7.3.20

Jogja Medical Center: Layanan Kesehatan Menyeluruh untuk Tumbuh Kembang Anak

Sabtu 29 Februari lalu aku mengikuti workshop yang isinya daging banget. Yang ngadain Jogja Medical Center. Jadi ceritanya JMC relaunching nih. Fasilitas yang sekarang ditawarkan semakin kece. Kali ini semakin fokus dengan kesehatan gigi dan tumbuh kembang anak.
Yeay! I'm here!

Materi pertama dari Drg. Ireka Diah Kusuma Agustina Sp. Ort., membawakan materi mengenai ortodontik yaitu ilmu yang mempelajari pertumbuhan, perkembangan, dan struktur anatomi gigi. Jadi kalau misal mau pakai kawat gigi, nangan ke sembarang dokter, datanglah ke spesialis ortodontis agar alat yang digunakan bermanfaat maksimal sesuai dengan kegunaannya.
Bu dokternya cantik dan ramah lho ^_^
Ruang perawatan gigi

Pemeriksaan di JMC dijamin fun karena JMC memiliki fasilitas yang asyik buat anak-anak antara lain kids corner, lego, dan play corner. Ada juga snack corner dan mushola yang cukup luas. Homy pokoknya!


Snack corner dan mushola di JMC

Setelah materi mengenai kesehatan gigi, lanjut nih ke materi mengenai tumbuh kembang anak. Ada beberapa tahapan dalam mengatasi permasalahan tumbuh kembang anak, yang pertama asesmen dengan psikolog, melakukan terapi sesuai kebutuhan, dan selanjutnya evaluasi kemajuan setelah terapi. Materi pertama dari psikolog JMC yaitu Mbak Raninta Wulandianti M,Psi. Mbak Raninta menjelaskan tentang assesment/penilaian psikologi.
Ruangan assesment di JMC. Homy!

Penilaian psikologi dilakukan pada berbagai konteks, antara lain pendidikan, pekerjaan, dan klinis.
Penilaian  tumbuh kembang sebagai penilaian klinis, tujuannya untuk menilai apakah anak sesuai dengan usia kronologisnya? Nah salah satu penilaian yang menarik perhatianku adalah soal 'risk n protective factors'. Jadi ternyata faktor bahaya dan perlindungan setiap anak itu berbeda. Dalam penilaian nanti akan dianalisa faktor bahaya dan perlindungan terkait dengan lingkungan, keluarga,  jadi melakukan penilaian psikologis terhadap anak sama saja dengan menilai semua yang ada di sekitar anak, mulai dari orang tua, saudara, tetangga, dan lingkungan pertemanan anak.
Psikolog (Mbak Raninta, paling kiri) dan para terapis di JMC

Setelah materi tentang penilaian/asesmen psikologi, selanjutnya materi mengenai terapi yang ada di JMC. Jadi bila hasil penilaian psikologi ternyata anak perlu terapi lebih lanjut, maka akan dirujuk ke terapis yang sesuai. Ada tiga terapi yang ditawarkan yaitu terapi bermain (play therapy), terapi wicara, dan terapi okupasi. Untuk play therapy, JMC menggandeng Grace Melia, play therapist satu-satunya di Jogja yang bersertifikat internasional APAC (Academy of Play & Child Phycotherapy), untuk terapis okupasi dan wicara, JMC menggandeng lulusan Stikes Surakarta sehingga background akademisnya tidak diragukan lagi.

Apa itu play therapy? Play therapy adalah terapi melalui permainan.
Metode play therapy menekankan pada tiga hal. Yang pertama adalah non directive. Artinya anak tidak secara langsung (direct) dilakukan terapi, melainkan dibuat rileks saat bermain dan terapi dilakukan secara tidak langsung.  Metode kedua adalah non judgemental, jadi misalkan anak mewarnai dengan warna hitam, jangan di-judge bahwa anak sedang depresi atau menyeramkan, biarkan anak mengekspresikan main sesuai dengan kehendaknya. Metode ketiga adalah non interpretative, jadi tidak boleh ada interpretasi apa pun, karena untuk interpetasi itu nanti ranahnya psikolog.

Play therapy ini umumnya berlangsung sebanyak 12 sesi dengan 3 sesi ortu dan terapis saat pre, middle, dan post theraphy.

Toolkit pada play therapy antara lain, sandtray, creative, visualization, therapeutic story, music, art, dance n movement, puppet&mask, drama/roleplay. Untuk therapeutic story ditawarkan ke anak, kalau anak gak mau ya gak diterusin. Tiap anak storynya akan berbeda-beda.
Beberapa tools play therapy

Visualization: 4 tahun bisa bikin visualisasi sekece ini?

Play therapist memang harus 100% percaya/trust ke anak. Untuk perkembangan play therapist nanti ada report yang diemail ke orang tua. Lengkap dengan saran parenting yang sebaiknya dilakukan.

Materi selanjutnya adalah informasi terapi wicara. Ini adalah terapi mengatasi permasalahan komunikasi dan menelan. Kapan perlu evaluasi bicara? Apabila 12 bulan tidak bisa mengoceh bababa or kata tunggal, 18 bulan tidak mampu mengikuti perintah satu tahap, 2 thn tidak bisa menunjuk anggota tubuh, atau 3 tahun masih mengulang frase dalam mengulang pertanyaan. Selain itu ada juga rett syndrome yaitu hilangnya kemampuan komunikasi, jadi di usia tertentu anak sudah memilikk banyak kosakata, tetapi tiba-tiba kosakatanya berkurang.
Terapis wicara
Ruang terapi wicara. Ada kaca untuk mengoreksi bentuk mulut saat berbicara

Materi selanjutnya adalah okupasi terapi. Fungsi terapi okupasi adalah untuk meningkatkan kualitas hidup. Dalam kehidupan sehari-hari, kehidupan kerja, dan pemanfaatan waktu luang.
Terapis okupasi diantara tools okupasi yang merangsang motorik halus dan kasar pada anak

Nah, selesai melakukan terapi, anak akan dirujuk kembali ke psikolog untuk dilakukan penilaian setelah terapi. Jadi terapi di JMC benar-benar dilakukan sesuai kebutuhan dengan sumber daya manusia yang berkompeten di bidangnya.

Untuk biaya psikolog, mulai dari assesment sampai evaluasi terapi, biayanya adalah tiga ratus ribu rupiah. Sedangkan untuk terapi, biayanya adalah seratus lima puluh ribu rupiah per sesi. Untuk terapi disarankan membeli sekaligus paket 20 sesi senilai Rp. 2.800.000 atau 30 sesi senilai Rp. 3.900.000. Nanti ada free evaluasi terapi dengan psikolognya.

Buat yang perlu info tentang Jogja Medical Center, bisa hubungi di:

No HP/WA: 08112954800
Instagram: @jogjamedicalcenter_id
Website: jogjamedicalcenter.co.id
Email: jogjamedicalcenter@bmd.sch.id
Atau datang langsung ke:

Jogja Medical Center
Jl. Gondang Raya No.17, Kentungan, Condongcatur, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55283


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung di lapak sederhana EDibaFREE. Komentar Anda akan sangat berarti buat kami...