya sedang hamil. Kami sibuk menimbang-nimbang. Pengennya sih ngasih tempat. Tapi lihat ramenya yang ampun-ampunan, kita hanya bisa menahan rasa bersalah karena tidak bisa bantuin dia.
Tetapi perasaan bersalah itu akhirnya terbalas juga. Selidik punya selidik tu ibu ternyata ga hamil. Lagian dia bareng suami yang jagain dia. Kalo tadi Mas Adi jadi nolong bisa jadi perang saudara ntar..
Ada cerita lucu tapi sedih. Di rombongan dari Jatinegara tadi ada serombongan TNI yang memenuhi kereta sambil berdiri. Mereka kasak kusuk. Ternyata mereka salah kereta!!!seharusnya mereka naik Senja Utama Solo, tapi salah naik karena halo-haloannya bilang...
“Tersedia di jalur 2, kereta api malam express Senja Bengawan”
Nah lo, mereka pada denger Senja nya doank. Kaga tau kalo Bengawan kereta ekonomi. Sial banget mereka ngerasain se-enggak enak-nya naik kereta ekonomi. Udah berdiri rame pula. Akhirnya mereka bisa naek kereta dengan layak setelah diturunkan di Bekasi dan nunggu Senja Utama Solo di sana. Untung deh..
Oh ya, saking penuhnya kereta, sampai banyak penumpang yang ga bisa masuk. Lalu kepada penumpang yang ga bisa masuk, petugas menyarankan untuk menunggu kereta sapu jagat alias kereta terakhir ke Jawa, yaitu Progo, dengan tujuan akhir Jogja.
Suasana kereta sangat panas dan pengap. Tapi aku masih bisa bersyukur, karena tidak sampai harus berdesakan dan lesehan di bawah, masih harus digencet pedagang asongan pula.
Akhirnya, kereta yang seharusnya datang paling telat jam 7 pagi, tiba pukul 07.45. Berdasarkan pengalaman hari ini, aku memutuskan untuk pulang naek kereta Progo, yang tiketnya bisa dipesan.
Namun sial tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Tiket kereta yang aku mau, baru bisa dipesan sehari sebelum, alias besok baru bisa pesen. Yah, besok harus ke Lempuyangan lagi dech..Ora popo..
Besoknya aku datang ke Lempuyangan pagi-pagi. Masih ada aja rintangannya. Tiket kereta baru bisa dipesan jam 09.00. walopun begitu, antriannya udah panjang banget. Semua pada pesan tiket kereta besok. Emang bener-bener peak season deh.. Tempat antrian yang kecil penuh sesak dengan orang bermacam rupa yang sedang ngantri.
Sekitar setengah jam kemudian, pemesanan tiket dibuka. Kali ini antrian mulai berkurang. Satu hal yang aku salut sama orang Jogja, kalo antri pada sabar, jadi aku ga takut diserobot. Sembari ngantri, aku berkenalan dengan seoran bapak pegawai deptan yang anaknya kuliah di Jogja. Adik tingkatku ternyata..tapi sayang aku ga kenal anaknya, adik tingkat jauh dibawahku sih. Kalo gini jadi kangen bapakku deh. Kasih sayang bapak juga tiada taranya. Akhirnya setelah total satu jam menunggu,aku dapat tiketnya. Alhamdulillah, bisa pulang dengan nyaman nih.
Senin sore itu aku pulang bersama mbak kosku yang kebetulan juga mau goes to Serpong. Kali ini aku ditumbalkan duduk di ujung kursi, karena aku kasihan kalo mbak kosku ga bisa tidur di jalan. Tempat duduk kami masih nyaman sampai Wates. Begitu di Kutoarjo, arus penumpang bertambah drastis. Mendadak kereta penuh. Mulai kulihat rombongan orang berdesakan tidak dapat tempat duduk. Ada seorang ibu yang tak kuasa menahan sedih dan menangis karena tidak dapat duduk. Memang, ketika tidak dapat duduk, kita harus siap diperlakukan tidak sopan, seperti digencet, dilangkahi, dan terkadang kesenggol dagangan pedagang asongn. Senggolannya bukan sekedar senggolan karena cukup membuat memar. Aku juga ga tega liat ibu ini. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku juga ga siap duduk lesehan, apalagi dengan keadaan kereta sepenuh itu. Dan di dalam kereta itu, ternyata masih ada pria baik hati dan tidak sombong yang menolong ni ibu, si pria yang tampaknya seorang backpacker ini rela duduk lesehan dan memberikan tempat duduknya pada ibu yang sedang sendu ini.
Arus penumpang mencapai puncaknya di Purwekerto dan daerah Banyumas sekitarnya. Perantau dari Banyumas emang banyak yah??ga cuma di kantorku aja yang banyak orang Banyumasnya. Saking penuh dan banyak orang yang mau naik, sampai pintu kereta dikunci, biar ga pada masuk lagi. Kata petugasnya, penumpang yang ga bisa masuk bisa naek kereta Bisnis ato nunggu kereta Bengawan yang dari Solo. Benar-benar horor, pintu kereta digedor-gedor, makin lama makin banyak yang gedor. Aku sih takutnya kalo penumpang nekat lemparin batu, kan sering banget tuh diberitain. Tapi untung hal itu ga sampai kejadian.
Baru lebaran haji aja ramenya gini, gimana lebaran Idul Fitri ya??
Dalam kereta yang sepenuh itu aku pasrah aja sedikit kegencet karena duduk di pinggir. Benar-benar kalo ga sabar, bawaan pengen marah. Udah tau rame, pedagang asongan masih aja berkeliaran.
Kereta Progo ga lewat Tanah Abang, padahal aku harus naek kereta listrik dari Tanah Abang, maka aku sempat berpikir untuk turun di Jatinegara dan nyambung ngompreng kereta Bengawan yang masih di belakang kereta Progo dan pemberhentian akhirnya di Tanah Abang. Tapi karena ramenya arus penumpang dan banyaknya bawaan kami, kamipun urung turun. Tapi suatu saat cara itu aku lakukan mengingat cukup mahalnya kalo naek bajaj (medit still mode on).
Kereta Progo sampai di Senen jam 04.00 pagi, dan kami sampai Tanah Abang jam 04.20. Masih harus nunggu waktu Subuhan, dan masih harus lebih lama lagi nunggu kereta listrik yang paling pagi yaitu jam 06.30.
Fajar di Tanah abang sangat indah..
Angin pagi terasa dingin menusuk
Deru kendaraan belum menggema
Matahari pagi masih bersembunyi..
Seiring waktu menyambut pagi
Matahari mulai mengintip malu-malu
Angin pagi mulai semilir bersahabat
Satu dua kendaraan mulai memenuhi jalan layang
Akhirnya tiba waktu pagi
Matahari menyeruak garang
Angin pagi mulai hangat
Kendaraan mulai ramai memenuhi jalan
Lalu, ting tong..kereta listriknya telah tiba..kampunpun bergegas menuju peron 6, dan melanjutkan lagi perjalanan ke Serpong.
Kali ini, benar-benar perjalanan yang melelahkan...masih harus siap-siap kerja..HUA..!!!!aku masih ngantuk.

Tips Naek Kereta Ekonomi

Pulkam ke Jawa modal kurang dari Rp. 100.000 bisa pulang pergi??ikuti tips ini:

1. Pakai kereta ekonomi. Inilah sarana angkutan termurah, tercepat, dan bebas macet. Primadona para perantau.

2. Sebisa mungkin pesan tiket minimal sehari sebelum. walo kadang nambah beberapa ribu tapi demi keamanan dan kenyamanan.

3. Kalo kepaksanya ga dapet tiket, langsung menuju rstorasi aja. Cash tambahannya 25.000 udah dapat makan malam dan teh hangat(ato pesan kopi juga bisa). kadang bayar duduk aja bisa tapi seringnya ga boleh. Kalo bayar duduk aja Rp. 10.000 nambahnya

4. Tempat duduk tambahan juga bisa dipesan lewat SKK. kayaknya pake jatah karyawan PJKA gitu deh. Nambahnya juga sekitar Rp. 10.000.

5. Ato kalo mau nekat, duduk aja di tempat kosong ga usah bayar ga papa. Kan ada gerbong yang free alias bukan punya siapa-siapa. bisa ditempati siapa aja. Sayangnya ga semua beruntung dapet tempat ini.

6. Nah, kalo ga jijik, bisa koq segera ke kamar mandi ato wc terdekat..wc di kereta ekonomi juga bisa dimanfaatkan lo..katanya sih bebas pesing..gue sih ogah nyobain..

Selama mengikuti saran ini, dan perjalanan anda bukan pada "peak season", saya jamin anda bisa merasakan "kereta ekonomi kelas bisnis".

Ada yang mau nambahin??

27.4.09

DERITA SI MEDIT: Kereta Jakarta Jogja bagian 1


Naek kereta ekonomi?awalnya ga kebayang deh..kayaknya kutukan kalo naek kereta ekonomi. Yang dibayanganku adalah rame banget, penuh asap rokok, dan kadang gabung sama hewan ternak.
Namun anggapan ini dipatahkan seorang teman yang kebetulan sering bolak balik Jakarta-Jogja untuk menyambangi pujaan hatinya yang sedang mengadu nasib di ibukota. Katanya kereta ekonomi itu enak, selain murah, kita bisa bertemu banyak orang dan menambah kenalan. Selain itu, tiket kereta ekonomi sekarang sudah bisa dipesan, jadi menguntungkan sekali. Daripada naek bisnis, hampir 3 kali lipat harganya. Dari segi ketepatan waktu, kereta ekonomi ga jauh beda nyampenya ma kereta bisnis. Masalah ternak, katanya ga mungkin, soalnya udah ada kereta barangnya sendiri. Pokoknya dalam promosinya dia mengatakan, kereta ekonomi sekarang udah senyaman bisnis, istilahnya “Ekonomi kelas Bisnis”. Pada akhirnya aku membuktikan sendiri hingga sampai saat ini aku tetap menjadi pelanggan setia Bengawan. Ada aja pengalaman baru untuk diceritakan dalam perjalanan kurang lebih 11 jam ini.
1ST Vacation : Never Ending Journey
Ini adalah pengalaman pertamaku pulang ke Jogja naek kereta ekonomi. Sebagai karyawan baru, tentu aq mengalami sindrom homesick, bawaan kangen mulu ma Jogja. Karena selain ada keluargaku disana, pujaan hati belahan pantatq(upz.. jiwa maksudnya) juga masih berdomsili di Jogja.
Dari observasi yang kulakukan, dan info yang kukumpulkan, aku mulai merancang rute perjalananku sampai ke Jogja.Rute perjalanan tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Naek angkot sampai Stasiun Serpong : Rp 3000 dari kantor, Rp 1000-1500 dari rumah
  2. Naek KRL ke Tanah Abang : Ekonomi: Rp 1500, Ciujung Rp 5000, Sudirman ga masuk hitungan (kemahalan)…
  3. Naek Kereta Bengawan yang ke Solo, tapi turun Lempuyangan, Jogja : Rp 38.000(sekarang 35.000)
  4. Minta jemput Mas : Gretong…
Adapun plot waktu yang aku planning:
  1. Naek krl Ciujung jam 18.10. Sampai Tanah Abang jam 18.55
  2. Berburu tiket kereta, terus solat jamak Magrib-Isya di Stasiun.
  3. Naek Bengawan jam 19.30
Krl Ciujung berangkat tepat waktu. Malam itu terasa sangat dingin karena keretanya sepi dan AC dengan semangat berhembus dengan temperatur 16 C. Ngantuk..tapi kemudian ada teman ngobrol, yaitu guru SD di BSD yang mau pulang ke daerah Bintaro. Beliau salut ma aku yang mau long journey sendiri. Kagak tau aja dia, batin ini udah kebat kebit bayangin pengalaman pertamaku nanti.
Akhirnya sampailah pada Stasiun Tenabang. Hilir mudik orang cukup ramai, aku celingak celinguk cari tempat tiket namun gayaku sok pede, itu resep jalan sendiri di daerah Jakarta. Katanya biar ga diisengin orang. Penduduk Jakarta kan “Ramah-ramah”...
Betapa terkejutnya aku ternyata tiketnya “sold out” alias tempat duduk habis. Mulai panik mode on nih...dengan hati-hati aku bertanya sama Bapak Loket.
“ Pak, tempat duduknya habis ya?tiketnya juga habis?”
“ Kalo tiketnya masih ada,mau berapa?” si bapak loket berkata
“Mau satu aja kok pak..” perasaanku udah panas dingin..ga dapet duduk?terus berdiri??bisa keriting ni betis..
Suasana semakin panik ketika banyak anggota keluarga serta beberapa teman yang mengetahui perjalanan nekatku mulai mengkhawatirkanku. Ibuku berjanji untuk berdoa sepanjang malam sampai aku benar-benar selamat sampai Jogja. Masku terus SMS. Entah apa yang dipikiran mereka, mudah-mudahan hal buruk yang dikhawatirkan ga kejadian. Aku masih optimis bisa menikmati perjalanan ini.
Pukul 19.15 kereta sudah tiba di tempat. Gerombolan orang mulai mendorongku. Suasana ini masih bisa kukendalikan sehingga aku tidak sampai terjatuh. Aku asal duduk aja, ternyata mbak yang duduk di depanku juga aslinya ga dapet duduk. Katanya, cuek aja, kalo diusir baru pergi. Aku nurut aja. Tepat 19.35 kereta berangkat. Sampai Manggarai semua aman. Namun begitu sampai Jatinegara rombongan orang dengan jumlah tidak sedikit menyerbu pintu kereta yang hanya selebar bahu orang dewasa. Dan malangnya, ternyata singasanaku ada yang punya. Yaitu seorang ibu dengan anak perempuannya serta seorang pria berkemeja yang aku yakin baru pulang kerja. Dengan wajah pasrah akupun berinngsut pergi, tapi di cegah si pria. Katanya..
“Udah, duduk aja, ga papa..saya mau keluar dulu. Ngerokok..”
Alhamdulillah ada dewa penolong. Kalo kepaksanya dempet-dempetan ga papa lah..daripada di bawah diinjak pedagang asongan..Singkat cerita, kursi yang diperuntukkan untuk 3 orang, kami pakai berempat. Tempat duduk di depanku juga setali tiga uang. Ditempati oleh sepasang kakek nenek beserta anak lelakinya. Dan salah seorang penumpang yang maksa duduk, yaitu bapak berjaket biru yang mirip jaket almamater universitas apa gitu deh..
Suasana malam itu begitu hangat. Semua saling berkenalan dan bercerita masing-masing. Ibu dan gadis disebelahku ternyata penjual baju batik. Mereka back to Solo karena mau grosir batik di pasar klewer. Dasar pedagang, sempet-sempet aja ni ibu nawarin kita. Si gadis masih kalem banget, tapi si ibu terus saja nyerocos, katanya dia ke Solo cuma nemeni anaknya grosir baju, yang jualan nanti anaknya. Terus katanya lagi anaknya itu lulusan arsitektur dan udah berkeluarga. Anaknya satu pula. Hmm, aku rada heran aja, wong punya suami dan anak, koq malah jalan-jalannya berdua thox ma ibunya. Yah, mungkin inilah yang namanya hidup. Penuh perjuangan dan terkadang harus berpisah dengan keluarga.
Si bapak jaket biru, mulai mempresentasikan dirinya(apaan coba??). Dia beercerita tentang dirinya yang sudah merantau ke Jakarta dari tahun 80an. Dia ceritakan perjalanan hidupnya dari nothing menjadi something. Seru banget..
Nah, sekarang tiba saatnya pria berkemeja yang duduk di sebelahku bercerita. Dia bilang kerja di perusahaan telekomunkasi. Sudah beristri dan punya satu anak. Tempat ttinggalnya di perumahan elit Jakarta. Wah, kupikir beruntung sekali bisa bersuamikan orang seperti ini. Selain masih muda, tampan, sepertinya dia juga orang yang baik hati.
Lalu giliranku bercerita tentang diriku. Ibu tukang batik mengira aku adik si pria berkemeja. Iya sih, diliat-liat ni cowok persis bapakku masih muda dulu. Berarti aku cantik dong??ha..ha..ha(narsis mode on). Aku jujur kalo aku baru sebulan di Jabotabek. Langsung deh bapak berjaket almamater menceramahiku..
“Hidup di Jakarta itu kudu telaten, harus pinter mengambil peluang. Tunggu deh 8 tahun aja, kalo bertahan kamu jadi orang sukses..”
“Amin...” Aku sih berharap demikian.
Pasangan kakek nenek dan anaknya yang duduk di depanku msih asyik memposisikan dirinya di tempat yang paling wenak. Si nenek mengeluh ga bisa ke wc karena wcnya ditempatin orang. Satu ilmu baru buatku. Kalo ga dapet tempat duduk, ambil posisi di wc aja. Dijamin kok kalo wc kereta ekonomi itu ga pesing. Wong dipake aja ga bisa.
Oh ya, dibawah banyak sekali orang yang duduk lesehan. Ada sepasang suami istri yang wajahnya ditekuk. Sedikit-sedikit si suami merutuki nasibnya yang harus duduk lesehan.
“Ngerti mau mending aku numpak bis. Koq iso-isone aku ra entuk panggon sih..”(Ngerti gitu mending aku naik bis. Koq bisa2nya aku ga dapet tempat)
Pandangan kualihkan. Kali ini ada sewujud manusia yang casingnya mirip banget kayak pelawak Polo. Ternyata bukan hanya dari wajah mereka mirip. Kelakuan mereka juga sama. Konyol dan mengundang gelak tawa. Dalam kondisi kereta sepenuh itu, pedagang asongan cukup enggan masuk. Kalopun nekat masuk harus lepas alas kaki. Kondisi ini membuat kembaran Polo merasa kesepian..
“Koq keretane sepi to..g a full music. Kene aku tak nyanyi..” Waduh!mau nyanyi ap nih???
“Akua..akua..mijon..mijon...rokok..rokok..tisu..kopi..susu..jahe..” Halah! ternyata niruin orang yang jualan. Suaranya persis banget. Kayaknya bekas pedagang asongan deh. Setelah itu dia mewanti-wanti seluruh lelaki di gerbong itu untuk tidak merokok, karena kebetulan hari itu anak kecilnya banyak. Terima kasih Pak Polo, karena dia, aku tak perlu sesak menghirup asap rokok. Tepat pukul 10 acara lawak bersama Polo gadungan di hentikan. Beliaunya mau “ngamar”, alias rebahan di kolong kursi. Tidurnya kayaknya enak banget. Benar-benar masternya penumpang Ekonomi. Kereta udah kayak rumah aja.
Waktu terus berjalan..kereta pun terus melaju. Tak terasa sudah sampai Cirebon. Aku tak bisa tidur. Dengan kondisi duduk seperti itu, ditambah aku masih was-was copet, alhasil aku terus aja melek ga bisa merem. Si pria berkemeja yang tadi dikira kakakku juga tidak bisa tidur. Ya, mana mungkin bisa tidur, wong dikit-dikit kepalanya kesenggol pedagang asongan. Malam itu, kami pun berbincang-bincang selagi semua terpejam(ga tau pada tidur beneran pa ngga). Dalam ceritanya tampak kalau dia sangat mengagumi istrinya. Dia bilang istrinya wanita hebat. Walo pendidikan dan gajinya lebih besar dari suami, tapi sedikitpun tidak mempermasalahkan. Si pria sedang menyelesaikan s2 nya, dan biayanya itupun ditanggung istrinya. Salut deh..
Kalo tadi aku berpikir beruntung mendapatkan suami seperti pria ini, sebaliknya sekarang aku ngerasa pria ini beruntung banget bisa dapet jodoh wanita sehebat itu.
Katanya, jangan percaya omongan orang di kereta. Tetapi nyatanya, istrinya memang sehebat yang aku kira. 1/3 malamnya dihabiskan untuk tahajud. Tepat pukul 4 dia menelpon si suami, menanyakan keadaan, dan si suami balik bertanya keadaan si istri. Sebuah perbincangan yang benar-benar harmonis. Aku salut sama mereka, masing-masing rela dengan keadaannya, si suami yang kalah finansial dari istri tapi tetap legowo menerima keadaan itu, dan si istri yang ga neko-neko cari yang lain, padahal kalo mau cari yang lebih dari si suami juga bisa.. Betapa indah bila kita bisa mengejawantahkan cinta...Pandangan lalu kualihakan pada pasangan kakek nenek. Sesekali si nenek mengambilkan minum kakek yang terbatuk-batuk. Cinta mereka telah teruji, sampai usia senja mereka masih bersama, saling mengisi satu sama lain. Oh indahya, aku ingin romantisme bersama masku sekarang tidak hanya terjadi saat ini saja. Aku mau cinta kami meruntuhkan perbedaan, seperti yang dialami pria berkemeja, serta tetap kokoh sampai tua seperti kakek dan nenek itu.
Dalam semalam aku merasa mendapat banyak ilmu. Terutama si pria berkemeja yang menasehatiku banyak hal. Kereta sudah sampai kutoarjo. Tandanya aku harus menghubungi masku agar siap-siap menjemputku. Sialnya batere hapeku habis. Terpaksalah meminjam hp pria berkemeja. Sempat pula dia menawarkan PDAnya(waduh, kalo jadi dipenjemin juga aku ga bisa pake..). Singkat kata aku sampai di Jogja. Ternyata dari Wates ke Jogja hampir sejam ya kalo naek kereta ekonomi??kasian masku harus nunggu lama di Lempuyangan.
Masalah tak cukup disitu. Ups.. koq bisa ya aq turun di Tugu???harusnya kan aku turun lempuyangan, kok ini malah turun di Tugu??dalam sejarah perkereta apian Jogja, mana mungkin kereta ekonomi berhenti di Tugu. Lama lagi..Waduh...masku yang dah lumutan nunggu di Lempuyangan terpaksa putar balik goes to Tugu..wajahnya ditekuk-tekuk sebel ma aku..ya..maaf mas..namanya juga pengalaman pertama.
Dedicated to “Pria Berkemeja”, yang sampai saat ini aku belum bisa penuhi janjiku bertandang ke rumahmu..nomormu ilang je...