19.10.19

Kemping Keluarga ke Pantai EdibaFREE Family!

"Yah, Ais pengen kemping" Pinta Faris saat ayahnya pulang ke Jogja dua minggu lalu.

Memang sudah beberapa bulan ini Faris dan ayahnya punya wacana untuk kemping di tenda. Saking pengennya dulu sampai bela-belain bawa kasur keluar rumah demi ngerasain tidur di alam terbuka itu seperti apa. Waktu itu tidur di luar rumah berdua sama ayahnya saja, aku masih takut ngajak adiknya yang masih bayi buat ikutan tidur di luar.

Selang beberapa bulan, keinginan Faris buat kemping kembali menggebu. Ayahnya memang sudah berwacana mau membelikan tenda kemping dan peralatan di dalamnya buat kemping keluarga. Niatnya bakal buat kemping sekeluarga. Destinasi pertama adalah pantai di daerah Gunungkidul. Pertimbangannya karena tentu saja kami sekeluarga adalah pecinta pantai, Gunungkidul relatif dekat dari kantor dan yang terakhir, hawa di pinggir pantai relatif hangat, jadi cukup bersahabat dengan tubuh balita Fafa.

Tenda dibangun berdua antara ayah dan Faris. Aku dan Fafa nunggu di rumah makan. Akhirnya tenda berhasil dibangun walo harus kehilangan satu set frame karena dipungut pemulung-dikira barang rongsok mungkin.

Ternyata benar kata ayah, hawa di tenda terasa sejuk dan Fafa bisa tidur dengan nyenyak. Memang namanya tidur di tenda nggak bisa senyaman tidur di kasur, butuh daya tahan tubuh yang prima biar nggak sakit setelah kemping. Jadi, diantara kebutihan kemping tak lupa aku sedia Herbadrink Sari Jahe. Andalanku untuk menemani di perjalanan. Setelah seharian bekerja lalu dilanjutkan kemping semalaman. Fafa sempat rada rewel pas mau tidur, jadi ya lumayan juga harus gendong-gendong dulu.

Kemping di alam terbuka membuat kita semakin dekat dengan alam. Yang bikin deg-degan saat kemping di pantai adalah kekhawatiran adanya gelombang pasang. Terus, saat tengah malam tiba-tiba hujan mengguyur, padahal selama ini belum pernah hujan sekali pun! Untung hujan tidak terlalu deras dan hanya mengguyur sekitar 15 menit. Kebayang dong kalo hujannya deras terus pasir pantainya ambrol? Tiba-tiba jadi nggak ngantuk karena takut tiba-tiba tendanya tersapu hujan.-->fix ini lebay!

Setelah hujan reda, barulah kantuk terasa sangat berat. Akhirnya beneran bisa tidur nyenyak dan bangun di pukul 5 pagi. Agak kesiangan buat solat subuh. Tapi nggak masalah sih. Ayah dan Faris benar-benar menyatu dengan alam dengan solat di depan tenda. Kalau aku dan Fafa sih solat di rumah makan di depan pantai. Sekalian buang hajat, nggak berani kalo buang hajat langsung di pantai. Hihi..
Tidur di tenda dan main air di pantai!

Pagi menjelang, ketika jam menunjukkan pukul 7 pagi, kami sekeluarga memutuskan untuk bermain air di pantai. Rangkaian acara outdoor kami dari bermalam di tenda dan bermain air di pantai tentu membutuhkan stamina yang baik, selain Herbadrink Sari Jahe, ada pula Herbadrink Kunyit, Lidah Buaya, dan Beras Kencur. Kesemuanya terbuat dari bahan alam yang tentu saja bermanfaat bagi tubuh.
Sedia Herbadrink sebelum kemping

Menyatu dengan alam nggak boleh setengah hati. Setelah semalam dibuat takjub dengan kebesaran kuasa Allah yang menghadirkan hujan setelah berbulan-bulan tidak turun hujan. Bersyukur dengan nikmat sehat dan tidur nyenyak, maka paginya menikmati deburan ombak dan bermain air di pantai. Maka kenikmatan ini semakin lengkap dengan menikmati segelas hangat Herbadrink Sari Jahe dan sarapan sambil ditemani deburan ombak di pagi hari. Sajian nikmat alami dari alam semakin menyempurnakan kemping keluarga kami kali ini. Nikmat Allah mana yang bisa aku dustakan, ya kan?
Reaksi:

1 komentar:

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...