29.4.09

DERITA SI MEDIT: Perjalanan Jakarta Jogja bag 3

4th Vacation: Trio Kwek-kwek in Action
Perjalanan keempat ini adalah perjalanan tanpa keperluan, cuma dengan alasan kangen sama sepupu yang selalu merindukanku…Kebetulan mbak kosku ada urusan ke Jogja, jadilah aq ikut, mumpung ada temennya.
Tak disangka tak dinyana ternyata Mas Adi, yang istrinya lagi di Jogja itu lo, juga mau pulang karena kangen beratz sama bintang kecilnya. Jadilah ‘perjalanan trio kwek-kwek’ ini..
Semua yang diawali dengan keraguan memang tidak berjalan mulus. Seharusnya bila kita semua yakin akan pulang ke Jogja, tiket kereta Bengawan kebanggaan kita itu bisa dipesan. Namun baik aku, mbak kos, dan temenku, masih belum yakin dengan kepergian kita ke Jogja. Mbak kos dan temanku yang masih disibukkan dengan kerjanya, dan aku yang memikirkan pengeluaran yang tidak sedikit(tetep, medit mode on).
Akhirnya, Free Friday itu datang. Tepat pukul 4 kami menuju stasiun Serpong dengan semangat membaja, tidak peduli saat itu hujan dengan deras mengguyur, dan angin yang kencang berhembus. Aq dan mbak kosku berjalan bersama dengan pundak memanggul tas sebesar punuk kura-kura. Jalan becek, ga ada ojek, tetap tak menyurutkan niat kami. Akhirnya sampailah pada stasiun Serpong. Kami sengaja naek krl AC yang harganya 3 kali lipat krl ekonomi dengan harapan bisa sampai stasiun Tanah Abang sesore mungkin, jadi ada harapan dapat tiket duduk.
Jam 5 kurang seperempat, kami sampai di Stasiun Tanah Abang. Di stasiun, terdapat lautan orang tengah bersiap-siap menerobos pintu kereta kami. Biasalah, jam pulang kantor gini arus perpindahan orang di Jabotabek sangat besar. Banyak karyawan Jakarta yang pulang ke Serpong. Kami hanya bisa pasrah didorong-dorong sampai tidak bisa keluar. Mbak kosku sampai mental oleh segerombolan penumpang bar-bar ini. Aq langsung pasang posisi cicak, nemplok di pinggir pintu, dan menyelinap keluar.
Setelah berhasil keluar dari kerumunan, kami menuju bagian tiket kereta. Dari kejauhan kami melihat tulisan..
TEMPAT DUDUK HABIS
OMG!!!gimana dunk..setelah perjuangan melawan badai hujan, dan badai orang, apakah perjuangan ini harus dihentikan?? TIDAK!!!kami tidak akan menyerah…!!! semangat kami terus membara..tidak peduli gak dapet tempat duduk. Toh aq masih punya karpet kebanggaan berupa koran terbitan 2007 yang selalu menemani setiap perjalanan jauhku..Aq dan mabk kosq akhirnya sepakat tetap ke Jogja dengan kondisi apapun..
Di loket, belum ada antrian, aq memasang wajah memelas dengan harapan tukang tiketnya iba dan memberi tiket duduk. Tapi usahaku sia-sia..tetap tidak dapat tiket duduk..
“Pak, tempat duduk habis ya??” tanyaku
“Iya..” jawab si tukang loket singkat, padat, dan mengena
Aku langsung telepon temanku yang masih ada urusan sehingga belum sampai ke Tanah Abang. Temanku ternyata tak masalah tidak dapet tempat duduk asal bisa pulang.
“ Ya udah pak, saya beli tiketnya tiga” ujarku walo sedikit tercekat
“Totalnya 108 ribu” jawab tukang loket
“Heh??koq 108 rb??105 ribu kalee…kita kan ga dapet duduk, MANA BOLEH HARGANYA DINAIKIN!!!KALO DAPET DUDUK BARU NAMBAH 2000” aq menjawab dengan nada tinggi.
“ Iya mbak, 105 ribu, jangan keras-keras dunk bilangnya” si tukang loket memohonku mengecilkan volume suaraku.
Aq yang ga ngeh menjawab dengan polos dan tetap dengan volume yang sedikiiiiit dikecilkan..”LA, EMANG BENER TO??KALO DAPET DUDUK, BARU SAYA MAU NAMBAH..”
Setelah jauh dari loket barulah aku sadar kalau mereka tidak mau kecurangan mereka menaikkan harga tiket duduk dikoar-koarkan.Tapi biarlah, ini juga jadi rahasia umum, semua juga tahu objek “sampingan” mereka ini.
Mbak kosku sempat berharap ada calo yang menawarkan tiket pada kami..sayangnya calo yang dinanti hanya mimpi. Jadilah dengan langkah gontai kami menuju peron 3, tempat keretaku nanti “mangkal”.
Di bawah tangga, kugelar tikar koran kebanggaanku. Kami berdua duduk berdampingan, bagai anak yang ditinggal induknya. Celingak celinguk ga jelas, menghitung kereta lewat, dan mensensus penumpang kereta. Tas kami dekap erat, kami takut ada yang mengincar wanita-wanita manis nan polos seperti kami(huex, ga semua yang lo baca itu bener).
Tiba-tiba datanglah rombongan orang yang membawa pikulan yang tidak sedikit. Diketahui 2 diantara 5 rombongan itu adalah tukang kipas toet2(begitu kami menyebutnya) yang membantu nenek dan 2 orang remaja ini.
Nenek ini sangatlah nyentrik. Dandanan lipstik merah terang plus bedak padat dengan tone warna yang lebih terang dari kulitnya, sehingga kesannya menor. Nyentriknya semakin dipertegas dengan sanggul kartini berhias cempol emas, baju kebaya brokat transparan warna krem, jarik batik model jadul, lengkap dengan sepatu high heels yang nyokap abiez..Sumpah, gayanya udah kayak nyonya besar, namanya juga udah sepuh, jadi semua tetap tunduk sama dia, ga tau kalo ada yang ngedumel dengan tingkah lakunya.
Nenek ini menghampiri kami dengan gaya jalan kemayu bak peragawati, kata mbak sih kemungkinan dia cari mangsa baru untuk membawa barangnya yang se Indonesia itu.
Dengan ramah nenek bertanya..“ Mandap pundi mbak?”(turun dimana mbak)
Mandap Jogja, Bu..”(turun di Jogja Bu), kami menjawab
Sesaat nenek membalikkan badan menuju peraduannya bersama 2 remaja yang sedari tadi bersamanya. Namun, baru berapa langkah, nenek kembali menghampiri kami dengan topik pembicaraan baru.
“Gerbong pinten?”(gerbong berapa?)
“Ga dapet tempat duduk bu”, kami menjawab dengan senyum getir.
Tiba-tiba raut wajahnya penuh kemenangan, dengan bangganya dia berkata,
“Oh..saya sih dapet tempat duduk, tiga, bareng, jejer-jejer, di gerbong tiga.” Bibirnya khas ibu-ibu arisan lagi bergosip, dengan anggota tubuh full ekspresi. Udah kayak mau jaipongan tu nenek..
Selesai menceritakan tempat nyamannya nanti di kereta, tiba-tiba ada bapak yang bertanya dengan bapak yang lain, dimana letak gerbong 6. Si bapak menunjuk ke arah kiri. Kontan saja nenek nyentrik protes..
“Mboten pak, gerbong 6 teng tengen..”(bukan pak, gerbong 6 sebelah kanan)
“Tapi kata bapak itu..”
“Wes to ra manut karo wong tuo”(udah, jangan ga nurut ma orang tua)
Sebagai jalan tengah, diundanglah secara khusus seorang SKK yang tentu tahu pasti letak gerbong 6. Jawaban SKK memihak nenek nyentrik. Dapat 2 poin kebanggaan dia hari ini..
Nenek nyentrik kembali menatap kami, dia kembali bercerita..
Kulo ki wis pengalaman numpak kereto. Mbok menowo dewe, aq yo wani..keretane ki puuuanjang(dengan gaya membentangkan tangan layaknya penari serimpi). Enten 10 gerbong (sembari memperlihatkan 10 jari letiknya).”
(Saya ini udah pengalaman naik kereta. Kalopun terpaksa sendiri, saya berani. Keretanya tu panjang, ada 10 gerbong)
Duh..penting ya cerita begitu?
Yah..maklumlah udah sepuh..kalo suka caper harap dimengerti.
Mbak mule gelisah berkata “Aduh, banyak nyamuk, gue gatel, cabut yuk…”
Aq pun nurut aja. Sedetik aq mau ketawa, mbak kosku yang biasa ngomong Jawa logatnya berubah Jakarta abies…seolah menunjukkan ke nenek kalo kita anak jakarte yang ga ngerti omongannya, sehingga nenek bisa berhenti cerita.
Si nenek pun bertanya, “Ajeng teng pundi??”(Mau kemana??)
“Mau solat” jawab kami singkat sembari melipat koran kebanggaan.
Sesampainya di atas, Mas Adi, sudah datang dan menunggu di seberang peron. Kami pun berkumpul sembari celinguk-celinguk kalo-kalo tanda “tempat duduk habis” nya dicopot, sehingga kita bisa menyerbu tiket duduk. Benernya secara logika penantian kita itu sia-sia aja, tiba-tiba halo-haloan mengumumkan kalo kereta kita udah dateng. Kami panik karena belum solat, akhirnya dengan langkah seribu kami menyerbu kerumunan menuju musola. Langsung
Perjalanan memang belum dimulai, tetapi perjuangan masih harus berlanjut. Misi selanjutnya cari tempat duduk. Ada beberapa opsi yang ditawarkan:
1. Cari tempat di restorasi, tapi bayar tambahan 25 rb
2. Cari tempat kosong, terus gelar koran
3. Nekat duduk di tempat kosong
Sebenarnya pengalaman membuatku condong ke pilihan ketiga, karena paling aman n ga keluar ongkos. Tapi ternyata Mas Adi n Mbak tidak berpikiran sama. Kita coba tawar pihak restorasi. Si bapak restorasi berkata,
“Kalo mau disini tambah 30 ribu, dapet makan, dapet minum”
~OMG!!!nambahnya seharga tiket keretanya, enak aja~
“Kalo bayar duduk aja boleh ga??”Aq mencoba menawar.
“Oh ga bisa, disini tempat jualan nasi..”
IH, sombong amat, udah kita tinggal aja deh ni bapak.Akhirnya kami pun berburu tempat kosong untuk gelar koran. Belum khatam kami menyiapkan singasana kami, tiba-tiba datanglah pahlawan baju kotak-kotak(begitu kami menyebutnya), berkata..
“Mbok nambah 10 rb, wis enak..”
“hah??bayar ke siapa pak??” Aq pun penasaran..
“Itu..”si bapak nunjuk SKK.
Oh, ternyata SKK jualan tempat duduk. Akhirnya tibalah SKK bertanya pada kami.. “Duduk dimana??”
“Ga dapet tempat duduk” aq menjawab memelas..
Lalu, dengan celingak celinguk, SKK menggiringku ke pojok sepi, diikuti Mbak n Mas Adi yang turut menampakkan wajah was-was..
“Butuh berapa?” SKK bertanya..
“Tiga Pak, ada ngga??tempatnya dimana??” aq memberondong dengan pertanyaan. Sumpah aq takut kalo ketahuan. Aq tahu ini salah, tapi ini semua demi kenyamanan kereta ekonomi kelas bisnis.
“Sabar mbak, nanti kita atur..” Si SKK mengeluarkan kertas kecil bertuliskan angka-angka yang ternyata nomor duduk…
Alhamdulillah..kami bisa kembali merasakan kereta ekonomi kelas bisnis walo harus nambah 10 rb per orang..
Ini sungguh-sungguh terjadi. Dan hanya ada di Indonesia
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...